cari di sini!

Memuat...

Rabu, 14 Juli 2010

hujan yang mengantarku pergi













HUJAN YANG MENGANTARKU PERGI
: Napthalena

Ada terlalu banyak kepedihan yang mengiringi rasa sakitku, setelah tiba-tiba saja kau mengatakan agar aku pergi saja, menjauh dan lenyap dari ingatanmu. Ada terlalu banyak hal berbenturan di kepalaku. Aku tak mengerti mengapa sehari sebelumnya yang kudengar darimu jauh berbeda, seakan-akan hari-hari yang pernah kita lalui bersama hanyalah mimpi yang tak sempat menjadi nyata.

Sore harinya, aku masih berusaha mendekatkan jarak di antara kita. Kukatakan padamu bahwa hanya engkau yang aku inginkan, bukan orang lain. Kukatakan padamu bahwa di hatiku, akan selalu ada sebuah ruang untuk menyimpan hatimu. Kukatakan semua itu sambil mengejarmu, sementara hujan mulai setia menimpakan dingin. Namun engkau terus berjalan, dan kepedihan di hatiku tiba-tiba menjelma air mata yang masih terus kutahan.

Pada akhirnya aku pun pergi. Hujan dengan senang hati membanjiri hatiku dengan air mata. Kubiarkan rambut dan tubuhku basah. Kubiarkan ia membasuh kepedihan yang melekat di hatiku, membuatku sakit sesakit-sakitnya. Kubiarkan engkau lenyap di belakangku, sementara hujan masih terus mengantarku hingga ke pertigaan.

Bogor, Juli 2010

akhirnya aku melepasmu














AKHIRNYA AKU MELEPASMU
: Napthalena

Hanya ada sepotong trotoar, sepenggal jalan yang cukup sepi, dan langkah kaki kita yang terdengar memantul-mantul. Saat itu suasana hati kita sedang tidak begitu baik. Untuk pertama kalinya kita bicara setelah berhari-hari hanya diam, berusaha saling melupakan. Dan aku sudah memutuskan untuk melepasmu, agar engkau bisa mencari kebahagiaan di tempat yang lain.

“Kita sudahi saja,” kataku pelan. Kurasakan angin menyentuh kulit leherku, sementara kedua mata kita saling bertemu. “Yakin?” tanyamu. Sebuah anggukan menjadi jawaban yang kuberikan. Berat rasanya melepasmu, apalagi jika teringat kejadian-kejadian yang membuatku mencintaimu. Tapi saat itu, perpisahan adalah yang terbaik untuk kita.

Langkah kaki kita kembali terdengar memantul-mantul di trotoar. Aku mengantarmu kembali untuk terakhir kalinya. Setelah hari itu, akan ada banyak pertemuan yang menghilang, akan ada banyak suaraku yang tertahan. Kutinggalkan engkau yang berjalan memasuki gang. Angkot yang kutumpangi melaju pelan. Dan di antara kita, ada jarak yang tak mungkin lagi kudekatkan.

Bogor, Juli 2010

spesies hijau chapter 12a

Chapter 12
MENENANGKAN DIRI



Airish, 2013
Bogor

KEMATIAN Alea menyisakan kepedihan yang abadi di hatiku. Dengan perginya teman terbaikku itu, ada sebuah lubang di hatiku yang akan selamanya begitu. Tak akan ada yang bisa menggantikannya meskipun orang itu adalah keluargaku sendiri, bahkan Valen pun tidak. Kekosongan yang diciptakannya telah membuat langkah kakiku terasa lemah. Lena dan Sandra baru saja mengantarku ke tempat ini dan aku melarang mereka mengantarku lebih jauh lagi. Entah sekarang kemana aku akan pergi. Terlalu banyak hal berkelumit di kepala. Mungkin untuk satu dua jam aku hanya akan berkeliling dari satu tempat ke tempat lain, dari satu mall ke mall lain. Mungkin juga iseng nonton di bioskop setelah sekian lama. Apa lagi yang mungkin kulakukan untuk menutupi lubang akibat kesedihan yang dalam ini selain menghabiskan waktu? Apa lagi?

Setelah pergi ke beberapa tempat, memasuki beberapa mall, sempat juga nonton di salah satunya, akhirnya aku kembali terjebak dalam waktu yang bergerak lambat. Mengapa kematian selalu diikuti kesedihan? Tak ada gunanya menanyakan hal itu saat ini. Dan meskipun ada yang bisa memberiku jawabannya, kesedihan ini akan terus ada di sini, mengendap seiring waktu yang akan terus berlalu. Akankah suatu hari nanti aku melupakan kejadian beberapa hari yang lalu? Semoga saja. Semoga saja aku bisa cepat melupakannya. Siapakah yang ingin terjebak berlama-lama dalam kesedihan selain mereka yang tak punya harapan? Aku masih punya harapan. Masih ada banyak hal yang ingin kucari, yang ingin kulakukan. Aku buka tas yang kugendong dan mengambil sebuah buku hitam tebal di dalamnya. Buku ini peninggalan ibu kandungku. Aku akan mencarinya di sisa hidupku, itu pun jika benar dia masih hidup seperti yang dikatakan Andy.

Beberapa hari yang lalu saat aku berada di ruangan Andy, kukatakan padanya bahwa aku akan meninggalkan akademi untuk membantuku melupakan kejadian yang baru saja kualami. Dia tak bisa berbuat apa-apa untuk mencegahku. Aku lalu menunjukkan padanya buku hitam tebal peninggalan ibuku lalu menanyakan padanya kalau-kalau dia tahu soal ibuku. Lalu, dia mengatakan sesuatu yang membuatku terkejut, “Nayna tidak mati seperti yang dikabarkan. Nayna masih hidup.” Aku sangat terkejut sampai-sampai lupa menutup mulut dan lupa bernapas. Sejurus kemudian Andy berkata, “Sebenarnya aku tak bisa menjamin dia masih hidup saat ini. Yang jelas saat itu aku membawanya ke sebuah tempat dan merekayasa seolah-olah dia sudah mati di gua.”

“Di gua?” aku semakin terkejut.

“Ya. Saat itu Nayna sedang dalam pelarian ketika pemimpin akademi saat itu mengerahkan banyak orang untuk mencari dan membawanya ke akademi.”

“Mengapa mereka mencarinya?”

“Buku ini,” Andy mengangkat buku hitam tebal itu. “Mereka mencarinya karena buku ini. Nayna berencana menyelundupkan buku ini ke akademi dan mengedarkannya.”

“Hanya gara-gara itu? Hanya gara-gara itu ibuku sampai harus mati di gua?” aku sedikit emosi.

“Itu perintah pemimpin akademi. Maya. Saat itu dia yang memimpin akademi. Seorang spesies biru.”

Aku memandangi Andy dengan sedikit kesal. Aku bertanya, “Apa yang kau lakukan saat itu? Mengikuti perintahnya?”

Andy mengangguk dan itu membuatku semakin kesal. “Aku memang ditugaskannya mencarinya karena dia tahu aku salah satu pendeteksi terbaik saat itu dan aku cukup dekat dengan Nayna. Tapi, tujuanku sebenarnya bukan untuk membawanya ke akademi.”

“Lalu apa tujuanmu?”

Dia mengamati buku tebal itu beberapa saat lalu menjawab tanpa melihatku, “Untuk membantunya melarikan diri dan memperoleh kehidupan yang baru.”

Begitulah percakapan kami beberapa hari yang lalu. Rupanya saat menemukan ibuku, Andy membawanya ke suatu tempat dan merekayasa seolah-olah ibuku tewas di gua. Yang menemukan mayat ibuku dan membawanya ke akademi adalah Lena. Tadi pagi saat di mobil, aku tanyakan hal itu padanya. Dia pun menceritakannya.
***



Nayna, 1991
di sebuah hutan di Bogor

Aku adalah seorang ibu yang buruk. Tega sekali kubawa putriku yang belum lahir berkeliaran di hutan, melalui semak demi semak, berlindung dari satu pohon ke pohon lain, melintasi sungai demi sungai, sampai akhirnya berteduh di gua ini. Hujan di luar sangat deras sampai-sampai bisa kudengar jelas butiran air memukul-mukul batu besar.

Fakhri belum kembali. Sudah ada tiga jam sejak dia pergi mencari makanan dan mengambil air. Aku mulai khawatir. Apakah aku satu-satunya yang tersisa dari spesiesku? Tak pernah kusangka semuanya akan jadi sesulit ini. Selama dua tahun setelah perburuan dihentikan, spesies kami cukup aman hidup bersembunyi di tengah-tengah manusia biasa. Selama dua tahun itu pula, akhirnya aku menemukan seorang suami sekaligus ayah dari putri yang akan kulahirkan ini. Semoga saja putriku ini bisa bertahan dari masa-masa sulit ini. Nantinya dia akan menjadi penerus spesies hijau, yang akan menjaga spesies ini dari kepunahan.

Seseorang datang mendekat. Fakhri? Rasanya bukan. Bau tubuhnya jauh berbeda dengan Fakhri. Dan bukan hanya satu orang. Dari langkah kakinya aku menduga mereka tiga orang. Ini sungguh tidak menguntungkan. Aku sedang sendiri dan perutku sudah sangat besar sehingga menyulitkanku untuk bergerak cepat. Aku merapatkan tubuh ke dinding gua yang kasar. Untung saja api sudah kumatikan satu jam yang lalu sehingga asapnya sudah hilang. Yang kulakukan kini hanya berdoa semoga mereka tidak memasuki gua ini.

Langkah kaki itu kudengar cepat-cepat. Dari suaranya yang semakin jelas, mereka sedang mendekati gua ini. Langkah kaki itu berhenti tepat di mulut gua.

“Biar aku saja yang memeriksa gua ini. Kalian periksa tempat lain!” kata seseorang dari mereka. Suaranya tidak begitu jelas. Yang pasti dia wanita.

Kudengar dua orang lainnya bergerak cepat menjauh, menyisir tempat lain. Sementara si wanita itu kini sedang memasuki gua dengan sangat hati-hati sampai aku sulit mendengar langkah kakinya. Kufokuskan energi di tubuhku di kepala dan kuubah warna irisku. Dalam kondisi ini aku bisa merasakan keberadaannya jauh lebih baik. Dia sedang berjalan pelan merapat ke dinding gua. Aku merasakan suhu tubuhnya yang lebih dingin dari suhu gua. Bukan hanya itu, aku merasakan bau tubuhnya seperti pernah kucium. Familiar. Sepertinya aku mengenalnya sudah sangat lama.

Bayi di dalam perutku menendang, membuat energi di tubuhku kacau. Mataku kembali ke kondisi semula. Aku menarik napas beberapa kali. Satu kerugian besar bagiku diburu saat sedang hamil. Dua tahun lalu aku bisa memberikan perlawanan dan berhasil bertahan hidup. Kali ini, aku tidak yakin. Bahkan seandainya sekarang aku lari, dia pasti akan dengan mudah mengejarku. Dengan kata lain, hari ini aku akan mati. Hanya keajaiban yang bisa mencegahnya.

“Nayna, kamukah itu?”

Energi di tubuhku begitu kacau sehingga aku tak menyadari wanita itu sudah sangat dekat. Dia kini berdiri sekitar sepuluh meter di sebelah kananku. Aku sendiri masih berdiri merapat ke dinding. Dia tak membawa lampu senter, tapi kedua matanya yang biru menyala sudah cukup membantunya melihat.

Aku menunduk mengambil sebuah batu dan melemparkannya ke arah wanita itu. Tentu saja dia dengan mudah menghindar. Aku mengambil batu lagi dan melemparnya. Aku melakukannya lagi dan lagi sampai batu di sekitarku habis. Menyedihkan sekali melakukan perlawanan dengan cara primitif seperti ini. Sayangnya aku tak bisa mengubah warna irisku karena itu akan membuat bayi di dalam perutku marah dan menendang-nendang sehingga energi di tubuhku akan kacau. Aku sudah semakin dekat dengan kematian.

“Apa maumu?” tanyaku sambil bergerak menjauh ke kiri, sambil terus merapat ke dinding gua.

“Ini aku,” katanya. “Lena.”

Lena? Ah, pantas saja aku merasa begitu mengenali bau tubuhnya. Dia berjalan mendekat dan aku bisa melihat kedua matanya yang biru itu begitu cantik di wajahnya. Aku kini bisa mengenali wajahnya. Pipinya yang bulat. Matanya yang sipit. Lesung pipitnya muncul saat dia tersenyum.

“Lama tak bertemu,” katanya tersenyum.

Ya. Sudah dua tahun sejak saat itu. Ini pertama kalinya aku melihatnya lagi. Dia tak berubah. Sama sekali tak berubah. Kulitnya masih kuning seperti dulu. Rambut hitamnya masih diikat ke belakang. Tingginya tak berubah. Dia masih Lena yang kuingat. Berbeda sekali denganku. Perutku besar. Kulitku tidak sehalus dulu. Bahkan kini sedikit kasar dan kotor. Wajar saja. Selama pelarian ini aku jarang sekali mandi. Tak ada kesempatan untuk itu.

“Bagaimana kabarmu, Nayna?” tanyanya sambil terus tersenyum. Dia semakin dekat saja.

Aku menunjukkan tangan kananku, memberinya isyarat untuk berhenti.

“Apa maumu, Lena?” tanyaku curiga.

Meskipun aku dan Lena sudah berteman sangat lama, banyak menghabiskan waktu bersama selama di akademi, tapi sekarang situasinya berbeda. Dia pasti datang sebagai utusan dari akademi. Dan aku bisa menebak misi yang diembannya: membawaku kembali ke akademi.

“Kurasa kamu sudah tahu tujuanku,” kata Lena. Senyum dan lesung pipitnya hilang. Ekspresinya kini serius. “Akademi menyuruhku mencarimu lalu membawamu ke sana.”

“Lupakan saja! Aku tak akan mau kembali ke sana.”

“Mau sampai kapan kamu lari, Nayna?” dia tampak kesal dan kecewa. “Lihat kondisimu sekarang! Lihat perutmu itu! Kamu tak akan bisa bertahan di hutan ini dengan kondisi seperti itu.”

“Tak ada bedanya. Kalau pun aku kembali ke akademi, aku dan putriku akan mati di tangan kalian. Itu lebih buruk.”

“Aku bisa mengusahakan agar kamu tidak dihukum mati.”

“Kita sama-sama tahu itu tidak mungkin. Kami sudah ditakdirkan untuk lari, bertahan dari perburuan yang kalian lakukan.”

“Perburuan sudah dihentikan dua tahun lalu, Nayna. Sudah berakhir.”

“Tapi kenyataannya kalian memburu kami lagi.”

“Itu karena ulahmu. Kalau saja kamu tidak membuat buku hitam itu, semua ini tak akan terjadi. Spesies kalian akan tetap aman meskipun harus hidup secara sembunyi-sembunyi.”

“Aku hanya menuliskan kebenaran. Tak ada yang salah dari apa yang kutulis.”

“Tidak selalu menyampaikan kebenaran itu akan membuat keadaan lebih baik.”

“Ya. Karena manusia lebih suka hidup aman dalam kebohongan. Begitu juga kita.”

“Lalu kenapa kamu melakukannya, padahal kamu tahu sendiri seperti apa konsekuensinya?”

“Aku harus. Aku harus mengungkapkan kebenaran itu meskipun risikonya adalah kematianku sendiri.”

“Bukan hanya dirimu. Kamu juga membawa teman-teman dari spesiesmu ikut mati. Bahkan seorang yang mungkin sangat dekat denganmu dua tahun ini.”

Aku terkejut mendengarnya. Jika ada seseorang yang sangat dekat denganku dua tahun ini, maka itu adalah suamiku, Fakhri. Apa yang terjadi dengannya?

“Kau membunuh suamiku?” tanyaku geram.

“Tidak,” jawabnya dingin. “Teman-temanku yang membunuhnya. Aku tak bisa mencegah mereka.”

Kurasakan kedua tanganku mengepal. Rahangku mengeras. Gigi-gigiku saling menekan. Dengan sendirinya suhu tubuhku naik dua kali lipat sehingga menyulitkanku untuk bernapas. Tenggorokanku panas sekali. Energi-energi di tubuhku berkumpul di kepala. Irisku pasti sudah berubah warna dengan sendirinya.

Wanita itu tepat di hadapanku. Aku tak menyia-nyiakannya. Melihat irisku berubah, dia menyiapkan kuda-kudanya.

“Nayna, aku tak ingin bertarung denganmu,” katanya.

“Kau tak punya pilihan,” kataku geram.

Dalam sekejap bongkahan batu berukuran sedang mengepungnya dari segala arah. Dia mengantisipasinya dengan memunculkan barrier di sekitar tubuhnya sehingga batu-batu itu itu tak bisa menembus.

“Hentikan, Nayna! Aku tidak datang untuk bertarung.”

Aku tak menghiraukan kata-katanya. Kupaksakan diri untuk memperbesar pupil sehingga bongkahan batu itu membesar dan semakin padat. Lena tampak menahan barrier-nya sekuat tenaga. Aku bisa melihat bongkahan batu itu mulai menembus barrier-nya sedikit demi sedikit.

“Nayna, hentikan!” serunya.

Bayi dalam perutku menendang-nendang. Energi di tubuhku seketika kacau. Aku merasa pusing. Benda-benda di depanku sesaat berbayang. Aku jatuh menunduk. Bongkahan batu itu jatuh begitu saja.

“Nayna, kamu tak apa-apa?” Lena berlari mendekat. Aku sudah tak bisa melakukan apa-apa selain menenangkan bayi di dalam perutku. Dia sepertinya marah karena aku mengubah iris dan memaksakan diri. Maafkan aku, Putriku. Itu tadi refleks.

Lena menyentuh perutku yang buncit. Cahaya biru menyeruak dari telapak tangannya yang menyentuh perutku. Dia hanya sedang mendiagnosa kondisiku. Aku tahu itu.

“Ya, Tuhan. Nayna, sudah saatnya.”



Aku berhutang budi pada Lena. Selalu. Bahkan di saat-saat seperti ini, saat aku meragukannya, dia tak pernah berhenti menolongku. Sekarang hanya tinggal menunggu waktu sampai seseorang menemukanku di sini. Fakhri sudah mati. Aku tak bisa meminta Lena melakukan sesuatu tentang itu. Kedua orang yang tadi bersamanya pasti membunuh Fakhri sebelum Lena sempat melakukan apa-apa.

Putriku sudah lahir. Lena membantu persalinanku dengan baik. Kini kondisiku lemah. Sangat lemah. Aku bahkan belum bisa berdiri. Sedangkan aku tahu, di luar sana mereka masih mencariku. Dua orang teman Lena pasti akan kembali ke tempat ini setelah mereka tak menemukan sesuatu pun di tempat lain. Keselamatanku sudah tak penting lagi. Putriku sudah lahir. Dia harus bertahan hidup.

“Tolong jaga anakku!” kataku. “Jangan sampai mereka menemukannya. Dia harus bertahan hidup.”

“Serahkan padaku!” katanya tegas.

Syukurlah. Dengan begini spesies hijau tak akan punah. Aku percaya Lena akan membawanya ke suatu tempat yang aman. Aku percaya padanya. Harus. Tak ada pilihan lain selain mempercayainya.

Seseorang berada tidak jauh dari gua ini. Aku bisa merasakannya meskipun kondisiku sudah sangat lemah.

“Cepat bawa pergi anakku sekarang!” sergahku.

“Aku juga harus membawamu,” katanya.

“Tidak. Itu tidak perlu.”

“Apa maksudmu tidak perlu?!”

“Itu hanya akan menghambatmu. Aku masih bisa menjaga diri. Sekarang yang terpenting adalah anakku. Jaga dia! Kumohon!”

Lena memandangku curiga.

“Kamu ingin aku meninggalkanmu di sini?” tanyanya.

“Itu satu-satunya jalan,” kataku. Aku tak mengatakan padanya bahwa seseorang berada cukup dekat ke gua untuk bisa menemukanku. Jika aku mengatakannya, Lena tidak akan mau pergi.

“Berjanjilah tak akan melakukan sesuatu yang konyol!” katanya, masih menatapku, sementara anakku di pangkuannya terlelap. Sepertinya dia sudah lelah menangis.

“Aku berjanji,” kataku.

Lena masih menatapku, mencari tahu apakah aku sedang membohonginya atau tidak. Irisnya berubah biru. Dengan irisnya ini dia bisa membaca pikiranku, tapi aku berusaha keras untuk tidak memikirkan seseorang yang mendekati gua ini. Aku sudah belajar menyembunyikan pikiranku selama dua tahun ini. Mudah-mudahan saja aku berhasil mengecoh Lena.

“Aku akan kembali,” katanya. “Bertahanlah sampai saat itu!”

“Terima kasih,” kataku.

Lena berbalik dan berjalan menuju mulut gua. Aku memanggilnya. Ada sesuatu yang kulupakan. Aku meminta Lena memberiku sebuah bolpoin dan selembar kertas. Di kertas itu, aku tuliskan nama putriku.

“Airish Rashiana. Itu namanya.”

“Oke. Akan kuingat baik-baik.”

Lalu Lena pun pergi meninggalkanku sendiri di dalam gua. Usai sudah. Tinggal aku sendiri. Tak ada lagi motivasi untuk terus bertahan. Misiku selesai. Mungkin sudah takdirku untuk mati di tempat seperti ini. Tak apa. Yang penting anakku akan hidup. Dia akan meneruskan garis keturunan spesies hijau.

Seseorang itu semakin dekat ke mulut gua. Aku bisa merasakan kehadirannya dari suhu tubuhnya yang panas dan bau tubuhnya yang kuat. Tak diragukan lagi, orang ini berbahaya. Kuharap Lena sudah membawa Airish cukup jauh dan tak berpapasan dengan orang ini maupun orang lain dari akademi. Orang itu sudah masuk ke mulut gua. Dia kini sedang melihat-lihat jejak kaki di tanah. Rupanya dia pendeteksi.

Karena saat ini aku sendiri dan tidak lagi mengandung, tak ada hambatan lagi untuk mengubah iris. Meskipun aku belum bisa berdiri dan energiku sudah banyak terbuang karena melahirkan, aku masih bisa memaksakan sisa energiku yang tidak sampai 20% ini. Kuubah irisku menjadi hijau. Semakin jelas dan kuat saja kurasakan kehadirannya. Dia menelusuri jejak kaki itu sambil berhati-hati.

Dia muncul di sana, beberapa belas meter di hadapanku. Matanya merah. Dari postur tubuhnya yang tinggi dan berisi, dia pasti laki-laki. Ini lebih buruk dari dugaanku. Tak ada pilihan lain. Kukerahkan sisa 20% energi di tubuhku sampai habis lalu memusatkannya untuk memperbesar pupilku dan mengubah bentuknya menjadi kotak. Aku sudah siap menyerangnya.

“Airish, ini aku Andy,” katanya.



“Ini aku Andy,” katanya lagi. “Tenang. Aku tak akan melukaimu.”

Aku sedikit kesulitan mempertahankan bentuk pupil dan warna irisku, mungkin karena energiku sudah hampir habis kugunakan saat melahirkan tadi. Untung yang muncul di hadapanku bukan orang lain. Andy, meskipun aku dan dia tidak begitu dekat semasa di akademi, Lena dan dia adalah sahabat karib, dia tak akan begitu saja melukaiku.

“Aku tak berniat kembali ke akademi,” kataku dengan napas terengah-engah. Warna iris dan bentuk pupilku masih sekuat tenaga kupertahankan.

“Sudah kubilang aku tak akan melukaimu. Kondisimu sangat lemah. Tak perlu memaksakan diri. Kembalikan saja irismu jadi normal!”

Dia berjalan mendekat dengan mengangkat kedua tangannya seperti seorang buronan menyerah saat dikepung polisi.

“Selain itu,” lanjutnya, “aku di sini bukan untuk membawamu kembali ke akademi, tapi untuk melenyapkanmu.”

Niatku untuk mengubah iris ke keadaan semula langsung hilang. Apa maksudnya? Dua kali dia bilang tidak akan melukaiku. Kemudian dia berniat melenyapkanku. Tak sejalan.

“Kau ingin membunuhku? Silahkan saja! Lagipula aku sudah sangat lemah. Paling-paling aku hanya bisa memberimu sedikit luka sebagai kenang-kenangan.”

Memaksakan berdiri membuat otot-otot di sekitar pinggangku sakit. Aku gigit bibirku yang bawah untuk menahan rasa sakit itu. Irisku tak akan bertahan lama. Dengan energi di tubuhku yang tinggal 20%, bentuk pupil ini hanya akan bertahan lima menit. Satu menit sudah berlalu.

“Biar kujelaskan dulu! Sepertinya kau salah memahaminya.”

Dia kini berdiri cukup dekat di arah jam dua, sekitar empat meter. Dari jarak sedekat ini bisa kulihat jelas irisnya yang merah menyala. Spesies murni. Aku jadi ingat kembali kejadian-kejadian yang kulihat di masa lalu. Banyak orang mengatakan kemampuanku melihat hal-hal di masa lalu adalah suatu kelebihan, anugerah. Entahlah. Seandainya aku tak memiliki kemampuan itu, aku tak akan tahu sejarah sebenarnya dari spesies ini, dan aku tak akan menulis buku yang menyatakan sejarah yang sebenarnya, dan itu artinya aku dan sisa-sisa spesies hijau tak akan kembali diburu. Sesuatu yang dikatakan orang sebagai kelebihan telah membawaku dekat sekali dengan kematian.

“Apa maumu sebenarnya?” tanyaku, dia sudah berhenti melangkah.

“Beberapa petinggi akademi ingin kau mati. Beberapa lagi ingin mengurungmu dan menyiksamu sampai kau tak bisa berbuat apa-apa lagi. Aku datang atas perintah mereka. Tapi..”

Kalau saja pupilku tidak dalam bentuk spesial seperti ini, aku tak akan tahu bahwa Andy sedang mengubah pupilnya. Sampai saat ini bentuk pupilnya masih bulat dan hanya sedikit membesar, tapi perubahan baru saja dimulai.

“Tapi aku tak bisa melakukannya,” katanya. “Lena akan sangat sedih jika aku melakukannya. Dia akan membenciku di sisa hidupnya. Itu bukan hal yang kuinginkan.”

Tinggal dua menit lagi sampai energiku benar-benar habis dan aku akan terkulai begitu saja. Aku masih belum bisa menebak apa yang akan dilakukan Andy. Bisa jadi dia sengaja mengulur waktu sampai aku kehabisan energi lalu menyerangku. Jika ingin menyerangnya, aku akan melakukannya di satu menit terakhir.

“Jadi apa yang akan kau lakukan?” tanyaku.

Perubahan pupilnya mulai jelas terlihat. Dia pasti mengembangkan bentuk ini sendiri. Aku tak pernah melihat seseorang dari spesies merah dengan bentuk pupil seperti ini sebelumnya. Bentuknya mulai jelas, seperti api, api berwarna hitam yang bergerak-gerak. Aku harus berhati-hati.

“Aku akan membuat seolah-olah kau mati,” katanya.

Cukup mengejutkan. Jawaban ini jauh lebih baik dari semua yang kuperkirakan.

“Jelaskan!” kataku, satu menit terakhir hampir tiba.

“Aku akan membawamu ke suatu tempat yang aman. Di tempat itu ada teman yang bisa kupercaya. Kau akan hidup di sana sebagai seseorang yang baru. Nayna akan mati hari ini.”

Satu menit terakhir tiba tapi niatku untuk menyerang Andy sudah hilang. Teleportasi kah? Pernah sekali aku merasakan sensasi itu saat Andy menolongku dalam suatu misi. Dua tahun berlalu sejak aku meninggalkan akademi, kemampuan teleportasinya pasti sudah jauh lebih baik. Entah kemana dia akan membawaku. Tinggal tiga puluh detik lagi sampai energiku benar-benar habis.

“Ketika Lena kembali,” katanya, “dia akan menemukanmu sudah mati. Izinkan aku meminjam tanganmu!”

Sepertinya aku tak bisa menolaknya. Kalaupun aku tidak mengizinkannya, sesaat lagi aku akan jatuh terkulai dan Andy bisa dengan leluasa melakukan sesuatu terhadap tubuhku. Kurasa idenya tidak begitu buruk, meskipun dengan begitu, aku harus menghilang selamanya di sisa hidupku yang berarti tak ada kesempatan untuk bertemu anak yang baru saja kulahirkan beberapa menit lalu. Tak apa. Yang penting dia terus hidup. Spesies hijau tak akan punah.

Aku memberikan tanganku yang kanan. Andy bergerak menghampiriku dan menggenggam tangan kananku dengan kedua tangannya. Irisnya merah menyala dan pupilnya bergerak-gerak seperti api.

“Lena..?”

“Aku akan merahasiakan ini darinya,” kata Andy sebelum selesai pertanyaanku.

Ya, mungkin itu jauh lebih baik. Jika dia tahu yang sebenarnya, dia akan menghabiskan sisa hidupnya untuk mencariku. Itu hanya akan membuat hidupnya terancam.

Lena, Andy, meskipun kalian berasal dari dua spesies yang akhirnya kubenci, nyatanya aku tak sedikit pun membenci kalian. Kesalahan yang dilakukan spesies kalian di masa lalu yang masih terus terulang sampai saat ini, sama sekali tak membuatku membenci kalian. Kalian berdua penyelamatku, selalu seperti itu sejak tahun-tahun kita bersama di akademi. Aku akan sangat merindukan saat-saat itu.

Sesuatu yang panas menyergap tangan kananku dan menyebar hingga ke bahu, ke leher, ke dada, ke seluruh tubuh. Sesaat lagi, aku akan berada di suatu tempat yang jauh. Lena, selamat tinggal.
***

spesies hijau chapter 11c

Buku peninggalan ibuku sudah kumasukkan ke dalam tas yang kugendong. Keluar dari kamar, aku langsung dihadapkan pada semburan api yang hampir saja membakar tanganku. Di lorong ini memang sedang terjadi pertempuran. Di sebelah kanan sana ada pertarungan api dengan air. Di sebelah kiri ada api lawan api. Aku tak mengerti mengapa spesies jingga jumlahnya seperti banyak, seakan-akan menyamai jumlah kami semua di akademi ini. Mungkinkah si spesies hitam telah melakukan sesuatu kepada mereka saat di dalam tanah tadi? Spesies jingga yang menyerangku saja ada dua orang, satu dari kanan, satu dari kiri. Seperti halnya spesies merah, spesies jingga merupakan tipe petarung jarak dekat. Mereka lebih suka bertarung dengan jarak dekat karena kekuatan mereka—terutama elemen apinya—akan lebih kuat dalam jarak itu. Aku sebenarnya tidak begitu bermasalah menghadapi elemen api, yang sedikit membuatku khawatir adalah kemampuan mereka untuk mengeluarkan cahaya yang menyilaukan dari matanya. Itu bisa sangat mengganggu.

Sambil terus mengelak dan mengelak dari semburan api yang keluar dari tangan mereka, aku mencoba memusatkan energi tubuh di mataku yang kiri. Mataku yang kiri terpaksa kupejamkan sehingga aku menghadapi mereka dengan sebelah mata. Gerakan mereka cukup cepat sehingga aku hampir tak punya jeda untuk menghirup napas saat api demi api menyembur ke arahku. Namun, gerakanku pun tentunya sama cepatnya dengan mereka, bahkan sedikit lebih cepat. Karena sampai saat ini aku masih terus menghindar tanpa menyerang balik, dinding-dinding di sekitarku terbakar. Dan ketika akhirnya mata kiriku kubuka, pupilnya sudah berubah bentuk jadi kotak, yang artinya aku sudah bisa memanfaatkan dinding dan lantai di sekitarku. Segera saja kututupi seluruh tubuhku dengan semen dari dinding dan lantai. Hanya mataku yang tidak tertutupi semen itu. Aku jadi seperti manusia batu. Dengan ini aku sudah siap dengan pertarungan jarak dekat yang mereka inginkan.

Dua semburan api yang cukup besar datang dari kiri dan kanan bersamaan. Aku tidak lagi menghindar. Kucoba menahan semburan api itu dengan kedua tanganku yang tentunya terlindungi batu/semen. Meskipun api tidak berhasil membakar kulitku, aku masih bisa merasakan panasnya. Segera saja aku menghambur ke kiri dan mencoba memukul salah satu spesies jingga itu di perut. Dia berhasil menghindar, namun ketika aku memutar dan memukulnya dengan tanganku yang satu lagi, dia tak berhasil menghindar. Aku berhasil melemparnya hingga membentur dinding dan jatuh. Belum juga si spesies jingga itu bangkit, spesies jingga yang satu lagi menerjangku dan menyemburkan api sangat dekat di punggungku. Aku merasa seperti dipanggang sehingga sempat berteriak. Dengan cepat aku berbalik dan berusaha memukulnya. Dia lebih gesit daripada temannya tadi. Dia terus menghindar sambil menyembur-nyemburkan api yang membuat batu-batu yang menempel di tubuhku dipenuhi asap. Akhirnya aku berhasil menendangnya di pinggang sehingga dia membentur dinding dan roboh. Kurasa dia pingsan. Spesies yang satu lagi sudah bangkit dan menyemburkan api yang sangat besar dari kedua tangannya. Aku harus mundur menjauh karena api itu bisa saja membuatku benar-benar kepanasan. Ketika akhirnya api itu hilang, dengan cepat aku bergerak ke depan dan mendorongnya hingga kami sama-sama jatuh. Sebelum dia sempat menyemburkan api lagi, aku pegang kedua pergelangan tangannya dan kutahan. Kugunakan sebagian batu di tanganku untuk menahan kedua tangannya seperti borgol. Kemudian dia hendak menyemburkan api dari mulutnya tapi segera kututup mulutnya dengan tanganku dan kembali menahannya dengan sebagian batu yang kupindahkan ke lantai. Sebenarnya hanya tinggal menunggu waktu sampai dia berhasil menghancurkan batu-batu ini. Oleh karena itu, aku keluarkan jurus hisapan lantai sehingga lantai tempat dia menempel menjadi seperti cair dan menenggelamkannya ke bawah. Setelah dia tenggelam, aku padatkan kembali lantai itu.

Di lorong ini masih ada pertarungan, dan aku tidak berniat turun tangan. Kubiarkan saja mereka menghadapi spesies-spesies jingga itu. Saat ini yang ingin kulakukan adalah mencari Alea dan Sandra, juga Remi. Entah mereka saat ini ada di mana. Aku merunduk, menekankan kedua tanganku di lantai. Batu yang menyelimuti tubuhku kubiarkan lepas. Tanpa memejamkan mata, aku berusaha fokus, memusatkan energi di telapak tangan. Sejurus kemudian lantai yang kutekan turun dengan cepat sehingga aku seperti berada dalam lift yang transparan. Aku melewati lantai demi lantai tanpa peduli apakah aku akan menghantam seseorang atau tidak. Di setiap lantai yang kulewati, selalu ada pertarungan. Ketika akhirnya tiba di lantai satu, aku berdiri. Kuselimuti kembali tubuhku dengan batu dan berlari di sepanjang lorong menuju area tempat auditorium tenggelam. Ada beberapa spesies jingga yang mencoba menghalangi tapi kusingkirkan begitu saja dengan menggerakkan dinding-dinding untuk menghantam mereka. Aku pun tiba di area terbuka itu.

Tempat ini benar-benar sudah kacau berantakan, benar-benar seperti lokasi perang, seperti sudah dihantam banyak granat, bom, dan rudal. Aku langsung saja menghambur ke sana, memukul dan menyingkirkan satu demi satu spesies jingga yang kutemui. Sekali lagi aku bingung, bagaimana bisa jumlah mereka jadi sangat banyak, dan sepertinya sedikit lebih banyak daripada kami semua di akademi. Tapi sepertinya kekuatan mereka sedikit di bawah kami sehingga kami masih bisa mengatasinya. Semburan api, percikan air, bongkahan es, cahaya menyilaukan, petir, semuanya ada di tempat ini. Aku manfaatkan genangan air di sekitarku untuk melindungi kedua mataku dari cahaya menyilaukan yang mungkin akan muncul lagi. Kini aku seperti menggunakan kacamata yang tebal dan dingin.

Tiba-tiba saja tanah di sekitarku bergetar dan bergetar. Lama-lama muncul retakan yang menyebar hampir ke seluruh bagian tempat ini. Spesies jingga tak bisa mengendalikan tanah. Ini tandanya spesies hitam mulai beraksi. Tapi mereka belum muncul. Setelah tadi melihat tiga wanita spesies hitam saat kudeta dimulai, aku belum melihat mereka lagi. Entah di mana mereka saat ini. Tiga spesies jingga mengepungku dan menyemburku dengan api. Dengan cepat kuangkat tanah ke atas sehingga api itu tidak menyentuhku. Sebelum mereka menyemburkan api lagi, kutekankan tanah tempatku berpijak ke bawah sehingga menimbulkan guncangan di sekitarku, membuat mereka bertiga goyah. Segera saja kusentuhkan kedua tangan di tanah dan berkata, “Penjara tanah.” Tanah tempat mereka berdiri retak dan mereka bertiga seperti ditarik ke dalam tanah sehingga hanya menyisakan kepalanya di permukaan. Segera kututupi mulut mereka dengan batu dan menggunakan mataku yang kanan untuk membuat mereka tak sadarkan diri. Ini perang dan sudah sewajarnya aku membunuh musuh, namun aku tidak cukup berani melakukannya. Dari tadi yang kulakukan hanya melumpuhkan sampai mereka pingsan. Entah kenapa, aku tidak siap untuk membunuh seseorang.

“Penjara tanah!”

Aku mendengar seseorang mengatakannya lalu tiba-tiba saja tanah tempatku berdiri retak dan aku seperti tertarik ke dalamnya. Hanya kepalaku yang masih di atas permukaan tanah. Sialan. Aku lengah. Sejurus kemudian seorang wanita berpakaian serba hitam muncul di hadapanku. Dia wanita yang sebelumnya kutemui beberapa jam yang lalu, si spesies hitam berambut pendek.

“Kau mengkhianati kami,” dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Seperti biasa dia mengatakannya dengan santai seolah-olah itu sama sekali tak bermasalah baginya. Namun jelas, itu suatu masalah baginya. “Kau menipu kami lalu mengkhianati kami. Perfect!”

“Aku tidak mengkhianati siapapun,” sergahku. “Kudeta ini seharusnya bisa dibatalkan.”

“Kau masih belum memahaminya juga?”

“Aku paham,” jawabku. “Maka dari itu aku berusaha menghentikannya.”

Dia tersenyum mengejek lalu berkata, “Sayang sekali. Tadinya aku berharap kita bisa saling memahami sebagai sesama spesies campuran. Aku bahkan mengakui bahwa bakat dan kemampuan yang dimiliki spesiesmu itu, luar biasa. Kalau saja kau membantu kami, semua ini akan berjalan lancar. Tapi, karena kau sudah memutuskan untuk membantu mereka, aku tak punya pilihan lain selain menghabisimi sekarang..”

Di kedua tangannya muncul api berwarna hitam yang bergerak-gerak dan mengepulkan asap. Api seperti apa itu? Aku belum pernah melihat yang seperti itu. Dia mengangkat kedua tangannya dan bersiap-siap melemparkan api itu padaku. Gawat. Aku sama sekali tak bisa menggerakkan tanganku. Aku hanya bisa menendang-nendangkan kakiku untuk membuatku keluar dari penjara tanah ini. Seandainya aku bisa mengendalikan api, mungkin aku bisa lepas dengan mudah. Tapi aku tak bisa. Sementara itu untuk menggerakkan tanah, aku butuh kedua tanganku atau kakiku. Kali ini situasinya benar-benar buruk. Wanita itu berkata, “Dengan ini kau akan mati. Api abadi!”

Dilemparkannya kedua api itu ke arahku dan aku hampir saja mengubah pupilku ke bentuk optimalnya seandainya tidak ada yang menahan api itu. Sejumlah air melemparkan api itu ke kiri dan jatuh di tanah. Air itu sempat membeku tapi kemudian mencair. Hebatnya, api hitam itu sama sekali tidak padam. Keduanya masih menyala-nyala di tanah. Itukah yang dimaksud api abadi? Api yang tak akan mati bahkan oleh air?

“Kau tak apa-apa?” tanya seseorang yang mendekat. Ternyata dia Alea.

“Aku belum bisa bergerak,” kataku.

“Bala bantuan kah?” tanya si wanita spesies hitam berambut pendek itu. Dia sudah menyiapkan lagi api hitam di kedua tangannya. Kali ini dia menyiapkan api yang lebih besar.

“Api macam apa itu?” tanya Alea. Dia berdiri di depanku dengan tubuh sedikit merunduk, bersiap-siap menghadapi serangan si spesies hitam itu.

“Api itu tak bisa dipadamkan,” kataku.

Si spesies hitam itu tersenyum mengejek lalu melemparkan api yang ada di tangan kanannya ke arah Alea. Dengan cepat Alea mengeluarkan air dari sela-sela jari tangannya dan membentuknya jadi sebuah dinding yang cukup tebal dan beku, layaknya batu es. Tapi api hitam itu dengan mudah menembusnya dan mendekat dengan sangat cepat. Untunglah Alea sempat melindungi tubuhnya dengan gelembung yang disebutnya perisai biru—warna gelembung itu transparan dan sedikit biru. Akan tetapi, lagi-lagi api itu berhasil menembusnya sehingga Alea terpaksa menghalangi wajahnya dengan kedua tangannya yang disilangkan. Api hitam itu mengenai tangannya dan membakarnya. Alea menjerit-jerit, berteriak-teriak. Dia jatuh berlutut dan terus berteriak. Sepertinya api itu sangat menyakitkan. Api hitam itu tidak menyebar atau pun membesar, melainkan tetap di kedua tangannya dengan ukuran yang sama. Hanya saja, api itu tidak padam-padam.

“Apa yang kau rasakan? Rasa sakit?” si spesies hitam itu mendekat. Di tangannya yang kiri masih ada sebuah api hitam lagi yang bergerak-gerak. Lagi-lagi dia tersenyum mengejek. “Rasa sakit yang kami rasakan berpuluh-puluh tahun lalu dan setelah itu jauh melebihi apa yang kau rasakan. Kalian seharusnya bersujud, memohon ampunan kami, merengek, meminta kami tidak membunuh kalian seperti yang saat itu kami lakukan. Tapi, meskipun kami bersujud, meminta ampun, tetap saja kalian membunuh kami, tanpa ampun. Bahkan di perburuan kedua, tak ada lelaki spesies hitam yang tersisa. Hanya aku dan dua temanku, hanya tiga wanita spesies hitam yang tersisa dari perburuan itu. Kami bertahan hidup, membuat diri kami lebih kuat dan lebih kuat dari waktu ke waktu, memikirkan suatu cara agar kami bisa terus hidup tanpa memiliki keturunan. Kini, semua itu sudah bisa kami lakukan. Kami bertiga, tak akan mati, tak akan bertambah tua, dan akan semakin hebat seiring lebih banyak jurus yang kami pelajari. Dan kalian.. akan mati di sini..”

“Alea, menyingkir!” aku berteriak sekuat mungkin. Alea masih saja duduk berlutut sambil mengeluh kesakitan. Api hitam itu masih membakar kedua tangannya.

“Sepertinya aku berubah pikiran,” kata si spesies hitam. “Aku ingin kalian merasakan lebih jauh soal rasa sakit itu.”

Api hitam di tangan kirinya hilang. Sesaat matanya yang hitam bersinar lalu dia merunduk menekankan kedua tangannya di tanah dan dengan cepat sepetak tanah tempat kami bertiga berada turun hingga beberapa meter. Kami jadi seperti berada di sebuah bak mandi kosong yang sangat besar. Si spesies hitam itu berdiri, memunculkan lagi api hitam di kedua tangannya. Dia lalu menyebarkan api hitam itu ke seluruh dinding di sekitar kami sehingga kami kini dikelilingi api yang katanya abadi itu. Aku masih terjebak di tanah, hanya kepalaku yang berada di permukaan. Wanita spesies hitam itu mendekat dan lagi-lagi tersenyum kecut.

“Akan kubuat kau merasakan sendiri bagaimana sakitnya melihat orang yang kau sayangi dilukai,” kata-katanya itu pasti ditujukan padaku.

Alea mencoba berdiri. Api hitam itu masih menyala-nyala di kedua tangannya. Apakah benar api itu tak bisa dipadamkan sama sekali? Alea membiarkan kedua tangannya terjuntai seolah-olah dia tak bisa lagi menggerakkannya.

“Entah apa yang akan kau lakukan, tapi..” dia berhenti sesaat seperti mengernyit menahan sakitnya api yang membakar tangannya itu, “aku belum kalah.”

Si spesies hitam itu lagi-lagi tersenyum kecut lalu berkata, “Masih bisa saja kau bicara begitu, padahal kedua tanganmu sudah tak bisa kau gunakan lagi.”

Itu yang dari tadi kukhawatirkan. Dengan api abadi yang membakar kedua tangannya, Alea tentu saja tak bisa menggunakan tangannya sehingga kemungkinan besar dia tak bisa menggerakkan air untuk menyerang musuh atau pun melindungi diri. Akan tetapi, Alea memaksakan diri untuk tersenyum, dan bagi orang sepertiku yang sudah cukup lama mengenalnya, ada sesuatu di balik senyumnya itu. Alea sudah merencanakan sesuatu. Aku yakin itu. Entahlah apakah terbakarnya kedua tangannya juga termasuk dalam rencananya, namun seperti yang dia bilang, dia belum kalah.

“Spesies terkuat..” kata Alea, “Pantas saja kalian diburu. Kalian memang berbahaya.”

“Tahu apa kau soal spesies kami!?” dia menghentakkan kakinya yang kanan, membuat retak tanah tempat Alea berpijak. Alea berhasil menghindar ke kiri. Retakan tanah itu berhenti sekitar dua meter lagi di depanku. “Saat perburuan dan pembantaian itu dilakukan, kami masih belum bisa mengoptimalkan kekuatan kami, kami masih belajar. Kalian memang licik, pengecut! Seandainya kalian memang berani menghadapi kami saat itu, kalian tentunya akan secara terang-terangan melakukannya, mengajak kami bertarung, bukan dengan cara yang kalian lakukan saat itu, menyerang dengan tiba-tiba.”

“Itu sudah takdir. Kau tahu itu..” kata Alea. Sepertinya dia berusaha membuat si spesies hitam itu jengah. Apa yang sedang direncanakannya kini? Kulihat dia masih sesekali mengernyit merasakan sakit di kedua tangannya.

“Takdir!?” lagi-lagi dia menghentakkan kakinya dan timbullah lagi sebuah retakan yang mengejar Alea. Alea menghindar sedikit ke kanan. Retakan itu kini berhenti lebih dekat dari tadi, sekitar satu meter di depanku. Oh, ini kah yang sedang dia usahakan: berusaha membuat aku terlepas dari penjara tanah ini? “Apa yang kau tahu soal takdir!? Bisa-bisanya spesies murni sepertimu bicara soal takdir..”

Alea malah tertawa sambil menunduk. Kedua tangannya masih terjuntai dengan api hitam itu masih menyala-nyala di sana. Dia berkata, “Kudeta ini sudah membuktikan bahwa spesies kalian memang berbahaya. Kalau saja hari itu kami tidak memburu kalian, tentu saja kalian akan lebih berbahaya lagi. Itu membuktikan bahwa keputusan kami saat itu benar. Mungkin saja petinggi akademi saat itu punya kemampuan untuk melihat masa depan sehingga dia berusaha mencegah spesies kalian berkembang..”

“Berisik!”si spesies hitam itu menghentakkan kakinya lagi dan retakan itu kembali muncul mengejar Alea. Kali ini dia tidak berhenti sampai di situ. Dia langsung merunduk dan menekankan kedua tangannya di lantai. Retakan-retakan lain muncul dari tanah yang disentuhnya dan bergerak-gerak mengejar Alea. Awalnya Alea hanya menghindari ke kanan dan ke kiri. Tapi setelah retakan itu jadi banyak, dia mundur hingga ke belakangku. Salah satu retakan itu akhirnya memberiku ruang untuk bergerak. Tanganku sudah bisa kugerakkan. Segera saja kuangkat lapisan tanah yang mengelilingiku ke permukaan lalu menurunkannya kembali.

Si spesies hitam itu tampak kesal karena secara tidak sengaja dia melepaskanku dari penjara tanah-nya. Dia lalu mengangkat kedua tangannya dan membentangkannya. Kulihat matanya yang hitam bersinar sesaat lalu dinding-dinding di kiri dan kanan kami, yang diselimuti api hitam itu bergerak mendekat, berusaha menghimpit kami. Si spesies hitam itu sendiri dengan cepat menggerakkan tanah untuk membawanya ke atas. Alea di belakangku, tampak kelelahan dan mengernyit merasakan sakit di kedua tangannya. Aku segera menghampirinya, memegang bahunya dan menghindari kedua api hitam itu. Gerakan dinding-dinding itu semakin cepat dan entahlah apakah aku sempat membawa Alea naik. Kutekankan sebelah tanganku ke tanah sementara tanganku yang lain merangkul Alea. Tanah tempat kami berpijak naik dan naik. Dinding-dinding itu juga semakin cepat bergerak, berusaha menghimpit kami. Aku bisa merasakan panas yang dikobarkan api hitam itu. Aku berusaha menaikkan tanah ini lebih cepat. Tapi gerakan dinding itu juga bertambah cepat. Si spesies hitam sudah sepenuhnya ke permukaan, kulihat api hitam itu seperti ingin segera memakan kami.

Sebuah cahaya yang menyilaukan muncul disertai gemuruh petir. Tiba-tiba saja dinding-dinding itu berhenti bergerak, memberi kami jeda untuk mencapai permukaan. Sejurus kemudian aku menyadari apa yang tadi terjadi. Si spesies hitam itu baru saja disambar petir. Dia jatuh berlutut. Segera saja seseorang mengikat tubuhnya dengan sejumlah air dan membekukannya dengan hanya menyisakan kepalanya. Sebelum si spesies hitam itu sempat melakukan sesuatu, sebuah petir lagi-lagi menyambar tepat di kepalanya, menciptakan sebuah bunyi gemeretak. Kali ini dia roboh. Aku yakin kali ini dia sudah tak bisa bergerak lagi.

Rupanya ini yang direncanakan Alea. Dari tadi dia berusaha membuat si spesies hitam itu naik ke permukaan. Di permukaan, dia sudah menyuruh dua orang menyerangnya ketika melihat si spesies hitam itu. Si spesies abu-abu langsung menyambarnya dengan petir, membuatnya terkejut dan linglung, kemudian si spesies biru menahannya agar tidak bergerak beberapa detik lalu si spesies abu-abu lagi-lagi menyambarkan petir ke tubuhnya. Begitulah. Rencananya lagi-lagi berhasil. Si spesies biru itu ternyata Sandra. Dia kini sudah kembali menghadapi beberapa spesies jingga yang menghampirinya. Dengan sebuah gerakan mata, dia menyuruhku untuk membawa Alea ke suatu tempat. Ketika aku melihat Alea, dia sudah terkapar dan meronta-ronta. Sepertinya rasa sakit di kedua tangannya itu semakin menjadi-jadi. Api itu belum juga hilang.

Aku menghampirinya lalu membuat semacam benteng perlindungan dari tanah, benteng perlindungan ini berbentuk separuh bola. Alea menggeliat-geliat sambil menutup kedua matanya. Bagaimana caranya memadamkan api ini? gumamku. Sayang sekali aku bukan seorang penyembuh. Alea lah justru yang seorang penyembuh, namun karena kedua tangannya tak bisa dia gunakan, dia tak bisa melakukan penyembuhan. Dia bahkan tak bisa mengeluarkan air dari sela-sela jari tangannya ketika aku menyuruhnya. Aku bingung, sungguh tak tahu apa yang harus kulakukan. Kusentuhkan kedua tanganku ke tanah dan menyelimutkan tanah ke tanganku sampai sikut. Dengan pelan aku mencoba memegang kedua tangannya yang terbakar api hitam itu. Namun, bukannya padam, api hitam itu malah ikut membakar tanganku yang terbungkus tanah. Segera saja kulepaskan tanah yang membungkus tanganku itu sehingga api hitam itu berceceran di sekitarku. Aku lalu mencoba menyelimuti tangan Alea dengan tanah. Kulapis lagi dan lagi. Namun dalam sekejap api hitam itu menembus keluar, membakar lapisan tanah di tangannya itu. Aku menyerah. Tak ada yang bisa kulakukan untuk memadamkannya. Alea masih saja menggeliat-geliat kesakitan. Sesekali matanya yang biru terbuka menatapku.

“Airish..”

Baru saja menyebut namaku dan belum sempat mengatakan hal lainnya, tiba-tiba benteng perlindungan yang kubuat hancur. Seseorang menghancurkannya dari luar. Aku merunduk untuk melindungi wajahku. Alea pun sama. Ketika aku membuka mata, kulihat lokasi di sekitar kami seperti sebuah tempat yang habis dijatuhi bom, tak ada orang hingga sekitar dua puluh meter atau lebih. Kami seperti berada di pusat sebuah lingkaran. Kemana Sandra? Sesuatu bergerak cepat dari depan, menghampiriku. Dia salah satu wanita spesies hitam itu, kali ini yang rambutnya panjang bergelombang. Di kedua tangannya ada sepasang pedang yang tampaknya terbuat dari batu. Aku segera menyelimuti seluruh tubuhku dengan tanah dan memadatkannya. Langsung saja dia menebaskan pedang batunya itu satu per satu. Aku menangkisnya dengan kedua tanganku yang diselimuti batu juga. Pedangnya itu keras juga, sampai-sampai membuat retak batu yang menyelimuti tubuhku. Dia terus menerus menebaskan kedua pedangnya itu, mendesakku. Aku terpaksa mundur dan mundur. Tiba-tiba saja sebuah dinding menahanku di belakang. Sejak kapan ada dinding di sana? Rupanya si spesies hitam ini sudah menyiapkannya. Aku tak bisa lagi mundur ataupun menghindar ketika dia menebaskan kedua pedang batunya sekaligus dan hampir membuat lapisan tanah di tubuhku remuk dan hancur. Dia lalu menyelimuti salah satu pedangnya dengan api hitam—api yang sama dengan temannya tadi—dan menebaskannya padaku. Aku bersusaha menahannya dengan kedua tanganku, namun api hitam itu malah menyebar ke tanganku hingga sikut. Aku menendangnya di perut dan dia pun terpaksa mundur cukup jauh. Salah satu pedangnya yang diselimuti api hitam itu berhasil kurebut dan segera kulempar ke samping. Sebelum api hitam itu menjalar ke seluruh tubuh, aku lepaskan semua tanah yang menyelimuti tubuhku.

Aku lengah. Si spesies hitam itu sudah meneylimuti pedangnya yang satu lagi itu dengan api hitam dan kini sudah sangat dekat denganku. Aku baru menyelimutkan tanah hingga kedua kakiku. Apakah aku sempat menghindar atau menangkisnya? Rasanya tidak. Jika memperhitungkan jarak dan kecepatan dia bergerak, sepertinya aku tidak akan sempat menghindar mau pun menangkisnya. Lalu, bagaimana nasibku? Pedang yang diselimuti api hitam itu berhenti tepat sebelum menyentuh tanganku yang kusimpan di depan. Ada noda darah. Ada percikan darah di tanganku. Darah siapa? Aku melihat ke depan dan ternyata pedang itu menembus Alea di perutnya. Api hitam itu mulai menyebar ke tubuhnya. Alea berteriak keras sekali. Si spesies hitam menarik pedang itu sehingga darah dari perut Alea semakin banyak yang jatuh ke tanah. Sejurus kemudian Alea roboh.

Aku masih dicekam ketakutan. Terbayang terus saat pedang yang diselimuti api hitam itu menembus perut Alea, tepat di depanku. Apa yang dia pikirkan? Sudah jelas-jelas kedua tangannya tak bisa digunakan, dia malah dengan nekat berdiri di depanku dan menahan spesies hitam itu. Bodoh. Sungguh bodoh. Dengan emosi aku menyelimuti seluruh tubuhku dengan tanah dan memadatkannya hingga benar-benar keras. Aku lalu bergerak cepat menghampiri si spesies hitam dan dia pun bergerak menghampiriku. Dan ketika akhirnya kami bertemu di tengah, pedangnya itu menebas bahu kiriku sedangkan tanganku mengenai perutnya. Darah keluar dari mulutnya, tapi sejurus kemudian lapisan tanah yang menyelimuti tubuhku retak dan hancur. Aku rasakan pedang itu menyentuh langsung bahuku. Rasanya panas luar biasa, apalagi ketika api hitam itu mulai menyebar di bahuku itu. Aku tahan diriku untuk tidak berteriak meskipun rasa sakitnya sungguh luar biasa. Kugerakkan tanganku yang bebas untuk mengendalikan tanah. Sebisa mungkin kubuat dia tak bisa bergerak, kedua kakinya aku selimuti dengan tanah dan kuremas dengan kuat. Dia meringis menahan sakit namun masih bisa menggerakkan pedangnya untuk membuatku semakin kesakitan. Api hitam itu mulai menjalar ke lengan kiriku.

Entah bagaimana ceritanya, aku kemudian merasakan darah keluar dari kedua mataku. Melihatnya, si spesies hitam itu tampak terkejut dan langsung bereaksi. Kulihat pupilnya yang hitam berputar dan berputar semakin cepat seperti pusaran air. Sejurus kemudian aku seperti mendengar suara air dalam jumlah besar dan ternyata memang air. Air itu muncul dari bawah dan memisahkan kami berdua. Untuk sesaat kami dipisahkan air setinggi empat atau lima meter yang kemudian jatuh kembali ke tanah. Aku melihat pupil hitamnya kini berbentuk api yang bergerak-gerak. Di kedua mataku sendiri, darah semakin mengalir, menyisakan rasa sakit yang dalam. Dia bergerak mendekat dengan pedang yang sudah dipindahkan ke tangan kanannya, dengan api hitam yang masih menyelimutinya. Aku tidak menghindar, aku tidak bergerak. Aku diam, menyatukan kedua telapak tanganku di depan sambil terus menatapnya. Aku sendiri tak mengerti apa yang kulakukan sebelum akhirnya semua itu terjadi.

“Api abadi!”

Spesies hitam itu begitu terkejut saat aku mengucapkannya, dan dia lebih terkejut lagi saat api hitam itu benar-benar muncul di belakangnya, seperti seekor singa yang hendak menerkam mangsanya. Dia membalikkan tubuhnya dan menebas api hitam berbentuk singa itu dengan pedangnya. Namun sia-sia saja. Singa hitam itu tetap menerkamnya sampai dia jatuh. Aku sempat mendengar dia berteriak keras sekali. Apakah aku berhasil? Tiba-tiba saja kurasakan kepalaku begitu sakit, berdengung-dengung seperti berada di dalam sebuah lonceng raksasa yang dipukul-pukul. Bukan hanya itu, kepalaku rasanya begitu berat dan aku jadi sulit bernapas. Kemudian darah begitu saja keluar dari mulutku. Aku pun menutup kedua mataku dan jatuh berlutut. Kuraba kedua mataku dengan tanganku. Darah masih mengalir di sana, rasanya hangat. Ketika aku membuka mata, kulihat di depanku ada kobaran api hitam yang menyala-nyala, tapi tak kutemukan si spesies hitam tadi. Apakah dia hangus terbakar? Kurasa tidak. Kurasa dia melarikan diri.

“Airish, kamu tak apa-apa?”

Dua orang tiba-tiba berada di dekatku dan salah satu dari mereka langsung menangkap tubuhku yang akan jatuh. Aku mengenali keduanya: Lena dan Sandra.

“Kamu tak apa-apa?” tanya Lena lagi.

Aku menggerakkan kepalaku, mencari-cari di mana Alea. Setelah menemukannya, aku mengangkat telunjukku ke tempat dia berada.

“Alea..” kataku.

Lena langsung mengerti apa yang kumaksudkan. Dia menyuruh Sandra menopang tubuhku sementara dia bergerak menghampiri Alea. Aku sempat melihat Lena mengeluarkan energi berwarna biru di kedua tangannya dan menyentuhkannya ke perut Alea yang tadi kena tusuk. Dia rupanya cukup kesulitan memadamkan api hitam itu tapi akhirnya berhasil juga. Lena tampak tergesa-gesa dan khawatir. Aku lalu mencoba melihat ke sekelilingku. Sudah tak ada lagi pertarungan. Hanya ada asap, tanah yang hancur, genangan air, bongkahan es, tapi tak ada pertarungan. Sandra sepertinya membaca apa yang kupikirkan sehingga dia berkata, “Kita sudah menang. Kudeta ini berhasil digagalkan.” Aku merasa sangat lega. Kemudian aku bertanya, “Alea..?” Aku tak perlu menyelesaikan pertanyaanku karena Sandra sudah pasti mengetahuinya. Seperti biasa ekspresinya datar sedatar-datarnya. Dia berkata, “Lena sedang berusaha.” Setelah itu, aku menutup kedua mataku karena rasa sakitnya sudah tak tertahankan lagi. Sempat kudengar suara ayam berkokok.
***




Alea, 2030
Selakopi, Cianjur

“Saat matahari terbit, pertempuran sudah kami menangkan,” kata Tante Sandra. “Kudeta gagal. Spesies-spesies hitam itu melarikan diri, begitu juga beberapa spesies jingga yang tersisa. Kami tidak mengejarnya. Andy, pemimpin akademi saat itu, menyuruh kami mementingkan kondisi teman-teman kami ketimbang mengejar mereka. Aku baru menyadari bahwa kondisi akademi benar-benar kacau. Auditorium sudah tak ada. Ruangan-ruangan banyak yang hangus. Tanah retak di sana-sini. Namun yang paling menyedihkan adalah melihat teman-teman yang terkapar dan mati. Aku ikut membantu memisahkan mereka yang sudah mati dengan mereka yang masih bisa diselamatkan. Rasanya pedih sekali melihat orang-orang dari spesiesku sendiri terkapar tak berdaya. Aku rasa saat itu aku menangis.

“Namun betapa sedihnya pun aku saat itu, ibumu jauh lebih sedih lagi. Dia sempat pingsan dan baru sadar saat langit sudah agak terang. Alea, teman terbaik ibumu, mati. Seharian itu kami sibuk merawat yang luka dan mengubur yang mati. Akademi juga perlu direnovasi besar-besaran. Untung saja lokasi akademi sangat jauh dari kota sehingga tidak terlalu banyak yang menyadari kekacauan yang ada. Malam harinya kami tidur seadanya, dengan kondisi kamar yang banyak kerusakan, sambil terus dibayangi kesedihan dan duka.

“Beberapa hari setelah itu, setelah kondisi akademi sedikit membaik dan mulai dilakukan renovasi dan perbaikan gedung, ibumu memutuskan untuk meninggalkan akademi. Dia mengatakan kepada kami bahwa berada di sana akan membuatnya semakin sedih. Maka hari itu kami berpisah dengannya. Aku dan Lena mengantarnya sampai memasuki kota, lalu kami pun benar-benar berpisah.”

Tante Sandra mengakhiri ceritanya dengan tersenyum. Rupanya itu alasan ibu meninggalkan akademi, karena terlalu berat baginya berada di tempat yang selalu mengingatkannya pada Alea, teman terbaiknya itu, yang namanya sama persis denganku.

“Setelah itu ibu pergi kemana?” tanyaku.

Tante Sandra menggeleng lalu berkata, “Dia menyuruh aku dan Lena untuk tidak mengikutinya. Sejak saat itu, kami tak bertemu untuk bertahun-tahun lamanya. Kami baru bertemu waktu ayahmu sakit dan kau masih sangat kecil. Kau ingat kan hari itu?”

Aku mengangguk lalu bertanya lagi, “Jadi, baik Tante maupun Om sama sekali tidak tahu apa yang terjadi dengan ibu setelah itu?”

Mereka berdua menggeleng. Om Remi lalu berkata, “Beberapa lama setelah itu kami memang mendapat kabar bahwa spesies hitam dan spesies jingga yang tersisa mencari ibumu. Kami pun berusaha mencarinya, namun tidak menemukannya. Kurasa spesies campuran itu pun tidak menemukannya.”

Akhirnya bagaimana nasib ibu setelah meninggalkan akademi benar-benar misteri. Namun, apapun yang dia alami saat itu, dia berhasil bertahan sampai akhirnya melahirkanku. Lalu, satu pertanyaan lagi mendengung di kepalaku. “Bagaimana ibu dan ayah bertemu?”

Tante Sandra dan Om Remi saling memandang. Tampaknya mereka sama-sama tidak tahu.

“Kami tidak tahu,” kata Tante Sandra.
***

spesies hijau chapter 11b

Alea, 2030
Selakopi, Cianjur

“Sekitar jam sepuluh malam, ibumu datang ke kamarku,” kata Tante Sandra, menceritakan kejadian sebelum ibu pergi meninggalkan akademi. “Bukannya masuk ke kamar, dia malah menyeretku keluar. Saat itu dia bersama Alea..”

“Alea?” aku terkejut karena namaku disebut.

Tante Sandra diam sejenak, seperti kebingungan dan kaget di saat yang bersamaan. Dia lalu tersenyum dan berkata, “Alea itu teman ibumu, orang yang paling dekat dengannya saat itu. Namanya sama persis dengan namamu.”

“Alea Leviana Narina?” tanyaku memastikan.

“Alea Leviana Narina,” jawab Tante Sandra tersenyum.

“Sama persis,” kataku. Aku masih sedikit terkejut karena selama ini tidak pernah sama sekali mendengar tentang orang bernama Alea ini. Tante Sandra baru saja mengatakan bahwa dia adalah orang yang paling dekat dengan ibu saat itu. Aku kira orang itu adalah Tante Sandra sendiri, rupanya aku salah.

“Saat itu iris mereka berdua sudah berubah. Ibumu bahkan sudah mengaktifkan mode pelindung-nya..”

“Mode pelindung?” satu hal lagi membuatku kaget. “Memangnya ibu bisa melakukannya?”

Tante Sandra tersenyum dan berkata, “Bisa. Di tahun ketiganya di akademi, akhirnya dia bisa melakukannya.”

“Bukankah itu bakat bawaan spesies biru?”

“Ya. Dan ibumu memiki darah spesies biru yang tampaknya cukup kuat.”

Aku mengerti sekarang. Spesies hijau dibentuk dari persilangan spesies biru dan spesies kuning. Rupanya gen spesies biru di tubuh ibu cukup kuat sehingga bakat bawaannya pun ada pada ibu.

“Melihat mereka sudah mengubah iris, aku pun mengubah irisku dan mulai mengorek-ngorek isi kepala mereka,” lanjut Tante Sandra. “Dan alangkah terkejutnya aku karena baik ibumu maupun Alea sama-sama memikirkan sebuah kudeta. Sambil berjalan tergesa-gesa menuju kamar Remi, aku tanyakan kepada mereka tentang kudeta itu. Alea menjelaskan dengan cepat—seperti biasanya kalau dia menjelaskan sesuatu—namun karena aku bisa membaca pikirannya, aku paham semua yang dikatakannya. Rupanya sebuah kudeta sedang direncanakan dan akan dilakukan tepat tengah malam, dua jam lagi dari saat itu. Setelah menjelaskan hal itu kepada Remi, kami berempat masuk ke lift.

“Di dalam lift itu kami mendiskusikan apa yang harus dilakukan untuk mengatasi kudeta yang sebentar lagi akan terjadi. Aku lalu mengusulkan untuk memberitahu Lena, salah satu petinggi akademi saat itu. Namun ibumu mengatakan bahwa itu terlalu berbahaya karena saat itu kamar para petinggi sedang diawasi beberapa spesies jingga yang kekuatannya luar biasa. Spesies jingga, rupanya mereka yang merencanakan kudeta itu, dengan dibantu sisa-sisa spesies hitam. Kami baru keluar saat lift tiba di bawah tanah, satu lantai di bawah lantai dasar. Ruangan itu seperti sebuah dimensi yang asing. Seluruhnya berwarna putih tanpa perabotan apapun dan tidak terlihat sekat-sekat, sudut atau apapun. Benar-benar kosong dan putih. Di sanalah kami berempat duduk, memikirkan solusi untuk rencana kudeta itu.

“Setelah lebih dari tiga puluh menit berdiskusi, kami sampai pada satu keputusan, yaitu memberitahukan hal ini kepada sebanyak mungkin orang di akademi. Memberitahu para petinggi akan sangat sulit sehingga kami hanya akan memberitahu orang-orang lainnya yang mungkin tidak mendapat penjagaan ketat dari spesies jingga. Kami berpencar ke empat tempat: blok A dan B di lantai 4, blok A dan B di lantai 5. Mengingat spesies-spesies yang ada dicampur, kami harus hati-hati agar tidak memasuki kamar yang ada spesies jingganya. Selain itu, kamar di akademi ada banyak.

“Jam setengah dua belas, seperti yang dijanjikan kami bertemu di atap auditorium. Aku bisa merasakan suasana akademi tidak seperti biasanya. Heningnya mencurigakan. Diamnya membahayakan. Kami sudah berusaha memberitahukan kudeta itu kepada sebanyak mungkin orang, namun belum ada yang memberitahu satu pengajar pun, padahal kami akan membutuhkan mereka saat kudeta terjadi. Waktu tinggal sedikit. Kami lalu memecah kelompok menjadi dua. Aku dan Remi ke lantai 4 sementara Alea dan ibumu ke lantai 5. Waktunya kurang dari setengah jam, dan itu tidak cukup. Aku menyisir sisi kiri sementara Remi sisi kanan blok pengajar. Sampai akhirnya tengah malam tiba, aku hanya bisa memberi tahu tiga pengajar.

“Tepat tengah malam itu, sebuah suara tiba-tiba membuat telingaku sakit dan kehilangan daya dengarnya beberapa detik. Tempat di sekitarku tiba-tiba bersinar menyilaukan. Selanjutnya seperti ada gempa bumi, lantai yang kupijak bergetar. Rupanya itulah tanda kudeta dimulai.”

Aku menantikan Tante Sandra melanjutkan ceritanya tapi dia hanya diam memandangi Inna. Tatapan matanya tampak aneh. Sebelum aku sempat menyuruhnya melanjutkan, Om Remi menyela, “Kita skip saja kejadian setelah itu. Yang jelas besok harinya, sekitar jam enam pagi, kondisi akademi rusak parah. Beberapa bangunannya roboh, retak. Dan tentu saja, banyak yang tewas.”

“Kudetanya sendiri?” tanyaku.

“Gagal,” jawab Om Remi. “Kudeta spesies jingga gagal.”

“Upaya kalian berempat jadinya berhasil,” kataku tersenyum.

Tapi Om Remi tidak tersenyum. Raut mukanya berubah sedih. Dia berkata, “Tidak sepenuhnya berhasil. Kami kehilangan Alea.”
***



Airish, 2013
Akademi, Bogor

Setelah aku mengatakan bahwa aku akan membantu kudeta yang mereka rencanakan, ketiga orang spesies hitam itu memberi rincian tentang apa yang akan mereka lakukan nanti tengah malam. Beberapa spesies jingga yang sangat kuat sudah ditempatkan untuk mengawasi para petinggi akademi. Mereka akan menghambat para petinggi itu saat sinyal tanda kudeta dimulai diberikan. Sinyalnya itu sendiri ada tiga tahap. Tahap pertama adalah sebuah suara melengking yang disebar lewat angin ke seluruh akademi. Suara itu akan membuat sakit yang mendengarnya. Lalu tak lama setelah itu, akan ada sebuah cahaya menyilaukan yang melingkupi seluruh akademi. Tahap ketiga adalah gempa bumi kecil, yaitu digetarkannya tanah yang mungkin akan membuat roboh beberapa bangunan. Misi kudeta ini sendiri bisa dibilang misi pembantaian. Mereka berniat menghabisi semua yang ada di akademi, tanpa tersisa. Nantinya, mereka akan memburu sisa-sisa spesies yang ada di luar, yang sedang dalam suatu misi. Ini persis seperti yang terjadi beberapa tahun silam, hanya kondisinya dibalik. Yang membuatku bertanya-tanya adalah, bagaimana mereka bisa sangat percaya diri bisa mengalahkan spesies-spesies lain yang jika digabungkan, jumlahnya jauh lebih banyak daripada mereka?

Setelah menjelaskan semua itu, mereka membawaku ke permukaan. Rupanya dari tadi aku berada di gerbang utama, hanya saja jauh di dalam tanah. Kedua penjaga yang tadi membeku sudah tak terlihat. Seseorang muncul dari pintu utama, berjalan menghampiri kami. Dia Jena.

“Dia akan menemanimu saat kudeta berlangsung,” kata wanita dengan suara lembut itu. Mereka bertiga lalu menghilang dengan cepat. Aku kira aku melihat mereka berpencar ke sisi kiri, sisi kanan, dan atas.

“Ikut aku!” kata Jena. Dia berbalik menuju pintu utama dan aku pun mengikutinya. Kulihat jam tangan. Sudah jam sembilan lewat. Kurang dari tiga jam, kudeta akan terjadi. Dalam hati, aku sudah membuat keputusan. Aku harus bergerak cepat, namun tetap harus sangat hati-hati karena aku tak mau mengundang perhatian spesies-spesies jingga lain atau ketiga spesies hitam itu. Satu-satunya yang bisa kugunakan adalah elemen air. Saat berada di lobi, aku mengeluarkan sebotol air mineral dari tas, dengan cepat kubuka tutupnya lalu mengerakkan air itu ke depan, ke arah Jena. Sayang sekali Jena menyadari apa yang hendak kulakukan. Dia mengibaskan tangan kirinya sambil berbalik sehingga air yang tadinya hendak kugunakan untuk membuatnya beku sudah lebih dulu terlempar oleh api yang keluar dari tangan kanannya itu. Kami kini berhadapan, saling menatap.

“Sudah kuduga,” katanya. “Kau terlalu mengkhawatirkan teman-temanmu.”

“Kudeta ini hanya akan membuat keadaan lebih buruk,” kataku.

“Itu menurutmu.”

“Tidak. Itu fakta yang harus kita hadapi.”

Aku kumpulkan air yang jatuh ke lantai dan menyelimutkannya di kedua tangan dan kedua kaki, juga di sekitar mata sehingga seperti kaca mata yang melekat kuat. Jena seorang spesies jingga. Dia tampaknya bisa menggunakan api dengan baik, maka kemungkinan dia juga bisa menggunakan cahaya dengan baik. Aku harus melindungi mataku. Dia mengeluarkan api di sela-sela jarinya lalu menyelimutkan api itu ke kedua tangannya hingga sikut. Kami masih sama-sama menunggu gerakan lawan. Beberapa detik itu kugunakan untuk mengatur napas dan menenangkan diri, berkonsentrasi. Waktuku tak banyak. Aku harus menyelesaikan ini dengan cepat. Mau tak mau harus kugunakan jurus rahasia yang baru kupelajari tiga bulan terakhir ini. Kusatukan kedua telapak tanganku di depan dan menutup mataku yang kiri. Kening Jena berkerut, dia memperbesar api itu dan membentuknya jadi sebuah cambuk yang panjang di tangan kanannya.

“Cambuk api!” katanya. Dia menggerakkan cambuk itu ke depan dan aku terpaksa meloncat mundur. Posisi tanganku masih seperti tadi dan mata kiriku masih tertutup. Sedikit lagi, tinggal sebentar lagi aku sudah bisa menggunakannya. Alih-alih menggerakkan cambuk api itu, dia malah berlari menghampiriku. Dia menginginkan pertarungan jarak dekat. Sudah selesai. Kubuka mata kiriku dan kini pupilnya yang tadi bulat sudah berubah jadi kotak, bentuk yang sangat aneh untuk sebuah pupil. Seperti yang kukatakan ini jurus rahasia, yaitu jurus yang dikembangkan seseorang dan sifatnya original. Aku menunduk, kusentuhkan tangan kiriku ke lantai dan berkata, “Tangan bumi.” Jena baru saja akan menggerakkan cambuk apinya ketika sebuah tangan mencengkeram kakinya sehingga dia terjatuh. Cambuk api itu hampir saja menyentuh rambutku. Sebuah tangan lagi muncul dari lantai dan menggenggam kakinya yag lain. Beberapa tangan lagi muncul dengan cepat dan meraih kedua tangannya. Tangan bumi adalah salah satu jurus yang kukembangkan yang bahkan tak akan hancur oleh ledakan api maupun sambaran petir. Jena kini tak bisa bergerak. Dengan cepat kusentuhkan kedua tanganku ke lantai lalu berkata, “Lipatan bumi.” Sebenarnya jurus aslinya adalah lipatan tanah, jurus yang biasa dipakai spesies hijau, namun karena yang kulipat bukan benar-benar tanah, melainkan sejenis batu, maka aku menamakannya lipatan bumi. Jurus ini baru bisa digunakan kalau pupil kiriku sudah berbentuk kotak. Segera saja lantai di depanku itu terbalik dan kini Jena tak terlihat. Dia masih terikat tangan bumi dan kini berada di dalam tanah. Kulihat jam tangan. Sudah hampir jam sepuluh. Aku bergegas ke kamarku.

Alea sedang tidur ketika aku masuk ke kamar. Kusiram wajahnya dengan air dari kamar mandi sehingga dia terbangun dan berteriak. Aku menyuruhnya diam lalu dengan cepat menjelaskan rencana kudeta spesies jingga dan spesies hitam yang sebentar lagi akan terjadi. Aku hanya menceritakan garis besarnya karena waktu sangat sempit. Untungnya Alea tidak banyak bertanya seperti biasanya. Mungkin dia melihat keseriusan dan kekhawatiran di mataku. Kami pun bergerak keluar kamar, menuju kamar Sandra. Kuubah irisku dan kuaktifkan mode pelindung, begitu juga Alea. Dalam hati aku berdoa agar spesies-spesies itu tidak menyadari bahwa aku sebenarnya akan melawan mereka.

Saat Sandra membuka pintu kamarnya dan muncul, aku langsung menariknya keluar dan menutup pintu. Dia tampak kaget. Lalu setelah melihat iris kami berdua sudah berubah, dia pun mengubah irisnya. Aku lalu memikirkan tentang kudeta itu dan ia pun mendengarnya. Kami bergegas ke kamar Remi. Di sepanjang lorong Alea menjelaskan dengan cepat kepada Sandra apa yang tadi kujelaskan padanya di kamar. Setelah Remi bersama kami, aku segera menuju lift. Saat ini, tak ada tempat yang benar-benar aman untuk berkumpul mendiskusikan situasi yang gawat ini. Tak ada tempat lain selain satu lantai di bawah lantai dasar. Alea menyuruh semua orang mengembalikan kembali irisnya karena dia tahu di ruangan yang akan kami masuki itu, mode pelindung maupun bakat bawaan lainnya tidak akan bekerja, justru malah memberitahu keberadaan kami kepada musuh jika tetap mengubah iris. Satu lantai di bawah lantai dasar, lift berhenti, kami masuk ke sebuah ruangan yang hanya putih, tanpa apapun, tanpa ruang. Benar-benar kosong dan seolah-olah tanpa batas. Kami lalu duduk dan mulai mendiskusikan apa yang akan kami lakukan.

“Ini gawat,” kata Alea. “Serius ini gawat. Waktu kita tinggal dua jam. Apa tak ada yang tahu soal kudeta ini selain kita?” dia menoleh padaku.

Aku menggeleng. “Rasanya hanya kita yang tahu.”

Lalu selama beberapa menit kami hanya diam. Alea menutup kedua matanya dan meletakkan jari-jari tangannya di pelipisnya. Dia sedang memikirkan strategi dan biasanya itu butuh waktu beberapa menit. Sandra seperti biasa dengan ekspresinya yang datar, Remi selalu berusaha menjauhkan matanya dari mataku, dia masih kesal padaku. Aku pun mencoba memikirkan solusi untuk mengatasi rencana kudeta ini. Aku berpikir, berpikir, dan berpikir. Beberapa menit itu kami hanya diam.

Setelah lebih dari sepuluh menit berpikir, Alea mengemukakan idenya, “Kita tak tahu berapa jumlah musuh dan bagaimana kekuatan mereka, yang jelas kita berempat saja tak akan bisa mengatasinya. Yang harus kita lakukan sekarang adalah menyebarkan berita kudeta ini kepada para petinggi akademi, tentu saja selain petinggi dari spesies jingga. Kecuali kalau ada spesies lain yang bersekutu dengan mereka.” Alea menatapku.

Aku berkata, “Sejauh yang kutahu di akademi ini hanya spesies jingga yang terlibat. Lagipula hanya mereka yang merupakan spesies campuran, selain spesiesku.”

“Oke, kalau begitu kita berpencar berdua-berdua..”

“Tunggu dulu!” sergahku. “Para petinggi akademi diawasi ketat. Akan sangat sulit untuk memberitahu mereka tanpa memberi sinyal kepada musuh.”

“Siapa yang menjaga mereka?” tanya Alea.

“Katanya orang-orang dari spesies jingga yang sangat kuat. Tidak akan mudah melakukannya.”

Alea berpikir sebentar kemudian berkata, “Baiklah. Kalau begitu, kita prioritaskan dulu orang-orang selain pengajar, petinggi, dan dokter. Dengan kata lain, kita akan memberitahu siswa-siswa akademi. Waktu kita masih ada sekitar satu setengah jam. Kita berpencar. Airish ke blok A lantai 4, aku ke blok A lantai 5, Sandra ke blok B lantai 4, Remi ke blok B lantai 5. Paham?”

“Sebentar!” sergahku lagi. “Jangan sampai kita memasuki kamar yang ada spesies jingganya!”

“Itu benar,” kata Sandra. “Akan sia-sia saja kalau sampai ada yang tahu.”

Alea sekali lagi tampak berpikir keras. Mungkin karena situasi yang sangat gawat dan waktu yang sangat sempit, kecemerlangan otaknya tidak seperti biasanya.

“Tak ada cara lain selain melumpuhkan mereka,” kata Remi.

“Tapi..” sergahku.

“Sepertinya memang harus begitu,” kata Alea. “Kalau kebetulan memasuki kamar yang ada spesies jingganya, tak ada pilihan lain selain membungkamnya. Tapi.. usahakan untuk tidak bertemu satu spesies jingga pun.”

“Itu sulit,” kata Sandra masih dengan ekspresi datarnya.

“Usahakan!” kata Alea.

Kami bertiga mengangguk. Alea melihat jam tangannya. “Waktu kita sudah berkurang tujuh menit,” katanya. “Kita berpencar sekarang. Ingat, target kita hanya para siswa. Jangan ada dulu yang memberitahu pengajar, dokter, apalagi petinggi akademi. Kemungkinan besar mereka diawasi. Sedangkan para siswa, kemungkinan besar tidak diawasi. Masuki sebanyak mungkin kamar lalu kita bertemu di atap auditorium satu jam lagi. Paham?”

“Paham,” kata kami serempak.

“Oke. Bergerak!”

Kami masuk lift bersama-sama. Aku dan Sandra keluar di lantai 4. Aku menuju blok A di gedung bagian depan sementara Sandra menuju blok B di gedung bagian belakang. Dengan hati-hati, aku mengendap-ngendap di lorong. Alea sudah mengatakan agar sebisa mungkin menghindari kontak dengan spesies jingga. Mau tak mau kuaktifkan mode pendeteksiku. Kukembangkan jangkauan penglihatanku hingga meliputi satu blok ini. Aku mulai mengecek kamar terdekat. Spesies biru dan spesies kuning. Aman. Masalah selanjutnya adalah bagaimana caranya masuk. Mengetuk-ngetuk pintu terlalu berbahaya, itu bisa membuat mereka menyadari gerakanku. Sial. Mengapa hal sesederhana ini tidak kami diskusikan tadi? Kurasa kami memang terlalu tegang dan diburu waktu. Tak ada pilihan lain, aku harus mengubah pupilku yang kiri.

Butuh sekitar satu menit sampai pupil mataku yang kiri berubah menjadi kotak. Dengan ini aku bisa mengendalikan lantai dan dinding. Kusentuh dinding kamar itu dengan kedua tanganku lalu menggesernya perlahan ke kiri, seolah-olah dinding itu adalah pintu yang terbuat dari batu. Aku masuk dan menutup kembali dinding itu. Kuangkat sedikit air dari kamar mandi lalu membaginya menjadi dua, kemudian menyiramkannya kepada dua orang yang sedang tidur itu. Mereka terkejut dan bangun. Setelah melihatku ada di depannya, mereka lebih terkejut lagi. Dengan cepat dan suara yang pelan kujelaskan kepada mereka tentang rencana kudeta yang akan berlangsung tengah malam ini. Mereka tak percaya dan meminta bukti. Aku berkata, “Tengah malam nanti kalian akan mendengar sebuah suara yang melengking dan membuat telinga kalian sakit. Itu tandanya kudeta dimulai.” Terserah mereka mau percaya atau tidak, yang jelas aku sudah memberitahunya. Aku pun keluar dari kamar ini dengan cara yang sama seperti ketika aku masuk.

Selanjutnya aku mengecek isi kamar yang lain dan masuk dengan cara yang sama. Kulakukan itu terus dan terus sampai akhirnya semua kamar di lorong ini, di blok A lantai 4 ini, kumasuki. Ada satu hal yang aneh: tidak ada satu pun spesies jingga di lorong ini. Bahkan di beberapa kamar ada yang hanya satu orang. Mungkinkah mereka sedang bersembunyi di suatu tempat? Kulihat jam tangan. Sudah hampir setengah dua belas. Aku bergegas menuju tempat pertemuan: atap auditorium.
Lima menit kemudian kami bertemu di atap auditorium. Tampaknya kami berhasil memasuki semua kamar siswa. Satu hal yang masih membuatku bertanya-tanya: bagaimana cara mereka memasuki kamar-kamar itu?

“Aku membuat kunci es yang sangat padat dan keras,” kata Alea.

“Aku membakar pintu sampai bisa didorong dengan pelan,” kata Remi.

“Aku membekukan pintu kemudian memecahkannya,” kata Sandra.

Setiap orang melakukannya dengan cara yang berbeda. Tak masalah. Kami berhasil memasuki semua kamar dan memberitahu siswa-siswa yang ada di sana. Namun satu hal tetap menarik perhatianku, tidak ada satu pun spesies jingga di lorong yang kuperiksa.

“Di blok B juga sama,” kata Sandra.

“Di lantai 5 juga,” kata Remi.

Alea mengangguk-ngangguk dan berkata, “Rupanya begitu. Mereka pasti berkumpul di suatu tempat dan akan muncul secara serempak tengah malam nanti, setengah jam lagi.” Alea mengamati jam tangannya.

“Di mana kemungkinan mereka berada?” tanyaku.

“Spesies jingga hanya bisa mengendalikan api, cahaya, dan panas,” kata Remi.

“Tanah,” kataku seperti menemukan jawaban.

“Iris mereka tidak terhubung dengan tanah,” kata Alea.

Aku menggeleng, membuat mereka berdua bingung, Sandra tidak, karena dia membaca pikiranku. Aku berkata, “Spesies hitam. Mereka bisa mengendalikan tanah.”

Alea mengangguk-ngangguk dan berkata, “Begitukah? Jadi mereka akan muncul dari dalam tanah. Seperti mayat hidup saja.” Aku setuju dengan itu, mereka akan seperti mayat hidup yang muncul dari kuburnya. Membayangkannya membuatku merinding. “Waktu kita kurang dari setengah jam. Kita akan berpencar lagi untuk memberitahu beberapa pengajar dan dokter. Keberadaan mereka penting. Remi dan Sandra ke lantai 4, aku dan Airish akan ke lantai 5. Hati-hati, kemungkinan besar blok P diawasi.”
Kami bertiga mengangguk.

“Bergerak!” kata Alea.

Alih-alih turun lewat tangga, aku menaikkan sebagian permukaan tanah hingga kami bisa loncat dengan aman, lalu menurunkannya ke kondisi semula. Kami lalu berpencar, berlari cpeat-cepat. Setelah mengetahui spesies jingga bersembunyi di bawah tanah, kecuali mereka yang ditugaskan menjaga para petinggi dan kemungkinan pengajar dan dokter juga, kami tak perlu lagi mengendap-ngendap. Berlari jauh lebih efektif. Setibanya di blok P di lantai 5, aku dan Alea berpencar. Aku bergerak ke kanan sementara Alea ke kiri. Kali ini kami harus kembali mengendap-ngendap sambil mengaktifkan mode pelindung. Ada kemungkinan blok ini diawasi. Aku harus hati-hati.

Sampai sejauh ini tak ada tanda-tanda ada yang mengawasi. Aku sudah tiba di kamar pertama. Yakin tak akan ada spesies jingga, aku langsung saja memasuki kamar seperti tadi. Kutemukan kamar ini kosong, berarti milik pengajar dari spesies jingga. Alih-alih keluar, aku memasuki kamar selanjutnya dari dinding dalam. Kamar selanjutnya adalah milik seorang pengajar dari spesies kuning. Berbeda dengan para siswa, pengajar ini langsung menyadari keberadaanku saat aku memasuki kamarnya. Dia bangkit dan menanyakan apa yang kulakukan. Kedua irisnya sudah berwarna kuning sekuning-kuningnya. Dengan susah payah aku menjelaskan padanya tentang kudeta yang akan terjadi dalam waktu kurang dari dua puluh menit, dan lebih susah payah lagi aku membuatnya percaya. Selesai dengannya, aku memasuki kamar selanjutnya. Di kamar itu, ada pengajar dari spesies biru. Dia lebih bersahabat dan aku bisa meyakinkannya dengan cukup mudah. Di kamar selanjutnya ada spesies merah, seorang laki-laki bertubuh besar dan berwajah garang. Kali ini aku menghadapi kesulitan lagi dan sempat akan diserang. Meyakinkannya lebih sulit lagi. Ketika aku hendak menjelaskan lagi, aku mendengar sebuah suara melengking yang menyakitkan telinga. Pengajar dari spesies merah itu pun merasakannya. Kami sama-sama menutup telinga kami dengan tangan untuk sekitar satu menit. Setelah suara itu hilang, aku merasa tuli, bahkan tak bisa mendengar suaraku sendiri. Sial. Aku lupa memberitahu Alea, Sandra, dan Remi tentang sinyal ini. Sejurus kemudian ada sebuah cahaya yang sangat menyilaukan, membuatku tak bisa melihat apa-apa, meskipun dalam mode pendeteksi. Sejenak kemudian kamar ini bergetar keras, seolah-olah terjadi gempa bumi. Foto-foto dan lukisan di dinding jatuh. Meja dan kursi-kursi bergeser tanpa sedikit pun suara yang kudengar. Si pengajar di depanku mengeluarkan api yang sangat banyak dari tangannya untuk membakar pintu hingga gosong. Dia kemudian menendangnya lalu mengajakku keluar. Aku masih tak bisa mendengar suaranya. Di luar, kulihat pengajar-pengajar yang lain keluar dari kamarnya dan saling bertanya apa yang terjadi. Alea, di mana dia? Saat akhirnya aku memperoleh kembali pendengaranku, suara yang pertama kali kudengar adalah suara menggelegar. Sebuah petir yang besar muncul dari langit dan menyambar atap auditorium hingga menyisakan sebuah bolong yang besar. Panas dari petir itu sendiri membuatku mengernyit. Sesaat kemudian bumi kembali bergetar. Tiba-tiba saja auditorium kubus itu seperti menjauh, seperti memendek. Rupanya auditorium sedang ditenggelamkan ke tanah. Ini pasti ulah si spesies hitam itu. Dalam beberapa detik saja auditorium kubus itu sudah sepenuhnya tenggelam, menyisakan sebuah area yang luas dan kosong. Kami di lantai 5 ini tercengang melihatnya.

Sejurus kemudian, sesuatu yang lain terjadi. Tanah kembali bergetar tapi tidak ada lagi bangunan yang ditelan. Justru sebaliknya, ada yang muncul di area kosong yang luas itu. Mereka yang dari tadi sembunyi di bawah tanah, kini muncul di sana. Kini para pengajar tampak lebih kaget lagi. Kebanyakan dari mereka belum sempat kuberitahu tentang kudeta ini. Dari lorong terdengar para siswa berlari. Mereka pun mengamati orang-orang di bawah itu. Orang-orang itu lalu menyebar ke segala arah dan mulai membakar ruangan-ruangan di lantai satu, mereka hendak membuat bangunan ini roboh. Di area luas yang kosong itu, tempat auditorium ditelan, berdiri tiga orang wanita dengan pakaian serba hitam. Mereka spesies hitam yang kutemui tadi. Para pengajar dan para siswa mulai bergerak menuju tangga darurat, sebagian dari mereka menggunakan kemampuannya untuk loncat dari lantai 5 ini, sebuah tindakan yang berani. Aku sendiri berlari menuju lorong di gedung depan. Tak lama lagi gedung ini akan roboh dan hancur. Ada sesuatu yang harus kuselamatkan, buku yang ditulis ibuku. Aku menyimpannya di kamar.

spesies hijau chapter 11a

Chapter 11
KUDETA



Airish, 2013
Akademi, Bogor


BESOK adalah hari kudeta yang direncanakan spesies jingga dengan bantuan spesies hitam. Tampaknya tak ada seorang pun dari spesies lain yang tahu rencana itu selain aku. Dan aku, masih belum menentukan sikap apakah akan membantu mereka atau justru melawan mereka. Mereka tidak memaksaku, mereka hanya memberikan pilihan. Penghubung mereka denganku adalah Jena, wanita ikat kuda yang pakaiannya selalu terbuka itu. Aku sedang bersandar di atap auditorium, di salah satu sisinya. Di tanganku, sebuah buku tebal yang ditulis ibu kandungku kubiarkan terbuka tanpa sedikit pun kubaca. Lagipula aku sudah membacanya sampai habis. Aku juga sudah memaksa Alea, Sandra, dan Remi untuk membaca beberapa halaman dan mereka cenderung mengatakan bahwa buku ini adalah benar sejarah, bukan sekedar fiksi. Kalau melihat spesies jingga sampai merencanakan kudeta seperti ini, rasanya sulit untuk mengatakan bahwa buku ini fiksi. Pada kadar tertentu, buku ini pasti benar-benar menceritakan kejadian saat itu. Namun, aku masih bersikeras untuk tidak seratus persen percaya bahwa kejadian-kejadian di buku ini benar-benar terjadi. Aku tak sanggup membayangkan orang-orang dari spesies hitam dan spesies hijau diburu dan dibunuh. Semakin aku membayangkannya, semakin jelas kejadian itu tergambar di pikiranku. Ibu kandungku memiliki kemampuan untuk melihat kejadian-kejadian di masa lalu, apakah aku juga memiliki kemampuan itu, hanya saja tidak menyadarinya? Entahlah.

“Airish, kami mencarimu,” sebuah suara mengagetkanku. Itu Alea. Dia muncul bersama Sandra. Seperti biasa Sandra hanya diam dengan ekspresi wajahnya yang datar. “Apa yang kau lakukan di sini? Latihan? Kurasa kau sudah tak perlu lagi sesering dulu berlatih. Atau memandangi langit? Tapi kepalamu dari tadi menunduk.” Alea pun seperti biasa banyak bicara. Baru saja dia mengatakan semua itu hampir tanpa ada jeda di setiap kalimatnya.

“Aku sedang merenung,” kataku.

“Merenung?” Alea kini sudah duduk bersandar di sebelah kiriku sementara Sandra duduk di sebelah kananku. “Kau masih bingung dengan kebenaran buku ini?”

Aku mengangguk lalu berkata, “Sebenarnya meskipun di halaman terakhir ada tulisan tangan yang mencantumkan namaku, aku tidak bisa memastikan itu tulisan tangan ibuku. Tak ada yang bisa memastikannya. Jadi, kemungkinan buku ini hanya rekayasa tetap ada.”

Alea sesaat memandangi langit yang hari ini cerah berawan. Sejurus kemudian dia berkata, “Ada yang bisa memastikannya.”

“Siapa?” aku menoleh padanya.

Sebelum Alea sempat menjawab, Sandra berkata, “Ya. Mungkin dia bisa memastikannya.” Seperti biasa dia sudah mengubah irisnya entah sejak kapan dan menguping apa yang kupikirkan. “Kalau tidak salah di buku ini beberapa kali namanya dicantumkan. Dan kelihatannya dia dekat dengan ibumu.”

“Dia itu siapa?” aku penasaran.

“Lena,” jawab Alea.

Beberapa menit kemudian aku sudah berada di ruangan Lena, Alea dan Sandra kutinggalkan begitu saja di atap auditorium. Kutunjukkan buku tebal itu padanya dan kuutarakan maksud dan tujuanku. Beberapa lamanya Lena mengamati buku itu, membuka halaman-halamannya, membaca beberapa bagian, lalu kembali ke halaman terakhir di mana tulisan tangan itu ada. Dia berkata, “Ini memang tulisan Nayna. Aku yakin. Dari mana kamu dapatkan buku ini?”

Alih-alih menjawab pertanyaannya, aku malah mengajukan pertanyaan lain, “Jadi, kejadian-kejadian di buku ini benar-benar terjadi?”

Setelah diam beberapa saat, Lena mengangguk. Dia berkata, “Dulu kami sempat mencari-cari buku ini tapi tak menemukannya. Dari mana kamu dapatkan buku ini?”

Pertanyaan yang sama. Dan lagi-lagi aku tidak menjawabnya melainkan mengajukan pertanyaan lagi, “Jadi, perburuan dan pembantaian itu .. benar?”

Diam Lena kali ini lebih lama dari sebelumnya. Dia kemudian berkata, “Saat sekilas tadi aku membacanya, aku langsung teringat kejadian saat itu. Selama bertahun-tahun ini aku berusaha melupakannya, dan kukira aku berhasil mengubur masa lalu itu dalam-dalam. Lalu tiba-tiba buku ini seperti menggali kembali masa lalu yang kelam itu, menggalinya ke permukaan beserta luka dan segala racun yang dibawanya. Aku..”

“Kau membunuh spesies kami?” sekuat tenaga aku berusaha menahan agar emosiku tidak meluap, tapi sangat sulit mengingat tekanan yang kuterima sangat berat.

Lena menggeleng. Dia hendak mengatakan sesuatu ketika aku mengambil buku itu dengan kasar dan berjalan marah ke menuju pintu. Aku mendengar Lena memanggilku beberapa kali namun aku sama sekali tak menoleh maupun menyahut. Aku tinggalkan ruangan itu dengan perasaan yang kacau balau, berantakan.



Emosi yang kurasakan sudah terlalu kuat sehingga aku tidak bisa berpikir jernih. Kebetulan Alea sedang tak ada di kamar. Kuambil beberapa pakaian—luar maupun dalam—dan memasukkannya ke tas. Kuambil juga charger handphone, sebuah sandal, dan tak lupa buku tebal yang ditulis ibu. Terakhir kuambil jaket hitam yang menggantung di dekat pintu lalu memakainya sambil jalan. Di sepanjang lorong aku terus memikirkan hal itu. Buku ini memang sejarah tentang apa yang terjadi pada spesies hijau—dan spesies hitam—di masa lalu, di generasi sebelumnya. Perburuan itu, pembunuhan itu, pembantaian itu, pemusnahan itu, semuanya benar. Semakin memikirkannya aku semakin geram. Emosi yang tinggi membuat gigi-gigiku terkatup. Aku benci mereka. Aku benci orang-orang yang membantai spesiesku. Aku sungguh benci orang-orang yang membuatku merasa sangat kesepian, satu-satunya spesies hijau yang ada di akademi ini. Besok, dendam akan membuat mereka merasakan penderitaan yang dulu menimpa spesies hijau. Besok, kudeta itu akan terjadi. Aku sudah memutuskan. Aku tak akan berada di pihak mana pun, tapi aku tak mau melihat pertumpahan darah itu. Aku akan meninggalkan akademi diam-diam.

Sebentar lagi jam tiga sore. Saat berada dalam lift untuk turun ke lantai satu, aku mengubah iris dan melindungi diriku agar tidak terdeteksi. Meskipun begitu, tidak mudah menuju pintu utama begitu saja. Dua orang wanita selalu berada di meja resepsionis, belum lagi dua orang yang berjaga-jaga di luar. Tak ada pilihan lain selain melumpuhkan mereka. Aku sudah menyiapkan sebotol air mineral di tanganku—saat ini aku sudah bisa mengendalikan elemen air. Kubuka tutupnya. Saat pintu lift terbuka, aku bergerak cepat menuju meja resepsionis dan sebelum mereka menyadari gerakanku yang mencurigakan, aku sudah menggerakkan air untuk menutup mulut mereka berdua lalu dengan satu gerakan tangan kuhempaskan mereka ke tembok sampai pingsan. Tinggal dua orang penjaga di depan. Mode pelindung masih kuaktifkan. Kuambil sebuah gelang perak di laci meja resepsionis dan memakaikannya di lengan kiriku. Sebelum memasangkannya, aku selimuti pergelangan tanganku dengan lapisan air yang tipis sehingga pada saatnya nanti gelang ini bisa kulepaskan. Aku pun melewati pintu utama, menghampiri salah satu penjaga dengan mengatakan bahwa aku ditugaskan dalam satu misi dan karena misi itu spesial, aku hanya pergi sendiri. Butuh waktu beberapa lama sampai akhirnya dia mengizinkanku menggunakan salah satu mobil di area parkir. Mobil yang kugunakan adalah sedan warna merah, mobil favorit Alea. Aku pun melaju dengan cepat.

Setelah memasuki kota yang sibuk, aku berhenti untuk melepaskan gelang perak itu. Berhasil seperti yang kuperkirakan. Aku keluar mobil lalu membuang gelang itu di tong sampah yang ada di dekat situ. Aku lalu mengendarai sedan merah itu dengan kecepatan sedang. Aku tahu, hanya tinggal waktu sampai ada yang menyadari bahwa aku telah kabur. Mereka akan segera mencariku lewat sinyal yang dipancarkan gelang itu. Namun karena gelang itu tidak kupakai, mereka tak akan menemukanku dengan mudah. Yang harus kulakukan sekarang adalah pergi ke suatu tempat untuk berpikir, merenungkan semuanya. Meskipun aku masih dikuasai emosi, sesuatu dalam diriku seperti berkata bahwa ini bukan jalan keluar.

Aku berhenti di dekat pagar rumah. Sudah tiga bulan aku tidak datang ke tempat ini. Tiba-tiba ingatanku seperti melesat ke dua tahun lalu, sehari setelah aku menjenguk ibu di rumah sakit, sebelum kami berempat—saat itu ada Alea, Sandra, dan Remi—kembali ke akademi. Pagi itu Valen muncul dan langsung membawaku ke sebuah taman di dekat sini, Taman Kencana. Setelah urusan kami berdua selesai, Valen mengantarku ke rumah sakit. Saat itu Alea, Remi, dan Sandra sudah menunggu di luar rumah sakit, Alea sudah mengeluarkan sedan merahnya. Valen menanyakan siapa mereka dan aku terpaksa mengenalkan Valen kepada mereka satu per satu. Aku masih ingat Remi yang enggan menjabat tangan Valen dan Sandra yang meskipun menjabat tangannya, matanya menatap ke tanah. Ketika aku berniat melihat ibu untuk terakhir kalinya hari itu, Alea menarik tanganku dan menahanku. Setelah Valen pergi, Alea mengatakan padaku bahwa akan lebih baik kalau aku tidak menemui ibu saat itu. Rupanya selama menemani ibu, dan aku tidak ada di sana, Alea mengatakan banyak hal kepada ibu. Entah apa saja yang dikatakannya. Yang jelas sejak hari itu baik ibu, ayah, maupun Rayna, tidak ada yang begitu khawatir seperti sebelumnya. Mereka seakan-akan membiarkan aku berada di akademi, seandainya mereka tahu tentang akademi itu. Entahlah apa yang dikatakan Alea kepada ibu, aku sungguh penasaran, bahkan Sandra pun saat itu mengubah irisnya untuk menguping isi kepala Alea. Aku memperhatikan kalau-kalau ada perubahan ekspresi di wajah Sandra, tapi sia-sia. Dan pada akhirnya, Sandra pun tidak mengatakan apa-apa padaku. Begitulah saat itu kami kembali ke akademi. Dan sampai tahun ketigaku di akademi, baik ibu, ayah, maupun Rayna, tidak pernah sekali pun memaksaku pulang. Itu semakin membuatku penasaran. Kalau saja saat itu aku memiliki bakat bawaan Sandra.

Tadinya aku sempat mau keluar dari mobil tapi kuurungkan niatku. Aku lalu menyalakan mesin mobil, memutar, dan melaju hinga ke sebuah taman yang menyimpan banyak kenangan manis, Taman Kencana. Kali ini aku keluar. Rumput-rumputnya masih hijau, segar, dan terawat. Pohon-pohon rindang masih ada. Kursi-kursi malas itu juga masih ada, tersebar di beberapa tempat di taman yang bentuknya hampir bulat itu. Aku pun duduk di salah satu kursi malas itu. Lagi-lagi ingatanku seperti tertarik ke masa lalu. Tiga tahun lalu, tanggal 14 November, sehari setelah menjenguk ibu di rumah sakit, aku dan Valen menghabiskan waktu sejenak di sini. Jika teringat hari itu, aku jadi teringat dia menciumku saat gerimis turun. Aku sentuh bibirku dengan tanganku seakan-akan merasakan kembali sensasi saat itu. Setelah pertemuan kami hari itu, sampai saat ini kami baru bertemu tiga kali. Tiga kali dalam kurun waktu hampir tiga tahun. Tentunya bukan hal yang mudah untuk menjaga hubungan. Karena jarangnya kami bertemu, saat kesempatan itu ada, kami memanfaatkannya sebisa mungkin untuk mengisi lagi cangkir hati kami yang mungkin sudah hampir kosong. Begitulah pertemuan demi pertemuan itu. Terakhir kali kami bertemu adalah enam bulan yang lalu. Sudah sangat lama ternyata. Aku bahkan tidak bisa hadir saat Valen diwisuda tahun lalu, akademi tidak memberiku izin—memang sejak aku melanggar peraturan itu akademi membatasi dengan ketat alasan-alasan yang memperbolehkanku keluar. Sekarang entah bagaimana kabarnya. Sudah beberapa bulan ini kami tak saling memberi kabar. Aku rasa seperti yang pernah dikatakannya, perasaan manusia itu naik-turun, ada kalanya sangat kuat, ada kalanya sangat lemah, dan saat ini mungkin perasaan kami sedang sama-sama lemah. Lagipula, ada sesuatu hal yang saat ini menguras habis perhatianku, yaitu tentang kudeta yang akan terjadi besok.

Datang ke tempat ini, duduk di kursi malas ini, memandangi langit sore yang mulai menua, tampaknya memberi efek positif. Emosi yang tadi sangat menggelora kini sudah bisa kutekan dan kukendalikan. Aku menarik napas panjang—segar sekali udara di tempat ini—lalu menghempaskannya perlahan. Aku mulai mempertanyakan lagi apakah keputusanku meninggalkan akademi ini benar? Mereka tidak tahu bahwa besok akan terjadi kudeta. Hanya aku yang tahu. Aku bahkan tidak memberitahu Alea, Sandra, maupun Remi. Dan kabar buruknya adalah mereka termasuk dua spesies yang menjadi target utama dalam kudeta besok. Apa yang harus kulakukan sebenarnya? Di saat seperti ini, ingin sekali rasanya punya seorang penasehat.

Emosi dan kebencian yang kurasakan tadi sangat wajar kurasa, mengingat perburuan dan pembantaian terhadap spesiesku beberapa tahun lalu itu adalah sesuatu yang kejam. Apapun alasannya, aku tetap membencinya. Namun apakah dengan membiarkan generasi saat ini menanggung kesalahan yang dilakukan generasi sebelumnya, kebencianku itu akan hilang? Entahlah. Kurasa tidak. Kebencian itu akan selamanya ada, mengendap, dan akan berkembang menjadi niat untuk membalas dendam seandainya tidak kutekan. Selain itu, di antara mereka ada teman-temanku, sahabat-sahabatku. Alea, dia selalu ada saat aku membutuhkannya. Dia bahkan pernah menyelamatkanku dalam suatu misi di lokasi kebakaran yang menyebabkan dirinya terluka. Pembawaannya yang riang dan cerewet membuat hari-hariku di akademi tidak membosankan. Sandra, dia sahabatku yang unik. Sampai saat ini dia masih sangat diam, hanya bicara saat dirasanya perlu. Dan yang paling misterius adalah raut mukanya yang hampir selalu datar itu. Hanya beberapa kali saja kulihat dia tersenyum, dan jujur, aku belum pernah mendengarnya tertawa, sekecil apapun. Terlepas dari semua itu, yang paling menarik adalah bahwa dia menyukaiku. Kurasa sampai sekarang dia masih menyukaiku. Membayangkan Sandra aku jadi tersenyum-senyum. Remi, untuk ukuran laki-laki, dia cukup banyak bicara, itu pada awalnya, karena sekembalinya kami dari rumah sakit tiga tahun yang lalu, sikapnya padaku berubah drastis, judes sejudes-judesnya. Dia tidak pernah lagi bicara padaku. Saat kami berpapasan, dia langsung memalingkan wajahnya. Dia menyukaiku seperti halnya Sandra menyukaiku, namun setelah menyadari bahwa aku memiliki Valen, dia tak bisa begitu saja menerimanya. Begitulah kurasa yang terjadi. Namun, dia masih temanku, dan sikapnya terhadap Sandra dan Alea jauh lebih baik. Lalu ada Lena dan Andy, mereka berdua sudah membantu dan melindungiku selama hampir tiga tahun ini. Apakah pantas jika aku begitu saja meninggalkan mereka tanpa memberitahu kudeta yang ada di hadapan mereka? Aku memikirkan kedua orang ini dalam-dalam. Pada saat pembantaian beberapa tahun lalu, mungkin sekitar dua puluh tiga tahun lalu, apa yang mereka lakukan? Ikut membantai atau bagaimana? Aku tak sanggup membayangkannya. Sungguh tak sanggup membayangkannya. Kualihkan perhatianku pada warna langit yang semakin redup. Angin bergerak lambat menyentuh rambut dan kulit leherku. Rasanya waktu bergerak begitu lambat sampai-sampai sempat-sempatnya aku menghitung banyaknya pohon rindang di taman ini.



Jam delapan malam, aku tiba di akademi. Seperti yang kuduga, upayaku melarikan diri ketahuan, dan kini mereka sedang mencariku. Satu tim kurasa cukup untuk ditugaskan dalam misi ini. Entah kemana saja mereka mencari. Yang tahu betul bahwa aku akan pergi ke taman itu hanyalah Alea. Karena sampai saat ini aku belum ditemukan, itu artinya Alea tidak termasuk ke dalam tim itu. Satu hal lagi, apakah misi pencarianku ini diketahui semua orang di akademi, atau justru dirahasiakan? Entahlah. Sedan merah Alea terpaksa kuparkir cukup jauh dari akademi, di sebuah mini market. Kutinggalkan sedan itu begitu saja—kunci mobil tentunya kubawa—lalu berjalan menuju akademi. Aku mengaktifkan mode pelindung sehingga keberadaanku tak akan mudah ditemukan, namun aku tetap berhati-hati. Sekitar dua puluh menit kemudian, aku tiba di akademi, di dekat gerbang utama. Mau tak mau aku harus mengganti mode pelindung-ku jadi mode pendeteksi untuk mengetahui seperti apa situasi di area parkir. Tak ada yang berubah ternyata. Ada dua orang penjaga. Merasakan keberadaanku, salah satunya bergerak mendekati gerbang. Percuma saja bersembunyi, mereka berdua pendeteksi. Maka sebelum mereka melakukan sesuatu, aku bergerak cepat melewati gerbang depan, melewati satu penjaga yang terkejut karena gerakanku sangat cepat. Itu karena aku sudah memusatkan energi di kedua kaki sehingga aku bisa berlari hingga dua kali lebih cepat dari kondisi normal. Namun aku tidak cukup cepat untuk sampai di pintu utama. Penjaga yang satunya menghadangku di sana. Aku terpaksa berhenti. Penjaga yang satunya lagi di belakangku. Dua lawan satu. Kondisiku tidak diuntungkan, dan yang lebih buruk adalah mereka berdua spesies merah. Aku paling malas berhadapan dengan api.

Menyerah adalah tindakan terakhir yang akan kulakukan jika yang lainnya gagal. Aku berusaha tenang dan berpikir. Tampaknya mereka tak akan bergerak sebelum aku memulainya. Sebenarnya bisa saja memanfaatkan lantai tempatku berpijak. Lantai memang berbeda dengan tanah, tapi ada kemiripan dalam komposisi pembentuknya. Empat bulan terakhir ini aku menghabiskan waktu untuk melatihnya dan kurasa aku sudah cukup bisa mengendalikan lantai maupun batu. Akan tetapi, menggunakan elemen itu akan sangat mengundang perhatian. Tak lama setelah aku melumpuhkan kedua penjaga ini, banyak orang akan mengepungku. Dalam kondisiku saat ini, keterhubungan dengan elemen angin akan sangat membantu. Sayangnya, irisku tidak terhubung dengan angin. Jadi, yang bisa kugunakan saat ini adalah elemen air. Di mini market tadi, aku membeli sebotol air mineral, itulah yang akan kugunakan untuk menghadapi dua penjaga ini. Aku buka tutup botolnya dan bersiap menggerakkan tanganku. Kedua penjaga itu pun bersiap melakukan sesuatu. Api lawan air, siapa yang akan menang?

Perasaan aku belum mengeluarkan jurus apapun namun entah kenapa kedua penjaga itu tampak diam sekali alias tak bergerak. Hanya mata mereka yang bisa bergerak-gerak, dan dari matanya itu aku tahu sesuatu telah terjadi pada mereka, seseorang telah membuat mereka tak bisa bergerak. Tapi siapa? Aku? Aku rasa aku tidak memiliki kemampuan itu? Sejurus kemudian aku merasakan keberadaan seseorang tepat di belakangku, entah sejak kapan dia ada di belakangku. Di telingaku dia berbisik, “Aku mendapatkanmu.” Suaranya lembut, dia wanita. Tiba-tiba ditutupnya kedua mataku dengan tangan kanannya sementara tangannya yang kiri menarik leherku. Untuk beberapa saat aku merasa sangat diam, tak bisa kugerakkan barang sedikit pun tangan dan kakiku. Ketika tangannya dilepaskan dari mataku, kulihat aku berada di suatu tempat yang tak kukenali. Aku berada di sebuah ruangan yang cukup luas namun tanpa perabotan sama sekali. Jika melihat dinding-dindingnya yang padat namun tidak halus, aku rasa ruangan ini lebih mirip gua yang dibentuk sebuah kamar, kamar yang luas.

“Duduklah!” kata wanita yang tadi memegangku itu. Ternyata di belakangku ada sebuah kursi kayu. Kuperhatikan hanya itu satu-satunya kursi di ruangan ini. Aku pun duduk. “Aku sudah membawanya,” kata wanita itu lagi, suaranya benar-benar lembut sehingga jika hanya mendengar suaranya aku akan menyangka dia lemah dan rapuh. Tapi kenyataannya yang berdiri di belakangku adalah seorang wanita yang tampak kuat.

Beberapa saat kemudian dua orang wanita muncul dari balik dinding yang terbuka. Dinding itu seperti sebuah pintu yang digeser ke samping dan ditutup kembali. Akhirnya aku mengerti di mana aku berada saat ini, di bawah tanah. Pastinya ketiga wanita ini bisa mengendalikan tanah dengan baik. Apakah mereka spesies hijau sepertiku? Setelah kuamati ternyata ketiga wanita ini mengenakan pakaian serba hitam. Dengan irisku yang hijau ini aku bisa melihat dengan jelas warna iris mereka, dan ternyata bukan hijau, melainkan hitam. Mereka ini spesies hitam.

“Jadi ini spesies hijau,” kata salah satu wanita yang rambutnya lurus dan pendek, tidak sampai sebahu. “Ini pertama kalinya aku melihat warna iris itu.”

“Indah, bukan?” kata wanita di belakangku, suaranya yang lembut itu seperti membuatku sulit bergerak.

“Kita langsung saja ke permasalahan,” kata wanita satu lagi yang rambutnya bergelombang dan sangat hitam. Mereka berdua kini berada dekat di depanku. Wanita dengan suara lembut itu masih di belakang, tangannya menyentuh kedua pundakku. “Kau sudah tahu soal kudeta yang akan kami lakukan besok, bukan? Sekarang kami ingin tahu keputusanmu. Apakah kau akan membantu kami atau membantu mereka?”

Dua orang itu menatapku dengan tatapan yang berbeda. Wanita yang barusan menanyaiku menatapku dengan tajam sedangkan yang satunya lagi santai-santai saja, entah bagaimana wanita yang di belakang. Aku lalu berkata, “Aku meminta kalian membatalkan kudeta ini.” Mereka tampak kecewa dengan apa yang kukatakan. Aku lalu berkata, “Balas dendam tidak akan menyelesaikan semuanya. Kalau pun kudeta kalian berhasil, apakah dendam dan kebencian di hati kalian lantas hilang? Aku rasa tidak. Dendam dan kebencian itu hanya akan sedikit berkurang, tapi masih mengendap di hati kalian.”

“Kau ingin kami menyia-nyiakan momen yang sudah sangat lama ini kami tunggu?” tanya wanita berambut pendek.

“Kau sama sekali tak tahu bagaimana rasanya melihat spesies sendiri diburu dan dibantai,” sambung wanita berambut panjang di sampingnya.

“Dua kali kami diburu dan dibantai,” kata wanita dengan suara lembut di belakangku.

“Mungkin karena kau tak menyaksikan sendiri bagaimana spesiesmu dibantai lebih dari dua puluh tahun silam,” kata wanita berambut pendek dengan santainya.

“Wajar saja,” kata wanita berambut panjang, “Saat itu dia belum ada.”

“Oh ya, berapa umurmu?” tanya wanita bersuara lembut di belakangku.

“Hampir dua puluh tiga,” jawabku.

“Pantas saja,” kata wanita berambut pendek dengan santainya.

“Kau sama sekali tak mengerti penderitaan yang kami rasakan,” kata wanita berambut panjang.

Mereka bertiga mengepungku dengan pertanyaan-pertanyaan dan pernyataan-pernyataan. Memang benar aku tidak sepenuhnya mengerti perasaan mereka, karena aku tidak pernah mengalami masa-masa mengerikan itu. Aku bahkan baru menemukan identitasku beberapa tahun ini. Rasanya aku memang tidak punya hak untuk memaksa mereka membatalkan kudeta, kesempatan yang telah mereka nanti-nantikan untuk waktu yang sangat lama. Tetapi, tetapi.. teman-temanku ada di sana, aku tak mungkin membiarkan mereka mati.

“Baiklah,” kataku menunduk. “Sepertinya aku tak akan bisa mengubah pendirian kalian, sekuat apapun aku mencoba. Aku sudah memutuskan..”

Mereka bertiga diam menantikan keputusanku yang sudah mereka tunggu-tunggu. Sebenarnya, aku sendiri belum yakin dengan keputusan ini, namun aku tak punya banyak waktu untuk berpikir. Kudeta itu besok, tinggal beberapa jam dari sekarang. Menurut rencana yang dikatakan Jena, kudeta akan dimulai tepat ketika hari berganti, artinya jam dua belas malam. Waktuku tak banyak. Tak banyak.

“Aku akan membantu kalian,” kataku.
***