<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054150040858616865</id><updated>2011-07-29T04:39:45.218+07:00</updated><category term='novel'/><category term='puisi'/><category term='cerpen'/><title type='text'>Waktu, Ruang, dan Kata-kata</title><subtitle type='html'>blog ini adalah sebuah ruang tempat saya menyimpan karya-karya terbaru saya (puisi, cerpen, dan novel). Siapa pun dipersilahkan untuk berkunjung, membaca, mengapresiasi, dan memberi komentar. Namun, DILARANG KERAS menjiplak, memplagiasi, apalagi mencuri karya-karya yang ada di blog ini. Terima kasih. ^_^</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054150040858616865/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Ardy Kresna Crenata</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_DBAkcWrPpOM/TDsdMhaYCUI/AAAAAAAAAAw/HFjbf4gJFYo/S220/ardy.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>66</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054150040858616865.post-5201563291121325655</id><published>2010-07-14T10:49:00.001+07:00</published><updated>2010-07-14T10:49:40.818+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>hujan yang mengantarku pergi</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_DBAkcWrPpOM/TD0zyFY40MI/AAAAAAAAAGI/R53wgBOdSBA/s1600/rainy.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_DBAkcWrPpOM/TD0zyFY40MI/AAAAAAAAAGI/R53wgBOdSBA/s320/rainy.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;HUJAN YANG MENGANTARKU PERGI&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;: Napthalena&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada terlalu banyak kepedihan yang mengiringi rasa sakitku, setelah tiba-tiba saja kau mengatakan agar aku pergi saja, menjauh dan lenyap dari ingatanmu. Ada terlalu banyak hal berbenturan di kepalaku. Aku tak mengerti mengapa sehari sebelumnya yang kudengar darimu jauh berbeda, seakan-akan hari-hari yang pernah kita lalui bersama hanyalah mimpi yang tak sempat menjadi nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore harinya, aku masih berusaha mendekatkan jarak di antara kita. Kukatakan padamu bahwa hanya engkau yang aku inginkan, bukan orang lain. Kukatakan padamu bahwa di hatiku, akan selalu ada sebuah ruang untuk menyimpan hatimu. Kukatakan semua itu sambil mengejarmu, sementara hujan mulai setia menimpakan dingin. Namun engkau terus berjalan, dan kepedihan di hatiku tiba-tiba menjelma air mata yang masih terus kutahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya aku pun pergi. Hujan dengan senang hati membanjiri hatiku dengan air mata. Kubiarkan rambut dan tubuhku basah. Kubiarkan ia membasuh kepedihan yang melekat di hatiku, membuatku sakit sesakit-sakitnya. Kubiarkan engkau lenyap di belakangku, sementara hujan masih terus mengantarku hingga ke pertigaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bogor, Juli 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054150040858616865-5201563291121325655?l=ardy-kresna-crenata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/feeds/5201563291121325655/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/2010/07/hujan-yang-mengantarku-pergi.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054150040858616865/posts/default/5201563291121325655'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054150040858616865/posts/default/5201563291121325655'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/2010/07/hujan-yang-mengantarku-pergi.html' title='hujan yang mengantarku pergi'/><author><name>Ardy Kresna Crenata</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_DBAkcWrPpOM/TDsdMhaYCUI/AAAAAAAAAAw/HFjbf4gJFYo/S220/ardy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_DBAkcWrPpOM/TD0zyFY40MI/AAAAAAAAAGI/R53wgBOdSBA/s72-c/rainy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054150040858616865.post-8288310854032875605</id><published>2010-07-14T10:36:00.001+07:00</published><updated>2010-07-14T10:36:57.174+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>akhirnya aku melepasmu</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_DBAkcWrPpOM/TD0wyWh0gBI/AAAAAAAAAGA/vP9aM28jOlo/s1600/siliwangi-1.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_DBAkcWrPpOM/TD0wyWh0gBI/AAAAAAAAAGA/vP9aM28jOlo/s320/siliwangi-1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;AKHIRNYA AKU MELEPASMU&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;: Napthalena&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya ada sepotong trotoar, sepenggal jalan yang cukup sepi, dan langkah kaki kita yang terdengar memantul-mantul. Saat itu suasana hati kita sedang tidak begitu baik. Untuk pertama kalinya kita bicara setelah berhari-hari hanya diam, berusaha saling melupakan. Dan aku sudah memutuskan untuk melepasmu, agar engkau bisa mencari kebahagiaan di tempat yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita sudahi saja,” kataku pelan. Kurasakan angin menyentuh kulit leherku, sementara kedua mata kita saling bertemu. “Yakin?” tanyamu. Sebuah anggukan menjadi jawaban yang kuberikan. Berat rasanya melepasmu, apalagi jika teringat kejadian-kejadian yang membuatku mencintaimu. Tapi saat itu, perpisahan adalah yang terbaik untuk kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah kaki kita kembali terdengar memantul-mantul di trotoar. Aku mengantarmu kembali untuk terakhir kalinya. Setelah hari itu, akan ada banyak pertemuan yang menghilang, akan ada banyak suaraku yang tertahan. Kutinggalkan engkau yang berjalan memasuki gang. Angkot yang kutumpangi melaju pelan. Dan di antara kita, ada jarak yang tak mungkin lagi kudekatkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bogor, Juli 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054150040858616865-8288310854032875605?l=ardy-kresna-crenata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/feeds/8288310854032875605/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/2010/07/akhirnya-aku-melepasmu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054150040858616865/posts/default/8288310854032875605'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054150040858616865/posts/default/8288310854032875605'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/2010/07/akhirnya-aku-melepasmu.html' title='akhirnya aku melepasmu'/><author><name>Ardy Kresna Crenata</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_DBAkcWrPpOM/TDsdMhaYCUI/AAAAAAAAAAw/HFjbf4gJFYo/S220/ardy.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_DBAkcWrPpOM/TD0wyWh0gBI/AAAAAAAAAGA/vP9aM28jOlo/s72-c/siliwangi-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054150040858616865.post-141748853077970429</id><published>2010-07-14T10:33:00.001+07:00</published><updated>2010-07-14T10:33:51.942+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='novel'/><title type='text'>spesies hijau chapter 12a</title><content type='html'>&lt;big&gt;&lt;b&gt;Chapter 12&lt;br /&gt;MENENANGKAN DIRI&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/big&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Airish, 2013&lt;br /&gt;Bogor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEMATIAN Alea menyisakan kepedihan yang abadi di hatiku. Dengan perginya teman terbaikku itu, ada sebuah lubang di hatiku yang akan selamanya begitu. Tak akan ada yang bisa menggantikannya meskipun orang itu adalah keluargaku sendiri, bahkan Valen pun tidak. Kekosongan yang diciptakannya telah membuat langkah kakiku terasa lemah. Lena dan Sandra baru saja mengantarku ke tempat ini dan aku melarang mereka mengantarku lebih jauh lagi. Entah sekarang kemana aku akan pergi. Terlalu banyak hal berkelumit di kepala. Mungkin untuk satu dua jam aku hanya akan berkeliling dari satu tempat ke tempat lain, dari satu mall ke mall lain. Mungkin juga iseng nonton di bioskop setelah sekian lama. Apa lagi yang mungkin kulakukan untuk menutupi lubang akibat kesedihan yang dalam ini selain menghabiskan waktu? Apa lagi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah pergi ke beberapa tempat, memasuki beberapa mall, sempat juga nonton di salah satunya, akhirnya aku kembali terjebak dalam waktu yang bergerak lambat. Mengapa kematian selalu diikuti kesedihan? Tak ada gunanya menanyakan hal itu saat ini. Dan meskipun ada yang bisa memberiku jawabannya, kesedihan ini akan terus ada di sini, mengendap seiring waktu yang akan terus berlalu. Akankah suatu hari nanti aku melupakan kejadian beberapa hari yang lalu? Semoga saja. Semoga saja aku bisa cepat melupakannya. Siapakah yang ingin terjebak berlama-lama dalam kesedihan selain mereka yang tak punya harapan? Aku masih punya harapan. Masih ada banyak hal yang ingin kucari, yang ingin kulakukan. Aku buka tas yang kugendong dan mengambil sebuah buku hitam tebal di dalamnya. Buku ini peninggalan ibu kandungku. Aku akan mencarinya di sisa hidupku, itu pun jika benar dia masih hidup seperti yang dikatakan Andy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari yang lalu saat aku berada di ruangan Andy, kukatakan padanya bahwa aku akan meninggalkan akademi untuk membantuku melupakan kejadian yang baru saja kualami. Dia tak bisa berbuat apa-apa untuk mencegahku. Aku lalu menunjukkan padanya buku hitam tebal peninggalan ibuku lalu menanyakan padanya kalau-kalau dia tahu soal ibuku. Lalu, dia mengatakan sesuatu yang membuatku terkejut, “Nayna tidak mati seperti yang dikabarkan. Nayna masih hidup.” Aku sangat terkejut sampai-sampai lupa menutup mulut dan lupa bernapas. Sejurus kemudian Andy berkata, “Sebenarnya aku tak bisa menjamin dia masih hidup saat ini. Yang jelas saat itu aku membawanya ke sebuah tempat dan merekayasa seolah-olah dia sudah mati di gua.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di gua?” aku semakin terkejut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya. Saat itu Nayna sedang dalam pelarian ketika pemimpin akademi saat itu mengerahkan banyak orang untuk mencari dan membawanya ke akademi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa mereka mencarinya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buku ini,” Andy mengangkat buku hitam tebal itu. “Mereka mencarinya karena buku ini. Nayna berencana menyelundupkan buku ini ke akademi dan mengedarkannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hanya gara-gara itu? Hanya gara-gara itu ibuku sampai harus mati di gua?” aku sedikit emosi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu perintah pemimpin akademi. Maya. Saat itu dia yang memimpin akademi. Seorang spesies biru.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memandangi Andy dengan sedikit kesal. Aku bertanya, “Apa yang kau lakukan saat itu? Mengikuti perintahnya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andy mengangguk dan itu membuatku semakin kesal. “Aku memang ditugaskannya mencarinya karena dia tahu aku salah satu pendeteksi terbaik saat itu dan aku cukup dekat dengan Nayna. Tapi, tujuanku sebenarnya bukan untuk membawanya ke akademi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu apa tujuanmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengamati buku tebal itu beberapa saat lalu menjawab tanpa melihatku, “Untuk membantunya melarikan diri dan memperoleh kehidupan yang baru.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah percakapan kami beberapa hari yang lalu. Rupanya saat menemukan ibuku, Andy membawanya ke suatu tempat dan merekayasa seolah-olah ibuku tewas di gua. Yang menemukan mayat ibuku dan membawanya ke akademi adalah Lena. Tadi pagi saat di mobil, aku tanyakan hal itu padanya. Dia pun menceritakannya.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nayna, 1991&lt;br /&gt;di sebuah hutan di Bogor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku adalah seorang ibu yang buruk. Tega sekali kubawa putriku yang belum lahir berkeliaran di hutan, melalui semak demi semak, berlindung dari satu pohon ke pohon lain, melintasi sungai demi sungai, sampai akhirnya berteduh di gua ini. Hujan di luar sangat deras sampai-sampai bisa kudengar jelas butiran air memukul-mukul batu besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakhri belum kembali. Sudah ada tiga jam sejak dia pergi mencari makanan dan mengambil air. Aku mulai khawatir. Apakah aku satu-satunya yang tersisa dari spesiesku? Tak pernah kusangka semuanya akan jadi sesulit ini. Selama dua tahun setelah perburuan dihentikan, spesies kami cukup aman hidup bersembunyi di tengah-tengah manusia biasa. Selama dua tahun itu pula, akhirnya aku menemukan seorang suami sekaligus ayah dari putri yang akan kulahirkan ini. Semoga saja putriku ini bisa bertahan dari masa-masa sulit ini. Nantinya dia akan menjadi penerus spesies hijau, yang akan menjaga spesies ini dari kepunahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang datang mendekat. Fakhri? Rasanya bukan. Bau tubuhnya jauh berbeda dengan Fakhri. Dan bukan hanya satu orang. Dari langkah kakinya aku menduga mereka tiga orang. Ini sungguh tidak menguntungkan. Aku sedang sendiri dan perutku sudah sangat besar sehingga menyulitkanku untuk bergerak cepat. Aku merapatkan tubuh ke dinding gua yang kasar. Untung saja api sudah kumatikan satu jam yang lalu sehingga asapnya sudah hilang. Yang kulakukan kini hanya berdoa semoga mereka tidak memasuki gua ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah kaki itu kudengar cepat-cepat. Dari suaranya yang semakin jelas, mereka sedang mendekati gua ini. Langkah kaki itu berhenti tepat di mulut gua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Biar aku saja yang memeriksa gua ini. Kalian periksa tempat lain!” kata seseorang dari mereka. Suaranya tidak begitu jelas. Yang pasti dia wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kudengar dua orang lainnya bergerak cepat menjauh, menyisir tempat lain. Sementara si wanita itu kini sedang memasuki gua dengan sangat hati-hati sampai aku sulit mendengar langkah kakinya. Kufokuskan energi di tubuhku di kepala dan kuubah warna irisku. Dalam kondisi ini aku bisa merasakan keberadaannya jauh lebih baik. Dia sedang berjalan pelan merapat ke dinding gua. Aku merasakan suhu tubuhnya yang lebih dingin dari suhu gua. Bukan hanya itu, aku merasakan bau tubuhnya seperti pernah kucium. Familiar. Sepertinya aku mengenalnya sudah sangat lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayi di dalam perutku menendang, membuat energi di tubuhku kacau. Mataku kembali ke kondisi semula. Aku menarik napas beberapa kali. Satu kerugian besar bagiku diburu saat sedang hamil. Dua tahun lalu aku bisa memberikan perlawanan dan berhasil bertahan hidup. Kali ini, aku tidak yakin. Bahkan seandainya sekarang aku lari, dia pasti akan dengan mudah mengejarku. Dengan kata lain, hari ini aku akan mati. Hanya keajaiban yang bisa mencegahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nayna, kamukah itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Energi di tubuhku begitu kacau sehingga aku tak menyadari wanita itu sudah sangat dekat. Dia kini berdiri sekitar sepuluh meter di sebelah kananku. Aku sendiri masih berdiri merapat ke dinding. Dia tak membawa lampu senter, tapi kedua matanya yang biru menyala sudah cukup membantunya melihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menunduk mengambil sebuah batu dan melemparkannya ke arah wanita itu. Tentu saja dia dengan mudah menghindar. Aku mengambil batu lagi dan melemparnya. Aku melakukannya lagi dan lagi sampai batu di sekitarku habis. Menyedihkan sekali melakukan perlawanan dengan cara primitif seperti ini. Sayangnya aku tak bisa mengubah warna irisku karena itu akan membuat bayi di dalam perutku marah dan menendang-nendang sehingga energi di tubuhku akan kacau. Aku sudah semakin dekat dengan kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa maumu?” tanyaku sambil bergerak menjauh ke kiri, sambil terus merapat ke dinding gua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini aku,” katanya. “Lena.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lena? Ah, pantas saja aku merasa begitu mengenali bau tubuhnya. Dia berjalan mendekat dan aku bisa melihat kedua matanya yang biru itu begitu cantik di wajahnya. Aku kini bisa mengenali wajahnya. Pipinya yang bulat. Matanya yang sipit. Lesung pipitnya muncul saat dia tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lama tak bertemu,” katanya tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya. Sudah dua tahun sejak saat itu. Ini pertama kalinya aku melihatnya lagi. Dia tak berubah. Sama sekali tak berubah. Kulitnya masih kuning seperti dulu. Rambut hitamnya masih diikat ke belakang. Tingginya tak berubah. Dia masih Lena yang kuingat. Berbeda sekali denganku. Perutku besar. Kulitku tidak sehalus dulu. Bahkan kini sedikit kasar dan kotor. Wajar saja. Selama pelarian ini aku jarang sekali mandi. Tak ada kesempatan untuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana kabarmu, Nayna?” tanyanya sambil terus tersenyum. Dia semakin dekat saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menunjukkan tangan kananku, memberinya isyarat untuk berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa maumu, Lena?” tanyaku curiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun aku dan Lena sudah berteman sangat lama, banyak menghabiskan waktu bersama selama di akademi, tapi sekarang situasinya berbeda. Dia pasti datang sebagai utusan dari akademi. Dan aku bisa menebak misi yang diembannya: membawaku kembali ke akademi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kurasa kamu sudah tahu tujuanku,” kata Lena. Senyum dan lesung pipitnya hilang. Ekspresinya kini serius. “Akademi menyuruhku mencarimu lalu membawamu ke sana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lupakan saja! Aku tak akan mau kembali ke sana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau sampai kapan kamu lari, Nayna?” dia tampak kesal dan kecewa. “Lihat kondisimu sekarang! Lihat perutmu itu! Kamu tak akan bisa bertahan di hutan ini dengan kondisi seperti itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak ada bedanya. Kalau pun aku kembali ke akademi, aku dan putriku akan mati di tangan kalian. Itu lebih buruk.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku bisa mengusahakan agar kamu tidak dihukum mati.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita sama-sama tahu itu tidak mungkin. Kami sudah ditakdirkan untuk lari, bertahan dari perburuan yang kalian lakukan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perburuan sudah dihentikan dua tahun lalu, Nayna. Sudah berakhir.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi kenyataannya kalian memburu kami lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu karena ulahmu. Kalau saja kamu tidak membuat buku hitam itu, semua ini tak akan terjadi. Spesies kalian akan tetap aman meskipun harus hidup secara sembunyi-sembunyi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku hanya menuliskan kebenaran. Tak ada yang salah dari apa yang kutulis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak selalu menyampaikan kebenaran itu akan membuat keadaan lebih baik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya. Karena manusia lebih suka hidup aman dalam kebohongan. Begitu juga kita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu kenapa kamu melakukannya, padahal kamu tahu sendiri seperti apa konsekuensinya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku harus. Aku harus mengungkapkan kebenaran itu meskipun risikonya adalah kematianku sendiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan hanya dirimu. Kamu juga membawa teman-teman dari spesiesmu ikut mati. Bahkan seorang yang mungkin sangat dekat denganmu dua tahun ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terkejut mendengarnya. Jika ada seseorang yang sangat dekat denganku dua tahun ini, maka itu adalah suamiku, Fakhri. Apa yang terjadi dengannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau membunuh suamiku?” tanyaku geram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak,” jawabnya dingin. “Teman-temanku yang membunuhnya. Aku tak bisa mencegah mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurasakan kedua tanganku mengepal. Rahangku mengeras. Gigi-gigiku saling menekan. Dengan sendirinya suhu tubuhku naik dua kali lipat sehingga menyulitkanku untuk bernapas. Tenggorokanku panas sekali. Energi-energi di tubuhku berkumpul di kepala. Irisku pasti sudah berubah warna dengan sendirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita itu tepat di hadapanku. Aku tak menyia-nyiakannya. Melihat irisku berubah, dia menyiapkan kuda-kudanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nayna, aku tak ingin bertarung denganmu,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tak punya pilihan,” kataku geram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sekejap bongkahan batu berukuran sedang mengepungnya dari segala arah. Dia mengantisipasinya dengan memunculkan barrier di sekitar tubuhnya sehingga batu-batu itu itu tak bisa menembus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hentikan, Nayna! Aku tidak datang untuk bertarung.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak menghiraukan kata-katanya. Kupaksakan diri untuk memperbesar pupil sehingga bongkahan batu itu membesar dan semakin padat. Lena tampak menahan barrier-nya sekuat tenaga. Aku bisa melihat bongkahan batu itu mulai menembus barrier-nya sedikit demi sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nayna, hentikan!” serunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayi dalam perutku menendang-nendang. Energi di tubuhku seketika kacau. Aku merasa pusing. Benda-benda di depanku sesaat berbayang. Aku jatuh menunduk. Bongkahan batu itu jatuh begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nayna, kamu tak apa-apa?” Lena berlari mendekat. Aku sudah tak bisa melakukan apa-apa selain menenangkan bayi di dalam perutku. Dia sepertinya marah karena aku mengubah iris dan memaksakan diri. Maafkan aku, Putriku. Itu tadi refleks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lena menyentuh perutku yang buncit. Cahaya biru menyeruak dari telapak tangannya yang menyentuh perutku. Dia hanya sedang mendiagnosa kondisiku. Aku tahu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, Tuhan. Nayna, sudah saatnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berhutang budi pada Lena. Selalu. Bahkan di saat-saat seperti ini, saat aku meragukannya, dia tak pernah berhenti menolongku. Sekarang hanya tinggal menunggu waktu sampai seseorang menemukanku di sini. Fakhri sudah mati. Aku tak bisa meminta Lena melakukan sesuatu tentang itu. Kedua orang yang tadi bersamanya pasti membunuh Fakhri sebelum Lena sempat melakukan apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putriku sudah lahir. Lena membantu persalinanku dengan baik. Kini kondisiku lemah. Sangat lemah. Aku bahkan belum bisa berdiri. Sedangkan aku tahu, di luar sana mereka masih mencariku. Dua orang teman Lena pasti akan kembali ke tempat ini setelah mereka tak menemukan sesuatu pun di tempat lain. Keselamatanku sudah tak penting lagi. Putriku sudah lahir. Dia harus bertahan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tolong jaga anakku!” kataku. “Jangan sampai mereka menemukannya. Dia harus bertahan hidup.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Serahkan padaku!” katanya tegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syukurlah. Dengan begini spesies hijau tak akan punah. Aku percaya Lena akan membawanya ke suatu tempat yang aman. Aku percaya padanya. Harus. Tak ada pilihan lain selain mempercayainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang berada tidak jauh dari gua ini. Aku bisa merasakannya meskipun kondisiku sudah sangat lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cepat bawa pergi anakku sekarang!” sergahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku juga harus membawamu,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak. Itu tidak perlu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa maksudmu tidak perlu?!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu hanya akan menghambatmu. Aku masih bisa menjaga diri. Sekarang yang terpenting adalah anakku. Jaga dia! Kumohon!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lena memandangku curiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu ingin aku meninggalkanmu di sini?” tanyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu satu-satunya jalan,” kataku. Aku tak mengatakan padanya bahwa seseorang berada cukup dekat ke gua untuk bisa menemukanku. Jika aku mengatakannya, Lena tidak akan mau pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berjanjilah tak akan melakukan sesuatu yang konyol!” katanya, masih menatapku, sementara anakku di pangkuannya terlelap. Sepertinya dia sudah lelah menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku berjanji,” kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lena masih menatapku, mencari tahu apakah aku sedang membohonginya atau tidak. Irisnya berubah biru. Dengan irisnya ini dia bisa membaca pikiranku, tapi aku berusaha keras untuk tidak memikirkan seseorang yang mendekati gua ini. Aku sudah belajar menyembunyikan pikiranku selama dua tahun ini. Mudah-mudahan saja aku berhasil mengecoh Lena.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku akan kembali,” katanya. “Bertahanlah sampai saat itu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih,” kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lena berbalik dan berjalan menuju mulut gua. Aku memanggilnya. Ada sesuatu yang kulupakan. Aku meminta Lena memberiku sebuah bolpoin dan selembar kertas. Di kertas itu, aku tuliskan nama putriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Airish Rashiana. Itu namanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oke. Akan kuingat baik-baik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Lena pun pergi meninggalkanku sendiri di dalam gua. Usai sudah. Tinggal aku sendiri. Tak ada lagi motivasi untuk terus bertahan. Misiku selesai. Mungkin sudah takdirku untuk mati di tempat seperti ini. Tak apa. Yang penting anakku akan hidup. Dia akan meneruskan garis keturunan spesies hijau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang itu semakin dekat ke mulut gua. Aku bisa merasakan kehadirannya dari suhu tubuhnya yang panas dan bau tubuhnya yang kuat. Tak diragukan lagi, orang ini berbahaya. Kuharap Lena sudah membawa Airish cukup jauh dan tak berpapasan dengan orang ini maupun orang lain dari akademi. Orang itu sudah masuk ke mulut gua. Dia kini sedang melihat-lihat jejak kaki di tanah. Rupanya dia pendeteksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena saat ini aku sendiri dan tidak lagi mengandung, tak ada hambatan lagi untuk mengubah iris. Meskipun aku belum bisa berdiri dan energiku sudah banyak terbuang karena melahirkan, aku masih bisa memaksakan sisa energiku yang tidak sampai 20% ini. Kuubah irisku menjadi hijau. Semakin jelas dan kuat saja kurasakan kehadirannya. Dia menelusuri jejak kaki itu sambil berhati-hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia muncul di sana, beberapa belas meter di hadapanku. Matanya merah. Dari postur tubuhnya yang tinggi dan berisi, dia pasti laki-laki. Ini lebih buruk dari dugaanku. Tak ada pilihan lain. Kukerahkan sisa 20% energi di tubuhku sampai habis lalu memusatkannya untuk memperbesar pupilku dan mengubah bentuknya menjadi kotak. Aku sudah siap menyerangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Airish, ini aku Andy,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini aku Andy,” katanya lagi. “Tenang. Aku tak akan melukaimu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sedikit kesulitan mempertahankan bentuk pupil dan warna irisku, mungkin karena energiku sudah hampir habis kugunakan saat melahirkan tadi. Untung yang muncul di hadapanku bukan orang lain. Andy, meskipun aku dan dia tidak begitu dekat semasa di akademi, Lena dan dia adalah sahabat karib, dia tak akan begitu saja melukaiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tak berniat kembali ke akademi,” kataku dengan napas terengah-engah. Warna iris dan bentuk pupilku masih sekuat tenaga kupertahankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah kubilang aku tak akan melukaimu. Kondisimu sangat lemah. Tak perlu memaksakan diri. Kembalikan saja irismu jadi normal!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia berjalan mendekat dengan mengangkat kedua tangannya seperti seorang buronan menyerah saat dikepung polisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selain itu,” lanjutnya, “aku di sini bukan untuk membawamu kembali ke akademi, tapi untuk melenyapkanmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Niatku untuk mengubah iris ke keadaan semula langsung hilang. Apa maksudnya? Dua kali dia bilang tidak akan melukaiku. Kemudian dia berniat melenyapkanku. Tak sejalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau ingin membunuhku? Silahkan saja! Lagipula aku sudah sangat lemah. Paling-paling aku hanya bisa memberimu sedikit luka sebagai kenang-kenangan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memaksakan berdiri membuat otot-otot di sekitar pinggangku sakit. Aku gigit bibirku yang bawah untuk menahan rasa sakit itu. Irisku tak akan bertahan lama. Dengan energi di tubuhku yang tinggal 20%, bentuk pupil ini hanya akan bertahan lima menit. Satu menit sudah berlalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Biar kujelaskan dulu! Sepertinya kau salah memahaminya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia kini berdiri cukup dekat di arah jam dua, sekitar empat meter. Dari jarak sedekat ini bisa kulihat jelas irisnya yang merah menyala. Spesies murni. Aku jadi ingat kembali kejadian-kejadian yang kulihat di masa lalu. Banyak orang mengatakan kemampuanku melihat hal-hal di masa lalu adalah suatu kelebihan, anugerah. Entahlah. Seandainya aku tak memiliki kemampuan itu, aku tak akan tahu sejarah sebenarnya dari spesies ini, dan aku tak akan menulis buku yang menyatakan sejarah yang sebenarnya, dan itu artinya aku dan sisa-sisa spesies hijau tak akan kembali diburu. Sesuatu yang dikatakan orang sebagai kelebihan telah membawaku dekat sekali dengan kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa maumu sebenarnya?” tanyaku, dia sudah berhenti melangkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Beberapa petinggi akademi ingin kau mati. Beberapa lagi ingin mengurungmu dan menyiksamu sampai kau tak bisa berbuat apa-apa lagi. Aku datang atas perintah mereka. Tapi..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saja pupilku tidak dalam bentuk spesial seperti ini, aku tak akan tahu bahwa Andy sedang mengubah pupilnya. Sampai saat ini bentuk pupilnya masih bulat dan hanya sedikit membesar, tapi perubahan baru saja dimulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi aku tak bisa melakukannya,” katanya. “Lena akan sangat sedih jika aku melakukannya. Dia akan membenciku di sisa hidupnya. Itu bukan hal yang kuinginkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggal dua menit lagi sampai energiku benar-benar habis dan aku akan terkulai begitu saja. Aku masih belum bisa menebak apa yang akan dilakukan Andy. Bisa jadi dia sengaja mengulur waktu sampai aku kehabisan energi lalu menyerangku. Jika ingin menyerangnya, aku akan melakukannya di satu menit terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi apa yang akan kau lakukan?” tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan pupilnya mulai jelas terlihat. Dia pasti mengembangkan bentuk ini sendiri. Aku tak pernah melihat seseorang dari spesies merah dengan bentuk pupil seperti ini sebelumnya. Bentuknya mulai jelas, seperti api, api berwarna hitam yang bergerak-gerak. Aku harus berhati-hati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku akan membuat seolah-olah kau mati,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup mengejutkan. Jawaban ini jauh lebih baik dari semua yang kuperkirakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jelaskan!” kataku, satu menit terakhir hampir tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku akan membawamu ke suatu tempat yang aman. Di tempat itu ada teman yang bisa kupercaya. Kau akan hidup di sana sebagai seseorang yang baru. Nayna akan mati hari ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu menit terakhir tiba tapi niatku untuk menyerang Andy sudah hilang. Teleportasi kah? Pernah sekali aku merasakan sensasi itu saat Andy menolongku dalam suatu misi. Dua tahun berlalu sejak aku meninggalkan akademi, kemampuan teleportasinya pasti sudah jauh lebih baik. Entah kemana dia akan membawaku. Tinggal tiga puluh detik lagi sampai energiku benar-benar habis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ketika Lena kembali,” katanya, “dia akan menemukanmu sudah mati. Izinkan aku meminjam tanganmu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya aku tak bisa menolaknya. Kalaupun aku tidak mengizinkannya, sesaat lagi aku akan jatuh terkulai dan Andy bisa dengan leluasa melakukan sesuatu terhadap tubuhku. Kurasa idenya tidak begitu buruk, meskipun dengan begitu, aku harus menghilang selamanya di sisa hidupku yang berarti tak ada kesempatan untuk bertemu anak yang baru saja kulahirkan beberapa menit lalu. Tak apa. Yang penting dia terus hidup. Spesies hijau tak akan punah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memberikan tanganku yang kanan. Andy bergerak menghampiriku dan menggenggam tangan kananku dengan kedua tangannya. Irisnya merah menyala dan pupilnya bergerak-gerak seperti api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lena..?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku akan merahasiakan ini darinya,” kata Andy sebelum selesai pertanyaanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, mungkin itu jauh lebih baik. Jika dia tahu yang sebenarnya, dia akan menghabiskan sisa hidupnya untuk mencariku. Itu hanya akan membuat hidupnya terancam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lena, Andy, meskipun kalian berasal dari dua spesies yang akhirnya kubenci, nyatanya aku tak sedikit pun membenci kalian. Kesalahan yang dilakukan spesies kalian di masa lalu yang masih terus terulang sampai saat ini, sama sekali tak membuatku membenci kalian. Kalian berdua penyelamatku, selalu seperti itu sejak tahun-tahun kita bersama di akademi. Aku akan sangat merindukan saat-saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuatu yang panas menyergap tangan kananku dan menyebar hingga ke bahu, ke leher, ke dada, ke seluruh tubuh. Sesaat lagi, aku akan berada di suatu tempat yang jauh. Lena, selamat tinggal.&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054150040858616865-141748853077970429?l=ardy-kresna-crenata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/feeds/141748853077970429/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/2010/07/spesies-hijau-chapter-12a.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054150040858616865/posts/default/141748853077970429'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054150040858616865/posts/default/141748853077970429'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/2010/07/spesies-hijau-chapter-12a.html' title='spesies hijau chapter 12a'/><author><name>Ardy Kresna Crenata</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_DBAkcWrPpOM/TDsdMhaYCUI/AAAAAAAAAAw/HFjbf4gJFYo/S220/ardy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054150040858616865.post-2963393628678979669</id><published>2010-07-14T10:32:00.001+07:00</published><updated>2010-07-14T10:32:23.715+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='novel'/><title type='text'>spesies hijau chapter 11c</title><content type='html'>Buku peninggalan ibuku sudah kumasukkan ke dalam tas yang kugendong. Keluar dari kamar, aku langsung dihadapkan pada semburan api yang hampir saja membakar tanganku. Di lorong ini memang sedang terjadi pertempuran. Di sebelah kanan sana ada pertarungan api dengan air. Di sebelah kiri ada api lawan api. Aku tak mengerti mengapa spesies jingga jumlahnya seperti banyak, seakan-akan menyamai jumlah kami semua di akademi ini. Mungkinkah si spesies hitam telah melakukan sesuatu kepada mereka saat di dalam tanah tadi? Spesies jingga yang menyerangku saja ada dua orang, satu dari kanan, satu dari kiri. Seperti halnya spesies merah, spesies jingga merupakan tipe petarung jarak dekat. Mereka lebih suka bertarung dengan jarak dekat karena kekuatan mereka—terutama elemen apinya—akan lebih kuat dalam jarak itu. Aku sebenarnya tidak begitu bermasalah menghadapi elemen api, yang sedikit membuatku khawatir adalah kemampuan mereka untuk mengeluarkan cahaya yang menyilaukan dari matanya. Itu bisa sangat mengganggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil terus mengelak dan mengelak dari semburan api yang keluar dari tangan mereka, aku mencoba memusatkan energi tubuh di mataku yang kiri. Mataku yang kiri terpaksa kupejamkan sehingga aku menghadapi mereka dengan sebelah mata. Gerakan mereka cukup cepat sehingga aku hampir tak punya jeda untuk menghirup napas saat api demi api menyembur ke arahku. Namun, gerakanku pun tentunya sama cepatnya dengan mereka, bahkan sedikit lebih cepat. Karena sampai saat ini aku masih terus menghindar tanpa menyerang balik, dinding-dinding di sekitarku terbakar. Dan ketika akhirnya mata kiriku kubuka, pupilnya sudah berubah bentuk jadi kotak, yang artinya aku sudah bisa memanfaatkan dinding dan lantai di sekitarku. Segera saja kututupi seluruh tubuhku dengan semen dari dinding dan lantai. Hanya mataku yang tidak tertutupi semen itu. Aku jadi seperti manusia batu. Dengan ini aku sudah siap dengan pertarungan jarak dekat yang mereka inginkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua semburan api yang cukup besar datang dari kiri dan kanan bersamaan. Aku tidak lagi menghindar. Kucoba menahan semburan api itu dengan kedua tanganku yang tentunya terlindungi batu/semen. Meskipun api tidak berhasil membakar kulitku, aku masih bisa merasakan panasnya. Segera saja aku menghambur ke kiri dan mencoba memukul salah satu spesies jingga itu di perut. Dia berhasil menghindar, namun ketika aku memutar dan memukulnya dengan tanganku yang satu lagi, dia tak berhasil menghindar. Aku berhasil melemparnya hingga membentur dinding dan jatuh. Belum juga si spesies jingga itu bangkit, spesies jingga yang satu lagi menerjangku dan menyemburkan api sangat dekat di punggungku. Aku merasa seperti dipanggang sehingga sempat berteriak. Dengan cepat aku berbalik dan berusaha memukulnya. Dia lebih gesit daripada temannya tadi. Dia terus menghindar sambil menyembur-nyemburkan api yang membuat batu-batu yang menempel di tubuhku dipenuhi asap. Akhirnya aku berhasil menendangnya di pinggang sehingga dia membentur dinding dan roboh. Kurasa dia pingsan. Spesies yang satu lagi sudah bangkit dan menyemburkan api yang sangat besar dari kedua tangannya. Aku harus mundur menjauh karena api itu bisa saja membuatku benar-benar kepanasan. Ketika akhirnya api itu hilang, dengan cepat aku bergerak ke depan dan mendorongnya hingga kami sama-sama jatuh. Sebelum dia sempat menyemburkan api lagi, aku pegang kedua pergelangan tangannya dan kutahan. Kugunakan sebagian batu di tanganku untuk menahan kedua tangannya seperti borgol. Kemudian dia hendak menyemburkan api dari mulutnya tapi segera kututup mulutnya dengan tanganku dan kembali menahannya dengan sebagian batu yang kupindahkan ke lantai. Sebenarnya hanya tinggal menunggu waktu sampai dia berhasil menghancurkan batu-batu ini. Oleh karena itu, aku keluarkan jurus hisapan lantai sehingga lantai tempat dia menempel menjadi seperti cair dan menenggelamkannya ke bawah. Setelah dia tenggelam, aku padatkan kembali lantai itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lorong ini masih ada pertarungan, dan aku tidak berniat turun tangan. Kubiarkan saja mereka menghadapi spesies-spesies jingga itu. Saat ini yang ingin kulakukan adalah mencari Alea dan Sandra, juga Remi. Entah mereka saat ini ada di mana. Aku merunduk, menekankan kedua tanganku di lantai. Batu yang menyelimuti tubuhku kubiarkan lepas. Tanpa memejamkan mata, aku berusaha fokus, memusatkan energi di telapak tangan. Sejurus kemudian lantai yang kutekan turun dengan cepat sehingga aku seperti berada dalam lift yang transparan. Aku melewati lantai demi lantai tanpa peduli apakah aku akan menghantam seseorang atau tidak. Di setiap lantai yang kulewati, selalu ada pertarungan. Ketika akhirnya tiba di lantai satu, aku berdiri. Kuselimuti kembali tubuhku dengan batu dan berlari di sepanjang lorong menuju area tempat auditorium tenggelam. Ada beberapa spesies jingga yang mencoba menghalangi tapi kusingkirkan begitu saja dengan menggerakkan dinding-dinding untuk menghantam mereka. Aku pun tiba di area terbuka itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat ini benar-benar sudah kacau berantakan, benar-benar seperti lokasi perang, seperti sudah dihantam banyak granat, bom, dan rudal. Aku langsung saja menghambur ke sana, memukul dan menyingkirkan satu demi satu spesies jingga yang kutemui. Sekali lagi aku bingung, bagaimana bisa jumlah mereka jadi sangat banyak, dan sepertinya sedikit lebih banyak daripada kami semua di akademi. Tapi sepertinya kekuatan mereka sedikit di bawah kami sehingga kami masih bisa mengatasinya. Semburan api, percikan air, bongkahan es, cahaya menyilaukan, petir, semuanya ada di tempat ini. Aku manfaatkan genangan air di sekitarku untuk melindungi kedua mataku dari cahaya menyilaukan yang mungkin akan muncul lagi. Kini aku seperti menggunakan kacamata yang tebal dan dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba saja tanah di sekitarku bergetar dan bergetar. Lama-lama muncul retakan yang menyebar hampir ke seluruh bagian tempat ini. Spesies jingga tak bisa mengendalikan tanah. Ini tandanya spesies hitam mulai beraksi. Tapi mereka belum muncul. Setelah tadi melihat tiga wanita spesies hitam saat kudeta dimulai, aku belum melihat mereka lagi. Entah di mana mereka saat ini. Tiga spesies jingga mengepungku dan menyemburku dengan api. Dengan cepat kuangkat tanah ke atas sehingga api itu tidak menyentuhku. Sebelum mereka menyemburkan api lagi, kutekankan tanah tempatku berpijak ke bawah sehingga menimbulkan guncangan di sekitarku, membuat mereka bertiga goyah. Segera saja kusentuhkan kedua tangan di tanah dan berkata, “Penjara tanah.” Tanah tempat mereka berdiri retak dan mereka bertiga seperti ditarik ke dalam tanah sehingga hanya menyisakan kepalanya di permukaan. Segera kututupi mulut mereka dengan batu dan menggunakan mataku yang kanan untuk membuat mereka tak sadarkan diri. Ini perang dan sudah sewajarnya aku membunuh musuh, namun aku tidak cukup berani melakukannya. Dari tadi yang kulakukan hanya melumpuhkan sampai mereka pingsan. Entah kenapa, aku tidak siap untuk membunuh seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Penjara tanah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mendengar seseorang mengatakannya lalu tiba-tiba saja tanah tempatku berdiri retak dan aku seperti tertarik ke dalamnya. Hanya kepalaku yang masih di atas permukaan tanah. Sialan. Aku lengah. Sejurus kemudian seorang wanita berpakaian serba hitam muncul di hadapanku. Dia wanita yang sebelumnya kutemui beberapa jam yang lalu, si spesies hitam berambut pendek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau mengkhianati kami,” dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Seperti biasa dia mengatakannya dengan santai seolah-olah itu sama sekali tak bermasalah baginya. Namun jelas, itu suatu masalah baginya. “Kau menipu kami lalu mengkhianati kami. Perfect!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak mengkhianati siapapun,” sergahku. “Kudeta ini seharusnya bisa dibatalkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau masih belum memahaminya juga?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku paham,” jawabku. “Maka dari itu aku berusaha menghentikannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tersenyum mengejek lalu berkata, “Sayang sekali. Tadinya aku berharap kita bisa saling memahami sebagai sesama spesies campuran. Aku bahkan mengakui bahwa bakat dan kemampuan yang dimiliki spesiesmu itu, luar biasa. Kalau saja kau membantu kami, semua ini akan berjalan lancar. Tapi, karena kau sudah memutuskan untuk membantu mereka, aku tak punya pilihan lain selain menghabisimi sekarang..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kedua tangannya muncul api berwarna hitam yang bergerak-gerak dan mengepulkan asap. Api seperti apa itu? Aku belum pernah melihat yang seperti itu. Dia mengangkat kedua tangannya dan bersiap-siap melemparkan api itu padaku. Gawat. Aku sama sekali tak bisa menggerakkan tanganku. Aku hanya bisa menendang-nendangkan kakiku untuk membuatku keluar dari penjara tanah ini. Seandainya aku bisa mengendalikan api, mungkin aku bisa lepas dengan mudah. Tapi aku tak bisa. Sementara itu untuk menggerakkan tanah, aku butuh kedua tanganku atau kakiku. Kali ini situasinya benar-benar buruk. Wanita itu berkata, “Dengan ini kau akan mati. Api abadi!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilemparkannya kedua api itu ke arahku dan aku hampir saja mengubah pupilku ke bentuk optimalnya seandainya tidak ada yang menahan api itu. Sejumlah air melemparkan api itu ke kiri dan jatuh di tanah. Air itu sempat membeku tapi kemudian mencair. Hebatnya, api hitam itu sama sekali tidak padam. Keduanya masih menyala-nyala di tanah. Itukah yang dimaksud api abadi? Api yang tak akan mati bahkan oleh air?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tak apa-apa?” tanya seseorang yang mendekat. Ternyata dia Alea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku belum bisa bergerak,” kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bala bantuan kah?” tanya si wanita spesies hitam berambut pendek itu. Dia sudah menyiapkan lagi api hitam di kedua tangannya. Kali ini dia menyiapkan api yang lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Api macam apa itu?” tanya Alea. Dia berdiri di depanku dengan tubuh sedikit merunduk, bersiap-siap menghadapi serangan si spesies hitam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Api itu tak bisa dipadamkan,” kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si spesies hitam itu tersenyum mengejek lalu melemparkan api yang ada di tangan kanannya ke arah Alea. Dengan cepat Alea mengeluarkan air dari sela-sela jari tangannya dan membentuknya jadi sebuah dinding yang cukup tebal dan beku, layaknya batu es. Tapi api hitam itu dengan mudah menembusnya dan mendekat dengan sangat cepat. Untunglah Alea sempat melindungi tubuhnya dengan gelembung yang disebutnya perisai biru—warna gelembung itu transparan dan sedikit biru. Akan tetapi, lagi-lagi api itu berhasil menembusnya sehingga Alea terpaksa menghalangi wajahnya dengan kedua tangannya yang disilangkan. Api hitam itu mengenai tangannya dan membakarnya. Alea menjerit-jerit, berteriak-teriak. Dia jatuh berlutut dan terus berteriak. Sepertinya api itu sangat menyakitkan. Api hitam itu tidak menyebar atau pun membesar, melainkan tetap di kedua tangannya dengan ukuran yang sama. Hanya saja, api itu tidak padam-padam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang kau rasakan? Rasa sakit?” si spesies hitam itu mendekat. Di tangannya yang kiri masih ada sebuah api hitam lagi yang bergerak-gerak. Lagi-lagi dia tersenyum mengejek. “Rasa sakit yang kami rasakan berpuluh-puluh tahun lalu dan setelah itu jauh melebihi apa yang kau rasakan. Kalian seharusnya bersujud, memohon ampunan kami, merengek, meminta kami tidak membunuh kalian seperti yang saat itu kami lakukan. Tapi, meskipun kami bersujud, meminta ampun, tetap saja kalian membunuh kami, tanpa ampun. Bahkan di perburuan kedua, tak ada lelaki spesies hitam yang tersisa. Hanya aku dan dua temanku, hanya tiga wanita spesies hitam yang tersisa dari perburuan itu. Kami bertahan hidup, membuat diri kami lebih kuat dan lebih kuat dari waktu ke waktu, memikirkan suatu cara agar kami bisa terus hidup tanpa memiliki keturunan. Kini, semua itu sudah bisa kami lakukan. Kami bertiga, tak akan mati, tak akan bertambah tua, dan akan semakin hebat seiring lebih banyak jurus yang kami pelajari. Dan kalian.. akan mati di sini..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alea, menyingkir!” aku berteriak sekuat mungkin. Alea masih saja duduk berlutut sambil mengeluh kesakitan. Api hitam itu masih membakar kedua tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sepertinya aku berubah pikiran,” kata si spesies hitam. “Aku ingin kalian merasakan lebih jauh soal rasa sakit itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Api hitam di tangan kirinya hilang. Sesaat matanya yang hitam bersinar lalu dia merunduk menekankan kedua tangannya di tanah dan dengan cepat sepetak tanah tempat kami bertiga berada turun hingga beberapa meter. Kami jadi seperti berada di sebuah bak mandi kosong yang sangat besar. Si spesies hitam itu berdiri, memunculkan lagi api hitam di kedua tangannya. Dia lalu menyebarkan api hitam itu ke seluruh dinding di sekitar kami sehingga kami kini dikelilingi api yang katanya abadi itu. Aku masih terjebak di tanah, hanya kepalaku yang berada di permukaan. Wanita spesies hitam itu mendekat dan lagi-lagi tersenyum kecut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akan kubuat kau merasakan sendiri bagaimana sakitnya melihat orang yang kau sayangi dilukai,” kata-katanya itu pasti ditujukan padaku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alea mencoba berdiri. Api hitam itu masih menyala-nyala di kedua tangannya. Apakah benar api itu tak bisa dipadamkan sama sekali? Alea membiarkan kedua tangannya terjuntai seolah-olah dia tak bisa lagi menggerakkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Entah apa yang akan kau lakukan, tapi..” dia berhenti sesaat seperti mengernyit menahan sakitnya api yang membakar tangannya itu, “aku belum kalah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si spesies hitam itu lagi-lagi tersenyum kecut lalu berkata, “Masih bisa saja kau bicara begitu, padahal kedua tanganmu sudah tak bisa kau gunakan lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu yang dari tadi kukhawatirkan. Dengan api abadi yang membakar kedua tangannya, Alea tentu saja tak bisa menggunakan tangannya sehingga kemungkinan besar dia tak bisa menggerakkan air untuk menyerang musuh atau pun melindungi diri. Akan tetapi, Alea memaksakan diri untuk tersenyum, dan bagi orang sepertiku yang sudah cukup lama mengenalnya, ada sesuatu di balik senyumnya itu. Alea sudah merencanakan sesuatu. Aku yakin itu. Entahlah apakah terbakarnya kedua tangannya juga termasuk dalam rencananya, namun seperti yang dia bilang, dia belum kalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Spesies terkuat..” kata Alea, “Pantas saja kalian diburu. Kalian memang berbahaya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tahu apa kau soal spesies kami!?” dia menghentakkan kakinya yang kanan, membuat retak tanah tempat Alea berpijak. Alea berhasil menghindar ke kiri. Retakan tanah itu berhenti sekitar dua meter lagi di depanku. “Saat perburuan dan pembantaian itu dilakukan, kami masih belum bisa mengoptimalkan kekuatan kami, kami masih belajar. Kalian memang licik, pengecut! Seandainya kalian memang berani menghadapi kami saat itu, kalian tentunya akan secara terang-terangan melakukannya, mengajak kami bertarung, bukan dengan cara yang kalian lakukan saat itu, menyerang dengan tiba-tiba.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu sudah takdir. Kau tahu itu..” kata Alea. Sepertinya dia berusaha membuat si spesies hitam itu jengah. Apa yang sedang direncanakannya kini? Kulihat dia masih sesekali mengernyit merasakan sakit di kedua tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Takdir!?” lagi-lagi dia menghentakkan kakinya dan timbullah lagi sebuah retakan yang mengejar Alea. Alea menghindar sedikit ke kanan. Retakan itu kini berhenti lebih dekat dari tadi, sekitar satu meter di depanku. Oh, ini kah yang sedang dia usahakan: berusaha membuat aku terlepas dari penjara tanah ini? “Apa yang kau tahu soal takdir!? Bisa-bisanya spesies murni sepertimu bicara soal takdir..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alea malah tertawa sambil menunduk. Kedua tangannya masih terjuntai dengan api hitam itu masih menyala-nyala di sana. Dia berkata, “Kudeta ini sudah membuktikan bahwa spesies kalian memang berbahaya. Kalau saja hari itu kami tidak memburu kalian, tentu saja kalian akan lebih berbahaya lagi. Itu membuktikan bahwa keputusan kami saat itu benar. Mungkin saja petinggi akademi saat itu punya kemampuan untuk melihat masa depan sehingga dia berusaha mencegah spesies kalian berkembang..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berisik!”si spesies hitam itu menghentakkan kakinya lagi dan retakan itu kembali muncul mengejar Alea. Kali ini dia tidak berhenti sampai di situ. Dia langsung merunduk dan menekankan kedua tangannya di lantai. Retakan-retakan lain muncul dari tanah yang disentuhnya dan bergerak-gerak mengejar Alea. Awalnya Alea hanya menghindari ke kanan dan ke kiri. Tapi setelah retakan itu jadi banyak, dia mundur hingga ke belakangku. Salah satu retakan itu akhirnya memberiku ruang untuk bergerak. Tanganku sudah bisa kugerakkan. Segera saja kuangkat lapisan tanah yang mengelilingiku ke permukaan lalu menurunkannya kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si spesies hitam itu tampak kesal karena secara tidak sengaja dia melepaskanku dari penjara tanah-nya. Dia lalu mengangkat kedua tangannya dan membentangkannya. Kulihat matanya yang hitam bersinar sesaat lalu dinding-dinding di kiri dan kanan kami, yang diselimuti api hitam itu bergerak mendekat, berusaha menghimpit kami. Si spesies hitam itu sendiri dengan cepat menggerakkan tanah untuk membawanya ke atas. Alea di belakangku, tampak kelelahan dan mengernyit merasakan sakit di kedua tangannya. Aku segera menghampirinya, memegang bahunya dan menghindari kedua api hitam itu. Gerakan dinding-dinding itu semakin cepat dan entahlah apakah aku sempat membawa Alea naik. Kutekankan sebelah tanganku ke tanah sementara tanganku yang lain merangkul Alea. Tanah tempat kami berpijak naik dan naik. Dinding-dinding itu juga semakin cepat bergerak, berusaha menghimpit kami. Aku bisa merasakan panas yang dikobarkan api hitam itu. Aku berusaha menaikkan tanah ini lebih cepat. Tapi gerakan dinding itu juga bertambah cepat. Si spesies hitam sudah sepenuhnya ke permukaan, kulihat api hitam itu seperti ingin segera memakan kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah cahaya yang menyilaukan muncul disertai gemuruh petir. Tiba-tiba saja dinding-dinding itu berhenti bergerak, memberi kami jeda untuk mencapai permukaan. Sejurus kemudian aku menyadari apa yang tadi terjadi. Si spesies hitam itu baru saja disambar petir. Dia jatuh berlutut. Segera saja seseorang mengikat tubuhnya dengan sejumlah air dan membekukannya dengan hanya menyisakan kepalanya. Sebelum si spesies hitam itu sempat melakukan sesuatu, sebuah petir lagi-lagi menyambar tepat di kepalanya, menciptakan sebuah bunyi gemeretak. Kali ini dia roboh. Aku yakin kali ini dia sudah tak bisa bergerak lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya ini yang direncanakan Alea. Dari tadi dia berusaha membuat si spesies hitam itu naik ke permukaan. Di permukaan, dia sudah menyuruh dua orang menyerangnya ketika melihat si spesies hitam itu. Si spesies abu-abu langsung menyambarnya dengan petir, membuatnya terkejut dan linglung, kemudian si spesies biru menahannya agar tidak bergerak beberapa detik lalu si spesies abu-abu lagi-lagi menyambarkan petir ke tubuhnya. Begitulah. Rencananya lagi-lagi berhasil. Si spesies biru itu ternyata Sandra. Dia kini sudah kembali menghadapi beberapa spesies jingga yang menghampirinya. Dengan sebuah gerakan mata, dia menyuruhku untuk membawa Alea ke suatu tempat. Ketika aku melihat Alea, dia sudah terkapar dan meronta-ronta. Sepertinya rasa sakit di kedua tangannya itu semakin menjadi-jadi. Api itu belum juga hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menghampirinya lalu membuat semacam benteng perlindungan dari tanah, benteng perlindungan ini berbentuk separuh bola. Alea menggeliat-geliat sambil menutup kedua matanya. Bagaimana caranya memadamkan api ini? gumamku. Sayang sekali aku bukan seorang penyembuh. Alea lah justru yang seorang penyembuh, namun karena kedua tangannya tak bisa dia gunakan, dia tak bisa melakukan penyembuhan. Dia bahkan tak bisa mengeluarkan air dari sela-sela jari tangannya ketika aku menyuruhnya. Aku bingung, sungguh tak tahu apa yang harus kulakukan. Kusentuhkan kedua tanganku ke tanah dan menyelimutkan tanah ke tanganku sampai sikut. Dengan pelan aku mencoba memegang kedua tangannya yang terbakar api hitam itu. Namun, bukannya padam, api hitam itu malah ikut membakar tanganku yang terbungkus tanah. Segera saja kulepaskan tanah yang membungkus tanganku itu sehingga api hitam itu berceceran di sekitarku. Aku lalu mencoba menyelimuti tangan Alea dengan tanah. Kulapis lagi dan lagi. Namun dalam sekejap api hitam itu menembus keluar, membakar lapisan tanah di tangannya itu. Aku menyerah. Tak ada yang bisa kulakukan untuk memadamkannya. Alea masih saja menggeliat-geliat kesakitan. Sesekali matanya yang biru terbuka menatapku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Airish..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saja menyebut namaku dan belum sempat mengatakan hal lainnya, tiba-tiba benteng perlindungan yang kubuat hancur. Seseorang menghancurkannya dari luar. Aku merunduk untuk melindungi wajahku. Alea pun sama. Ketika aku membuka mata, kulihat lokasi di sekitar kami seperti sebuah tempat yang habis dijatuhi bom, tak ada orang hingga sekitar dua puluh meter atau lebih. Kami seperti berada di pusat sebuah lingkaran. Kemana Sandra? Sesuatu bergerak cepat dari depan, menghampiriku. Dia salah satu wanita spesies hitam itu, kali ini yang rambutnya panjang bergelombang. Di kedua tangannya ada sepasang pedang yang tampaknya terbuat dari batu. Aku segera menyelimuti seluruh tubuhku dengan tanah dan memadatkannya. Langsung saja dia menebaskan pedang batunya itu satu per satu. Aku menangkisnya dengan kedua tanganku yang diselimuti batu juga. Pedangnya itu keras juga, sampai-sampai membuat retak batu yang menyelimuti tubuhku. Dia terus menerus menebaskan kedua pedangnya itu, mendesakku. Aku terpaksa mundur dan mundur. Tiba-tiba saja sebuah dinding menahanku di belakang. Sejak kapan ada dinding di sana? Rupanya si spesies hitam ini sudah menyiapkannya. Aku tak bisa lagi mundur ataupun menghindar ketika dia menebaskan kedua pedang batunya sekaligus dan hampir membuat lapisan tanah di tubuhku remuk dan hancur. Dia lalu menyelimuti salah satu pedangnya dengan api hitam—api yang sama dengan temannya tadi—dan menebaskannya padaku. Aku bersusaha menahannya dengan kedua tanganku, namun api hitam itu malah menyebar ke tanganku hingga sikut. Aku menendangnya di perut dan dia pun terpaksa mundur cukup jauh. Salah satu pedangnya yang diselimuti api hitam itu berhasil kurebut dan segera kulempar ke samping. Sebelum api hitam itu menjalar ke seluruh tubuh, aku lepaskan semua tanah yang menyelimuti tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lengah. Si spesies hitam itu sudah meneylimuti pedangnya yang satu lagi itu dengan api hitam dan kini sudah sangat dekat denganku. Aku baru menyelimutkan tanah hingga kedua kakiku. Apakah aku sempat menghindar atau menangkisnya? Rasanya tidak. Jika memperhitungkan jarak dan kecepatan dia bergerak, sepertinya aku tidak akan sempat menghindar mau pun menangkisnya. Lalu, bagaimana nasibku? Pedang yang diselimuti api hitam itu berhenti tepat sebelum menyentuh tanganku yang kusimpan di depan. Ada noda darah. Ada percikan darah di tanganku. Darah siapa? Aku melihat ke depan dan ternyata pedang itu menembus Alea di perutnya. Api hitam itu mulai menyebar ke tubuhnya. Alea berteriak keras sekali. Si spesies hitam menarik pedang itu sehingga darah dari perut Alea semakin banyak yang jatuh ke tanah. Sejurus kemudian Alea roboh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih dicekam ketakutan. Terbayang terus saat pedang yang diselimuti api hitam itu menembus perut Alea, tepat di depanku. Apa yang dia pikirkan? Sudah jelas-jelas kedua tangannya tak bisa digunakan, dia malah dengan nekat berdiri di depanku dan menahan spesies hitam itu. Bodoh. Sungguh bodoh. Dengan emosi aku menyelimuti seluruh tubuhku dengan tanah dan memadatkannya hingga benar-benar keras. Aku lalu bergerak cepat menghampiri si spesies hitam dan dia pun bergerak menghampiriku. Dan ketika akhirnya kami bertemu di tengah, pedangnya itu menebas bahu kiriku sedangkan tanganku mengenai perutnya. Darah keluar dari mulutnya, tapi sejurus kemudian lapisan tanah yang menyelimuti tubuhku retak dan hancur. Aku rasakan pedang itu menyentuh langsung bahuku. Rasanya panas luar biasa, apalagi ketika api hitam itu mulai menyebar di bahuku itu. Aku tahan diriku untuk tidak berteriak meskipun rasa sakitnya sungguh luar biasa. Kugerakkan tanganku yang bebas untuk mengendalikan tanah. Sebisa mungkin kubuat dia tak bisa bergerak, kedua kakinya aku selimuti dengan tanah dan kuremas dengan kuat. Dia meringis menahan sakit namun masih bisa menggerakkan pedangnya untuk membuatku semakin kesakitan. Api hitam itu mulai menjalar ke lengan kiriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah bagaimana ceritanya, aku kemudian merasakan darah keluar dari kedua mataku. Melihatnya, si spesies hitam itu tampak terkejut dan langsung bereaksi. Kulihat pupilnya yang hitam berputar dan berputar semakin cepat seperti pusaran air. Sejurus kemudian aku seperti mendengar suara air dalam jumlah besar dan ternyata memang air. Air itu muncul dari bawah dan memisahkan kami berdua. Untuk sesaat kami dipisahkan air setinggi empat atau lima meter yang kemudian jatuh kembali ke tanah. Aku melihat pupil hitamnya kini berbentuk api yang bergerak-gerak. Di kedua mataku sendiri, darah semakin mengalir, menyisakan rasa sakit yang dalam. Dia bergerak mendekat dengan pedang yang sudah dipindahkan ke tangan kanannya, dengan api hitam yang masih menyelimutinya. Aku tidak menghindar, aku tidak bergerak. Aku diam, menyatukan kedua telapak tanganku di depan sambil terus menatapnya. Aku sendiri tak mengerti apa yang kulakukan sebelum akhirnya semua itu terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Api abadi!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spesies hitam itu begitu terkejut saat aku mengucapkannya, dan dia lebih terkejut lagi saat api hitam itu benar-benar muncul di belakangnya, seperti seekor singa yang hendak menerkam mangsanya. Dia membalikkan tubuhnya dan menebas api hitam berbentuk singa itu dengan pedangnya. Namun sia-sia saja. Singa hitam itu tetap menerkamnya sampai dia jatuh. Aku sempat mendengar dia berteriak keras sekali. Apakah aku berhasil? Tiba-tiba saja kurasakan kepalaku begitu sakit, berdengung-dengung seperti berada di dalam sebuah lonceng raksasa yang dipukul-pukul. Bukan hanya itu, kepalaku rasanya begitu berat dan aku jadi sulit bernapas. Kemudian darah begitu saja keluar dari mulutku. Aku pun menutup kedua mataku dan jatuh berlutut. Kuraba kedua mataku dengan tanganku. Darah masih mengalir di sana, rasanya hangat. Ketika aku membuka mata, kulihat di depanku ada kobaran api hitam yang menyala-nyala, tapi tak kutemukan si spesies hitam tadi. Apakah dia hangus terbakar? Kurasa tidak. Kurasa dia melarikan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Airish, kamu tak apa-apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua orang tiba-tiba berada di dekatku dan salah satu dari mereka langsung menangkap tubuhku yang akan jatuh. Aku mengenali keduanya: Lena dan Sandra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu tak apa-apa?” tanya Lena lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menggerakkan kepalaku, mencari-cari di mana Alea. Setelah menemukannya, aku mengangkat telunjukku ke tempat dia berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alea..” kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lena langsung mengerti apa yang kumaksudkan. Dia menyuruh Sandra menopang tubuhku sementara dia bergerak menghampiri Alea. Aku sempat melihat Lena mengeluarkan energi berwarna biru di kedua tangannya dan menyentuhkannya ke perut Alea yang tadi kena tusuk. Dia rupanya cukup kesulitan memadamkan api hitam itu tapi akhirnya berhasil juga. Lena tampak tergesa-gesa dan khawatir. Aku lalu mencoba melihat ke sekelilingku. Sudah tak ada lagi pertarungan. Hanya ada asap, tanah yang hancur, genangan air, bongkahan es, tapi tak ada pertarungan. Sandra sepertinya membaca apa yang kupikirkan sehingga dia berkata, “Kita sudah menang. Kudeta ini berhasil digagalkan.” Aku merasa sangat lega. Kemudian aku bertanya, “Alea..?” Aku tak perlu menyelesaikan pertanyaanku karena Sandra sudah pasti mengetahuinya. Seperti biasa ekspresinya datar sedatar-datarnya. Dia berkata, “Lena sedang berusaha.” Setelah itu, aku menutup kedua mataku karena rasa sakitnya sudah tak tertahankan lagi. Sempat kudengar suara ayam berkokok.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Alea, 2030&lt;br /&gt;Selakopi, Cianjur&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;“Saat matahari terbit, pertempuran sudah kami menangkan,” kata Tante Sandra. “Kudeta gagal. Spesies-spesies hitam itu melarikan diri, begitu juga beberapa spesies jingga yang tersisa. Kami tidak mengejarnya. Andy, pemimpin akademi saat itu, menyuruh kami mementingkan kondisi teman-teman kami ketimbang mengejar mereka. Aku baru menyadari bahwa kondisi akademi benar-benar kacau. Auditorium sudah tak ada. Ruangan-ruangan banyak yang hangus. Tanah retak di sana-sini. Namun yang paling menyedihkan adalah melihat teman-teman yang terkapar dan mati. Aku ikut membantu memisahkan mereka yang sudah mati dengan mereka yang masih bisa diselamatkan. Rasanya pedih sekali melihat orang-orang dari spesiesku sendiri terkapar tak berdaya. Aku rasa saat itu aku menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Namun betapa sedihnya pun aku saat itu, ibumu jauh lebih sedih lagi. Dia sempat pingsan dan baru sadar saat langit sudah agak terang. Alea, teman terbaik ibumu, mati. Seharian itu kami sibuk merawat yang luka dan mengubur yang mati. Akademi juga perlu direnovasi besar-besaran. Untung saja lokasi akademi sangat jauh dari kota sehingga tidak terlalu banyak yang menyadari kekacauan yang ada. Malam harinya kami tidur seadanya, dengan kondisi kamar yang banyak kerusakan, sambil terus dibayangi kesedihan dan duka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Beberapa hari setelah itu, setelah kondisi akademi sedikit membaik dan mulai dilakukan renovasi dan perbaikan gedung, ibumu memutuskan untuk meninggalkan akademi. Dia mengatakan kepada kami bahwa berada di sana akan membuatnya semakin sedih. Maka hari itu kami berpisah dengannya. Aku dan Lena mengantarnya sampai memasuki kota, lalu kami pun benar-benar berpisah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante Sandra mengakhiri ceritanya dengan tersenyum. Rupanya itu alasan ibu meninggalkan akademi, karena terlalu berat baginya berada di tempat yang selalu mengingatkannya pada Alea, teman terbaiknya itu, yang namanya sama persis denganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setelah itu ibu pergi kemana?” tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante Sandra menggeleng lalu berkata, “Dia menyuruh aku dan Lena untuk tidak mengikutinya. Sejak saat itu, kami tak bertemu untuk bertahun-tahun lamanya. Kami baru bertemu waktu ayahmu sakit dan kau masih sangat kecil. Kau ingat kan hari itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangguk lalu bertanya lagi, “Jadi, baik Tante maupun Om sama sekali tidak tahu apa yang terjadi dengan ibu setelah itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berdua menggeleng. Om Remi lalu berkata, “Beberapa lama setelah itu kami memang mendapat kabar bahwa spesies hitam dan spesies jingga yang tersisa mencari ibumu. Kami pun berusaha mencarinya, namun tidak menemukannya. Kurasa spesies campuran itu pun tidak menemukannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya bagaimana nasib ibu setelah meninggalkan akademi benar-benar misteri. Namun, apapun yang dia alami saat itu, dia berhasil bertahan sampai akhirnya melahirkanku. Lalu, satu pertanyaan lagi mendengung di kepalaku. “Bagaimana ibu dan ayah bertemu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante Sandra dan Om Remi saling memandang. Tampaknya mereka sama-sama tidak tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami tidak tahu,” kata Tante Sandra.&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054150040858616865-2963393628678979669?l=ardy-kresna-crenata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/feeds/2963393628678979669/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/2010/07/spesies-hijau-chapter-11c.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054150040858616865/posts/default/2963393628678979669'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054150040858616865/posts/default/2963393628678979669'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/2010/07/spesies-hijau-chapter-11c.html' title='spesies hijau chapter 11c'/><author><name>Ardy Kresna Crenata</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_DBAkcWrPpOM/TDsdMhaYCUI/AAAAAAAAAAw/HFjbf4gJFYo/S220/ardy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054150040858616865.post-4516563682735860715</id><published>2010-07-14T10:31:00.001+07:00</published><updated>2010-07-14T10:31:34.771+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='novel'/><title type='text'>spesies hijau chapter 11b</title><content type='html'>&lt;b&gt;Alea, 2030&lt;br /&gt;Selakopi, Cianjur&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;“Sekitar jam sepuluh malam, ibumu datang ke kamarku,” kata Tante Sandra, menceritakan kejadian sebelum ibu pergi meninggalkan akademi. “Bukannya masuk ke kamar, dia malah menyeretku keluar. Saat itu dia bersama Alea..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alea?” aku terkejut karena namaku disebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante Sandra diam sejenak, seperti kebingungan dan kaget di saat yang bersamaan. Dia lalu tersenyum dan berkata, “Alea itu teman ibumu, orang yang paling dekat dengannya saat itu. Namanya sama persis dengan namamu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alea Leviana Narina?” tanyaku memastikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alea Leviana Narina,” jawab Tante Sandra tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sama persis,” kataku. Aku masih sedikit terkejut karena selama ini tidak pernah sama sekali mendengar tentang orang bernama Alea ini. Tante Sandra baru saja mengatakan bahwa dia adalah orang yang paling dekat dengan ibu saat itu. Aku kira orang itu adalah Tante Sandra sendiri, rupanya aku salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saat itu iris mereka berdua sudah berubah. Ibumu bahkan sudah mengaktifkan mode pelindung-nya..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mode pelindung?” satu hal lagi membuatku kaget. “Memangnya ibu bisa melakukannya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante Sandra tersenyum dan berkata, “Bisa. Di tahun ketiganya di akademi, akhirnya dia bisa melakukannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukankah itu bakat bawaan spesies biru?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya. Dan ibumu memiki darah spesies biru yang tampaknya cukup kuat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengerti sekarang. Spesies hijau dibentuk dari persilangan spesies biru dan spesies kuning. Rupanya gen spesies biru di tubuh ibu cukup kuat sehingga bakat bawaannya pun ada pada ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Melihat mereka sudah mengubah iris, aku pun mengubah irisku dan mulai mengorek-ngorek isi kepala mereka,” lanjut Tante Sandra. “Dan alangkah terkejutnya aku karena baik ibumu maupun Alea sama-sama memikirkan sebuah kudeta. Sambil berjalan tergesa-gesa menuju kamar Remi, aku tanyakan kepada mereka tentang kudeta itu. Alea menjelaskan dengan cepat—seperti biasanya kalau dia menjelaskan sesuatu—namun karena aku bisa membaca pikirannya, aku paham semua yang dikatakannya. Rupanya sebuah kudeta sedang direncanakan dan akan dilakukan tepat tengah malam, dua jam lagi dari saat itu. Setelah menjelaskan hal itu kepada Remi, kami berempat masuk ke lift.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di dalam lift itu kami mendiskusikan apa yang harus dilakukan untuk mengatasi kudeta yang sebentar lagi akan terjadi. Aku lalu mengusulkan untuk memberitahu Lena, salah satu petinggi akademi saat itu. Namun ibumu mengatakan bahwa itu terlalu berbahaya karena saat itu kamar para petinggi sedang diawasi beberapa spesies jingga yang kekuatannya luar biasa. Spesies jingga, rupanya mereka yang merencanakan kudeta itu, dengan dibantu sisa-sisa spesies hitam. Kami baru keluar saat lift tiba di bawah tanah, satu lantai di bawah lantai dasar. Ruangan itu seperti sebuah dimensi yang asing. Seluruhnya berwarna putih tanpa perabotan apapun dan tidak terlihat sekat-sekat, sudut atau apapun. Benar-benar kosong dan putih. Di sanalah kami berempat duduk, memikirkan solusi untuk rencana kudeta itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setelah lebih dari tiga puluh menit berdiskusi, kami sampai pada satu keputusan, yaitu memberitahukan hal ini kepada sebanyak mungkin orang di akademi. Memberitahu para petinggi akan sangat sulit sehingga kami hanya akan memberitahu orang-orang lainnya yang mungkin tidak mendapat penjagaan ketat dari spesies jingga. Kami berpencar ke empat tempat: blok A dan B di lantai 4, blok A dan B di lantai 5. Mengingat spesies-spesies yang ada dicampur, kami harus hati-hati agar tidak memasuki kamar yang ada spesies jingganya. Selain itu, kamar di akademi ada banyak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jam setengah dua belas, seperti yang dijanjikan kami bertemu di atap auditorium. Aku bisa merasakan suasana akademi tidak seperti biasanya. Heningnya mencurigakan. Diamnya membahayakan. Kami sudah berusaha memberitahukan kudeta itu kepada sebanyak mungkin orang, namun belum ada yang memberitahu satu pengajar pun, padahal kami akan membutuhkan mereka saat kudeta terjadi. Waktu tinggal sedikit. Kami lalu memecah kelompok menjadi dua. Aku dan Remi ke lantai 4 sementara Alea dan ibumu ke lantai 5. Waktunya kurang dari setengah jam, dan itu tidak cukup. Aku menyisir sisi kiri sementara Remi sisi kanan blok pengajar. Sampai akhirnya tengah malam tiba, aku hanya bisa memberi tahu tiga pengajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tepat tengah malam itu, sebuah suara tiba-tiba membuat telingaku sakit dan kehilangan daya dengarnya beberapa detik. Tempat di sekitarku tiba-tiba bersinar menyilaukan. Selanjutnya seperti ada gempa bumi, lantai yang kupijak bergetar. Rupanya itulah tanda kudeta dimulai.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menantikan Tante Sandra melanjutkan ceritanya tapi dia hanya diam memandangi Inna. Tatapan matanya tampak aneh. Sebelum aku sempat menyuruhnya melanjutkan, Om Remi menyela, “Kita skip saja kejadian setelah itu. Yang jelas besok harinya, sekitar jam enam pagi, kondisi akademi rusak parah. Beberapa bangunannya roboh, retak. Dan tentu saja, banyak yang tewas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kudetanya sendiri?” tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gagal,” jawab Om Remi. “Kudeta spesies jingga gagal.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Upaya kalian berempat jadinya berhasil,” kataku tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Om Remi tidak tersenyum. Raut mukanya berubah sedih. Dia berkata, “Tidak sepenuhnya berhasil. Kami kehilangan Alea.”&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Airish, 2013&lt;br /&gt;Akademi, Bogor&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Setelah aku mengatakan bahwa aku akan membantu kudeta yang mereka rencanakan, ketiga orang spesies hitam itu memberi rincian tentang apa yang akan mereka lakukan nanti tengah malam. Beberapa spesies jingga yang sangat kuat sudah ditempatkan untuk mengawasi para petinggi akademi. Mereka akan menghambat para petinggi itu saat sinyal tanda kudeta dimulai diberikan. Sinyalnya itu sendiri ada tiga tahap. Tahap pertama adalah sebuah suara melengking yang disebar lewat angin ke seluruh akademi. Suara itu akan membuat sakit yang mendengarnya. Lalu tak lama setelah itu, akan ada sebuah cahaya menyilaukan yang melingkupi seluruh akademi. Tahap ketiga adalah gempa bumi kecil, yaitu digetarkannya tanah yang mungkin akan membuat roboh beberapa bangunan. Misi kudeta ini sendiri bisa dibilang misi pembantaian. Mereka berniat menghabisi semua yang ada di akademi, tanpa tersisa. Nantinya, mereka akan memburu sisa-sisa spesies yang ada di luar, yang sedang dalam suatu misi. Ini persis seperti yang terjadi beberapa tahun silam, hanya kondisinya dibalik. Yang membuatku bertanya-tanya adalah, bagaimana mereka bisa sangat percaya diri bisa mengalahkan spesies-spesies lain yang jika digabungkan, jumlahnya jauh lebih banyak daripada mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menjelaskan semua itu, mereka membawaku ke permukaan. Rupanya dari tadi aku berada di gerbang utama, hanya saja jauh di dalam tanah. Kedua penjaga yang tadi membeku sudah tak terlihat. Seseorang muncul dari pintu utama, berjalan menghampiri kami. Dia Jena.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia akan menemanimu saat kudeta berlangsung,” kata wanita dengan suara lembut itu. Mereka bertiga lalu menghilang dengan cepat. Aku kira aku melihat mereka berpencar ke sisi kiri, sisi kanan, dan atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ikut aku!” kata Jena. Dia berbalik menuju pintu utama dan aku pun mengikutinya. Kulihat jam tangan. Sudah jam sembilan lewat. Kurang dari tiga jam, kudeta akan terjadi. Dalam hati, aku sudah membuat keputusan. Aku harus bergerak cepat, namun tetap harus sangat hati-hati karena aku tak mau mengundang perhatian spesies-spesies jingga lain atau ketiga spesies hitam itu. Satu-satunya yang bisa kugunakan adalah elemen air. Saat berada di lobi, aku mengeluarkan sebotol air mineral dari tas, dengan cepat kubuka tutupnya lalu mengerakkan air itu ke depan, ke arah Jena. Sayang sekali Jena menyadari apa yang hendak kulakukan. Dia mengibaskan tangan kirinya sambil berbalik sehingga air yang tadinya hendak kugunakan untuk membuatnya beku sudah lebih dulu terlempar oleh api yang keluar dari tangan kanannya itu. Kami kini berhadapan, saling menatap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah kuduga,” katanya. “Kau terlalu mengkhawatirkan teman-temanmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kudeta ini hanya akan membuat keadaan lebih buruk,” kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu menurutmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak. Itu fakta yang harus kita hadapi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kumpulkan air yang jatuh ke lantai dan menyelimutkannya di kedua tangan dan kedua kaki, juga di sekitar mata sehingga seperti kaca mata yang melekat kuat. Jena seorang spesies jingga. Dia tampaknya bisa menggunakan api dengan baik, maka kemungkinan dia juga bisa menggunakan cahaya dengan baik. Aku harus melindungi mataku. Dia mengeluarkan api di sela-sela jarinya lalu menyelimutkan api itu ke kedua tangannya hingga sikut. Kami masih sama-sama menunggu gerakan lawan. Beberapa detik itu kugunakan untuk mengatur napas dan menenangkan diri, berkonsentrasi. Waktuku tak banyak. Aku harus menyelesaikan ini dengan cepat. Mau tak mau harus kugunakan jurus rahasia yang baru kupelajari tiga bulan terakhir ini. Kusatukan kedua telapak tanganku di depan dan menutup mataku yang kiri. Kening Jena berkerut, dia memperbesar api itu dan membentuknya jadi sebuah cambuk yang panjang di tangan kanannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cambuk api!” katanya. Dia menggerakkan cambuk itu ke depan dan aku terpaksa meloncat mundur. Posisi tanganku masih seperti tadi dan mata kiriku masih tertutup. Sedikit lagi, tinggal sebentar lagi aku sudah bisa menggunakannya. Alih-alih menggerakkan cambuk api itu, dia malah berlari menghampiriku. Dia menginginkan pertarungan jarak dekat. Sudah selesai. Kubuka mata kiriku dan kini pupilnya yang tadi bulat sudah berubah jadi kotak, bentuk yang sangat aneh untuk sebuah pupil. Seperti yang kukatakan ini jurus rahasia, yaitu jurus yang dikembangkan seseorang dan sifatnya original. Aku menunduk, kusentuhkan tangan kiriku ke lantai dan berkata, “Tangan bumi.” Jena baru saja akan menggerakkan cambuk apinya ketika sebuah tangan mencengkeram kakinya sehingga dia terjatuh. Cambuk api itu hampir saja menyentuh rambutku. Sebuah tangan lagi muncul dari lantai dan menggenggam kakinya yag lain. Beberapa tangan lagi muncul dengan cepat dan meraih kedua tangannya. Tangan bumi adalah salah satu jurus yang kukembangkan yang bahkan tak akan hancur oleh ledakan api maupun sambaran petir. Jena kini tak bisa bergerak. Dengan cepat kusentuhkan kedua tanganku ke lantai lalu berkata, “Lipatan bumi.” Sebenarnya jurus aslinya adalah lipatan tanah, jurus yang biasa dipakai spesies hijau, namun karena yang kulipat bukan benar-benar tanah, melainkan sejenis batu, maka aku menamakannya lipatan bumi. Jurus ini baru bisa digunakan kalau pupil kiriku sudah berbentuk kotak. Segera saja lantai di depanku itu terbalik dan kini Jena tak terlihat. Dia masih terikat tangan bumi dan kini berada di dalam tanah. Kulihat jam tangan. Sudah hampir jam sepuluh. Aku bergegas ke kamarku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alea sedang tidur ketika aku masuk ke kamar. Kusiram wajahnya dengan air dari kamar mandi sehingga dia terbangun dan berteriak. Aku menyuruhnya diam lalu dengan cepat menjelaskan rencana kudeta spesies jingga dan spesies hitam yang sebentar lagi akan terjadi. Aku hanya menceritakan garis besarnya karena waktu sangat sempit. Untungnya Alea tidak banyak bertanya seperti biasanya. Mungkin dia melihat keseriusan dan kekhawatiran di mataku. Kami pun bergerak keluar kamar, menuju kamar Sandra. Kuubah irisku dan kuaktifkan mode pelindung, begitu juga Alea. Dalam hati aku berdoa agar spesies-spesies itu tidak menyadari bahwa aku sebenarnya akan melawan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Sandra membuka pintu kamarnya dan muncul, aku langsung menariknya keluar dan menutup pintu. Dia tampak kaget. Lalu setelah melihat iris kami berdua sudah berubah, dia pun mengubah irisnya. Aku lalu memikirkan tentang kudeta itu dan ia pun mendengarnya. Kami bergegas ke kamar Remi. Di sepanjang lorong Alea menjelaskan dengan cepat kepada Sandra apa yang tadi kujelaskan padanya di kamar. Setelah Remi bersama kami, aku segera menuju lift. Saat ini, tak ada tempat yang benar-benar aman untuk berkumpul mendiskusikan situasi yang gawat ini. Tak ada tempat lain selain satu lantai di bawah lantai dasar. Alea menyuruh semua orang mengembalikan kembali irisnya karena dia tahu di ruangan yang akan kami masuki itu, mode pelindung maupun bakat bawaan lainnya tidak akan bekerja, justru malah memberitahu keberadaan kami kepada musuh jika tetap mengubah iris. Satu lantai di bawah lantai dasar, lift berhenti, kami masuk ke sebuah ruangan yang hanya putih, tanpa apapun, tanpa ruang. Benar-benar kosong dan seolah-olah tanpa batas. Kami lalu duduk dan mulai mendiskusikan apa yang akan kami lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini gawat,” kata Alea. “Serius ini gawat. Waktu kita tinggal dua jam. Apa tak ada yang tahu soal kudeta ini selain kita?” dia menoleh padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menggeleng. “Rasanya hanya kita yang tahu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu selama beberapa menit kami hanya diam. Alea menutup kedua matanya dan meletakkan jari-jari tangannya di pelipisnya. Dia sedang memikirkan strategi dan biasanya itu butuh waktu beberapa menit. Sandra seperti biasa dengan ekspresinya yang datar, Remi selalu berusaha menjauhkan matanya dari mataku, dia masih kesal padaku. Aku pun mencoba memikirkan solusi untuk mengatasi rencana kudeta ini. Aku berpikir, berpikir, dan berpikir. Beberapa menit itu kami hanya diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah lebih dari sepuluh menit berpikir, Alea mengemukakan idenya, “Kita tak tahu berapa jumlah musuh dan bagaimana kekuatan mereka, yang jelas kita berempat saja tak akan bisa mengatasinya. Yang harus kita lakukan sekarang adalah menyebarkan berita kudeta ini kepada para petinggi akademi, tentu saja selain petinggi dari spesies jingga. Kecuali kalau ada spesies lain yang bersekutu dengan mereka.” Alea menatapku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berkata, “Sejauh yang kutahu di akademi ini hanya spesies jingga yang terlibat. Lagipula hanya mereka yang merupakan spesies campuran, selain spesiesku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oke, kalau begitu kita berpencar berdua-berdua..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tunggu dulu!” sergahku. “Para petinggi akademi diawasi ketat. Akan sangat sulit untuk memberitahu mereka tanpa memberi sinyal kepada musuh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa yang menjaga mereka?” tanya Alea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katanya orang-orang dari spesies jingga yang sangat kuat. Tidak akan mudah melakukannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alea berpikir sebentar kemudian berkata, “Baiklah. Kalau begitu, kita prioritaskan dulu orang-orang selain pengajar, petinggi, dan dokter. Dengan kata lain, kita akan memberitahu siswa-siswa akademi. Waktu kita masih ada sekitar satu setengah jam. Kita berpencar. Airish ke blok A lantai 4, aku ke blok A lantai 5, Sandra ke blok B lantai 4, Remi ke blok B lantai 5. Paham?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebentar!” sergahku lagi. “Jangan sampai kita memasuki kamar yang ada spesies jingganya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu benar,” kata Sandra. “Akan sia-sia saja kalau sampai ada yang tahu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alea sekali lagi tampak berpikir keras. Mungkin karena situasi yang sangat gawat dan waktu yang sangat sempit, kecemerlangan otaknya tidak seperti biasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak ada cara lain selain melumpuhkan mereka,” kata Remi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi..” sergahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sepertinya memang harus begitu,” kata Alea. “Kalau kebetulan memasuki kamar yang ada spesies jingganya, tak ada pilihan lain selain membungkamnya. Tapi.. usahakan untuk tidak bertemu satu spesies jingga pun.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu sulit,” kata Sandra masih dengan ekspresi datarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Usahakan!” kata Alea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami bertiga mengangguk. Alea melihat jam tangannya. “Waktu kita sudah berkurang tujuh menit,” katanya. “Kita berpencar sekarang. Ingat, target kita hanya para siswa. Jangan ada dulu yang memberitahu pengajar, dokter, apalagi petinggi akademi. Kemungkinan besar mereka diawasi. Sedangkan para siswa, kemungkinan besar tidak diawasi. Masuki sebanyak mungkin kamar lalu kita bertemu di atap auditorium satu jam lagi. Paham?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Paham,” kata kami serempak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oke. Bergerak!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami masuk lift bersama-sama. Aku dan Sandra keluar di lantai 4. Aku menuju blok A di gedung bagian depan sementara Sandra menuju blok B di gedung bagian belakang. Dengan hati-hati, aku mengendap-ngendap di lorong. Alea sudah mengatakan agar sebisa mungkin menghindari kontak dengan spesies jingga. Mau tak mau kuaktifkan mode pendeteksiku. Kukembangkan jangkauan penglihatanku hingga meliputi satu blok ini. Aku mulai mengecek kamar terdekat. Spesies biru dan spesies kuning. Aman. Masalah selanjutnya adalah bagaimana caranya masuk. Mengetuk-ngetuk pintu terlalu berbahaya, itu bisa membuat mereka menyadari gerakanku. Sial. Mengapa hal sesederhana ini tidak kami diskusikan tadi? Kurasa kami memang terlalu tegang dan diburu waktu. Tak ada pilihan lain, aku harus mengubah pupilku yang kiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Butuh sekitar satu menit sampai pupil mataku yang kiri berubah menjadi kotak. Dengan ini aku bisa mengendalikan lantai dan dinding. Kusentuh dinding kamar itu dengan kedua tanganku lalu menggesernya perlahan ke kiri, seolah-olah dinding itu adalah pintu yang terbuat dari batu. Aku masuk dan menutup kembali dinding itu. Kuangkat sedikit air dari kamar mandi lalu membaginya menjadi dua, kemudian menyiramkannya kepada dua orang yang sedang tidur itu. Mereka terkejut dan bangun. Setelah melihatku ada di depannya, mereka lebih terkejut lagi. Dengan cepat dan suara yang pelan kujelaskan kepada mereka tentang rencana kudeta yang akan berlangsung tengah malam ini. Mereka tak percaya dan meminta bukti. Aku berkata, “Tengah malam nanti kalian akan mendengar sebuah suara yang melengking dan membuat telinga kalian sakit. Itu tandanya kudeta dimulai.” Terserah mereka mau percaya atau tidak, yang jelas aku sudah memberitahunya. Aku pun keluar dari kamar ini dengan cara yang sama seperti ketika aku masuk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya aku mengecek isi kamar yang lain dan masuk dengan cara yang sama. Kulakukan itu terus dan terus sampai akhirnya semua kamar di lorong ini, di blok A lantai 4 ini, kumasuki. Ada satu hal yang aneh: tidak ada satu pun spesies jingga di lorong ini. Bahkan di beberapa kamar ada yang hanya satu orang. Mungkinkah mereka sedang bersembunyi di suatu tempat? Kulihat jam tangan. Sudah hampir setengah dua belas. Aku bergegas menuju tempat pertemuan: atap auditorium.&lt;br /&gt;Lima menit kemudian kami bertemu di atap auditorium. Tampaknya kami berhasil memasuki semua kamar siswa. Satu hal yang masih membuatku bertanya-tanya: bagaimana cara mereka memasuki kamar-kamar itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku membuat kunci es yang sangat padat dan keras,” kata Alea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku membakar pintu sampai bisa didorong dengan pelan,” kata Remi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku membekukan pintu kemudian memecahkannya,” kata Sandra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang melakukannya dengan cara yang berbeda. Tak masalah. Kami berhasil memasuki semua kamar dan memberitahu siswa-siswa yang ada di sana. Namun satu hal tetap menarik perhatianku, tidak ada satu pun spesies jingga di lorong yang kuperiksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di blok B juga sama,” kata Sandra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di lantai 5 juga,” kata Remi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alea mengangguk-ngangguk dan berkata, “Rupanya begitu. Mereka pasti berkumpul di suatu tempat dan akan muncul secara serempak tengah malam nanti, setengah jam lagi.” Alea mengamati jam tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di mana kemungkinan mereka berada?” tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Spesies jingga hanya bisa mengendalikan api, cahaya, dan panas,” kata Remi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tanah,” kataku seperti menemukan jawaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iris mereka tidak terhubung dengan tanah,” kata Alea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menggeleng, membuat mereka berdua bingung, Sandra tidak, karena dia membaca pikiranku. Aku berkata, “Spesies hitam. Mereka bisa mengendalikan tanah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alea mengangguk-ngangguk dan berkata, “Begitukah? Jadi mereka akan muncul dari dalam tanah. Seperti mayat hidup saja.” Aku setuju dengan itu, mereka akan seperti mayat hidup yang muncul dari kuburnya. Membayangkannya membuatku merinding. “Waktu kita kurang dari setengah jam. Kita akan berpencar lagi untuk memberitahu beberapa pengajar dan dokter. Keberadaan mereka penting. Remi dan Sandra ke lantai 4, aku dan Airish akan ke lantai 5. Hati-hati, kemungkinan besar blok P diawasi.”&lt;br /&gt;Kami bertiga mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bergerak!” kata Alea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alih-alih turun lewat tangga, aku menaikkan sebagian permukaan tanah hingga kami bisa loncat dengan aman, lalu menurunkannya ke kondisi semula. Kami lalu berpencar, berlari cpeat-cepat. Setelah mengetahui spesies jingga bersembunyi di bawah tanah, kecuali mereka yang ditugaskan menjaga para petinggi dan kemungkinan pengajar dan dokter juga, kami tak perlu lagi mengendap-ngendap. Berlari jauh lebih efektif. Setibanya di blok P di lantai 5, aku dan Alea berpencar. Aku bergerak ke kanan sementara Alea ke kiri. Kali ini kami harus kembali mengendap-ngendap sambil mengaktifkan mode pelindung. Ada kemungkinan blok ini diawasi. Aku harus hati-hati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai sejauh ini tak ada tanda-tanda ada yang mengawasi. Aku sudah tiba di kamar pertama. Yakin tak akan ada spesies jingga, aku langsung saja memasuki kamar seperti tadi. Kutemukan kamar ini kosong, berarti milik pengajar dari spesies jingga. Alih-alih keluar, aku memasuki kamar selanjutnya dari dinding dalam. Kamar selanjutnya adalah milik seorang pengajar dari spesies kuning. Berbeda dengan para siswa, pengajar ini langsung menyadari keberadaanku saat aku memasuki kamarnya. Dia bangkit dan menanyakan apa yang kulakukan. Kedua irisnya sudah berwarna kuning sekuning-kuningnya. Dengan susah payah aku menjelaskan padanya tentang kudeta yang akan terjadi dalam waktu kurang dari dua puluh menit, dan lebih susah payah lagi aku membuatnya percaya. Selesai dengannya, aku memasuki kamar selanjutnya. Di kamar itu, ada pengajar dari spesies biru. Dia lebih bersahabat dan aku bisa meyakinkannya dengan cukup mudah. Di kamar selanjutnya ada spesies merah, seorang laki-laki bertubuh besar dan berwajah garang. Kali ini aku menghadapi kesulitan lagi dan sempat akan diserang. Meyakinkannya lebih sulit lagi. Ketika aku hendak menjelaskan lagi, aku mendengar sebuah suara melengking yang menyakitkan telinga. Pengajar dari spesies merah itu pun merasakannya. Kami sama-sama menutup telinga kami dengan tangan untuk sekitar satu menit. Setelah suara itu hilang, aku merasa tuli, bahkan tak bisa mendengar suaraku sendiri. Sial. Aku lupa memberitahu Alea, Sandra, dan Remi tentang sinyal ini. Sejurus kemudian ada sebuah cahaya yang sangat menyilaukan, membuatku tak bisa melihat apa-apa, meskipun dalam mode pendeteksi. Sejenak kemudian kamar ini bergetar keras, seolah-olah terjadi gempa bumi. Foto-foto dan lukisan di dinding jatuh. Meja dan kursi-kursi bergeser tanpa sedikit pun suara yang kudengar. Si pengajar di depanku mengeluarkan api yang sangat banyak dari tangannya untuk membakar pintu hingga gosong. Dia kemudian menendangnya lalu mengajakku keluar. Aku masih tak bisa mendengar suaranya. Di luar, kulihat pengajar-pengajar yang lain keluar dari kamarnya dan saling bertanya apa yang terjadi. Alea, di mana dia? Saat akhirnya aku memperoleh kembali pendengaranku, suara yang pertama kali kudengar adalah suara menggelegar. Sebuah petir yang besar muncul dari langit dan menyambar atap auditorium hingga menyisakan sebuah bolong yang besar. Panas dari petir itu sendiri membuatku mengernyit. Sesaat kemudian bumi kembali bergetar. Tiba-tiba saja auditorium kubus itu seperti menjauh, seperti memendek. Rupanya auditorium sedang ditenggelamkan ke tanah. Ini pasti ulah si spesies hitam itu. Dalam beberapa detik saja auditorium kubus itu sudah sepenuhnya tenggelam, menyisakan sebuah area yang luas dan kosong. Kami di lantai 5 ini tercengang melihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejurus kemudian, sesuatu yang lain terjadi. Tanah kembali bergetar tapi tidak ada lagi bangunan yang ditelan. Justru sebaliknya, ada yang muncul di area kosong yang luas itu. Mereka yang dari tadi sembunyi di bawah tanah, kini muncul di sana. Kini para pengajar tampak lebih kaget lagi. Kebanyakan dari mereka belum sempat kuberitahu tentang kudeta ini. Dari lorong terdengar para siswa berlari. Mereka pun mengamati orang-orang di bawah itu. Orang-orang itu lalu menyebar ke segala arah dan mulai membakar ruangan-ruangan di lantai satu, mereka hendak membuat bangunan ini roboh. Di area luas yang kosong itu, tempat auditorium ditelan, berdiri tiga orang wanita dengan pakaian serba hitam. Mereka spesies hitam yang kutemui tadi. Para pengajar dan para siswa mulai bergerak menuju tangga darurat, sebagian dari mereka menggunakan kemampuannya untuk loncat dari lantai 5 ini, sebuah tindakan yang berani. Aku sendiri berlari menuju lorong di gedung depan. Tak lama lagi gedung ini akan roboh dan hancur. Ada sesuatu yang harus kuselamatkan, buku yang ditulis ibuku. Aku menyimpannya di kamar.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054150040858616865-4516563682735860715?l=ardy-kresna-crenata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/feeds/4516563682735860715/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/2010/07/spesies-hijau-chapter-11b.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054150040858616865/posts/default/4516563682735860715'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054150040858616865/posts/default/4516563682735860715'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/2010/07/spesies-hijau-chapter-11b.html' title='spesies hijau chapter 11b'/><author><name>Ardy Kresna Crenata</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_DBAkcWrPpOM/TDsdMhaYCUI/AAAAAAAAAAw/HFjbf4gJFYo/S220/ardy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054150040858616865.post-1380433626395343834</id><published>2010-07-14T10:29:00.001+07:00</published><updated>2010-07-14T10:29:57.728+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='novel'/><title type='text'>spesies hijau chapter 11a</title><content type='html'>&lt;big&gt;&lt;b&gt;Chapter 11&lt;br /&gt;KUDETA&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/big&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Airish, 2013&lt;br /&gt;Akademi, Bogor&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BESOK adalah hari kudeta yang direncanakan spesies jingga dengan bantuan spesies hitam. Tampaknya tak ada seorang pun dari spesies lain yang tahu rencana itu selain aku. Dan aku, masih belum menentukan sikap apakah akan membantu mereka atau justru melawan mereka. Mereka tidak memaksaku, mereka hanya memberikan pilihan. Penghubung mereka denganku adalah Jena, wanita ikat kuda yang pakaiannya selalu terbuka itu. Aku sedang bersandar di atap auditorium, di salah satu sisinya. Di tanganku, sebuah buku tebal yang ditulis ibu kandungku kubiarkan terbuka tanpa sedikit pun kubaca. Lagipula aku sudah membacanya sampai habis. Aku juga sudah memaksa Alea, Sandra, dan Remi untuk membaca beberapa halaman dan mereka cenderung mengatakan bahwa buku ini adalah benar sejarah, bukan sekedar fiksi. Kalau melihat spesies jingga sampai merencanakan kudeta seperti ini, rasanya sulit untuk mengatakan bahwa buku ini fiksi. Pada kadar tertentu, buku ini pasti benar-benar menceritakan kejadian saat itu. Namun, aku masih bersikeras untuk tidak seratus persen percaya bahwa kejadian-kejadian di buku ini benar-benar terjadi. Aku tak sanggup membayangkan orang-orang dari spesies hitam dan spesies hijau diburu dan dibunuh. Semakin aku membayangkannya, semakin jelas kejadian itu tergambar di pikiranku. Ibu kandungku memiliki kemampuan untuk melihat kejadian-kejadian di masa lalu, apakah aku juga memiliki kemampuan itu, hanya saja tidak menyadarinya? Entahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Airish, kami mencarimu,” sebuah suara mengagetkanku. Itu Alea. Dia muncul bersama Sandra. Seperti biasa Sandra hanya diam dengan ekspresi wajahnya yang datar. “Apa yang kau lakukan di sini? Latihan? Kurasa kau sudah tak perlu lagi sesering dulu berlatih. Atau memandangi langit? Tapi kepalamu dari tadi menunduk.” Alea pun seperti biasa banyak bicara. Baru saja dia mengatakan semua itu hampir tanpa ada jeda di setiap kalimatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sedang merenung,” kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Merenung?” Alea kini sudah duduk bersandar di sebelah kiriku sementara Sandra duduk di sebelah kananku. “Kau masih bingung dengan kebenaran buku ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangguk lalu berkata, “Sebenarnya meskipun di halaman terakhir ada tulisan tangan yang mencantumkan namaku, aku tidak bisa memastikan itu tulisan tangan ibuku. Tak ada yang bisa memastikannya. Jadi, kemungkinan buku ini hanya rekayasa tetap ada.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alea sesaat memandangi langit yang hari ini cerah berawan. Sejurus kemudian dia berkata, “Ada yang bisa memastikannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa?” aku menoleh padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum Alea sempat menjawab, Sandra berkata, “Ya. Mungkin dia bisa memastikannya.” Seperti biasa dia sudah mengubah irisnya entah sejak kapan dan menguping apa yang kupikirkan. “Kalau tidak salah di buku ini beberapa kali namanya dicantumkan. Dan kelihatannya dia dekat dengan ibumu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia itu siapa?” aku penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lena,” jawab Alea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa menit kemudian aku sudah berada di ruangan Lena, Alea dan Sandra kutinggalkan begitu saja di atap auditorium. Kutunjukkan buku tebal itu padanya dan kuutarakan maksud dan tujuanku. Beberapa lamanya Lena mengamati buku itu, membuka halaman-halamannya, membaca beberapa bagian, lalu kembali ke halaman terakhir di mana tulisan tangan itu ada. Dia berkata, “Ini memang tulisan Nayna. Aku yakin. Dari mana kamu dapatkan buku ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alih-alih menjawab pertanyaannya, aku malah mengajukan pertanyaan lain, “Jadi, kejadian-kejadian di buku ini benar-benar terjadi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah diam beberapa saat, Lena mengangguk. Dia berkata, “Dulu kami sempat mencari-cari buku ini tapi tak menemukannya. Dari mana kamu dapatkan buku ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan yang sama. Dan lagi-lagi aku tidak menjawabnya melainkan mengajukan pertanyaan lagi, “Jadi, perburuan dan pembantaian itu .. benar?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diam Lena kali ini lebih lama dari sebelumnya. Dia kemudian berkata, “Saat sekilas tadi aku membacanya, aku langsung teringat kejadian saat itu. Selama bertahun-tahun ini aku berusaha melupakannya, dan kukira aku berhasil mengubur masa lalu itu dalam-dalam. Lalu tiba-tiba buku ini seperti menggali kembali masa lalu yang kelam itu, menggalinya ke permukaan beserta luka dan segala racun yang dibawanya. Aku..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau membunuh spesies kami?” sekuat tenaga aku berusaha menahan agar emosiku tidak meluap, tapi sangat sulit mengingat tekanan yang kuterima sangat berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lena menggeleng. Dia hendak mengatakan sesuatu ketika aku mengambil buku itu dengan kasar dan berjalan marah ke menuju pintu. Aku mendengar Lena memanggilku beberapa kali namun aku sama sekali tak menoleh maupun menyahut. Aku tinggalkan ruangan itu dengan perasaan yang kacau balau, berantakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emosi yang kurasakan sudah terlalu kuat sehingga aku tidak bisa berpikir jernih. Kebetulan Alea sedang tak ada di kamar. Kuambil beberapa pakaian—luar maupun dalam—dan memasukkannya ke tas. Kuambil juga charger handphone, sebuah sandal, dan tak lupa buku tebal yang ditulis ibu. Terakhir kuambil jaket hitam yang menggantung di dekat pintu lalu memakainya sambil jalan. Di sepanjang lorong aku terus memikirkan hal itu. Buku ini memang sejarah tentang apa yang terjadi pada spesies hijau—dan spesies hitam—di masa lalu, di generasi sebelumnya. Perburuan itu, pembunuhan itu, pembantaian itu, pemusnahan itu, semuanya benar. Semakin memikirkannya aku semakin geram. Emosi yang tinggi membuat gigi-gigiku terkatup. Aku benci mereka. Aku benci orang-orang yang membantai spesiesku. Aku sungguh benci orang-orang yang membuatku merasa sangat kesepian, satu-satunya spesies hijau yang ada di akademi ini. Besok, dendam akan membuat mereka merasakan penderitaan yang dulu menimpa spesies hijau. Besok, kudeta itu akan terjadi. Aku sudah memutuskan. Aku tak akan berada di pihak mana pun, tapi aku tak mau melihat pertumpahan darah itu. Aku akan meninggalkan akademi diam-diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebentar lagi jam tiga sore. Saat berada dalam lift untuk turun ke lantai satu, aku mengubah iris dan melindungi diriku agar tidak terdeteksi. Meskipun begitu, tidak mudah menuju pintu utama begitu saja. Dua orang wanita selalu berada di meja resepsionis, belum lagi dua orang yang berjaga-jaga di luar. Tak ada pilihan lain selain melumpuhkan mereka. Aku sudah menyiapkan sebotol air mineral di tanganku—saat ini aku sudah bisa mengendalikan elemen air. Kubuka tutupnya. Saat pintu lift terbuka, aku bergerak cepat menuju meja resepsionis dan sebelum mereka menyadari gerakanku yang mencurigakan, aku sudah menggerakkan air untuk menutup mulut mereka berdua lalu dengan satu gerakan tangan kuhempaskan mereka ke tembok sampai pingsan. Tinggal dua orang penjaga di depan. Mode pelindung masih kuaktifkan. Kuambil sebuah gelang perak di laci meja resepsionis dan memakaikannya di lengan kiriku. Sebelum memasangkannya, aku selimuti pergelangan tanganku dengan lapisan air yang tipis sehingga pada saatnya nanti gelang ini bisa kulepaskan. Aku pun melewati pintu utama, menghampiri salah satu penjaga dengan mengatakan bahwa aku ditugaskan dalam satu misi dan karena misi itu spesial, aku hanya pergi sendiri. Butuh waktu beberapa lama sampai akhirnya dia mengizinkanku menggunakan salah satu mobil di area parkir. Mobil yang kugunakan adalah sedan warna merah, mobil favorit Alea. Aku pun melaju dengan cepat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah memasuki kota yang sibuk, aku berhenti untuk melepaskan gelang perak itu. Berhasil seperti yang kuperkirakan. Aku keluar mobil lalu membuang gelang itu di tong sampah yang ada di dekat situ. Aku lalu mengendarai sedan merah itu dengan kecepatan sedang. Aku tahu, hanya tinggal waktu sampai ada yang menyadari bahwa aku telah kabur. Mereka akan segera mencariku lewat sinyal yang dipancarkan gelang itu. Namun karena gelang itu tidak kupakai, mereka tak akan menemukanku dengan mudah. Yang harus kulakukan sekarang adalah pergi ke suatu tempat untuk berpikir, merenungkan semuanya. Meskipun aku masih dikuasai emosi, sesuatu dalam diriku seperti berkata bahwa ini bukan jalan keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berhenti di dekat pagar rumah. Sudah tiga bulan aku tidak datang ke tempat ini. Tiba-tiba ingatanku seperti melesat ke dua tahun lalu, sehari setelah aku menjenguk ibu di rumah sakit, sebelum kami berempat—saat itu ada Alea, Sandra, dan Remi—kembali ke akademi. Pagi itu Valen muncul dan langsung membawaku ke sebuah taman di dekat sini, Taman Kencana. Setelah urusan kami berdua selesai, Valen mengantarku ke rumah sakit. Saat itu Alea, Remi, dan Sandra sudah menunggu di luar rumah sakit, Alea sudah mengeluarkan sedan merahnya. Valen menanyakan siapa mereka dan aku terpaksa mengenalkan Valen kepada mereka satu per satu. Aku masih ingat Remi yang enggan menjabat tangan Valen dan Sandra yang meskipun menjabat tangannya, matanya menatap ke tanah. Ketika aku berniat melihat ibu untuk terakhir kalinya hari itu, Alea menarik tanganku dan menahanku. Setelah Valen pergi, Alea mengatakan padaku bahwa akan lebih baik kalau aku tidak menemui ibu saat itu. Rupanya selama menemani ibu, dan aku tidak ada di sana, Alea mengatakan banyak hal kepada ibu. Entah apa saja yang dikatakannya. Yang jelas sejak hari itu baik ibu, ayah, maupun Rayna, tidak ada yang begitu khawatir seperti sebelumnya. Mereka seakan-akan membiarkan aku berada di akademi, seandainya mereka tahu tentang akademi itu. Entahlah apa yang dikatakan Alea kepada ibu, aku sungguh penasaran, bahkan Sandra pun saat itu mengubah irisnya untuk menguping isi kepala Alea. Aku memperhatikan kalau-kalau ada perubahan ekspresi di wajah Sandra, tapi sia-sia. Dan pada akhirnya, Sandra pun tidak mengatakan apa-apa padaku. Begitulah saat itu kami kembali ke akademi. Dan sampai tahun ketigaku di akademi, baik ibu, ayah, maupun Rayna, tidak pernah sekali pun memaksaku pulang. Itu semakin membuatku penasaran. Kalau saja saat itu aku memiliki bakat bawaan Sandra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadinya aku sempat mau keluar dari mobil tapi kuurungkan niatku. Aku lalu menyalakan mesin mobil, memutar, dan melaju hinga ke sebuah taman yang menyimpan banyak kenangan manis, Taman Kencana. Kali ini aku keluar. Rumput-rumputnya masih hijau, segar, dan terawat. Pohon-pohon rindang masih ada. Kursi-kursi malas itu juga masih ada, tersebar di beberapa tempat di taman yang bentuknya hampir bulat itu. Aku pun duduk di salah satu kursi malas itu. Lagi-lagi ingatanku seperti tertarik ke masa lalu. Tiga tahun lalu, tanggal 14 November, sehari setelah menjenguk ibu di rumah sakit, aku dan Valen menghabiskan waktu sejenak di sini. Jika teringat hari itu, aku jadi teringat dia menciumku saat gerimis turun. Aku sentuh bibirku dengan tanganku seakan-akan merasakan kembali sensasi saat itu. Setelah pertemuan kami hari itu, sampai saat ini kami baru bertemu tiga kali. Tiga kali dalam kurun waktu hampir tiga tahun. Tentunya bukan hal yang mudah untuk menjaga hubungan. Karena jarangnya kami bertemu, saat kesempatan itu ada, kami memanfaatkannya sebisa mungkin untuk mengisi lagi cangkir hati kami yang mungkin sudah hampir kosong. Begitulah pertemuan demi pertemuan itu. Terakhir kali kami bertemu adalah enam bulan yang lalu. Sudah sangat lama ternyata. Aku bahkan tidak bisa hadir saat Valen diwisuda tahun lalu, akademi tidak memberiku izin—memang sejak aku melanggar peraturan itu akademi membatasi dengan ketat alasan-alasan yang memperbolehkanku keluar. Sekarang entah bagaimana kabarnya. Sudah beberapa bulan ini kami tak saling memberi kabar. Aku rasa seperti yang pernah dikatakannya, perasaan manusia itu naik-turun, ada kalanya sangat kuat, ada kalanya sangat lemah, dan saat ini mungkin perasaan kami sedang sama-sama lemah. Lagipula, ada sesuatu hal yang saat ini menguras habis perhatianku, yaitu tentang kudeta yang akan terjadi besok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Datang ke tempat ini, duduk di kursi malas ini, memandangi langit sore yang mulai menua, tampaknya memberi efek positif. Emosi yang tadi sangat menggelora kini sudah bisa kutekan dan kukendalikan. Aku menarik napas panjang—segar sekali udara di tempat ini—lalu menghempaskannya perlahan. Aku mulai mempertanyakan lagi apakah keputusanku meninggalkan akademi ini benar? Mereka tidak tahu bahwa besok akan terjadi kudeta. Hanya aku yang tahu. Aku bahkan tidak memberitahu Alea, Sandra, maupun Remi. Dan kabar buruknya adalah mereka termasuk dua spesies yang menjadi target utama dalam kudeta besok. Apa yang harus kulakukan sebenarnya? Di saat seperti ini, ingin sekali rasanya punya seorang penasehat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emosi dan kebencian yang kurasakan tadi sangat wajar kurasa, mengingat perburuan dan pembantaian terhadap spesiesku beberapa tahun lalu itu adalah sesuatu yang kejam. Apapun alasannya, aku tetap membencinya. Namun apakah dengan membiarkan generasi saat ini menanggung kesalahan yang dilakukan generasi sebelumnya, kebencianku itu akan hilang? Entahlah. Kurasa tidak. Kebencian itu akan selamanya ada, mengendap, dan akan berkembang menjadi niat untuk membalas dendam seandainya tidak kutekan. Selain itu, di antara mereka ada teman-temanku, sahabat-sahabatku. Alea, dia selalu ada saat aku membutuhkannya. Dia bahkan pernah menyelamatkanku dalam suatu misi di lokasi kebakaran yang menyebabkan dirinya terluka. Pembawaannya yang riang dan cerewet membuat hari-hariku di akademi tidak membosankan. Sandra, dia sahabatku yang unik. Sampai saat ini dia masih sangat diam, hanya bicara saat dirasanya perlu. Dan yang paling misterius adalah raut mukanya yang hampir selalu datar itu. Hanya beberapa kali saja kulihat dia tersenyum, dan jujur, aku belum pernah mendengarnya tertawa, sekecil apapun. Terlepas dari semua itu, yang paling menarik adalah bahwa dia menyukaiku. Kurasa sampai sekarang dia masih menyukaiku. Membayangkan Sandra aku jadi tersenyum-senyum. Remi, untuk ukuran laki-laki, dia cukup banyak bicara, itu pada awalnya, karena sekembalinya kami dari rumah sakit tiga tahun yang lalu, sikapnya padaku berubah drastis, judes sejudes-judesnya. Dia tidak pernah lagi bicara padaku. Saat kami berpapasan, dia langsung memalingkan wajahnya. Dia menyukaiku seperti halnya Sandra menyukaiku, namun setelah menyadari bahwa aku memiliki Valen, dia tak bisa begitu saja menerimanya. Begitulah kurasa yang terjadi. Namun, dia masih temanku, dan sikapnya terhadap Sandra dan Alea jauh lebih baik. Lalu ada Lena dan Andy, mereka berdua sudah membantu dan melindungiku selama hampir tiga tahun ini. Apakah pantas jika aku begitu saja meninggalkan mereka tanpa memberitahu kudeta yang ada di hadapan mereka? Aku memikirkan kedua orang ini dalam-dalam. Pada saat pembantaian beberapa tahun lalu, mungkin sekitar dua puluh tiga tahun lalu, apa yang mereka lakukan? Ikut membantai atau bagaimana? Aku tak sanggup membayangkannya. Sungguh tak sanggup membayangkannya. Kualihkan perhatianku pada warna langit yang semakin redup. Angin bergerak lambat menyentuh rambut dan kulit leherku. Rasanya waktu bergerak begitu lambat sampai-sampai sempat-sempatnya aku menghitung banyaknya pohon rindang di taman ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam delapan malam, aku tiba di akademi. Seperti yang kuduga, upayaku melarikan diri ketahuan, dan kini mereka sedang mencariku. Satu tim kurasa cukup untuk ditugaskan dalam misi ini. Entah kemana saja mereka mencari. Yang tahu betul bahwa aku akan pergi ke taman itu hanyalah Alea. Karena sampai saat ini aku belum ditemukan, itu artinya Alea tidak termasuk ke dalam tim itu. Satu hal lagi, apakah misi pencarianku ini diketahui semua orang di akademi, atau justru dirahasiakan? Entahlah. Sedan merah Alea terpaksa kuparkir cukup jauh dari akademi, di sebuah mini market. Kutinggalkan sedan itu begitu saja—kunci mobil tentunya kubawa—lalu berjalan menuju akademi. Aku mengaktifkan mode pelindung sehingga keberadaanku tak akan mudah ditemukan, namun aku tetap berhati-hati. Sekitar dua puluh menit kemudian, aku tiba di akademi, di dekat gerbang utama. Mau tak mau aku harus mengganti mode pelindung-ku jadi mode pendeteksi untuk mengetahui seperti apa situasi di area parkir. Tak ada yang berubah ternyata. Ada dua orang penjaga. Merasakan keberadaanku, salah satunya bergerak mendekati gerbang. Percuma saja bersembunyi, mereka berdua pendeteksi. Maka sebelum mereka melakukan sesuatu, aku bergerak cepat melewati gerbang depan, melewati satu penjaga yang terkejut karena gerakanku sangat cepat. Itu karena aku sudah memusatkan energi di kedua kaki sehingga aku bisa berlari hingga dua kali lebih cepat dari kondisi normal. Namun aku tidak cukup cepat untuk sampai di pintu utama. Penjaga yang satunya menghadangku di sana. Aku terpaksa berhenti. Penjaga yang satunya lagi di belakangku. Dua lawan satu. Kondisiku tidak diuntungkan, dan yang lebih buruk adalah mereka berdua spesies merah. Aku paling malas berhadapan dengan api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyerah adalah tindakan terakhir yang akan kulakukan jika yang lainnya gagal. Aku berusaha tenang dan berpikir. Tampaknya mereka tak akan bergerak sebelum aku memulainya. Sebenarnya bisa saja memanfaatkan lantai tempatku berpijak. Lantai memang berbeda dengan tanah, tapi ada kemiripan dalam komposisi pembentuknya. Empat bulan terakhir ini aku menghabiskan waktu untuk melatihnya dan kurasa aku sudah cukup bisa mengendalikan lantai maupun batu. Akan tetapi, menggunakan elemen itu akan sangat mengundang perhatian. Tak lama setelah aku melumpuhkan kedua penjaga ini, banyak orang akan mengepungku. Dalam kondisiku saat ini, keterhubungan dengan elemen angin akan sangat membantu. Sayangnya, irisku tidak terhubung dengan angin. Jadi, yang bisa kugunakan saat ini adalah elemen air. Di mini market tadi, aku membeli sebotol air mineral, itulah yang akan kugunakan untuk menghadapi dua penjaga ini. Aku buka tutup botolnya dan bersiap menggerakkan tanganku. Kedua penjaga itu pun bersiap melakukan sesuatu. Api lawan air, siapa yang akan menang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaan aku belum mengeluarkan jurus apapun namun entah kenapa kedua penjaga itu tampak diam sekali alias tak bergerak. Hanya mata mereka yang bisa bergerak-gerak, dan dari matanya itu aku tahu sesuatu telah terjadi pada mereka, seseorang telah membuat mereka tak bisa bergerak. Tapi siapa? Aku? Aku rasa aku tidak memiliki kemampuan itu? Sejurus kemudian aku merasakan keberadaan seseorang tepat di belakangku, entah sejak kapan dia ada di belakangku. Di telingaku dia berbisik, “Aku mendapatkanmu.” Suaranya lembut, dia wanita. Tiba-tiba ditutupnya kedua mataku dengan tangan kanannya sementara tangannya yang kiri menarik leherku. Untuk beberapa saat aku merasa sangat diam, tak bisa kugerakkan barang sedikit pun tangan dan kakiku. Ketika tangannya dilepaskan dari mataku, kulihat aku berada di suatu tempat yang tak kukenali. Aku berada di sebuah ruangan yang cukup luas namun tanpa perabotan sama sekali. Jika melihat dinding-dindingnya yang padat namun tidak halus, aku rasa ruangan ini lebih mirip gua yang dibentuk sebuah kamar, kamar yang luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Duduklah!” kata wanita yang tadi memegangku itu. Ternyata di belakangku ada sebuah kursi kayu. Kuperhatikan hanya itu satu-satunya kursi di ruangan ini. Aku pun duduk. “Aku sudah membawanya,” kata wanita itu lagi, suaranya benar-benar lembut sehingga jika hanya mendengar suaranya aku akan menyangka dia lemah dan rapuh. Tapi kenyataannya yang berdiri di belakangku adalah seorang wanita yang tampak kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian dua orang wanita muncul dari balik dinding yang terbuka. Dinding itu seperti sebuah pintu yang digeser ke samping dan ditutup kembali. Akhirnya aku mengerti di mana aku berada saat ini, di bawah tanah. Pastinya ketiga wanita ini bisa mengendalikan tanah dengan baik. Apakah mereka spesies hijau sepertiku? Setelah kuamati ternyata ketiga wanita ini mengenakan pakaian serba hitam. Dengan irisku yang hijau ini aku bisa melihat dengan jelas warna iris mereka, dan ternyata bukan hijau, melainkan hitam. Mereka ini spesies hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi ini spesies hijau,” kata salah satu wanita yang rambutnya lurus dan pendek, tidak sampai sebahu. “Ini pertama kalinya aku melihat warna iris itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Indah, bukan?” kata wanita di belakangku, suaranya yang lembut itu seperti membuatku sulit bergerak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita langsung saja ke permasalahan,” kata wanita satu lagi yang rambutnya bergelombang dan sangat hitam. Mereka berdua kini berada dekat di depanku. Wanita dengan suara lembut itu masih di belakang, tangannya menyentuh kedua pundakku. “Kau sudah tahu soal kudeta yang akan kami lakukan besok, bukan? Sekarang kami ingin tahu keputusanmu. Apakah kau akan membantu kami atau membantu mereka?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua orang itu menatapku dengan tatapan yang berbeda. Wanita yang barusan menanyaiku menatapku dengan tajam sedangkan yang satunya lagi santai-santai saja, entah bagaimana wanita yang di belakang. Aku lalu berkata, “Aku meminta kalian membatalkan kudeta ini.” Mereka tampak kecewa dengan apa yang kukatakan. Aku lalu berkata, “Balas dendam tidak akan menyelesaikan semuanya. Kalau pun kudeta kalian berhasil, apakah dendam dan kebencian di hati kalian lantas hilang? Aku rasa tidak. Dendam dan kebencian itu hanya akan sedikit berkurang, tapi masih mengendap di hati kalian.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau ingin kami menyia-nyiakan momen yang sudah sangat lama ini kami tunggu?” tanya wanita berambut pendek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau sama sekali tak tahu bagaimana rasanya melihat spesies sendiri diburu dan dibantai,” sambung wanita berambut panjang di sampingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dua kali kami diburu dan dibantai,” kata wanita dengan suara lembut di belakangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin karena kau tak menyaksikan sendiri bagaimana spesiesmu dibantai lebih dari dua puluh tahun silam,” kata wanita berambut pendek dengan santainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wajar saja,” kata wanita berambut panjang, “Saat itu dia belum ada.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh ya, berapa umurmu?” tanya wanita bersuara lembut di belakangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hampir dua puluh tiga,” jawabku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pantas saja,” kata wanita berambut pendek dengan santainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau sama sekali tak mengerti penderitaan yang kami rasakan,” kata wanita berambut panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka bertiga mengepungku dengan pertanyaan-pertanyaan dan pernyataan-pernyataan. Memang benar aku tidak sepenuhnya mengerti perasaan mereka, karena aku tidak pernah mengalami masa-masa mengerikan itu. Aku bahkan baru menemukan identitasku beberapa tahun ini. Rasanya aku memang tidak punya hak untuk memaksa mereka membatalkan kudeta, kesempatan yang telah mereka nanti-nantikan untuk waktu yang sangat lama. Tetapi, tetapi.. teman-temanku ada di sana, aku tak mungkin membiarkan mereka mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah,” kataku menunduk. “Sepertinya aku tak akan bisa mengubah pendirian kalian, sekuat apapun aku mencoba. Aku sudah memutuskan..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka bertiga diam menantikan keputusanku yang sudah mereka tunggu-tunggu. Sebenarnya, aku sendiri belum yakin dengan keputusan ini, namun aku tak punya banyak waktu untuk berpikir. Kudeta itu besok, tinggal beberapa jam dari sekarang. Menurut rencana yang dikatakan Jena, kudeta akan dimulai tepat ketika hari berganti, artinya jam dua belas malam. Waktuku tak banyak. Tak banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku akan membantu kalian,” kataku.&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054150040858616865-1380433626395343834?l=ardy-kresna-crenata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/feeds/1380433626395343834/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/2010/07/spesies-hijau-chapter-11a.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054150040858616865/posts/default/1380433626395343834'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054150040858616865/posts/default/1380433626395343834'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/2010/07/spesies-hijau-chapter-11a.html' title='spesies hijau chapter 11a'/><author><name>Ardy Kresna Crenata</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_DBAkcWrPpOM/TDsdMhaYCUI/AAAAAAAAAAw/HFjbf4gJFYo/S220/ardy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054150040858616865.post-4339071805395523866</id><published>2010-07-14T10:28:00.001+07:00</published><updated>2010-07-14T10:28:21.312+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='novel'/><title type='text'>spesies hijau chapter 10b</title><content type='html'>&lt;b&gt;Nayna, 1989&lt;br /&gt;Akademi, Bogor&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah diskusi tertutupnya dengan kami, Maya, si pemimpin akademi, mengatakan bahwa dia lebih menginginkan semua spesies di sini hidup berdampingan seperti biasanya. Secara tidak langsung, dia sudah menjamin kelangsungan hidup spesies hijau, spesiesku. Aku membuang napas lega saat kami bertiga meninggalkan ruangannya. Namun, Lena sama sekali tidak tampak lega. Kedua irisnya sudah kembali normal. Sejak beberapa saat sebelum meninggalkan ruangan Maya, Lena jadi sangat diam. Itu diperjelas dengan raut mukanya yang benar-benar datar seperti tanpa ekspresi. Andy, seperti halnya aku, mengamatinya ketika kami berjalan di sepanjang lorong. Sayang sekali baik aku maupun Andy tidak bisa membaca pikiran orang seperti halnya Lena. Akan tetapi kami tahu sesuatu sedang berkecamuk di kepalanya, dan apapun itu, bukan sesuatu yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun beberapa hari setelah itu ketika kami bertemu, dia tampak riang seperti biasanya. Kami banyak menghabiskan waktu seperti yang sudah-sudah. Dan itu membuatku benar-benar berpikir bahwa hanya tinggal waktu sampai ketegangan yang masih ada ini hilang. Begitulah yang aku yakini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu terakhir bulan Februari, secara tidak terduga aku bertemu Andy di atap auditorium. Dia seperti sedang menunggu seseorang saat aku tiba di sana, dan orang yang dia tunggunya ternyata adalah aku. Entah kenapa aku seperti merasakan perubahan udara di sekitarku, perubahan ini membuat perasaanku menjadi buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebaiknya kau segera pergi meninggalkan akademi,” kata Andy tiba-tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajar saja kurasa jika aku terkejut dan malah tersenyum, bahkan hampir tertawa menanggapinya. Tapi Andy begitu serius, dan itu membuat perasaanku bertambah buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa maksudmu?” tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia berjalan menghampiriku dan berhenti saat hampir melewatiku. Di telinga kiriku dia berbisik, “Aku mengatakan ini karena kau adalah orang yang sangat disayangi Lena. Jika kau tidak segera pergi meninggalkan akademi, sesuatu yang buruk akan menimpamu dan itu akan membuat Lena menyesal seumur hidup.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau sedang mengancamku?” aku menoleh dan menatap kedua matanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menggeleng dan berkata, “Aku tidak akan mungkin menyakitimu karena itu sama saja menyakiti Lena. Aku hanya ingin mengingatkanmu bahwa sesuatu akan terjadi, dan itu akan sangat buruk bagimu.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andy lalu pergi meninggalkanku sendiri dalam kebingungan. Antara percaya dan tidak, aku memikirkan apa yang dia katakan. Sesuatu akan terjadi, dan itu akan sangat buruk bagiku? Dua hari kemudian, aku baru menyadari apa yang dimaksudnya dengan sesuatu itu. Ketegangan antara spesies merah dan spesies biru dengan spesies hijau yang kukira akan reda, justru bertambah parah. Entah bagaimana aku bisa tidak menyadarinya, mungkin karena selama beberapa minggu ini aku mengasumsikan bahwa ketegangan ini akan segera berakhir. Dalam percakapan-percakapan di berbagai tempat di akademi, sikap spesies hijau yang berbeda dari spesies lainnya selalu menjadi topik utama. Tidak hanya spesies biru dan spesies merah, bahkan spesies kuning pun yang biasanya netral, kali ini memojokkan spesies kami. Spesies jingga justru yang memilih untuk netral. Ketegangan ini kurasakan semakin kuat esok harinya dan aku berniat menanyakan keadaan ini kepada Maya langsung. Tepat sebelum aku mengetuk pintu ruangannya, sebuah tangan menggenggam tanganku dan menariknya. Itu Lena. Dia lalu mengajakku ke atap auditorium.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berkata, “Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu dariku. Apa itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lena memandangku dengan irisnya yang biru lalu tersenyum. “Apapun itu, tidak perlu dicemaskan,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah ada kaitannya dengan ketegangan ini?” desakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah kubilang itu tak perlu dicemaskan,” katanya sambil tersenyum lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai beberapa kali aku mendesaknya dengan banyak pertanyaan, dia tidak memberitahuku apa yang disembunyikannya itu. Dia justru menyuruhku untuk percaya padanya dengan mengajukan sebuah pertanyaan, “Apakah aku pernah membohongimu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan berat aku menjawab, “Tidak pernah. Sekali pun tidak pernah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka aku tak punya pilihan lain selain mempercayainya. Aku sepenuhnya yakin dia tidak akan melibatkanku dalam masalah, aku yakin dia tidak akan mengkhianati kepercayaanku padanya. Kami sudah berteman sejak kecil, itulah salah satu alasan kuat aku mempercayainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kenyataannya, aku tak bisa begitu tenang berada di tengah orang-orang yang selalu menggunjingkan spesiesku. Tidak di mana-mana, ada saja orang yang membicarakan kami dengan buruk. Bahkan sempat kudengar seseorang mengatakan bahwa spesies hijau tidak seharusnya diciptakan. Apa alasannya? Tentu saja ketakutan berlebihan seperti yang sebelumnya terjadi pada spesies hitam. Begitulah mereka. Pada akhirnya spesies-spesies murni itu selalu takut akan potensi kami yang bisa melebihi mereka. Satu-satunya alasan mereka tidak menunjukkan rasa takutnya adalah karena jumlah kami sangat sedikit jika dibandingkan jumlah mereka kalau bersekutu. Kami kalah jumlah, tentu saja, tapi kami tidak akan takut. Aku tidak akan takut. Tidak akan pernah. Meskipun jika nantinya sesuatu yang buruk itu terjadi, aku akan menghadapinya dengan berani. Akan kutunjukkan pada mereka bahwa spesies hijau memang seharusnya ditakuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ternyata kamu memang di sini,” seseorang menyentuh pundakku, membuatku tersadar dari pikiran-pikiran kacau itu. Dia Lena.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di sini satu-satunya tempat aku tidak mendengar orang-orang menggunjingkan spesiesku,” kataku. Dia tersenyum. Aku memang sengaja menjauh dari orang-orang itu karena berada di dekat mereka hanya membuatku emosi dan emosi. Aku selalu ingat apa yang dikatakan Maya dalam diskusi tertutupnya bersama kami saat itu. Sedikit saja ada yang memprovokasi, mungkin benturan tak bisa dihindarkan. Sudah jelas sekali ada yang memprovokasi mereka sehingga keadaan menjadi seperti ini. Kini satu tindakan bodoh yang didasari emosi, akan dengan cepat menimbulkan benturan itu. Maka, aku lebih suka menyendiri di sini, di atap auditorium, tempat yang selalu memberiku ketenangan, tempat di mana aku bisa berbaring memandangi awan-awan. Namun, karena ini malam hari, hanya ada beberapa bintang yang bisa kunikmati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat aku mulai mengeluhkan lagi soal sikap spesies-spesies murni itu terhadap spesies hijau, Lena tersenyum dan lagi-lagi mengatakan bahwa tidak ada yang perlu di cemaskan. Aku tahu tak ada gunanya mempermasalahkan itu dengannya. Namun setidaknya kehadirannya ini membuatku merasa jauh lebih baik. Hanya kepadanyalah aku bisa mengungkapkan hal-hal yang merisaukanku. Anehnya, meskipun kami berbeda spesies, hubungan kami seperti saudara saja, aku merasakannya sangat dekat, sangat kuat. Hubunganku dengan teman-teman satu spesiesku memang dekat, tapi tidak sedekat hubunganku dengan Lena. Jika Lena kehilangan kedua orang tuanya dalam kejadian enam belas tahun yang lalu, saat usianya masih tujuh tahun, aku malah tidak tahu siapa orang tuaku. Aku bahkan tidak ingat sama sekali tentang masa kecilku, masa-masa balitaku, kenangan tentang kanak-kanakku, aku sama sekali tidak bisa mengingatnya sekuat apapun berusaha. Dan kalau harus jujur, soal kejadian enam belas tahun lalu itu, aku tidak ingat sama sekali, seolah-olah kejadian itu tidak tersimpan dalam memoriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berhasil mengalihkan pikiran ke hal-hal itu, aku kembali mengeluhkan keadaan yang saat ini menimpa spesies hijau. Kali ini Lena tampak jengah karena aku terus saja membahasnya. Dia berkata, “Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya aku tahu bahwa akan lebih baik bagiku untuk tidak terus mengeluhkannya. Namun karena mood-ku tiba-tiba buruk, aku berkata, “Mudah bagimu karena bukan spesiesmu sendiri yang sedang dipermasalahkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas sekali perkataanku itu menyinggungnya. Dia berkata, “Nayna, kamu dan aku sudah menghabiskan waktu bersama sejak kecil. Kamu sudah jelas-jelas tahu bahwa satu-satunya spesies yang kubenci adalah manusia. Aku tak pernah mempermasalahkan spesiesmu atau spesies lainnya. Di akademi ini kita hidup bersama. Tak perlu ada yang dipermasalahkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menarik napas dan membuangnya perlahan. Dalam hati aku berkata bahwa keadaan saat ini tidak mencerminkan apa yang dikatakannya. Aku lalu berkata, “Seandainya cara berpikir semua orang di sini sama denganmu.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langit di atas kami begitu hitam dengan sedikit bintang. Bulan tinggal sabit. Besok atau lusa pasti lebih gelap. Sejak beberapa saat yang lalu kami sudah terlentang menatap langit. Tak ada orang lain di atap auditorium kesayanganku ini. Namun bukan tidak mungkin ada yang melihat kami saat ini, mungkin sedang mengamati kami dari tempat yang tinggi. Hal itu terutama mungkin dilakukan oleh seorang spesies hijau. Aku memikirkan bagaimana reaksi orang itu melihatku berdua terlentang dengan seorang spesies biru, spesies yang saat ini memusuhinya. Apakah aku kemudian akan dimusuhi spesiesku sendiri? Jika memang begitu, maka Lena pun mungkin mengalami hal serupa. Beberapa hari ini mereka pasti mengamati dia sering menemaniku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Besok aku ada misi,” kataku. Kami masih terlentang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak ikut,” katanya, menyuarakan apa yang ingin kukatakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya. Aneh sekali kau tidak ikut. Biasanya kita selalu bersama-sama dalam suatu misi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin Maya akan menyuruhku melakukan sesuatu yang lain,” katanya ringan, lalu tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh ini, dalam setiap misi yang kujalani, Lena selalu menjadi rekan satu timku. Entah apakah dia pernah menjalani suatu misi tanpa aku, namun aku tidak pernah menjalani misi tanpanya. Besok adalah misi pertamaku tanpanya. Entah kenapa aku merasa aneh. Sesuatu dalam diriku seolah-olah menyuruhku untuk waspada.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Alea, 2030&lt;br /&gt;Selakopi, Cianjur&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Selama beberapa hari ini aku menginap di rumah Inna dan hanya pulang ke rumah Bibi Mirna untuk mengambil pakaian dan keperluan sekolah. Om Remi, ayah Inna, dengan tegas mengatakan bahwa demi keselamatanku, aku harus berada dekat dengan mereka. Selama beberapa hari itu, aku seperti menemukan sebuah keluarga, sebuah kehidupan yang hilang beberapa tahun lalu. Saat ayah masih hidup, kami hidup bertiga di sebuah tempat yang jauh dari kota ini. Meskipun hampir bisa dikatakan kami hanya hidup bertiga, tanpa saudara, tanpa teman yang benar-benar peduli, kami bahagia. Setiap harinya kami lalui dengan tertawa, bercanda, menjalani hidup normal seperti keluarga lainnya. Saat itu aku belum mengetahui identitasku juga identitas ibu. Saat itu aku menganggap ibu adalah seorang wanita biasa yang kuat dan tentu saja cantik. Setelah ayah meninggal, tinggal aku dan ibu, menjalani hari-hari yang sepi. Meskipun kami sama-sama berjuang melawan kesedihan itu dan berusaha meninggalkannya di belakang, tapi tetap saja kami merasakan kehampaan itu. Hidup berdua, tanpa seorang kepala keluarga, tanpa sanak saudara, tanpa orang yang mendukung kami. Beberapa tahun kemudian saat ibu membawaku ke kota ini, mengenalkanku pada Bibi Mirna, kehidupan kami sedikit lebih baik. Setidaknya ada setitik cahaya dari semesta kami yang suram. Saat itu kami mengontrak sebuah rumah yang sederhana di sekitar By-Pass. Sesederhana apa pun kehidupan kami, kebahagiaan itu selalu ada, muncul pada momen-momen yang tak terduga, muncul dari hal-hal yang tak pernah terpikirkan. Salah satu momen yang sampai sekarang masih terus kukenang dan selalu memaksa air mataku keluar adalah saat aku dan ibu merayakan ulang tahun ayah, 14 Februari, setiap tahunnya setelah ayah meninggal. Ibu membeli kue tar, menancapkan tiga lilin berwarna hijau—saat itu aku tak tahu kenapa ibu memilih lilin warna hijau, kami menyanyikan lagu ulang tahun bersama, aku meniup lilinnya, mengucapkan doa dalam hati—doa yang mungkin akan diucapkan ayah seandainya dia masih ada, memotong kue itu, lalu memberikan potongan pertama pada ibu, orang yang paling disayangi ayah selain aku. Begitulah kami melakukannya selama beberapa tahun. Di hari perayaan itu ibu selalu menangis, namun aku tidak. Bahkan saat umurku memasuki belasan, saat emosi mulai bergejolak dan sulit dikendalikan, aku tetap berusaha untuk tersenyum dan tak menangis. Ibu sudah menangis, jika aku juga menangis, maka tidak akan ada kebahagiaan dari perayaan itu. Biasanya aku baru menumpahkan emosiku saat berada di kamar, sebelum tidur. Ibu suka menguping dan mengintip di balik pintu kamar, tapi tak pernah masuk untuk menghiburku. Kurasa memang itu lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di rumah ini, di rumah Tante Sandra, aku menemukan kembali kehidupan itu, meskipun dengan warna yang berbeda. Di antara mereka bertiga, Om Remi yang paling sering memulai topik percakapan, Tante Sandra melengkapi dengan kalimat-kalimatnya yang sering terdengar manis namun lucu, sedangkan Inna lebih banyak diam, selalu seperti itu. Namun dia tidak lagi sediam sebelumnya. Dia kini sudah berinteraksi secara langsung dengan kedua orang tuanya, terutama ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun di tengah-tengah suasana kekeluargaan yang kurasakan itu, pikiranku selalu saja terganggu oleh kemunculan wanita spesies hitam itu. Saat itu dia nyaris membuat kami terluka seandainya Om Remi terlambat beberapa detik saja. Entah bagaimana nasib wanita itu. Kami meninggalkannya dalam keadaan pingsan di gang saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Om Remi dan Tante Sandra sedang menikmati acara televisi, Inna sedang menulis sesuatu di meja belajar, entah apa. Aku duduk di tempat tidur Inna dan mulai membuka-buka lagi halaman dari buku yang ditulis nenek. Aku ingin memastikan apa alasan spesies hitam kini mencariku dan berniat melukaiku. Sayangnya, kejadian-kejadian di buku ini berakhir saat nenek berada dalam pelarian saat perburuan kedua. Tak ada lagi keterangan apa yang selanjutnya terjadi. Aku bahkan tidak tahu bagaimana nasib nenek saat itu, apakah dia meninggal dalam pelarian atau justru selamat dan menyembunyikan diri di suatu tempat. Aku tak tahu. Satu hal yang masih sangat tanda tanya: di mana nenek melahirkan ibu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ibu masih hidup—memikirkannya membuat kesedihanku menyeruak hingga membuat mataku berkaca-kaca—aku mungkin bisa menanyakan padanya apa saja yang dia alami semasa hidupnya. Pastinya selama ini dia mencari tahu di mana nenek dan bagaimana sampai nenek bisa melahirkannya dalam kondisi yang sulit itu, dan lebih jauh lagi, bagaimana ibu bisa bertahan hidup sampai bertahun-tahun kemudian kembali ke akademi. Saat itu tentunya keadaan sudah berbeda, aku yakin. Di zaman nenek, spesies hijau hidup di akademi dan spesies hitam menjadi satu-satunya spesies yang mengancam. Di zaman ibu, mungkin keadaannya berbeda, spesies hijau tidak lagi hidup di akademi, ibu hanya satu-satunya spesies hijau di sana. Tunggu dulu! Mengapa aku mengatakannya seolah-olah aku pernah mendengar kisah ini? Aku yakin sekali ibu tidak pernah menceritakan hal ini padaku semasa hidupnya dan di buku ini tidak ada yang menerangkan keadaan akademi di zaman ibu. Lalu sesuatu terlintas di pikiranku: aku bisa menanyakan hal itu kepada orang yang saat itu mengalaminya dan saat ini masih hidup, yaitu Tante Sandra dan Om Remi. Yang paling ingin kuketahui adalah keadaan yang membuat ibu akhirnya meninggalkan akademi. Apa yang sebenarnya terjadi saat itu? Aku turun dari kasur, bergerak ke ruang televisi.&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054150040858616865-4339071805395523866?l=ardy-kresna-crenata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/feeds/4339071805395523866/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/2010/07/spesies-hijau-chapter-10b.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054150040858616865/posts/default/4339071805395523866'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054150040858616865/posts/default/4339071805395523866'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/2010/07/spesies-hijau-chapter-10b.html' title='spesies hijau chapter 10b'/><author><name>Ardy Kresna Crenata</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_DBAkcWrPpOM/TDsdMhaYCUI/AAAAAAAAAAw/HFjbf4gJFYo/S220/ardy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054150040858616865.post-1625107129481282136</id><published>2010-07-14T10:27:00.001+07:00</published><updated>2010-07-14T10:27:41.024+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='novel'/><title type='text'>spesies hijau chapter 10a</title><content type='html'>&lt;big&gt;&lt;b&gt;Chapter 10&lt;br /&gt;KONFLIK ANTAR-SPESIES&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/big&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Airish, 2013&lt;br /&gt;Akademi, Bogor&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAHUN ketigaku di akademi, tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Hari ini karena suatu alasan aku tidak mengikuti kuliah. Aku berjalan di sepanjang lorong-lorong yang sepi, hanya sesekali berpapasan dengan seseorang. Lantai 3, lorong tempat ruang kerja pengajar, dokter, dan yang lainnya. Sepi. Sepi sekali. Sebagian pengajar pasti sedang memberikan kuliah, sebagian lagi tentunya ada di ruangan-ruangan ini, menunggu kelas praktek sore dimulai. Sementara itu, para dokter kemungkinan ada di ruangan mereka, kecuali ada pasien yang harus ditanganinya di lantai 2. Aku berhenti di depan pintu ruang sidang. Aku jadi ingat dua tahun lalu pernah memasuki ruangan ini, berinteraksi langsung dengan para petinggi akademi yang jumlahnya lima orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tahun lalu, aku pernah meminta izin untuk keluar dari akademi denga alasan menjenguk ibu yang saat itu memang sedang dirawat di rumah sakit. Waktu yang diberikan akademi—saat itu Lena yang memberi izin—adalah sepuluh jam. Aku dan Alea yang saat itu menemaniku, seharusnya sudah kembali ke akademi sebelum atau paling telat jam sepuluh malam. Tapi, kami memutuskan untuk menginap di rumah sakit. Ketika para petinggi akademi mengirim satu tim yang terdiri dari empat orang dari empat spesies berbeda untuk memaksa kami kembali, kami justru berhasil mengalahkan mereka dan membiarkan mereka kembali ke akademi untuk menyampaikan pesan bahwa kami akan pulang saat urusan kami—urusanku—selesai besok harinya. Dan begitulah, besok harinya kami berempat—malam sebelumnya kami kedatangan dua orang yang diutus Lena untuk membantu kami—tiba di akademi menjelang tengah hari. Saat memasuki lobi, kami langsung diberitahu bahwa para petinggi akademi menunggu kami di ruang sidang di lantai 3—ruangan itu kini tepat di hadapanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu kami berempat masuk. Lima orang petinggi itu sudah duduk membentuk setengah lingkaran, sementara di pusat setengah lingkaran itu hanya ada satu kursi. Aku tentu saja heran. Kemudian Andy—pemimpin akademi yang duduk di tengah-tengah formasi—menyuruhku duduk di kursi itu dan menyuruh Alea, Sandra, dan Remi kembali ke kamarnya masing-masing. Jadi, yang akan dihukum hanya aku. Mereka pun menanyaiku tentang banyak hal, tentang apa saja yang kulakukan selama berada di luar akademi, tentang kebenaran alasan yang kugunakan untuk meminta izin keluar, tentang mengapa aku bersikeras menginap di rumah sakit, dan banyak hal lainnya. Lena berusaha membelaku, Andy bersikap netral, sedangkan sisanya cenderung memojokkanku, terutama seorang petinggi laki-laki berkacamata dari spesies kuning. Setelah hampir satu jam sidang itu berlangsung, Andy pun mengambil keputusan. Keputusannya adalah: aku bersalah dan akan dihukum sesuai peraturan yang berlaku di akademi, namun peraturan itu sendiri masih dirahasiakan dan baru akan diberitahu besoknya saat aku harus menghadap Andy di ruangannya. Dan ketika besok harinya aku ke ruangan Andy, alih-alih menghukumku, dia malah menjadikanku murid pribadinya. Dengan kata lain, itulah hukuman yang harus kujalani, belajar mengembangkan bakat dan kemampuanku langsung dari sang pemimpin akademi. Mengingat hal itu aku tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melanjutkan tour santaiku yang tidak ditemani guide ini. Kuamati sekilas saja ruang-ruang lainnya di lantai 3 ini lalu turun ke lantai 2, lorong di mana ruangan perawatan berada. Masing-masing ruang perawatan di lorong ini memiliki dokternya sendiri. Beberapa kali aku pernah dirawat di salah satu ruang perawatan ini, yaitu di ruang perawatan yang penanggung jawabnya saat itu adalah Lena—saat ini juga masih Lena. Aku berhenti di depan pintu ruang perawatan yang kumaksud. Seingatku, pertama kali aku dirawat di ruang perawatan ini adalah saat Andy dan Lena menyelamatkanku dari upaya kejahatan yang akan dilakukan sepuluh orang lelaki padaku di stasiun. Saat aku tersadar, aku sudah berada di ruang perawatan ini. Lalu yang kedua adalah di bulan keduaku di akademi, tepat sebulan setelah aku disidang. Saat itu kurasa kondisiku cukup buruk. Darah mengalir dari mataku dan tak mau berhenti. Setelah Lena dengan sigap merawatku, masih butuh lima hari sampai akhirnya penglihatanku kembali seperti semula. Darah di mataku itu tiba-tiba mengalir saat aku dalam keadaan terdesak. Aku masih ingat betul saat itu seorang wanita tiba-tiba menyerangku malam hari saat aku sedang terlentang di atap auditorium, memandangi langit. Saat itu aku tak mengenalinya karena dia menutupi wajahnya dengan topeng. Memandangi topengnya yang tersenyum itu membuatku merinding. Singkatnya dia menyerangku dengan cepat dan membuatku terpojok. Saat itulah tiba-tiba darah mengalir dari kedua mataku dan wanita bertopeng itu terpental saat hendak menghantamku. Dia terpental jauh hingga jatuh. Namun, aku tak menemukan tubuhnya di sekitar auditorium. Saat Sandra dan Alea kemudian muncul, kutanyakan hal itu kepada mereka, namun mereka juga tidak melihat wanita itu, sama sekali tidak melihatnya. Yang ketiga, dan kukira yang terakhir aku dirawat di ruang perawatan ini, adalah setelah pulang dari misi. Misiku saat itu adalah mendatangi sebuah lokasi pertokoan yang terbakar. Kejadian itu malam hari. Entah bagaimana para petinggi bisa mengetahui kebakaran itu sedang terjadi, satu tim dikirim ke sana, bukan untuk memadamkan api, melainkan untuk mencari dan menyelamatkan dua orang yang mungkin terjebak kebakaran itu. Dua orang itu bukan manusia biasa, melainkan spesies seperti kami. Mereka sedang ditugaskan hidup di tengah-tengah manusia biasa, sekaligus mengamati situasi pasar. Saat itu yang dikirim adalah aku, Alea, dan dua orang lagi dari spesies merah dan abu-abu. Setibanya di lokasi kebakaran itu, api sudah sangat besar dan terus menyebar. Kami tidak diperintahkan memadamkan api sehingga kami fokus mencari kedua orang itu di tengah-tengah gedung yang terbakar—adanya seorang spesies merah memungkinkan kami memasuki daerah yang penuh api dengan aman. Namun, alih-alih menemukan kedua orang itu, kami malah menemukan seorang wanita dengan pakaian serba hitam namun tak sedikit pun terbakar atau pun tergores. Tiba-tiba saja dia menyerang dan kami pun tidak tinggal diam. Empat lawan satu, seharusnya kami bisa mengatasinya. Namun ternyata wanita itu sangat kuat. Kekuatannya di luar perkiraan kami. Bahkan Alea pun terluka. Yang kuingat saat itu adalah Alea terluka dan pingsan, wanita itu lalu mendekatiku yang beberapa saat sebelumnya sudah roboh. Dua orang lainnya entah di mana. Sebelum wanita itu sempat mendekat, aku sudah pingsan. Ketika sadar, aku sudah berada di ruang perawatan. Alea pun ada di sana, di kasur yang satu lagi. Dua orang lagi entah di mana, aku tidak melihatnya saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang siapa wanita yang menyerang kami di lokasi kebakaran itu, baru terungkap dua bulan kemudian. Andy mengatakan bahwa dia seorang spesies hitam. Spesies hitam? Itu baru pertama kalinya aku mendengar bahwa ada spesies hitam. Ketika aku meminta penjelasan yang lebih detail, Andy tidak memberikannya. Penjelasan itu kemudian baru aku peroleh sekitar sebulan yang lalu, bukan dari Andy, tapi dari seorang spesies jingga di akademi ini. Saat itu aku sedang di kantin sehabis kelas praktek sore, makan sendirian. Dia tiba-tiba duduk di kursi di hadapanku, memastikan bahwa aku orang yang dicarinya, mengenalkan diri, lalu menunjukkan sebuah buku hitam tebal. Namanya Jena. Seorang spesies jingga dengan kulit agak gelap dan rambut hitam panjang diikat ke belakang membentuk ekor kuda. Dia mengenakan celana pendek dan tangtop. Ketika beberapa kali setelah itu aku bertemu dengannya, gaya berpakaiannya selalu seperti itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkatnya saat itu dia menyuruhku membaca buku tebal itu dengan mengatakan bahwa buku itu ditulis untukku. Karena besok harinya dan besok harinya lagi aku sedang sibuk melatih jurus-jurus baruku, aku baru mulai membaca buku itu di hari ketiga setelah buku itu kuterima. Orang yang menulis buku itu bernama Nayna Nissiana, seorang spesies hijau. Aku membaca beberapa halaman awal dan mulai tertarik karena buku itu menceritakan kisah yang dialami spesies-spesies seperti kami. Saat itu aku mengira buku tebal itu adalah sebuah novel. Aku lalu meluangkan waktu untuk membacanya setiap hari, di pagi hari saat Alea sholat dan mengaji, di saat kuliah di ruang Matematika, di saat makan di kantin, di atap auditorium sehabis latihan malam harinya, sebelum tidur. Tak terasa dalam waktu satu minggu, buku tebal itu habis kubaca. Yang akhirnya membuatku terkejut adalah sebuah tulisan tangan yang tertera di halaman terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah lewat seminggu setelah terdengar kabar bahwa perburuan terhadap spesies hijau diberlakukan kembali. Mereka sudah sangat dekat. Mulai hari ini aku harus menjalani kembali masa-masa pelarian seperti yang kulakukan tiga tahun lalu. Kali ini, aku membawa bayi di perutku. Waktunya tinggal sebentar lagi. Mungkin ini bodoh, tapi aku ingin menamainya sekarang. Airish Rashiana. Penerus spesies hijau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namaku. Itu jelas-jelas namaku. Saat itu aku bertanya-tanya apakah orang yang menulis buku ini adalah ibuku, ibu kandungku. Namun tidak semudah itu aku percaya. Besoknya aku ke ruangan Lena dan mendesaknya untuk memberitahuku siapa nama ibuku seandainya dia memang mengenalnya. Setelah cukup lama dan alot, akhirnya Lena menjawabnya. Dan luar biasa, namanya persis sama dengan orang yang menulis buku itu, Nayna Nissiana. Kemudian aku mulai mempertimbangkan bahwa setiap kejadian yang ada dalam buku ini adalah seperti yang dikatakan si penulis di awal-awal: sejarah spesies hijau, spesiesku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan jelas sekali dia mengatakan di tulisan tangannya itu bahwa aku, Airish Rashiana, adalah penerus spesies hijau. Dan kalau memang semua kejadian dalam buku ini adalah benar, adalah fakta, maka selama ini akademi telah berusaha menyembunyikan sejarah yang sebenarnya dan menggantinya dengan sejarah yang direkayasa yang diajarkan di saat-saat tertentu di saat kuliah atau praktek. Demikianlah aku mulai dihinggapi banyak pikiran, bingung. Aku lalu menemui Jena untuk menanyakan hal itu. Dia menanggapinya dengan antusias dan mengatakan bahwa itu memang sejarah yang selama ini disembunyikan. Ketika aku menanyakan padanya darimana dia mendapatkan buku itu, dia hanya berkata, “Waktu untuk mengatakannya belum tiba.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak puas dengan semua itu, aku menunjukkan buku itu kepada Alea, Sandra, dan Remi, dan memaksa mereka membacanya. Giliran pertama adalah Alea. Dia hanya membaca seperempatnya dan mengatakan bahwa dia tidak bisa menyimpulkan apakah kejadian yang diceritakan dalam buku itu adalah fakta atau hanya fiksi. Setelah aku menunjukkan tulisan tangan ibuku di halaman terakhir dan menjelaskan beberapa hal tentang itu, dia cenderung untuk mengatakan bahwa buku ini memang sejarah. Giliran selanjutnya adalah Sandra, terakhir Remi. Sandra menolak mengeluarkan pendapat atau sekedar memberi komentar, sedangkan Remi dengan yakin mengatakan bahwa buku itu memang sejarah, meskipun untuk itu dia harus mengakui bahwa generasi spesies merah sebelumnya telah melakukan kejahatan itu, perburuan dan pembantaian terhadap dua spesies: spesies hitam dan spesies hijau. Aku tidak cukup berani untuk menunjukkan buku itu kepada Andy maupun Lena, sehingga untuk benar-benar memastikannya, sekali lagi aku menemui Jena. Saat itu, dia menceritakan semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di buku ini diceritakan bahwa spesies hitam diburu dan dibantai sampai dua kali,” katanya dengan tegas. “Namun tidak dinyatakan dengan jelas apakah spesies hitam benar-benar punah pada perburuan kedua atau tidak. Faktanya, mereka tidak punah. Beberapa orang, hanya beberapa orang saja, selamat dan mampu bertahan sampai saat ini. Dalam suatu misi satu tahun lalu, ketika aku ditugaskan hidup di tengah-tengah manusia, di daerah selatan, di dekat laut, seseorang dari spesies hitam mendatangiku dan memberikan buku ini. Dia seorang wanita dengan pakaian serba hitam, sampai mengenakan kaca mata hitam segala. Dia lalu mengatakan bahwa dia seorang spesies hitam dan menceritakan apa yang spesies mereka alami, termasuk dua perburuan itu. Wanita itu menyuruhku menyimpan buku ini dan memberikannya padamu saat waktunya tiba.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Padaku? Dia mengenalku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jena mengangkat bahu dan berkata, “Aku tidak tahu apa dia mengenalmu atau tidak. Yang jelas dia tahu nama lengkapmu, dan dia tahu kau sedang ada di akademi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diam memikirkannya. Apa yang diinginkan wanita itu dariku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Beberapa hari yang lalu dia sudah menyuruhku untuk menjelaskan apa yang sedang dia lakukan jika kau bertanya,” katanya. “Kau ingin tahu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakan!” responku cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jena memandangku serius lalu berkata, “Mereka sedang mempersiapkan pembalasan atas dua perburuan yang mereka alami itu. Jumlah mereka sedikit, oleh karena itu mereka meminta kami—spesies jingga—membantunya. Dan keputusan kami adalah..” Dia seperti sengaja memotong kalimatnya dan diam cukup lama, membuatku semakin penasaran. “Membantunya,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tercengang mendengarnya lalu berkata dengan sedikit keras, “Kalian merencanakan kudeta?” Dia menaruh telunjuk di bibirnya, menyuruhku mengeluarkan suara pelan. Aku lalu berkata, “Ini tidak masuk akal. Apa kalian serius akan membantunya membunuh orang-orang yang selama ini hidup bersama dengan kalian? Sebagian dari mereka pasti kalian kenal dekat, bukan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menatapku tajam lalu berkata dengan getaran emosi di setiap katanya, “Seperti halnya spesies hitam, kami spesies jingga juga merupakan spesies campuran. Sudah sewajarnya spesies campuran memiliki bakat dan kemampuan lebih banyak daripada spesies-spesies pembentuknya. Kami menyadari bahwa hanya tinggal waktu sampai tiba saatnya mereka—spesies-spesies murni itu—melakukan hal yang sama pada kami, seperti yang mereka lakukan pada dua spesies campuran sebelumnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masuk akal sebenarnya, jika melihat fakta-fakta yang ada di dalam buku ini, jika yang diceritakan dalam buku ini benar-benar fakta. Namun, aku tetap tidak bisa membenarkan keputusan Jena dan spesiesnya ini. Apa yang dilakukan spesies-spesies murni itu memang salah dan bahkan keterlaluan, apalagi mereka melakukannya terhadap spesiesku sendiri. Pantas saja aku tidak pernah melihat spesies hijau lainnya di sini. Mungkin memang aku satu-satunya spesies hijau yang ada. Itu kemungkinan terburuk yang kubayangkan. Namun, tetap saja rencana kudeta ini mengerikan. Aku tak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi pada orang-orang itu, spesies-spesies itu. Akademi yang tenang dan nyaman akan berubah jadi lokasi perang. Banyak orang akan mati, banyak mayat akan dihitung besok harinya. Mengerikan. Sungguh, aku tak sanggup membayangkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu, apa yang dia inginkan dariku?” aku mencoba mengalihkan pikiranku dari bayangan kudeta itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia menawarimu untuk bergabung dalam kudeta ini, di pihak kami tentunya,” jawab Jena.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu tawaran bodoh!” kataku. “Mana mungkin aku akan menerima.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu, apa kau akan berada di pihak mereka saat kudeta itu terjadi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya itu membuatku diam, sangat diam. Situasinya sulit dan rumit. Di satu sisi aku membenci fakta yang ada dan memahami betul keinginan spesies hitam untuk membalas dendam serta kekhawatiran spesies jingga. Namun di sisi lain, di antara spesies-spesies murni itu, ada beberapa orang yang kukenal dekat, teman-temanku, pelindungku. Aku tak mungkin melampiaskan kebencianku atas apa yang terjadi pada spesiesku beberapa tahun yang lalu kepada mereka. Tak mungkin. Itu terlampau tak mungkin. Harus ada jalan tengah dari dua hal ini. Harus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah fakta dan sejarah yang sebenarnya aku ketahui, begitu pula rencana kudeta yang dijelaskan Jena. Tiga hari lagi menjelang kudeta seperti yang dia katakan. Aku masih belum menentukan sikap dan tidak juga berhasil menemukan jalan tengah. Tiga hari lagi. Jika pada akhirnya jalan tengah itu tidak juga kutemukan, apa yang harus kulakukan? Berada di pihak speseis hitam dan spesies jingga atau justru di spesies murni? Kalau bisa memilih, aku tak ingin berada di pihak mana pun. Namun aku juga tak mungkin hanya diam menyaksikan mereka saling membunuh. Itu mengerikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang aku berada di lobi. Aku tatap lekat-lekat lukisan raksasa di depanku. Sepasang mata itu, aku menemukannya. Seperti bersinar terang namun tertutupi warna-warna yang lain. Tiba-tiba saja lukisan ini mengingatkanku pada apa yang terjadi pada spesies ini, pada sejarah yang sebenarnya terjadi. Dengan menganggap sepasang mata yang bersinar itu sebagai spesies terkuat—waktu itu spesies hitam—maka warna-warna yang menutupinya adalah spesies-spesies lainnya yang merasa takut keberadaanya terancam sehingga warna-warna itu menutupinya dengan membentuk garis-garis tak beraturan, kacau, brutal.&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054150040858616865-1625107129481282136?l=ardy-kresna-crenata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/feeds/1625107129481282136/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/2010/07/spesies-hijau-chapter-10a.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054150040858616865/posts/default/1625107129481282136'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054150040858616865/posts/default/1625107129481282136'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/2010/07/spesies-hijau-chapter-10a.html' title='spesies hijau chapter 10a'/><author><name>Ardy Kresna Crenata</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_DBAkcWrPpOM/TDsdMhaYCUI/AAAAAAAAAAw/HFjbf4gJFYo/S220/ardy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054150040858616865.post-182160556551287775</id><published>2010-07-14T10:26:00.001+07:00</published><updated>2010-07-14T10:26:44.205+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='novel'/><title type='text'>spesies hijau chapter 9c</title><content type='html'>&lt;b&gt;Airish, 2011&lt;br /&gt;Taman Kencana, Bogor&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Setelah sekian lama, kami duduk berdua lagi di kursi malas ini. Sesaat yang lalu seolah-olah waktu bergerak mundur, membawaku melihat kembali hal-hal yang kualami di masa lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah kamu akan menghilang lagi?” tanya Valen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memandangnya tanpa bisa mengatakan apa pun. Matanya yang hitam mengingatkanku pada banyak hal yang kulalui dengannya selama hampir dua tahun ini. Mata itu selalu membuatku sulit bicara. Pada akhirnya, tanpa aku menjawabnya, Valen sudah tahu bahwa aku memang akan menghilang lagi. Dia tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada yang ingin kamu katakan, Sayang?” tanyanya. “Mengapa kamu diam sekali hari ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak, jawabku dalam hati. Memang ada banyak hal yang ingin sekali kukatakan padanya. Tentang akademi, tentang identitasku sebenarnya, bahwa aku adalah seorang spesies hijau, tentang fakta bahwa aku adalah anak yang dibuang ibu kandungku, banyak sekali. Namun tak satu pun bisa kukatakan, semuanya kembali ke terpendam. Akhirnya aku hanya bertanya, “Bagaimana perasaanmu padaku saat ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar pertanyaan itu, dia tersenyum lalu mengalihkan matanya ke langit yang mendung. Dia berkata, “Aku tak tahu kenapa kamu tiba-tiba menanyakannya. Tapi okelah, aku jawab. Perasaanku padamu selama hampir dua tahun ini.. naik-turun. Namanya juga manusia. Perasaan manusia itu kan fluktuatif. Ada kalanya perasaan itu begitu kuat sampai-sampai waktuku seharian habis untuk memikirkanmu. Namun adakalanya perasaan itu begitu lemah sampai-sampai aku lupa bahwa aku punya seseorang yang harus kuperhatikan. Saat ini, perasaan itu masih kuat, meskipun tidak sekuat yang pernah ada. Mungkin karena beberapa hari ini kita tidak bertemu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menatapku. Matanya yang hitam lagi-lagi membuat aliran darahku lebih cepat. Aku bertanya lagi, “Apakah itu berarti dengan semakin jarang kita bertemu, perasaanmu padaku semakin lemah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matanya memicing, dia tampak memikirkannya sesaat lalu menjawab, “Tidak sesederhana itu. Kadang akibat tidak bertemu cukup lama, perasaan itu malah makin kuat. Mengapa pertanyaanmu seperti ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengalihkan mataku ke rumput yang hijau dan rapi. Aku berkata, “Aku harus segera kembali ke suatu tempat yang tak bisa kukatakan. Teman-temanku menunggu di rumah sakit. Setelah kembali ke sana, aku tak yakin bisa sering keluar untuk menemuimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tempat seperti apa itu sebenarnya?” tanya Valen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah kubilang aku tidak bisa mengatakannya,” sergahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak kemudian kami hanya diam, membiarkan angin menelisik kulit leher.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita akan sangat jarang bertemu,” kataku. “Mungkin hanya satu kali dalam sebulan, mungkin lebih buruk dari itu. Apakah itu.. baik bagi kita?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat aku menatapnya, dia malah bertanya, “Menurutmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku menanyakannya padamu,” kataku ketus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tersenyum lalu kembali memandang langit. Disandarkannya tubuhnya ke kursi, kedua tangannya dia simpan di belakang kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu tahu ini tanggal berapa?” tanyanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menggeleng. Jujur saja tidak ingat ini tanggal berapa, yang kuingat adalah ini hari Senin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“14 November,” katanya. “Kamu ingat sesuatu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memikirkan tanggal itu. Melihat langit. Melihat rumput. Melihat pohon-pohon. Tapi aku sama sekali tak mendapat ide tentang tanggal 14 November itu. Aku menggeleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Valen tampak kecewa tapi kemudian tersenyum dan berkata, “Tepat dua tahun lalu, di sini kita pertama kali bertemu dan bicara satu sama lain.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiranku melesat ke dua tahun lalu. Aku memang ingat soal saat itu. Dia tiba-tiba muncul saat aku sedang membaca novel. Aku ingat betul novel yang kubaca. The Host-nya Stephenie Meyer. Tapi aku benar-benar tidak ingat kalau hari itu tanggal 14 November.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kursi ini begitu berarti bagiku,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya. Bagiku juga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selama hampir dua tahun ini, kita mengalami banyak hal,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya. Banyak hal.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayah dan ibuku sudah lama tiada,” dia mengatakannya sambil memandang langit yang semakin redup. “Aku hanya punya seorang kakak, itu pun di tempat yang jauh. Selama ini, yang selalu menemaniku, yang selalu membawa kebahagiaan ke dalam kehidupanku yang kelabu, adalah kamu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia memandangku sendu. Aku meraih tangannya dan menggenggamnya. Aku mungkin bukan seorang Mentalist, tapi aku bisa merasakan kepedihan yang dia rasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa kamu benar-benar harus kembali ke tempat itu? Meninggalkanku di sini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan ini menyakitkan, sungguh menyakitkan. Aku berkata, “Bagaimanapun juga aku harus kembali. Situasinya rumit dan aku tak bisa menjelaskannya padamu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesedihan di kedua matanya semakin jelas terlihat. Dia lalu bertanya, “Apa kamu akan kembali.. suatu hari?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangguk dan menjawab, “Suatu hari.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia lalu tersenyum, namun kesedihan di kedua matanya yang hitam itu tidak lantas hilang. Dikatakannya, “Kalau begitu aku akan menunggu suatu hari itu. Di sini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak pernah melihatnya menangis dan memang tidak ingin melihatnya menangis. Melihatnya menangis hanya akan memaksa air mataku keluar. Dan melihatnya sedih seperti ini, memaksakan dirinya tersenyum, justru membuatku merasa berat, sakit. Kusentuh kedua pipinya dengan tanganku dan mengusapnya. Di dalam hati aku berjanji bahwa suatu hari itu akan ada, akan ada suatu hari ketika aku kembali ke tempat ini, dan kami akan bersama-sama menikmati apa yang ada, bermalas-malasan, membiarkan waktu berlalu dan berlalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba hujan turun, perlahan. Butir-butir airnya jatuh di tanganku, di wajahku, di wajahnya. Dia menengadah dengan mulut terbuka sehingga hujan itu masuk ke mulutnya. “Hujan,” katanya. Valen memang seorang lelaki yang menyukai hujan. Dipegangnya kedua tanganku. Dia menatapku. Tatapannya berbeda dengan tadi, kali ini dia tampak bahagia. Hujan memang selalu membuatnya merasa lebih baik. Dia bahkan bisa berlama-lama di tengah-tengah hujan deras, apalagi hanya gerimis seperti ini. Tiba-tiba saja bibirnya menyentuh jari-jemariku. Matanya terpejam saat diciumnya jari-jemariku itu satu per satu. Aku seperti merasa tanganku disengat beberapa kali. Jantungku berdegup lebih cepat, membuat aliran darahku lebih deras dari seharusnya. Dia lalu mendekatkan wajahnya ke wajahku. Bisa kulihat dengan jelas butiran-butiran air hujan jatuh dan mengalir di wajahnya. Dia semakin dekat. Aku kini merasakan degup jantungku lebih cepat lagi. Suhu tubuhku, terutama di bagian leher ke atas, seperti naik beberapa derajat. Aku sudah tak peduli lagi dengan air hujan yang membasahi rambutku. Wajahnya terus bergerak. Hidungnya menyentuh hidungku. Dia memejamkan matanya. Aku melakukan hal yang sama. Bisa kurasakan napasnya jatuh di kulit wajahku, membuat degup jantungku semakin kencang. Aku gugup. Ya, aku gugup. “Berjanjilah untuk kembali!” katanya. Aku membuka mataku dan seketika saja bibirnya menyentuh bibirku. Dia memagutku di tengah-tengah gerimis. Bibirnya yang lembut menekan bibirku lalu menariknya. Aku merasakan hangat, aku merasakan sesuatu dalam diriku tersenyum. Tanpa kusadari dia menciumku cukup lama. Ciuman kami berakhir saat handphone di saku celanaku berdering. Kami sama-sama tersenyum. Aku merogoh handphone itu dan membaca sms yang masuk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku harus pergi sekarang,” kataku. “Temanku sudah menunggu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan satu gerakan cepat yang tak bisa kuhindari, dia mencium pipiku. Aku sedikit terkejut lalu menatapnya. “Kuantar sampai rumah sakit,” katanya.&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054150040858616865-182160556551287775?l=ardy-kresna-crenata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/feeds/182160556551287775/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/2010/07/spesies-hijau-chapter-9c.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054150040858616865/posts/default/182160556551287775'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054150040858616865/posts/default/182160556551287775'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/2010/07/spesies-hijau-chapter-9c.html' title='spesies hijau chapter 9c'/><author><name>Ardy Kresna Crenata</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_DBAkcWrPpOM/TDsdMhaYCUI/AAAAAAAAAAw/HFjbf4gJFYo/S220/ardy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054150040858616865.post-9145805483147629257</id><published>2010-07-14T10:25:00.001+07:00</published><updated>2010-07-14T10:25:01.292+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='novel'/><title type='text'>spesies hijau chapter 9b</title><content type='html'>Besok harinya ketika kami berpapasan di kampus, dia menyapaku. Tanpa sadar aku pun membalas sapaannya dan kami mulai mengobrol sedikit-sedikit. Dan entah disengaja atau tidak, frekuensi kami berpapasan jadi lebih tinggi dari hari-hari sebelumnya, dan kami pun terjebak dalam percakapan-percakapan yang sebenarnya tidak begitu penting. Kadang-kadang kami bertemu di gerbang depan, kadang-kadang di kantin, kadang-kadang di koridor, di dekat ruang kuliah, di lapangan olah raga. Singkatnya kami jadi sering bertemu dan mengobrol. Itu membuatku menyadari bahwa ada sesuatu yang aneh dengan perasaanku terhadapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saking seringnya kami bertemu dan mengobrol, teman-temanku sampai menduga bahwa aku sudah menjalin hubungan dengannya tanpa memberitahu mereka. Mereka kesal dan memaksaku mentraktir mereka jika ingin mereka memaafkanku. Tentu saja aku menolak. Tak ada hubungan apa-apa antara aku dengannya. Tak ada yang spesial. Setidaknya sampai hari itu tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari di sebuah kursi malas di taman, ketika aku sedang membaca novel The Host yang sempat berhenti kubaca karena banyak tugas, wajah Valen muncul dari belakang, di sebelah kananku dan begitu dekat dengan wajahku. Ketika aku menoleh, hidung kami hampir bersentuhan dan itu membuatku gugup. Segera saja kualihkan lagi mataku ke novel yang kupegang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai juga,” kataku sambil mencari-cari kalimat mana yang tadi kubaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Valen berjalan ke arah kanan dan duduk di sebelahku. Kali ini jarak kami cukup dekat untuk bisa merasakan suhu tubuh masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Belum selesai?” tanyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Belum. Kemarin-kemarin banyak tugas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah jadi hal yang biasa aku bicara dengan Valen sehingga tak seharusnya aku gugup. Tapi bisa kurasakan kedua kakiku sedikit bergetar. Kami pun lalu bicara tentang berbagai hal yang sebenarnya tak begitu penting. Saat itu mungkin aku sedang ingin membaca habis dua atau tiga chapter dari novel yang kupegang, tapi Valen mengajakku bicara tentang tugas-tugasnya di kampus, tentang dosen-dosen yang unik, tentang teman-temannya yang menyangka bahwa kami berpacaran, tentang taman ini, tentang banyak hal. Jika di hari pertama kami bertemu di sini, aku begitu kesal karena dia mengganggu waktuku membaca novel, tidak dengan kali ini. Aku malah menutup novel di tanganku dan sibuk terlibat dalam percakapan yang tidak begitu penting itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Airish,” katanya saat percakapan kami sudah berlangsung hampir satu jam. “Kita sudah sering menghabiskan waktu bersama seperti ini. Kita sudah sering bicara satu sama lain, berbagi cerita, berbagi kesan. Aku berpikir mungkin..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia berhenti begitu saja, membuatku penasaran sekaligus deg-deg-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin apa?” tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku berpikir mungkin kita bisa..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi dia berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bisa apa?” aku semakin tak sabar sekaligus tegang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dia mengatakan sesuatu dengan sangat cepat sambil menatap kedua mataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku berpikir mungkin kita bisa menjalin sebuah hubungan seperti pacaran atau semacamnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajahku pasti tampak bodoh jika aku bisa melihatnya. Dia masih menatapku dengan kedua matanya yang hitam. Tapi kali ini berani bertaruh bahwa dia pun sama tegangnya denganku. Aku mendengar bunyi detak jantungku lebih kuat dari biasanya. Baru kusadari aku tidak menarik napas selama beberapa detik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana? Kamu mau jadi pacarku?” tanyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menarik napas dan menghempaskannya perlahan. Kualihkan mataku ke udara. Awan-awan bergerak perlahan membentuk sesuatu lalu berubah lagi. Aku merasakan angin. Aku merasakan matahari yang dua jam lagi terbenam di barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak,” jawabku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh?” Valen tampaknya terkejut dengan jawabanku. “Apa katamu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku bilang tidak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menatapnya, menantikan perubahan di raut wajahnya. Tapi dia hanya sebentar terkejut lalu kembali tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak?” dia mengatakannya dengan tenang sambil memiringkan kepalanya ke kiri. Melihat keningnya berkerut dan kedua alisnya bertemu, serta salah satu ujung bibirnya terangkat, mau tak mau aku menahan mulutku dengan tangan kiriku agar aku tidak tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak kalau kau tidak memenuhi syarat yang kuajukan,” kataku setelah berhasil menahan diri untuk tidak tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa syaratnya?” katanya mengangkat alisnya yang kiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baca satu chapter untukku!” aku menyerahkan novel The Host yang tebalnya lebih dari tujuh ratus halaman itu padanya. Dia mengambilnya dan membuka halaman yang tadi kubaca. “Keras-keras!” kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia memandangku sejenak, seperti ingin mengumpat atau mengatakan sesuatu yang konyol, tapi kemudian dibacanya kata-kata pertama dari chapter yang kutandai. Dia membacanya begitu pelan sehingga aku memukul pahanya untuk membuat dia membaca keras-keras. Baru satu halaman, dia sudah meminta berhenti. Aku menyuruhnya lanjut tapi dia tak mau. Akhirnya aku berdiri dan mengancam akan pergi jika dia tidak lanjut membaca. Dia pun mengalah dan terus membaca sampai beberapa halaman. Sejak saat itu, kami berpacaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan itu seperti laut di tepi pantai. Ada kalanya begitu tenang karena angin hanya sedikit berkunjung lalu pergi. Ada kalanya angin begitu kencang sehingga laut itu bergelombang, menciptakan ombak-ombak yang mengancam siapa saja yang saat itu berada di pantai. Dan hubungan kami pun seperti itu. Dua minggu pertama rasanya tenang-tenang saja, mengalun, mengalir. Lalu masalah demi masalah mulai muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu setelah tahun baru 2010, sepulang dari kuliah pagi aku hendak mampir dulu ke kost-an Valen. Biasanya jika tidak ada kuliah, dia tidur sampai siang. Aku tak suka jika dia sedang malas, meski kadang-kadang dia bisa sangat rajin juga. Ketika aku tiba di rumah kontrakannya, teman-temannya yang kebetulan ada seperti menahanku untuk tidak menemuinya segera. Aku tak suka dengan semua itu, seolah-olah ada sesuatu yang mereka sembunyikan dariku. Dan ketika aku mengambil kesempatan untuk berlari menaiki tangga ke kamar Valen, di kamarnya itu aku melihat seorang wanita sedang melakukan sesuatu di komputernya. Valen tak ada, tapi ada suara air dari kamar mandi. Aku berjalan pelan menuju pintu kamarnya yang dibiarkan terbuka. Kuamati wanita itu. Dia mengenakan kaos kuning ketat dan celana pendek dan aku bisa melihat pahanya yang putih. Rambutnya lurus dan sedikit diwarnai merah. Saat aku sampai di muka pintu aku tak sengaja menendang sesuatu sehingga dia menoleh ke belakang, ke arahku. Matanya hitam, hitam yang sama dengan Valen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Luw siapa?” tanyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku baru saja akan menjawab ketika pintu kamar mandi terbuka dan Valen keluar dari sana hanya dengan sehelai handuk putih yang menutupi bagian bawah tubuhnya. Dia kaget sekali melihatku berdiri di muka pintu. Matanya bergantian menatap wanita itu dan menatapku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Valen, dia siapa?” tanyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menatap Valen. Wajahnya begitu tegang sehingga dia lupa menutup mulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sejak kapan kau berada di sini?” tanyaku pada si wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semalam,” katanya enteng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melihat Valen tapi dia tidak juga mengatakan apa pun. Aku geram. Aku panas. Langsung saja aku berbalik menuruni tangga lalu berjalan cepat-cepat menuju jalan, kembali ke kampus. Aku sempat mendengar Valen memanggil namaku tapi kubiarkan saja. Beraninya! Beraninya dia mempermainkanku! Begitulah yang kupikirkan saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore harinya, Valen menemuiku di kampus setelah kuliah hari itu selesai. Dia datang dengan wanita itu. Dan aku langsung bergerak menghindarinya. Tapi dia meraih tanganku yang kiri dan menahannya. Aku menyerah. Kubiarkan ia bicara sementara mataku menghakimi wanita di sampingnya. Dia tak tersenyum atau pun apa. Dia hanya balas menatapku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Valen mengatakan bahwa aku salah paham. Wanita itu kakaknya, katanya. Dia datang semalam dan ingin menginap untuk dua hari. Memang ada kemiripan di antara mereka berdua, terutama bagian mata, tapi aku tidak mau percaya begitu saja. Barulah ketika wanita itu menunjukkan KTP-nya padaku dan Valen menunjukkan KTP-nya sendiri, aku menyadari bahwa mereka memang bersaudara. Itu bisa diketahui dari nama belakang mereka, alias nama keluarga. Valentino Nasaria. Siska Nasaria. Mereka berbeda empat tahun. Masalah itu pun selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah selanjutnya adalah ketika aku begitu dekat dengan seorang mahasiswa dari jurusan lain. Dia laki-laki dan Valen cemburu. Meskipun aku sudah berulang kali mengatakan padanya bahwa kami hanya berteman dan aku mengenalkan Valen padanya, rasa cemburunya tidak hilang. Namanya Ivan. Aku dan dia memiliki banyak kesamaan. Aku suka membaca, dia juga. Aku suka hal-hal berbau Jepang seperti anime, dorama, dan kebudayaannya, dia juga. Aku suka kucing, dia juga. Masih banyak hal-hal lainnya. Kami bertemu di suatu event di kampus dan kebetulan tempat duduk kami bersebelahan. Sejak saat itu dia sering menghubungiku untuk melakukan hal-hal yang sama-sama kami sukai. Singkatnya, kami jadi begitu dekat dalam dua minggu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya Valen tidak mengeluh. Lalu sikapnya berubah aneh sejak aku jadi sering membahas hal-hal yang kulakukan dengan Ivan. Ketika kukatakan apakah dia baik-baik saja, dia selalu menjawab, “Aku tidak apa-apa.” Tapi selalu saja sikapnya berubah tak menyenangkan saat aku membahas hal sekecil apa pun tentang Ivan. Bahkan menyebut namanya saja, sepertinya taboo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menceritakan hal ini kepada teman sekelasku, Lia, dan dia mengatakan dengan yakin bahwa Valen cemburu. Tapi ketika aku menanyakannya sendiri kepada Valen, dia mengatakan dia tidak cemburu. “Aku baik-baik saja,” katanya. Lama-lama aku kesal dengan situasi ini dan memutuskan untuk tidak bertemu Ivan dulu untuk beberapa hari. Dengan begitu, kuharap sikap Valen akan kembali seperti semula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kenyataannya tidak semudah itu. Sikap Valen memang sedikit demi sedikit kembali seperti semula tapi masalah lain muncul. Ivan tidak bisa menerima keputusanku yang begitu saja menghindar darinya tanpa mengatakan apa pun. Dia beberapa kali mencoba menghubungiku, menelepon di saat aku kuliah, tapi tak pernah kuangkat. Sampai suatu hari kami bertemu secara tidak sengaja di kantin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa maksudnya semua ini?!” Ivan menghampiri mejaku lalu membentak. Saat itu aku sedang makan bersama dua teman sekelasku. Mereka jelas sekali tak senang dengan kelakuan Ivan tapi hanya diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa?” tanyaku pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan berlagak bego! Lo tahu apa yang gua maksud!” dia lagi-lagi membentak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama dua minggu kami dekat, dia tidak pernah membentakku seperti ini, apalagi di hadapan banyak orang. Aku mulai kesal tapi sebisa mungkin kutahan emosiku. Aku berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa masalahmu?” tanyaku pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masih saja..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakan saja apa masalahmu dan berhenti membentakku!” kataku akhirnya, sedikit membentak. Lucu sekali, aku menyuruhnya berhenti membentak sementara aku sendiri membentaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berani-beraninya lo bentak gua! Lo pikir lo siapa! Wanita jalang!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plak! Tangan kananku begitu saja menampar pipinya sehingga ia diam sejenak. Aku tahu yang kulakukan ini buruk, tapi aku tak menyesal. Tak akan kubiarkan siapa pun menghinaku seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah setan apa yang merasuki Ivan, dia lalu melepaskan tangan kirinya hingga mengenai wajahku dan aku terjengkang. Sakit sekali rasanya ketika pantatku membentur lantai. Teman-teman semejaku berdiri dan memaki Ivan. Ivan hanya melirik mereka sesaat lalu menghambur ke arahku dengan tangan kanannya dikepal. Saat itu, Valen muncul tiba-tiba, memaksa Ivan menjauh dariku. Valen lebih tinggi dari Ivan. Itu membuat Ivan hanya menatapnya garang lalu pergi meninggalkan kantin. Valen membantuku berdiri. Ekspresinya saat itu begitu khawatir. Tiba-tiba saja dia meminta maaf dan berkata, “Aku tidak seharusnya meragukanmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sedikit tak mengerti apa yang dikatakannya saat itu. Tapi aku senang Valen sudah kembali. Aku rangkul dia. Kubiarkan suhu tubuh kami bertemu dan saling menyesuaikan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah demi masalah lainnya muncul satu per satu dan meskipun kadang masalah itu sederhana, menyelesaikannya menjadi sulit kalau lebih dulu terbawa emosi. Masalah itu seperti bumbu kehidupan. Tanpa masalah, hidup akan terasa hambar. Tapi jika terlalu banyak masalah, hidup akan terasa kejam dan sulit dilalui. Satu hal yang kupahami dari semua yang telah kami lalui bersama, masalah itu ada untuk membuat kami lebih baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah suatu waktu, Valen menghilang. Selama tiga hari aku tidak melihatnya di kampus. Kukira dia sakit, tapi saat aku mengunjungi kamar kost-nya, dia tak ada. Teman-teman serumahnya mengatakan bahwa sudah beberapa hari Valen tidak ada di sana. Aku mencoba menghubunginya beberapa kali, tapi selalu berakhir dengan suara operator yang menyaranku menghubunginya lagi lain kali. Kukirim sms, banyak sms, sekedar untuk mengetahui di mana dia berada, tapi tak satu pun sms itu dibalas. Aku kesal tapi juga khawatir. Sesuatu pasti telah terjadi dan itu bukan sesuatu yang baik. Aku bisa merasakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu sebelum pulang setiap harinya, aku menyempatkan diri ke kost-an Valen tapi tak sekali pun ada tanda-tanda keberadaannya. Aku mulai gila. Kuceritakan semua ini kepada teman-teman sekelasku, mereka lalu menyuruhku mencari tahu alamat rumahnya—rumah dia yang sebenarnya—lalu pergi ke sana. Kurasa itu satu-satunya cara yang masuk akal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam harinya, baru saja aku mematikan lampu kamar, ada sms masuk. Dari Valen. Cepat-cepat kubuka dan kubaca. Dia ingin bertemu. Besok pagi di kursi malas di taman. Aku mencoba menghubunginya tapi lagi-lagi hanya dibiarkan sampai kudengar suara operator. Kukirim sms tapi dia tak membalas. Aku kesal. Luar biasa kesal. Akhirnya kumatikan saja handphone dan membenamkan diri di balik selimut. Meskipun begitu, aku tak bisa tidur nyenyak karena terus memikirkan hari esok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika besok paginya aku ke taman, kutemukan dia sedang duduk di sebuah kursi malas yang sering kududuki. Dia mengenakan jaket hitam tebal. Kepalanya tertunduk. Dia seperti kedinginan atau seperti menahan sesuatu, sesuatu yang ingin segera dilepaskannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai,” aku menyapanya dan langsung duduk di samping kanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menatapku. Kedua matanya yang hitam itu tampak sayu, tampak sendu. Seperti biasa aku merasakan sesuatu yang aneh saat kedua matanya itu menatapku. Rasanya begitu tenang dan nyaman. Aku tersenyum karena dia tak juga mengatakan apa-apa, hanya menatapku tanpa sekali pun berkedip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita putus,” katanya dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak menyangka akan mendengar ini dari mulutnya yang bergerak pelan itu. Aku seperti mendengarnya lagi dan lagi. Seolah-olah angin bereinkarnasi, mendengungkan kata-kata itu lagi dan lagi di telingaku. Aku ingin sekali meyakini bahwa ini hanya mimpi atau sekedar ilusi, tapi ini nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu bilang apa?” tanyaku pelan sambil tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangannya bergerak meraih tanganku. Kurasakan kulit tangannya yang dingin menyentuh kulit tanganku. Aku menggenggamnya, meremasnya begitu kuat. Tapi mataku masih saja menatap kedua matanya. Ekspresi di wajahnya tidak berubah. Didekatkannya tanganku ke wajahnya. Dia lalu mencium jari-jari tanganku yang dia genggam. Matanya terpejam, cukup lama, kemudian terbuka dan dia berkata, “Aku tak bisa lagi terus bersamamu. Kita putus saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini seperti petir yang tiba-tiba muncul menyambar saat aku sedang mengumpulkan hujan. Ini sungguh tiba-tiba. Dari mana semua ini berasal? Apakah aku melakukan sesuatu yang membuat dia membenciku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa maksudmu? Mengapa tiba-tiba..?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu akan memahaminya nanti,” katanya memotong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan dia melepaskan tanganku lalu berdiri. Matanya sempat menyelimutiku dengan kepedihan. Aku tahu dia berusaha menahan kepedihan yang dia rasakan. Dia berbalik dan berjalan begitu saja, berlalu, membiarkanku di kursi ini, hanya ditemani angin. Mungkin seharusnya aku berdiri dan berlari mengejarnya. Tapi kedua kakiku terasa begitu berat. Tubuhku menolak untuk berdiri. Yang kulakukan selanjutnya adalah menunduk, sekuat tenaga menahan air mataku agar tidak jatuh, meskipun gagal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah dua minggu sejak hari itu. Aku tak juga bisa melupakannya. Dia seperti penyakit yang sudah menyebar hingga ke jantung dan hanya akan hilang jika jantungku berhenti berdetak. Teman-temanku cukup pengertian dengan tidak menyebut-nyebut namanya saat kami bersama. Tapi kadang, secara tidak sengaja ada hal-hal yang mengingatkanku padanya. Terutama di saat hujan. Aku sedang berdiri di koridor di lantai dua, menunggu dosen datang. Teman-temanku sibuk dengan obrolannya masing-masing. Aku melihat hujan, mengamati butiran-butirannya yang jatuh. Lalu begitu saja kusodorkan tangan kananku untuk menadahnya. Butiran hujan itu jatuh tepat di tengah telapak tanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan membuatku tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku seperti mendengar suaranya. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri tapi dia tak ada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia memang menyukai hujan. Setiap kali hujan turun dan kami sedang bersama, dia selalu menyeracau tentang hujan, hal-hal yang sebenarnya tidak begitu kupahami. &lt;br /&gt;Hujan itu membuatku tenang. Dia seperti datang untuk mendinginkan ruang-ruang di kepalaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak pernah begitu menyukai hujan, apalagi jika sudah deras. Tapi sejak bersamanya, hujan selalu berarti sesuatu bagiku. Hujan seperti membawa kembali adegan-adegan yang pernah kulalui bersamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak bisa mengatakan bahwa dia gila hujan. Tapi dia cukup gila untuk memaksaku berlari di tengah-tengah hujan deras saat menuju rumah. Aku pun masih ingat saat dia diam di depan pagar rumah saat hujan begitu lebat hanya untuk menungguku memanggilnya. Dia suka mengeluh kalau aku membawa payung dan memaksanya memakainya. Suatu kali saat angin cukup kencang, dia sengaja melepaskan payung yang kubawa dan kami pun basah sebasah-basahnya. Tapi dia hanya tersenyum. Senyumnya itu membuat hujan tak terasa dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan membuatku tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore harinya, di gerbang depan, aku bertemu seseorang yang tak asing. Dia kakaknya Valen, Siska. Aku menyuruh teman-temanku pulang lebih dulu. Ada sesuatu yang ingin disampaikan Siska dan aku mengajaknya berjalan menuju pertigaan. Kami berjalan pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Valen mungkin akan membenciku dengan menceritakan semua ini padamu,” katanya. “Tapi kurasa lebih baik kau tahu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mendengarkannya sambil menunduk. Mengamati trotoar yang kulewati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lihat ini!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menunjukkan pergelangan tangannya yang kiri. Di sana ada sesuatu seperti bekas luka, luka iris. Aku menatap Siska penuh tanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku baru keluar dari rumah sakit semingu yang lalu,” katanya. “Selama tiga minggu sebelumnya, aku menghabiskan siang-malamku di kasur rumah sakit yang keras. Kau tahu kenapa aku sampai dibawa ke rumah sakit?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menatapku, menungguku menjawab. Tapi aku hanya menggeleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku mencoba mengiris nadiku,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun aku tahu dia akan mengatakannya, tetap saja aku terkejut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dua bulan ini kami mengalami hal yang sulit,” katanya. Kurasa kata ‘kami’ ditujukan untuk dia dan adiknya. “Ibu kami meninggal dalam suatu kecelakaan, tepat dua bulan yang lalu. Maka kami hanya punya ayah. Dan karena di rumah tak ada pembantu, aku pun harus pulang untuk membantu ayah menjaga rumah. Valen juga pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu sesuatu terjadi dengan ayah. Ayah berubah. Dia sering pulang larut malam dalam keadaan mabuk, menyeracau tentang ibu. Aku hanya bisa membawanya ke kamarnya dan membaringkannya di kasur. Aku sendiri lelah karena seharian melakukan pekerjaan rumah mulai dari mengepel, mencuci, memasak. Belum lagi ada panggilan beberapa kali dari kantor agar aku segera masuk kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Valen sama sekali tak membantu. Yang dia lakukan setiap harinya adalah mengumpulkan barang-barang ibu di kamarnya lalu diam di sana beberapa jam. Aku tak tahu apa yang dia lakukan. Lalu ketika malamnya ayah pulang dalam keadaan mabuk dan menyeracau soal ibu, Valen tampak begitu muak. Dia lalu keluar. Entah pergi kemana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semua itu berlangsung dari hari ke hari. Aku semakin lelah karena tak seorang pun di sana yang benar-benar membantuku menjaga rumah. Telepon dari kantor entah sudah berapa kali kuabaikan. Hanya tinggal menunggu waktu sampai aku dipecat. Saat itu barulah aku menyadari bahwa peran ibu di keluarga begitu vital.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayah terlalu mencintai ibu sehingga dia tak bisa menerima bahwa ibu sudah tiada. Valen tampaknya sama. Dia hanya terus menyepi, menjauh dari semua kesedihan yang dia rasakan, tapi tak bisa membiarkan ibu pergi. Dan aku bukannya tanpa masalah. Aku juga sedih. Aku juga kehilangan. Tapi sebagai satu-satunya wanita yang tersisa, aku berusaha menjadi kuat untuk menjaga keluarga ini. Tapi tak ada yang mendengarku. Tak ada yang menghargai usahaku. Ayah dan Valen hanya sibuk dengan kepedihannya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sampai suatu hari aku tak kuat lagi. Ayah tidak pulang malam itu. Valen masih saja mengurung diri di kamar dan keluar saat malam sudah larut. Besok paginya ada kabar dari tetangga bahwa mereka menemukan ayah. Sayang, mereka menemukannya dalam keadaan tak bernyawa. Aku sungguh terpukul. Valen belum kembali sejak semalam keluar. Aku kembali ke rumah. Sendiri. Rumah begitu kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku masuk ke kamar ayah dan aku teringat malam-malam saat dia pulang dalam keadaan mabuk. Aku masuk ke kamar Valen, di sana ada banyak barang ibu yang ditata rapi di satu sudut. Aku jadi ingat ibu. Aku jadi ingat kondisi tubuhnya yang hancur akibat kecelakaan. Aku keluar dari kamar itu, tapi semuanya seperti mengikutiku. Bayangan-bayangan itu seperti mengerumuniku, memenuhi kepalaku. Aku mencoba bersembunyi. Di balik sofa, di belakang rumah, di dalam lemari, tapi bayangan-bayangan itu masih saja mengikutiku. Bahkan ketika aku di kamar mandi, aku tak bisa tenang sedikit pun. Handphone di saku celanaku berdering. Telepon dari kantor, lagi. Aku sudah tak kuat lagi. Kuambil cutter yang ada di kamar mandi dan kuiris nadiku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berhenti di pertigaan. Apa yang diceritakannya itu sungguh memilukan. Aku tak tahu kalau selama dua bulan ini Valen mengalami masa yang sulit. Dia tak pernah mengatakannya padaku. Tak pernah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ketika aku bangun, aku sudah terbaring di rumah sakit. Valen memegang tanganku dan tampak begitu khawatir. Sejak saat itu dia menemaniku hampir setiap saat di rumah sakit. Sesekali dia keluar hanya untuk membeli makan atau mandi. Dia mengatakan padaku bahwa dia menyesal karena hanya peduli pada apa yang dia rasakan dan mengabaikan aku dan ayah. Dia lalu berjanji akan selalu menjagaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sebenarnya bahagia mendengarnya. Tapi aku tak mau dia menghabiskan waktunya hanya untukku. Dia berhak menikmati waktunya sendiri. Aku menyuruhnya menemuimu agar dia bisa sedikit rileks.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siska memandangku. Satu per satu mobil berlalu di depan kami. Langit mendung. Sebentar lagi hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi saat dia kembali,” lanjutnya. “Dia mengatakan bahwa dia tak bisa lagi menghabiskan waktu dengan seseorang selain keluarganya. Aku terkejut. Aku kecewa dan memarahinya saat itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siska berhenti sejenak untuk menarik napas panjang dan menghempaskannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebenarnya aku mengerti apa yang dia rasakan. Dia begitu menyalahkan dirinya karena mengabaikan keluarga. Kini keluarga kandungnya hanya tinggal aku. Kuharap kau mengerti mengapa dia begitu ingin menghabiskan waktunya untuk menjagaku. Meskipun aku menolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku bisa menjaga diri. Dan dia pun masih harus menyelesaikan kuliahnya. Dan kami masih beruntung karena ada paman dan bibi yang masih peduli pada kami.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia diam. Aku melihat langit yang semakin mendung. Angin yang sesekali datang terasa dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Airish,” dia memegang pundakku. Aku menoleh. “Meskipun dia mengatakan ingin menghabiskan waktunya hanya untuk keluarga, hanya untukku. Tapi aku tahu bahwa dia sebenarnya ingin sekali menghabiskan sebagian waktunya denganmu. Dia membutuhkanmu. Tapi dia bersikeras menolak perasaannya itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bingung. Sama sekali tak tahu apa yang harus kukatakan. Ini begitu rumit. Aku masih sakit hati karena dia tiba-tiba saja memutuskanku tanpa alasan yang jelas. Tapi setelah mendengar semua ini, aku bisa mengerti mengapa dia melakukannya. Tapi, rasanya masih ada sesuatu..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setelah aku keluar dari rumah sakit,” kata Siska, “aku menyuruhnya fokus ke kuliah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia ada di sini?” tanyaku antusias.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seharusnya,” jawabnya. “Kau pasti tahu di mana dia saat ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memikirkan sejenak di mana kemungkinan dia menghabiskan waktunya sendirian. Ah, ya. Aku tahu. Angkot mendekat dari kanan. Aku menyetopnya lalu naik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nggak ikut?” tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Salam saja buat Valen,” kata Siska melambaikan tangan dan tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menemukannya sedang duduk di sebuah kursi malas di taman. Kepalanya tertunduk. Di tangannya ada sebuah buku. Entah apa. Mungkin novel. Dia belum menyadari kehadiranku. Aku melangkah sepelan mungkin. Setelah cukup dekat, aku menyapanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai!” aku tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menoleh. Kaget. Lalu kembali membaca buku di tangannya. Aku perlahan duduk di kursi itu, di sebelah kanannya. Ini mengingatkanku pada saat pertama kali kami bertemu di tempat ini. Waktu itu aku sedang membaca novel dan dia tiba-tiba muncul menyapaku. Dia tersenyum, tapi aku tak menanggapinya. Kali ini, situasinya terbalik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siska menceritakan semuanya padaku,” kataku tenang. Dia masih belum menanggapiku. “Kini aku mengerti mengapa kamu melakukannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia masih saja membuka halaman demi halaman novel yang dia baca. Aku berusaha tenang. Sedikit saja terbawa emosi, semuanya akan kacau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu ingat suatu hari kamu pernah bilang padaku?” kataku. “Perasaan itu bukan sesuatu yang harus dihindari, tapi sesuatu yang harus dirasakan.” Itu yang dia katakan dulu di rumahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia belum juga menanggapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tahu kamu sedih. Aku tahu kamu menyalahkan dirimu atas semua yang terjadi. Tapi kamu tak bisa menyalahkan dirimu selamanya. Kamu butuh seseorang untuk berbagi kesedihan, untuk membantumu melewati semua ini. Kamu membutuhkanku seperti aku membutuhkanmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia masih saja membaca novel itu tanpa menghiraukanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu boleh bohong pada orang lain, tapi tidak pada dirimu sendiri. Sekarang aku tanya padamu, apa kamu membutuhkanku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menutup novel di tangannya. Akhirnya dia merespon juga. Perlahan dia menoleh ke arahku. Kedua matanya yang hitam itu kulihat lagi setelah sekian lama. Rasanya menenangkan, menyejukkan. Aku biarkan dia meresapi semua yang kukatakan. Aku beri dia ruang untuk berpikir. Kalau kondisinya dibalik, dia pasti akan menanyakan hal yang sama sampai beberapa kali hingga aku menjawab. Tapi aku hanya memberinya ruang dan waktu untuk merenungkan semuanya sampai akhirnya dia memberikan jawaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disimpannya novel itu di sebelah kirinya. Kedua tangannya bergerak meraih tanganku. Dia meremasnya erat dan aku pun meremasnya. Dia mendekatkan tubuhnya. Aku bisa mencium aroma tubuhnya yang khas. Dia semakin dekat. Hidung kami bersentuhan. Aku merasakan jantungku berdegup lebih cepat, darah di tubuhku menderas, suhu tubuhku naik, terutama di bagian kepala. Lalu dia berbisik, “Aku membutuhkanmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suaranya itu seperti angin segar saat hari begitu panas, atau seperti air dingin saat kita begitu haus. Suaranya itu memberiku kehidupan, memberiku bahagia. Dia lalu memagutkan bibirnya ke bibirku. Aku menyambutnya. Kurasakan momen ini dengan mata terpejam. Seandainya bisa, aku ingin bisa menghentikan waktu agar momen ini bisa kunikmati sekian lama. Lalu hujan mulai turun, sedikit demi sedikit.&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054150040858616865-9145805483147629257?l=ardy-kresna-crenata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/feeds/9145805483147629257/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/2010/07/spesies-hijau-chapter-9b.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054150040858616865/posts/default/9145805483147629257'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054150040858616865/posts/default/9145805483147629257'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/2010/07/spesies-hijau-chapter-9b.html' title='spesies hijau chapter 9b'/><author><name>Ardy Kresna Crenata</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_DBAkcWrPpOM/TDsdMhaYCUI/AAAAAAAAAAw/HFjbf4gJFYo/S220/ardy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054150040858616865.post-3514375032835696639</id><published>2010-07-14T10:23:00.001+07:00</published><updated>2010-07-14T10:23:52.847+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='novel'/><title type='text'>spesies hijau chapter 9a</title><content type='html'>&lt;big&gt;&lt;b&gt;Chapter 9&lt;br /&gt;LELAKI YANG MENYUKAI HUJAN&lt;/b&gt;&lt;/big&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Airish, 2011&lt;br /&gt;di sebuah rumah sakit di Bogor&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EMPAT orang itu sudah kembali ke akademi. Tadi setelah kami melepaskan mereka, Alea menyuruhku bicara. Saat itu aku bilang, “Aku masih belum akan pulang sekarang karena urusanku belum selesai. Setelah urusanku selesai, aku akan kembali ke akademi dan aku tak akan menghindar dari hukuman. Namun kalau akademi bersikeras memaksaku pulang, maka mereka harus mengerahkan lebih banyak orang!” Saat itu Alea sempat terkejut dengan apa yang kukatakan. Jelas-jelas aku menantang para petinggi. Itu bukan hal yang baik, sama sekali tidak baik. Dalam hati aku berharap Lena dan Andy bisa melakukan sesuatu untuk meredam emosi petinggi-petinggi akademi lainnya. Aku benar-benar berharap mereka tidak mengirim lebih banyak orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tidak serius, kan?” tanya Alea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memaksa tersenyum dan berkata, “Tebak saja!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alea membuang napas dan memalingkan mukanya ke langit. Baru saja kami merapikan kembali halaman rumah sakit ini menjadi seperti sedia kala. Untung saja tidak ada kerusakan yang tidak bisa kami tutupi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menuju kamar untuk mengecek ibu dan Rayna, meninggalkan mereka bertiga di koridor depan. Di kamar, ibu dan Rayna sedang nyenyak tertidur. Mereka sepertinya tidak terganggu dengan pertarungan tadi. Ketika aku mau masuk, seperti ada barrier yang menghalangiku, barulah ketika kuubah irisku, aku melihat perisai biru yang tadi dipasangkan Alea. Aku kembali ke koridor depan. Di sana hanya ada Alea, duduk bersandar di kursi kayu. Aku mencari-cari Remi dan Sandra tapi tidak menemukannya. Kutanyakan mereka berdua pada Alea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka di mobil,” kata Alea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau pergi ke mana mereka?” tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka tidak kemana-mana. Hanya diam di mobil. Mungkin tidur di sana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku duduk di sebelah kiri Alea. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tadi mereka memarkir mobilnya di luar rumah sakit,” kata Alea. “Barusan mereka buru-buru mengeceknya, takut kalau-kalau mobil mereka ada yang mencuri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmm..” hanya itu responku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alea menatapku dan bertanya, “Apa rencanamu sekarang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Entahlah,” aku mengangkat bahu. “Yang pasti menginap di sini, menemui Valen besok pagi, lalu pulang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pulang ke?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menatap Alea dan menjawab, “Akademi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia lalu berkata, “Aku harap kau melakukan semua itu tanpa kesulitan.” Dari nada bicaranya dan senyumnya yang muncul, aku tahu dia menyindirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa maksudmu?” tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengangkat kedua alisnya dan berkata, “Mungkin ini perasaanku saja, tapi sepertinya kau ingin kembali ke rumahmu yang dulu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutatap kedua matanya itu lalu berkata, “Keinginan itu memang ada.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sungguh berharap kau tidak sebodoh hari ini,” katanya, lagi-lagi dengan nada menyindir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa menit kemudian kami hanya diam memandangi langit yang masih dipenuhi bintang. Aku melihat jam di tangan, sudah hampir tengah malam. Tiba-tiba aku teringat pertarungan tadi. Aku bertanya pada Alea, “Seandainya Remi dan Sandra tidak datang, apa kita bisa mengalahkan mereka seperti tadi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia berpikir sejenak lalu menggeleng. “Mungkin tidak,” katanya. “Mereka berdua datang di saat yang tepat dan memberiku informasi penting mengenai jumlah orang yang dikirim. Tanpa itu, aku tak akan bisa mengatasi mereka dengan mudah. Tapi tentunya, aku akan memikirkan rencana yang lain.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan kemungkinan kita berhasil mengatasi mereka?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak sebesar tadi,” jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alea membangunkanku jam lima pagi. Semalaman kami tidur di kursi, lebih tepatnya ketiduran setelah memandangi langit cukup lama, mungkin lelah. Alea mengatakan dengan pelan bahwa dia sudah melepas perisai biru di sekitar kamar inap. Sementara dia berjalan menuju musholla, aku berjalan menuju kamar. Setibanya di kamar inap, mereka masih tertidur. Aku mendengar dengkuran ibu yang lembut. Aku mengambil botol air mineral di atas lemari pendek dan meminumnya. Merasa lapar, aku pun mencari makanan di kantong-kantong plastik yang ada di sana, dan menemukan roti isi coklat yang kelihatannya masih empuk. Rupanya suara berisik saat mencari-cari makanan itu membangunkan Rayna. Dia terkejut melihatku sudah bangun sepagi ini. Aku hanya tersenyum padanya. Rayna pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka. Ibu sendiri bangun beberapa menit kemudian. Melihatku ada di sampingnya, sedang menghabiskan roti isi coklat itu, dia tersenyum dan berkata, “Jarang makan ya seminggu ini? Kurusan.” Lagi-lagi aku hanya tersenyum menanggapinya. Alea benar tentang satu hal: akan sulit bagiku untuk kembali ke akademi dengan kondisi ibu seperti ini. Akan jauh lebih mudah kembali ke akademi jika ibu sudah bisa dibawa ke rumah. Namun melihat wajahnya yang masih pucat dan pipinya yang cekung, aku rasa itu belum bisa dilakukan. Akan tetapi, aku tidak bisa berada di tempat ini lebih lama lagi, atau akademi benar-benar akan mengirim tim dengan anggota jauh lebih banyak untuk memaksa kami kembali. Jika jumlah mereka terlalu banyak, meskipun ada Alea yang ahli dalam menyusun strategi, aku tidak yakin kami bisa mengatasinya. Tak ada pilihan lain selain segera kembali ke akademi. Sekarang tinggal mencari kesempatan untuk pergi. Seandainya kesempatan itu tidak ada, aku harus menciptakannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam enam lebih dua puluh menit, Rayna berangkat ke sekolah. Tinggal aku dan Alea yang menunggui ibu di kamar. Suster belum datang membawa sarapan. Aku menawari ibu roti yang ada di kantong plastik di sampingnya tapi dia menggeleng. Dia hanya minum beberapa teguk air. Sepuluh menit kemudian handphone-ku berdering. Ada sms dari Valen yang menyatakan bahwa dia sudah tiba di rumah sakit. Aku menitipkan ibu kepada Alea dan pergi menuju koridor depan. Di kursi tempatku tidur semalam aku duduk. Kukirim sms kepada Valen agar dia menemuiku di koridor ini. Tadi sekitar jam lima lewat seperempat, aku menghubungi Valen, membangunkannya. Kukatakan padanya bahwa saat ini aku sedang ada di rumah sakit dan jika dia ingin bertemu denganku maka dia harus segera ke sini. Aku bertingkah seolah-olah dia lah yang ingin bertemu denganku, padahal aku juga ingin bertemu dengannya. Untuk hal-hal seperti ini, entah kenapa aku selalu jual mahal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian Valen muncul mengenakan sweater belang-belang dan celana jeans hitam. Meskipun wajahnya tampak segar, aku tahu dia belum mandi. Dia tersenyum menyapaku lalu duduk di samping kananku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa kabar?” dia menatapku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baik,” jawabku tanpa membalas tatapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sedang apa kamu di sini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menjenguk ibu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibumu sakit apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sakit gara-gara kurang makan,” jawabku kesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Valen malah tersenyum dan berkata, “Mungkin dia terlalu mengkhawatirkanmu sampai malas makan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang diucapkannya itu benar. Meskipun begitu, aku tidak meresponnya. Aku hanya diam memandangi rumput.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sayang, kamu tak apa-apa? Sepertinya ada yang sedang kamu risaukan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak aku hanya diam lalu berkata, “Aku baik-baik saja.” Namun Valen pasti tahu bahwa aku tidak baik-baik saja. Jujur saja memang ada beberapa hal yang membuatku risau. Pertama, aku belum tahu bagaimana caranya memberitahu ibu bahwa aku harus kembali ke akademi, selain itu siapa yang menungguinya di sini? Kedua, entah apakah akademi akan mengirimkan tim lagi untuk memaksaku kembali atau tidak. Amannya kami sampai saat ini tidak menjamin mereka membiarkan kami bertindak sesuka hati. Ketiga, Valen ada di sini. Sampai kemarin aku sangat merindukannya sampai-sampai mencari alasan untuk bisa keluar dari akademi. Kini setelah dia ada di dekatku, aku tak tahu harus berbuat apa. Aku bahkan sulit mengucapkan kata-kata sehingga hanya merespon seperlunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba saja Valen meraih tanganku yang kanan lalu berdiri. “Ayo!” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kemana?” dia berjalan cepat-cepat sehingga aku harus mengimbangi langkah kakinya yang lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ikut saja dulu!” katanya tanpa menoleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami melewati pilar demi pilar. Koridor mulai ramai. Orang-orang, terutama pekerja rumah sakit ini, mulai terlihat sibuk. Aku kini harus setengah berlari karena Valen berjalan semakin cepat. Di koridor utama, aku melihat Remi dan Sandra sedang berjalan ke arah yang berlawanan denganku. Valen tidak mengenali mereka sehingga dilewatinya mereka begitu saja. Saat aku melewati mereka, sempat kulihat Remi mengamatiku, bahkan setelah aku berada cukup jauh. Ada sesuatu di matanya yang membuatku tak nyaman. Itu bukan tatapan yang selalu kulihat saat bertemu dengannya. Tatapan itu lain. Sementara itu Sandra tadi memang sempat memperhatikan tanganku yang digenggam Valen, tapi dia tidak menoleh saat aku melewatinya. Kini kami sudah melewati gerbang depan dan tiba di pinggir jalan. Valen menyetop sebuah angkot dan kami naik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita mau kemana?” tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nanti juga kamu tahu,” katanya tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angkot melaju. Dari balik jendela kuamati gerbang rumah sakit. Satu hal lain menggangguku: apa yang berkecamuk di kepala Remi dan Sandra tadi? Apakah mereka cemburu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua puluh menit kemudian kami turun. Aku mengenal tempat ini. Ini perempatan di dekat rumahku. Valen meraih tanganku dan kembali menyeretku di sepanjang trotoar. Kami melewati pohon demi pohon yang ada, masih cukup banyaknya pohon di sekitar sini membuat udaranya cukup segar. Kami lalu tiba di rumahku tapi Valen tidak berhenti. Dia terus berjalan. Aku tidak lagi menanyakan kemana tujuan dia sebenarnya karena paling-paling dia hanya akan menjawab, “Nanti juga kamu tahu.” Maka aku pasrah saja dia menyeretku di sepanjang trotoar ini. Beberapa menit kemudian Valen berhenti. Ternyata tempat yang dia maksud adalah taman ini, taman yang biasa kudatangi dulu, Taman Kencana. Kulihat rumputnya masih hijau dan pendek, terurus. Pohon-pohon rindang di sekitar taman masih banyak. Udara di sini tetap segar seperti biasanya. Di atas rumput, ada beberapa kursi hijau yang terbuat dari semen. Kursi itu tersebar di beberapa lokasi taman yang bentuknya sedikit bundar. Di salah satu kursi itu dulu aku sering duduk menghabiskan waktu dengan membaca buku, mengamati anak-anak yang sedang piknik atau bermain, atau sekedar mengamati awan yang bergerak-gerak. Aku menyebutnya kursi malas, karena di kursi ini, aku suka membiarkan waktu berlalu begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau duduk?” tanya Valen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersenyum dan mengangguk. Kami lalu duduk di salah satu kursi malas itu. Aku bersandar semenatara Valen mencondongkan tubuhnya ke depan dan kepalanya mendongak melihat langit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mendung ya,” katanya. “Sepertinya akan hujan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menatap langit yang dia lihat. Langit memang mendung, padahal matahari belum sepenuhnya naik. Kurasa memang hujan akan turun tak lama lagi. Kualihkan mataku ke kursi malas yang kududuki ini. Kusentuh dengan jari-jariku, kusentuh perlahan seakan merasakan denyut nadinya—kursi malas tidak punya denyut nadi. Kursi ini mengingatkanku pada banyak hal, momen-momen berharga dalam hidupku.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Airish, 2009&lt;br /&gt;Taman Kencana, Bogor&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Aku sedang duduk di sebuah kursi malas di taman. Akhirnya bisa juga kupinjam novel ini dari Lia, temanku di kampus, setelah satu minggu lamanya menunggu. The Host. Kata orang novel ini bagus. Ketika kulihat cover depannya, di sana tertulis best seller international. Kupikir itu karena si penulis novel ini—Stephenie Meyer—telah sebelumnya berhasil membuat tetralogi yang semuanya best seller international. Tapi novel ini jauh lebih tebal dari novel-novel sebelumnya, lebih dari tujuh ratus halaman. Aku baru saja membaca beberapa halaman pertama dan masih belum familiar dengan istilah-istilah yang digunakan di novel ini. Tapi terlepas dari semua itu, ceritanya menarik. Dan meskipun ceritanya imajinatif, si penulis sangat berhasil membuat pembacanya membayangkan imajinasinya itu dengan baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba seseorang muncul dan duduk di kursi malas yang sama denganku, di sebelah kanan. Tidak begitu dekat sebenarnya. Diantara kami masih ada cukup ruang untuk satu orang lagi. Aku meliriknya. Seorang laki-laki. Dari kakinya yang panjang dia pasti tinggi. Tubuhnya tidak bisa dikatakan besar, tapi proporsional. Dia tersenyum padaku. Matanya memipih. Rambutnya yang hitam kering bergerak-gerak saat angin menyentuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Airish, kan ya?” katanya lagi. “Namaku Valen.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengenalkan dirinya tanpa mengulurkan tangan. Aku tidak meresponnya. Kedua mataku kembali ke halaman novel yang sedang kubaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sering melihatmu di kampus,” katanya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang benar. Aku pun sering melihatnya di kampus. Kami beberapa kali berpapasan tapi hanya sebatas itu. Dia tak pernah menyapaku meski terkadang kupergoki dia menatapku lama. Teman-temanku di kampus sering mengatakan bahwa dia suka padaku. Mereka terus menggodaku ketika kami berpapasan dan itu membuatku kesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku juga sering menemukanmu di sini,” katanya lagi sambil memainkan tangan kanannya di udara, seolah-olah dia berusaha menggenggam angin. Bodoh, kupikir. “Sepertinya kamu suka sekali membaca. Apa yang sedang kamu baca itu? novel?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia terus saja mengusikku dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak satu pun kutanggapi. Dalam hati aku berharap orang ini segera menyerah dan pergi meninggalkanku di sini. Tapi rupanya dia cukup kuat untuk bertahan sementara aku mengabaikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa kamu mendiamkanku?” akhirnya dia bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini aku seperti tak bisa mengabaikan pertanyaannya. Kututup novel yang sedang kubaca dan aku menoleh ke kanan. Dia menatapku tanpa sedikit pun tersenyum, tapi kedua matanya menunjukkan bahwa dia hanya ingin tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sedang membaca novel,” kataku. “Kau menggangguku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu saja kata-kata itu keluar. Pastinya cukup pedas dan dingin. Kembali kubuka halaman novel yang tadi kubaca. Aku sungguh berharap kali ini dia menyerah, tapi orang ini cukup tangguh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa kamu tidak tertarik membaca sesuatu yang lain?” tanyanya lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak,” kataku ketus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku bahkan belum mengatakan sesuatu yang lain itu apa,” dia mengeluh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa?” tanyaku ketus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pikiranku. Kamu tak ingin membaca apa yang saat ini kupikirkan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menoleh lagi ke arahnya. Dia sedikit tersenyum meski tak menampakkan gigi-giginya. Kedua matanya yang hitam jelas-jelas mengamati mataku atau mungkin wajahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku bukan Edward Cullens,” kataku dingin lalu kembali ke halaman novel di depanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku juga bukan Bella,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk pertama kalinya aku tertarik dengan cara dia melawan kata-kataku. Aku baru tahu kalau dia pernah membaca Twilight atau mungkin menonton versi filmnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tak tertarik membaca pikiranmu,” kataku berbohong. Sebenarnya aku mulai tertarik untuk larut dalam percakapan aneh ini, tapi sekuat mungkin aku berusaha menolaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau begitu mungkin kamu tertarik membaca hatiku. Kurasa itu jauh lebih mudah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia sedikit tersenyum saat aku menoleh kepadanya. Dia sungguh persistent. Kalau begini caranya aku sendiri yang harus mengalah dan pergi. Kututup novel di depanku keras-keras lalu berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa kau terus menggangguku dengan pertanyaan-pertanyaan menggelikanmu itu?!” aku setengah berteriak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat dia hanya diam, seolah-olah memberiku sedikit waktu untuk menenangkan diri. Kemudian dia mengalihkan kedua matanya ke rumput. Masih dalam posisi duduk, dia mengatakan sesuatu yang tak pernah kuduga, “Karena aku menyukaimu. Aku jatuh cinta padamu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu kurasakan kulit wajahku sedikit hangat entah karena malu atau justru marah dengan apa yang baru saja kudengar. Aku tinggalkan dia begitu saja. Langkahku cepat-cepat. Setelah berjalan cukup jauh aku sempat menoleh ke belakang dan kutemukan dia masih saja duduk di kursi malas itu. Kedua matanya kini melihat langit. Dia tersenyum. Ugh, aku tak mengerti apa maksud dari senyumnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian ketika kami berpapasan di kampus, semuanya terasa berbeda. Aku tak pernah lagi memergokinya menatapku lama. Dia hanya tersenyum dan berlalu begitu saja. Aku sebenarnya sama sekali tak terganggu. Hanya saja teman-temanku semakin gencar menggangguku dengan dugaan-dugaan mereka yang tolol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena aku menyukaimu. Aku jatuh cinta padamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua kalimat itu selalu muncul saat aku melihatnya. Mereka seperti sepasang matanya yang hitam itu. Mereka seperti sihir yang membuatku mau tak mau terus memikirkannya. Itu pengakuan. Dia menyatakan perasaannya padaku, tapi dia tidak meminta sesuatu apa pun dariku. Ini yang aku tidak suka. Jika saja saat itu dia menanyakan bagaimana perasaanku padanya, atau menanyakan apakah aku mau menjadi pasangannya, aku pasti akan langsung menjawab, “tidak!”. Tapi dia hanya mengatakannya untuk memberitahuku. Kini aku terus memikirkannya di waktu-waktu senggangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin lama, dua kalimat itu semakin sering muncul. Di mana saja. Kapan saja. Saat kuliah. Saat di angkot menuju rumah. Saat makan pagi. Sebelum tidur. Bahkan sesekali muncul di mimpi. Aku jadi gila. Aku tak bisa lagi mengatakan bahwa aku baik-baik saja. Ketika kebetulan kami berpapasan lagi di kampus, aku tak bisa melihatnya. Aku tundukkan wajahku sampai dia benar-benar tak bisa kulihat lagi. Aku sedikit melihat kesedihan di raut wajahnya, tapi itu hanya membuat siksaan ini lebih kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari sepulang dari kampus, setelah berpisah dengan teman-teman sekelas, aku merasa seseorang mengikutiku. Ketika aku menoleh ke belakang, kutemukan dia berdiri cukup jauh di belakang, melihatku. Aku kembali melangkah ke depan dan kudengar langkah kakinya yang tipis mengikutiku. Ketika aku berhenti dan menoleh ke belakang, dia berdiri seperti sebelumnya, mengamatiku. Aku mempercepat langkah kakiku hingga sedikit berlari, dan dia pun menyesuaikan langkah kakinya denganku. Dia benar-benar menyebalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebentar lagi aku sampai di pertigaan dan dari situ aku akan naik angkot menuju rumah. Kupercepat lagi langkahku. Dia masih mengikutiku di belakang. Boleh saja orang mengatakan aku paranoid tapi aku tak peduli. Aku berlari hingga tiba di pertigaan dan berlari lagi sedikit ke kiri. Angkot yang akan membawaku ke rumah belum muncul dari kanan. Aku tegang. Jantungku pasti berdetak hampir dua kali lebih cepat dari biasanya. Dari trotoar yang tadi kulalui aku mendengar suara langkah kaki cepat-cepat. Itu dia. Dia sedang berlari berusaha mengejarku. Apa yang akan kulakukan? Apa aku harus lari?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angkot yang kutunggu itu muncul dari kanan, tapi masih cukup jauh untuk kuhentikan. Waktu seperti bergerak lambat ketika langkah kaki itu terdengar semakin jelas, semakin dekat. Suara yang dihasilkan mesin angkot itu pun semakin lama semakin nyaring. Semoga saja angkot itu sampai lebih dulu. Aku bisa merasakan orang itu sudah sangat dekat, sedikit saja dari pertigaan. Dia muncul. Saat itu angkot bergerak cepat lalu berhenti di depanku. Aku buru-buru naik dan menyuruh si sopir jalan. Di balik jendela, kulihat lelaki itu berdiri menatapku. Dia tampak berusaha menyesuaikan napasnya yang pendek-pendek. Aku alihkan mataku ke depan, ke jalanan yang cukup padat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Turun dari angkot, aku masih harus berjalan sedikit untuk sampai di rumah. Di sepanjang trotoar yang kulewati, aku seperti mendengar dia berjalan di belakangku. Aku menoleh ke belakang. Tak ada siapa-siapa. Lagi-lagi, aku seperti merasakan keberadaannya. Dia seperti dekat. Seakan-akan dia mengikutiku hingga ke sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah suara yang mengingatkanku padanya muncul dari depan. Dari tadi aku menundukkan kepala sehingga tak menyadari bahwa di depanku seseorang sedang berdiri, menungguku. Orang itu adalah dia, Valen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akhirnya tiba juga,” katanya sedikit tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berhenti. Dia berdiri tepat di depan pagar rumah. Aku ingin berbalik dan berlari seperti tadi tapi kemana aku akan pergi? Ini rumahku, tempat kembaliku. Maka dengan mengumpulkan segenap keberanian, aku berjalan menghampirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa maumu?” tanyaku setelah kami cukup dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit senyum di wajahnya itu hilang. Kini dia tampak serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku hanya ingin menanyakan satu hal,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diam. Dia diam. Kami seperti dua buah patung yang berdiri berhadapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa?” tanyaku dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa kamu membenciku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diam sejenak, merasakan angin membelai rambut hitamku yang tebal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya,” jawabku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa? Kenapa kamu membenciku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau bilang hanya satu pertanyaan!” sergahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu masih satu pertanyaan!” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami lagi-lagi diam untuk beberapa detik. Angin kembali menerpaku dengan lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa kamu membenciku?” tanyanya lagi, serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak tahu bagaimana harus menjawabnya. Mengatakan yang sesungguhnya akan membuatku malu semalu-malunya. Tapi jika harus berbohong, itu hanya akan memaksaku mengatakan kebohongan-kebohongan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa kamu membenciku?” tanyanya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menunduk. Masih belum memberi jawaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa?!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena kau menyukaiku!” kataku akhirnya setengah berteriak. Dia tampak sedikit terkejut dengan apa yang baru saja kukatakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu membenciku karena aku menyukaimu?” dia menanyakan itu dengan pelan dan tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya,” aku menunduk lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seharusnya kau tak menyukaiku!” kali ini aku membentaknya. “Seharusnya kau tak pernah tersenyum setiap kali berpapasan denganku! Seharusnya kita tak pernah bertemu! Seharusnya kau tak pernah muncul di kehidupanku! Seharusnya kau tak pernah mengatakan dua kalimat itu padaku!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menarik napas beberapa kali, berusaha menenangkan diri. Kuamati ekspresi di wajahnya. Tak ada yang berubah. Dia sedikit terkejut seperti tadi lalu kemudian tersenyum tanpa menunjukkan gigi-giginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan salahku kita jadi sering berpapasan,” katanya. “Aku tak pernah meminta untuk muncul di kehidupanmu. Kamu yang justru muncul di kehidupanku. Ketika kita berpapasan, kamu membalas tatapanku dengan aneh. Itu membuatku ingin tahu seperti apa dirimu. Semakin lama, aku semakin larut dalam suatu perasaan yang aneh. Dan akhirnya kita bertemu dan bicara satu sama lain, di taman hari itu. Saat itu, aku tahu aku harus memberitahumu apa yang kurasakan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengakhirinya dengan sebuah senyuman yang lagi-lagi membuat suhu wajahku menghangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seandainya kau tak mengungkapkan perasaanmu itu, aku tak akan pernah tersiksa seperti ini!” lagi-lagi aku membentaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu tersiksa?” keningnya berkerut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya. Aku tersiksa! Setiap hari aku terus..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berhenti sebelum semua hal memalukan itu kukatakan. Ini buruk. Aku tak bisa membuatnya menyadari bahwa aku terus memikirkannya setelah dia mengungkapkan perasaannya itu. Jika dia tahu, dia mungkin akan menertawakanku, mengolok-olokku, merasa menang dan menjadikanku jajahannya. Tidak. Itu tidak boleh terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terus apa?” tanyanya. “Katakan saja semuanya! Ayo!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tak sedikit pun terganggu dengan aku membentaknya sampai suaraku habis. Dia masih saja berusaha tenang, mengatakan semuanya dengan lembut, dengan tatapan yang menyejukkan. Tapi, aku justru semakin terganggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku mau masuk,” kataku ketus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat sebelum tanganku menyentuh pagar, dia berdiri menghalangiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakan dulu semuanya!” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kubilang aku mau masuk,” kataku tegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakan dulu semuanya baru kubiarkan kau masuk!” dia juga mengatakannya dengan tegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Minggir!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini rumahku! Jadi cepatlah minggir!” aku sudah mulai emosi. Kurasakan suhu tubuhku naik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak akan kubiarkan masuk sebelum kamu mengatakan semuanya padaku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau menyebalkan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mingir!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Minggir!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berteriak begitu keras dan panjang dan aku yakin seseorang di dalam rumah pasti mendengarnya, bahkan tetangga pun pasti mendengarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini masalah kita berdua! Jangan libatkan orang lain!” dia tampak begitu kesal karena barusan aku berteriak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memandangnya. Tatapannya berbeda dari tadi. Tidak lagi menenangkan. Tidak lagi menyejukkan. Aku menahan tangan kananku yang sudah dari tadi ingin menamparnya. Kutahan. Terus kutahan sampai kepalaku kurasakan begitu panas. Lalu terdengar suara dari langit. Hujan mulai turun. Perlahan. Awalnya hanya gerimis lalu mulai membesar, menderas. Hujan membasahi rambutnya, begitu juga rambutku. Aku melipatkan kedua tanganku di dada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Biarkan aku masuk!” kataku pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini dia begitu saja menyingkir, membiarkanku membuka pagar dan menguncinya dari dalam. Aku sempat melihat kedua matanya yang kembali menyejukkan itu lalu cepat-cepat berbalik dan berjalan menuju teras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu terus memikirkanku! Begitu, bukan?!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengatakannya sambil berteriak. Di antara hujan yang deras, suaranya begitu pelan tapi masih bisa kudengar. Aku tak berbalik dan terus berjalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu merasakan hal yang sama denganku, bukan?!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini aku berhenti. Tinggal beberapa meter lagi dari teras. Aku diam. Hujan membuat seluruh tubuhku basah dan dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu juga mencintaiku,” katanya. “Apa yang kukatakan itu benar, bukan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin sekali menoleh ke belakang, tapi sekuat tenaga kutahan keinginan itu. Aku melihat ke depan dan mulai berjalan kembali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu mengapa kamu membenciku?! Itu tak adil!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sudah menginjak teras dan hujan tak lagi mengguyurku. Sebelum membuka pintu, akhirnya aku menoleh juga ke belakang. Dia masih di sana, di balik pagar. Hujan membuat seluruh tubuhnya basah kuyup. Habis ini dia pasti kena flu atau demam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku membuka pintu dan masuk. Saat itu kudengar dia berteriak keras, “Aku akan tetap di sini sampai kamu mengatakan sesuatu!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sudah di dalam rumah. Melihatku basah kuyup, ibu bergegas mengambilkan handuk dan memberikannya padaku. Dia menyuruhku cepat mengganti pakaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa?” tanyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin yang dia maksud adalah Valen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang gila,” jawabku ketus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima menit kemudian, setelah mengeringkan tubuh dan rambut, serta mengganti pakaian, aku berjalan ke pintu depan. Kusibakkan sedikit gorden dan melihat jauh ke pagar. Dia masih di sana. Duduk bersandar pada pagar sementara hujan sesuka hati melempari tubuhnya dengan butiran air. Dia gila. Kalau begini jadinya dia bisa benar-benar sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku perhatikan dia menengadah, membiarkan hujan menghukumnya. Dari jarak sejauh ini aku tak bisa melihat apakah kedua matanya tertutup atau terbuka. Tapi sesuatu yang tak bisa dilihat mata bisa dirasakan oleh hati. Aku tahu dia menderita. Aku tahu dia menahan diri untuk tidak berteriak memanggilku seperti tadi. Dia mungkin akan tetap di sana sampai hujan reda. Tapi tak ada tanda-tanda hujan akan segera berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia bisa jatuh sakit,” kata ibu yang tiba-tiba berdiri di sampingku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya,” kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bawa dia masuk! Ibu akan membuatkan teh hangat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu lalu berlalu ke dapur. Bawa dia masuk! Apakah aku akhirnya harus menyerah pada keteguhannya duduk di tengah hujan deras? Ini bodoh. Sungguh bodoh. Aku bahkan tak tahu bagaimana perasaanku ini padanya. Tapi ibu benar tentang satu hal, dia bisa jatuh sakit. Dan aku pasti akan merasa bersalah nantinya. Kubuka pintu dan berjalan ke luar. Aku berdiri di teras. Dia menoleh lalu kemudian berdiri. Kami saling menatap satu sama lain sementara hujan sesekali disertai guntur yang menggelegar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo masuk!” aku sedikit berteriak, khawatir dia tak mendengar suaraku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia membuka pagar lalu masuk. Langkah kakinya seperti berat karena hujan. Ya, hujan memang sedang ingin turun begitu deras dan lama sampai jalan-jalan sedikit tergenang. Dia berjalan dan berjalan. Kepalanya tertunduk karena hujan memaksanya begitu. Aku menunggunya, tak berjalan ke rumput atau pun kembali ke dalam. Setelah dia cukup dekat, tinggal dua langkah lagi dari teras, dia berhenti. Kepalanya perlahan terangkat. Dia menatapku, tanpa tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bodoh,” kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekspresi di wajahnya tak berubah. Aku lalu beranjak ke dalam untuk mengambil handuk. Dia kusuruh berdiri dulu di teras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa menit kemudian kami sudah duduk di sofa di ruang tamu. Ibu baru saja menghidangkan secangkir teh hangat untuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena di rumah ini nggak ada anak laki-laki, jadi nggak ada baju ganti buatmu. Baju-baju ayah pasti nggak cocok sama anak muda.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah ibu berkata sebelum akhirnya kembali ke ruang keluarga, menonton televisi. Valen mengambil secangkir teh hangat di depannya dan meminumnya sedikit demi sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bodoh,” kataku lagi. “Kalau kau sampai jatuh sakit, aku juga yang repot nantinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak perlu repot,” katanya. “Aku bisa merawat diriku sendiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mendesah. Kesal. Akhirnya kami terjebak dalam suatu kondisi yang membuat kami harus bicara satu sama lain. Tapi, topik permbicaraan masih tentang hal yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi semua yang kukatakan tadi itu benar, kan?” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak jelas mendengarnya,” kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia malah tersenyum lalu menaruh cangkir itu di meja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa kamu harus membenciku sedangkan kita merasakan hal yang sama?” tanyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diam. Kualihkan pandanganku ke jendela. Di luar hujan masih deras. Entah kapan akan berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu tak bisa terus menghindar,” katanya. “Perasaan itu bukan sesuatu yang harus dihindari, tapi sesuatu yang harus dirasakan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menoleh padanya, menatapnya tajam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu apa tujuanmu mengatakan dua kalimat itu padaku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia balas menatapku. Lagi-lagi dengan tatapan menenangkan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku hanya ingin kamu tahu. Itu saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hanya itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hanya itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bodoh!” aku lagi-lagi mengumpat. “Itu yang justru aku benci. Lebih baik kau tanyakan saja bagaimana perasaanku padamu atau sekalian saja tembak aku saat itu. Dengan begitu, semua penderitaan ini tak akan ada.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia diam, memandangku penuh tanya. Saat ini dia pasti sedang memikirkan apa yang seharusnya dia katakan. Aku menunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa kamu memiliki perasaan yang sama denganku?” tanyanya pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana aku harus menjawab pertanyaannya ini? Aku sendiri tak tahu apa yang sebenarnya saat ini kurasakan. Aku benci kehadirannya di kehidupanku, tapi aku terus memikirkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tak tahu,” kataku. “Aku tak tahu apa yang sebenarnya kurasakan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu tahu,” katanya. “Kamu tahu apa yang kamu rasakan. Kamu hanya mencoba menyembunyikannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak merespon. Kubiarkan dia meminum lagi teh hangatnya. Asap masih mengepul dari cangkir itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu boleh membohongi orang lain, tapi tidak dirimu sendiri. Kamu harus jujur. Katakan saja yang sebenarnya, meskipun itu mungkin menyakitkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia meletakkan kembali cangkir itu. Dia lalu menatapku, melihat ke dalam diriku lewat kedua mataku. Aku tahu tak mungkin dia bisa membaca pikiranku, tapi tatapan matanya membuatku tak nyaman. Aku mengalihkan mata ke cangkir itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau begitu aku ganti pertanyaannya,” katanya. “Aku menyukaimu. Sangat. Dan aku ingin menghabiskan banyak waktuku denganmu. Aku ingin pergi ke berbagai tempat, menikmati berbagai suasana denganmu. Aku ingin berbagi kesedihan dan kebahagiaan denganmu.” Dia berhenti sejenak. “Aku mencintaimu. Aku ingin kamu menjadi pacarku. Kamu mau?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba aku seperti diserang demam. Suhu tubuhku naik begitu saja. Kurasakan darahku mendesir deras seiring jantungku yang berdetak kencang. Aku harus menarik napas panjang sampai dua kali untuk mencegah tangan dan kakiku gemetar. Aku harus terlihat kuat. Aku tak bisa membiarkan dia melihat kondisiku yang lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu mau?” tanyanya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih berusaha mencari seseorang jauh di dalam diriku. Aku tahu hanya dia yang bisa memberikan jawaban yang sebenarnya. Aku mungkin saja mengatakan “ya” atau “tidak”, tapi itu tak menjamin aku akan menyesalinya suatu hari nanti. Aku harus menemukannya. Aku harus menemukan diriku yang saat ini mungkin sedang menyepi di suatu ruang yang jauh. Menyepi. Sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Airish, kamu mau jadi pacarku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar namaku disebut, aku seperti disadarkan kembali dari tidur yang panjang. Aku sudah siap dengan sebuah jawaban. Jantungku kembali normal. Napasku sempurna. Aku menatapnya, melihat jauh ke dalam matanya yang hitam. Ada sesuatu dari mata itu yang membuatku tenang. Ada juga sesuatu yang lain dari mata itu yang membuatku tak nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak,” kataku. “Maaf. Tapi saat ini jawabanku adalah tidak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menatapku diam lalu menundukkan kepalanya. Aku bisa mendengar dia mendesah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu jawabanmu?” tanyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya. Itu jawabanku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bisakah aku membuatmu berubah pikiran?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu tak ada gunanya. Lebih baik kau menerimanya dengan lapang dada.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mendengarnya mengeluarkan sebuah napas panjang. Lalu dia mengangkat kepalanya, menatapku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah,” katanya. “Mungkin suatu saat nanti, aku bisa membuatmu berkata, ‘ya’.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tersenyum setelah mengatakan semua itu. Kali ini, entah kenapa aku membalas senyumnya, walaupun hanya sedikit.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054150040858616865-3514375032835696639?l=ardy-kresna-crenata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/feeds/3514375032835696639/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/2010/07/spesies-hijau-chapter-9a.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054150040858616865/posts/default/3514375032835696639'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054150040858616865/posts/default/3514375032835696639'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/2010/07/spesies-hijau-chapter-9a.html' title='spesies hijau chapter 9a'/><author><name>Ardy Kresna Crenata</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_DBAkcWrPpOM/TDsdMhaYCUI/AAAAAAAAAAw/HFjbf4gJFYo/S220/ardy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054150040858616865.post-5517309231069409966</id><published>2010-07-14T10:22:00.001+07:00</published><updated>2010-07-14T10:22:11.181+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='novel'/><title type='text'>spesies hijau chapter 8b</title><content type='html'>&lt;b&gt;Nayna,1989&lt;br /&gt;Akademi, Bogor&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Satu minggu setelah tahun baru. Perayaan sudah selesai. Tidak ada lagi hiasan-hiasan yang beberapa hari sebelumnya masih bisa ditemukan di berbagai tempat di akademi. Perayaan malam tahun baru itu sendiri cukup menyenangkan dengan diadakannya pesta kembang api, menjadikan langit malam itu penuh cahaya dan warna-warna. Jamuan makan dan minum gratis di adakan di auditorium yang diiringi alunan lembut piano, persembahan salah seorang dari spesies biru, entah siapa namanya. Pada dasarnya malam itu setiap orang bebas melakukan apa yang diinginkannya, selama itu tidak membahayakan yang lain. Aku dan Lena menghabiskan malam di atap auditorium, duduk bersandar sambil mengamati bintang dan bentuk-bentuk kembang api. Saat itu, beberapa orang juga menghabiskan malam di sana. Ada yang main kartu, ada yang pacaran, ada yang cuma ngobrol sambil tiduran, macam-macam. Malam itu adalah salah satu malam paling menyenangkan yang pernah ada di akademi. Semuanya tampak baik-baik saja, sedikit pun tak terlihat ada masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sekarang, seminggu setelah malam tahun baru, aku mulai merasakan ada yang tidak beres di akademi. Beberapa bulan yang lalu saat seratus orang dikerahkan untuk mencari dan memusnahkan spesies hitam, malam harinya ketika semua orang dikumpulkan di auditorium, seseorang dari spesies hijau menyayangkan kenapa perburuan terhadap spesies hitam harus terjadi. Saat itu dia menyebut-nyebut kejadian lima belas tahun yang lalu dan saat ini kejadian lima belas tahun yang lalu itu sudah diketahui semua orang di akademi. Di antara spesies-spesies yang ada, spesies hijau lah yang bereaksi negatif terhadap kejadian lima belas tahun lalu itu, kejadian perburuan dan pembantaian terhadap spesies hitam yang saat itu hidup di akademi bersama spesies lainnya. Lama-lama aku mengerti mengapa spesies hijau bereaksi negatif. Sebagai spesies campuran yang dibentuk dari persilangan spesies biru dan spesies kuning, kami sedikitnya bisa merasakan luka dan kesedihan yang dirasakan spesies hitam saat itu. Sama seperti kami, spesies hitam adalah spesies campuran. Spesies itu dibentuk dari hasil persilangan rumit beberapa spesies yang ada saat itu. Pada awalnya tujuan mereka diciptakan adalah untuk membuat hubungan spesies-spesies yang ada saat itu lebih erat, lebih kuat. Namun yang terjadi bertahun-tahun kemudian, adalah upaya pemusnahan terhadap spesies itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini sedang ada ketegangan antara spesies hitam dengan spesies biru dan spesies merah. Maya, pemimpin akademi saat ini, seorang spesies biru, jelas sekali tidak senang dengan apa yang diungkapkan seseorang dari spesies hijau di auditorium saat itu. Sebagai pemimpin akademi, Maya telah menggunakan titahnya untuk menggerakkan semua spesies yang ada untuk memburu spesies hitam dan membunuhnya. Belakangan aku tahu, yang membuatnya begitu bersemangat memusnahkan spesies hitam adalah dendam di masa lalu. Lima belas tahun lalu, seorang teman dekatnya dan seorang lelaki yang dicintainya, tewas dalam perburuan itu, dibunuh spesies hitam. Kurasa alasan itu cukup kuat untuk mendorongnya membunuh setiap spesies hitam yang tersisa. Dan kini, dia sedang berselisih dengan seorang petinggi dari spesies hijau. Sementara itu ketegangan antara spesies hijau dan spesies merah terjadi karena masa lalu, lagi-lagi kejadian lima belas tahun silam itu. Saat itu yang menjadi pemimpin akademi, yang mengeluarkan perintah perburuan dan pembantaian itu, adalah seorang spesies merah. Dia tentu saja sudah tiada saat ini. Namun darahnya, semangatnya, ideologinya, masih hidup dan tertanam di generasi saat ini, dan mungkin di generasi berikutnya. Spesies biru dan spesies merah, pada dasarnya merekalah yang mempelopori upaya pemusnahan terhadap spesies hitam. Kebencian mereka terhadap spesies hitam tidak bisa dihapus waktu, seperti halnya kebencian spesies hitam terhadap mereka. Satu hal yang menjadi kekhawatiran petinggi spesies hijau saat ini adalah adanya kemungkinan kejadian lima belas tahun lalu itu terulang, namun yang menjadi korban bukanlah spesies hitam, melainkan spesies hijau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pernah mendiskusikannya berdua dengan Lena dan dia seperti enggan mengeluarkan pendapat. Lena seorang spesies biru yang kedua orang tuanya adalah spesies biru. Kedua orang tuanya tewas dalam kejadian lima belas tahun yang lalu itu. Pasti ada luka yang sukar disembuhkan atas kejadian itu. Dan aku sedikitnya bisa mengerti kenapa Lena tidak ingin membahas kejadian lima belas tahun lalu itu. Baginya, itu adalah masa lalu yang harus dilupakan. Namun bagiku, kejadian itu adalah sesuatu yang harus diungkapkan, bahkan diabadikan dalam bentuk buku atau apa, agar generasi selanjutnya mengetahui fakta yang terjadi. Bagiku, kejadian itu adalah pelajaran bahwa ketakutan berlebihan telah membuat spesies-spesies yang ada gelap mata sampai tega melakukan upaya pemusnahan. Satu pelajaran lagi yang bisa kuambil adalah, upaya pemusnahan seperti itu akan mendatangkan upaya balas dendam bertahun-tahun berikutnya. Kurasa akan terus seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana kalau hal yang sama terjadi pada spesiesku?” tanyaku. Aku dan Lena sedang terlentang di atap auditorium. “Apa yang akan kau lakukan? Ikut memburu kami?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan itu begitu mengganggunya, aku tahu itu. Dia pun mengubah irisnya menjadi biru. Kurasa dia berniat membaca apa yang kupikirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku berharap itu tidak akan pernah terjadi,” katanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, aku pun berharap itu tak akan pernah terjadi. Namun dengan ketegangan yang ada saat ini, tidak ada jaminan keadaan akan membaik dalam beberapa tahun ke depan. Lagipula, yang memutuskan hal itu akan terjadi atau tidak bukanlah orang-orang seperti kami, melainkan para petinggi akademi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau begitu aku berharap mereka tidak akan pernah mendiskusikan hal itu,” kata Lena.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak menjawabnya dengan kata-kata. Dengan hanya memikirkannya saja, itu sudah cukup. Para petinggi akademi kah? Saat ini ada enam petinggi akademi dari enam spesies yang ada, tiga spesies murni, dua spesies campuran, dan satu spesies hasil mutasi. Spesies biru dan spesies merah, yang seakan-akan ambisi dan pengaruhnya paling kuat di antara yang lain, telah sama-sama melakukan perburuan terhadap spesies hitam di dua generasi berbeda. Akankah kemudian mereka melakukan itu terhadap spesies kami?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku harap tidak,” kata Lena.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu terakhir bulan Januari, ketegangan semakin terasa. Kini setiap kali aku berpapasan dengan seorang spesies biru atau spesies merah yang tidak kukenal, mereka mengamatiku dengan tatapan merendahkan. Aku tidak akan membiarkan seseorang memandangku seperti itu. Aku balas menatapnya dengan tatapan penuh kebencian. Hanya saat bertemu Lena aku merasa ketegangan ini tak ada. Namun saat itu, Lena sedang bercakap-cakap dengan seseorang dari spesies merah. Dia lalu mengenalkannya padaku. Namanya Andy, tinggi besar, kulitnya pucat. Lena bilang kalau Andy adalah teman terdekatnya selain aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya kami bertiga jadi sering menghabiskan waktu bersama untuk membahas masalah ini. Mau tak mau, Lena juga ikut membahasnya, meskipun aku yakin setiap kali dia teringat kejadian itu, luka dari masa lalunya kembali terbuka dan menyeruakkan racun yang membuatnya gelisah. Di luar dugaan, sebagai seorang spesies merah, Andy justru sama sekali tidak sependapat dengan kebanyakan spesies merah lainnya yang begitu ingin memusnahkan spesies hitam. Ah, masalah tentang spesies hitam ini sebenarnya sudah tak relevan lagi, karena spesies hitam sudah punah—setidaknya begitulah yang kami ketahui. Maya sudah mengerahkan lebih dari separuh kekuatan akademi untuk menghabisi sisa-sisa spesies hitam yang ada beberapa bulan yang lalu. Hal yang menjadi prioritas kami dalam setiap diskusi yang berlangsung adalah tentang sikap selanjutnya dari masing-masing petinggi spesies terhadap kelangsungan hidup ekosistem akademi. Cara pikir seorang petinggi spesies sangat penting karena dia mempengaruhi orang-orang dari spesiesnya. Kalau ingin mengubah cara berpikir spesies-spesies ini ke depannya, terutama untuk generasi yang akan datang, tak ada cara lain selain berbicara langsung dengan si petinggi spesies. Namun, itu tidak akan mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memanfaatkan hubungan Lena dengan Maya yang cukup dekat, kami bertiga menghadap ke ruangannya dan bermaksud mengajaknya bicara tentang masalah ini. Tujuan kami sebenarnya hanya satu, yaitu untuk meredakan ketegangan yang terjadi di antara tiga spesies ini—merah, biru, dan hijau. Maya bersedia berdiskusi dengan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimanapun, spesies hitam itu terlalu berbahaya,” kata Maya. “Kurasa dunia akan lebih baik tanpa mereka. Namun seandainya alasan itu dikesampingkan pun, generasi sebelum kita sudah memulai perang ini. Dan kalau kita hanya diam, membiarkan mereka terus berkembang, suatu hari mereka akan menyerang. Itu pasti. Maka dari itu lebih baik menghancurkan mereka saat kekuatannya masih bisa diatasi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami diam sesaat. Harus kuakui apa yang dikatakan Maya adalah benar. Perang sudah dimulai lima belas tahun yang lalu. Dendam sudah ditanam saat itu. Jika saat ini spesies hitam masih ada, mereka akan terus menghimpun kekuatan dan berusaha membalas dendam suatu hari nanti. Tak ada yang bisa dibantah dari fakta ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana dengan spesies hijau?” tanya Lena. Bisa kulihat ekspresi di wajah Maya berubah. Sepertinya kata spesies hijau itu cukup mengganggunya. “Mereka disebut-sebut sebagai spesies yang memiliki penglihatan lebih dari yang lainnya. Selain itu, karena mereka hasil persilangan dua spesies murni, ada kemungkinan kekuatan mereka lebih kuat dari spesies pembentuknya. Apakah suatu hari nanti.. hal yang sama akan terjadi terhadap mereka?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebisa mungkin Lena mengatakan semua itu dengan tenang. Kami bertiga mengamati Maya, menunggu responnya. Dia lalu berkata, “Tak ada alasan bagi kami untuk melakukannya, setidaknya saat ini. Memang hubungan spesies biru dengan spesies hijau saat ini sedang tidak kondusif. Sedikit saja ada yang memprovokasi, mungkin benturan tak bisa dihindarkan. Tapi aku tidak bodoh. Sebagai petinggi spesies biru dan pemimpin akademi, aku lebih ingin menjaga semua spesies di sini bersatu. Pertikaian, bagaimanapun akan memakan banyak korban. Aku tak akan mau mengorbankan orang-orang dari spesiesku sendiri hanya untuk hal seperti ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menarik napas lega. Pernyataannya ini setidaknya memberi jaminan bahwa spesies hijau tidak akan mengalami tragedi seperti yang dialami spesies hitam. Syukurlah jika Maya berpikir seperti itu. Namun, Lena tidak sedikit pun tersenyum atau tampak lega. Ekspresinya datar sedatar-datarnya. Irisnya berwarna biru, entah sejak kapan.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Airish, 2011&lt;br /&gt;di sebuah rumah sakit di Bogor&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Jam sebelas lewat lima menit, akhirya mereka tiba. Aku memang tidak bisa melihat di mana mereka berada, tapi Alea sudah menyuruh Sandra untuk melingkupi rumah sakit ini dengan barrier yang meskipun pada akhirnya bisa mereka tembus, Sandra bisa mengetahui dari arah mana mereka masuk. Sandra ada di lantai dua, bersembunyi. Lewat tetesan air yang jatuh ke tangan Alea, dia memberitahu kami di mana lokasi mereka. Mereka ternyata berpencar. Dua orang masuk dari depan, dua orang lagi dari belakang. Aku dan Alea duduk santai di kursi kayu di koridor depan sambil memandangi langit dan bertingkah seolah-olah tidak menyadari keberadaan mereka. Sekali lagi aku mencoba melihat mereka dengan mode pendeteksi tapi sama sekali tak berhasil. Di antara mereka berempat, pasti ada seorang pelindung yang sangat baik. Aku mungkin punya alasan untuk risau karena situasi ini tidak menguntungkan kami. Tapi melihat ekspresi Alea yang santai, aku jadi sedikit tenang. Dia sudah punya rencana. Aku tak akan bisa menebaknya sekarang, namun aku yakin dia bisa mengubah situasi yang tidak menguntungkan ini jadi menguntungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat keempat orang itu menembus barrier yang dipasang Sandra, sesungguhnya barrier itu sudah dilengkapi sesuatu yang disebut Alea sebagai cairan pemancar. Dengan berusaha menembus barrier itu, cairan pemancar melekat di bagian tubuh mereka sehingga Alea dan Sandra bisa mengetahui dengan tepat di mana lokasi mereka. Kami masih berpura-pura tidak menyadari kehadiran mereka. Dengan pelan Alea mengatakan bahwa dua orang yang masuk dari depan sedang berjalan di koridor utama. Di sana Alea sudah memasang jebakan berupa perangkap es namun kedua orang itu menyadarinya dan berhasil melewatinya. Alih-alih meloncatinya, mereka mengambil jalan lain di samping perangkap es itu dipasang. “Pintar,” kata Alea tersenyum. Selanjutnya, senyumnya itu semakin lebar dan berubah jadi tawa yang ringan. Aku tanyakan apa yang terjadi dengan dua orang itu, lalu Alea menjawab, “Lihat ini!” Dia menyatukan kedua telapak tangannya dan menyimpannya di depan. Sesaat aku melihat mata birunya bersinar. “Jurus rahasia. Penjara musim dingin.” Aku lalu melihat sesuatu muncul di samping koridor utama, tepatnya di sekitar saluran air. Sesuatu yang muncul itu adalah es, bongkahan es berwarna putih yang membungkus kedua orang itu. Alea hanya menyisakan kepala mereka berdua. Kali ini aku bisa melihat dengan jelas kedua orang itu. Yang satu laki-laki botak, yang satu perempuan dengan rambut diikat ke belakang. Alea bergerak cepat menghampiri kedua orang itu, aku mengikutinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tak menyangka kau memasang tiga jebakan,” kata si wanita yang tubuhnya tak bisa bergerak karena diselubungi es itu. Aku mengamati tiga jebakan yang dia maksud. Seandainya mereka tadi meloncati perangkap es itu, mereka akan langsung tertangkap karena di depan perangkap es itu ada genangan air yang mencurigakan. Entah jurus apa yang akan dikeluarkan Alea seandainya mereka menginjak genangan air itu. Namun ternyata mereka memilih berjalan ke samping, di saluran air. Sayangnya, Alea sudah memasang juga jebakan di sepanjang saluran air. Entah bagaimana tepatnya jebakannya itu bekerja, tahu-tahu aku sudah melihat kedua orang ini terbungkus es. “Ngomong-ngomong, bagaimana kau bisa tahu keberadaan kami berdua?” tanya wanita itu. “Kurasa hanya kebetulan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alea tersenyum dan mengangguk. “Ya, hanya kebetulan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau memang beruntung sudah menangkap kami,” katanya. “Tapi sayang kau tidak memperhitungkan satu keadaan.” Wanita itu tersenyum. Apa yang dia maksud dengan satu keadaan itu? Aku baru menyadarinya ketika si lelaki botak itu mengeluarkan api dari sela-sela jari tangannya. Lama-lama, bongkahan es itu mencair dan mereka pun bisa bergerak lagi. “Kau mungkin lupa memperhitungkan bahwa temanku ini seorang spesies merah,” kata wanita itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alea tampak serius. Dia tidak tersenyum seperti tadi. Dia mengajakku mundur tiga langkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang giliran kami,” kedua orang itu berjalan mendekat. Alea mengajakku mundur tiga langkah lagi. Si wanita tampak percaya diri, dia tersenyum sementara temannya yang botak itu mengamati gerak-gerik kami. Aku masih melihat api-api kecil di sela-sela jarinya. Lelaki itu kini berada di depan si wanita. Tampaknya untuk menghadapi seorang spesies biru, spesies merah akan jauh lebih efektif, kurasa itulah yang dipikirkan wanita itu. Lelaki itu berhenti beberapa meter di depan kami. Kedua tangannya mengepal. Matanya masih mengamati kami. Sejurus kemudian dia berteriak sambil mengangkat tangannya ke depan dengan jari-jarinya terbuka. Dari sela-sela jari tangannya itu menyembur api yang mengarah kepada kami. Alea menahan tanganku ketika aku hendak menghindar. Api itu hampir menyambar kami ketika tiba-tiba membeku menjadi es. Aku terkejut, tentu saja, sama terkejutnya dengan kedua orang itu. Alea lalu menekankan kedua tangannya ke lantai dan berkata, “Jurus rahasia. Balok sempurna.” Seketika lantai di depan kami mulai diselimuti es yang bergerak ke atas. Lelaki itu terjebak di tengah-tengah es itu. Pada akhirnya es yang dikeluarkan Alea kali ini menjadi sebuah balok yang tampaknya sangat padat. Aku bisa melihat lelaki itu berada di tengah, terjebak di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sialan!” umpat si wanita. Dia lalu bergerak ke rumput.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Airish!” aku tahu apa yang dimaksud Alea. Wanita itu kini berada di rumput dan inilah kesempatanku untuk beraksi. Aku menyatukan kedua telapak tanganku dan berseru, “Rumput pengikat!” Seketika rumput-rumput di sekitarnya memanjang dan bergerak meraih tangan dan kakinya. Dia tidak sempat menghindar sehingga dengan cepat rumput itu menangkapnya dan kini dia tak bisa kemana-mana. Tapi aku belum selesai. Kuangkat tangan kananku ke depan lalu menggerakkannya seolah-olah memutar sesuatu dan berkata, “Kepompong hijau!” Rumput-rumput yang tadi mengikatnya kini mengekangnya semakin erat dan memaksa kedua tangannya merapat. Rumput-rumput itu lalu melilit tubuhnya sampai leher, lalu menutupi kepalanya sehingga kini dia tampak seperti mumi yang dicat hijau. Setelah dia terbungkus sempurna, aku menjatuhkan tanganku dan dia pun ambruk di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita berhasil,” ucapku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami menghampiri wanita yang kini seluruh tubuhnya diselimuti rumput itu. Dia seorang spesies biru, dia hanya terhubung dengan air. Selama tidak ada air, dia tak kan bisa apa-apa. Alea menggerakkan tangannya seperti sedang menarik sesuatu dari wanita itu. Sejurus kemudian dari rumput yang melilit tubuhnya, butiran-butiran air muncul, menyatu, mengambang di atasnya. Alea lalu melemparkan air itu jauh ke arah gerbang depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita harus membawa wanita ini ke tempat yang tidak ada airnya sama sekali,” kata Alea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saja aku akan mengangkatnya, sebuah sinar yang sangat terang membuatku terpaksa menutupi mataku dengan lengan. Sinar ini bukan hanya terang, melainkan juga panas. Aku sampai harus menyelimuti kedua lenganku dengan rumput-rumput. Entah di mana Alea. Aku tak bisa melihatnya, terlalu silau. Setelah akhirnya sinar ini lenyap, kepompong hijau itu sudah tak ada di depanku. Alea masih ada di sebelah kanan. Jauh di depan kami, ada dua orang lagi yang merupakan bagian dari tim yang diutus akademi. Yang satu wanita dengan matanya yang kuning, yang satu lagi laki-laki dengan matanya yang abu-abu. Seperti dugaan Alea, keempat orang ini berasal dari spesies yang berbeda. Seandainya mereka mengirim lima orang, mungkin akan ada juga seorang spesies jingga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana dia?” tanya si spesies abu-abu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebentar lagi,” kata wanita spesies kuning di sampingnya. Dia memegangi si spesies biru yang tadi kuselimuti dengan daun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian, barulah aku menyadari siapa yang dibicarakan kedua orang itu. Cahaya menyilaukan tadi, yang sepertinya merupakan jurus si spesies kuning, mengeluarkan panas yang cukup untuk membuat es batu meleleh cepat. Dan di belakang kami, lelaki spesies merah yang tadi terjebak dalam balok es itu sudah mulai bisa bergerak. Tinggal kedua kakinya yang masih terjebak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana sekarang?” tanyaku pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tenang saja,” kata Alea. “Semua masih sesuai dengan rencana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai dengan rencana? Aku sama sekali tak bisa menebak seperti apa rencananya. Dia memang menyuruh kami melakukan ini dan itu tapi sama sekali tidak menjelaskannya. Hanya setelah rencananya itu berhasil kami bisa memahaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki botak spesies merah itu sudah sepenuhnya bisa bergerak. Alih-alih menghampiri teman-temannya, dia malah berdiri beberapa meter di belakang kami. Dia cukup hati-hati untuk tidak berada di dekat saluran air. Dia berdiri di rumput, tapi kedua kakinya diselimuti api sehingga aku tidak bisa dengan mudah melakukan sesuatu padanya. Si spesies kuning, wanita dengan rambut merah itu, mengeluarkan panas dan cahaya di tangannya dan melepaskan rumput-rumput yang mengikat si spesies biru. Kini, mereka berempat sudah kembali ke kondisi semula. Kami kalah jumlah, setidaknya untuk beberapa saat selanjutnya. Alea memasang sebuah gelembung untuk melindungi kami berdua, gelembung berwarna biru muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum mereka sempat melakukan sesuatu, tiba-tiba saja anak-anak panah yang terbuat dari es melesat cepat membidik mereka bertiga. Sandra sudah beraksi. Ketiga orang itu tampak kaget dengan munculnya anak-anak panah yang terbuat dari es itu, namun si spesies abu-abu masih sempat melingkupi teman-temannya dengan tempurung transparan berwarna abu-abu. Anak-anak panah itu menancap di tempurung itu tapi tak berhasil bergerak lebih jauh. Aku mengaktifkan mode pendeteksi sehingga kini bisa melihat ke segala arah tanpa menoleh. Di belakangku, si spesies merah yang botak itu maju dan hendak menyembur kami dengan api. Alea cepat-cepat berbalik, menarik air dari rumput-rumput dan membentuknya jadi sebuah dinding tebal sehingga semburan api itu harus melelehkannya dulu sebelum sempat mengenai kami. Dengan cepat kutekankan kedua tanganku ke tanah lalu mencengkeramnya sambil berkata, “Hisapan tanah!” Tanah di sekitar lelaki botak spesies merah itu melembek lalu mulai menghisapnya. Sebagian kakinya sudah bergerak masuk. Dia mengeluarkan api dari tangannya dan berusaha membakar tanah di sekitarnya tapi itu sia-sia. Tanah di sekitarnya tidak lagi padat, melainkan seperti lumpur yang kental sehingga saat api mengenainya hanya ada percikan kecil dan asap. Separuh tubuhnya sudah terhisap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alea masih terus menyerang ketiga orang di depanku dengan anak-anak panah esnya. Si spesies abu-abu mempertebal tempurungnya sementara si spesies biru sedang duduk mempersiapkan sesuatu. Alea mengambil butiran air dari rumput dan mengubahnya jadi jarum-jarum berukuran besar lalu melesakkannya cepat ke arah si spesies merah yang sedang dihisap tanah. Lelaki itu menyelimuti tangannya dengan api dan mengibaskannya saat jarum-jarum itu mendekatinya. Namun dua buah jarum berhasil mengenai pergelangan tangan kanan dan kirinya. Kalau aku tidak salah melihat, Alea melepaskan dua jarum itu lebih lambat dari yang lainnya. Dengan kata lain, jarum-jarum yang dia lepaskan sebelumnya hanya untuk mengecoh si spesies merah. Sekali lagi Alea berhasil melumpuhkan spesies merah itu. Tangannya kini terkulai lemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah cahaya yang begitu terang tiba-tiba membuatku tak bisa melihat apa-apa. Ini pasti ulah si spesies kuning. Aku lengah. Belum juga hilang cahaya menyilaukan ini, sebuah petir tiba-tiba menyambar beberapa meter di depanku. Untung saja meleset, tapi aku masih merasakan panas dan getaran yang ditimbulkannya. Segera saja kulembekkan tanah di sekitar kami, meskipun dengan begitu kami jadi ikut terhisap seperti si lelaki spesies merah yang kini entah bagaimana nasibnya. Setelah penglihatanku kembali, sebuah petir muncul lagi dari atas, kecil bercecabang dan bergerak-gerak, terasa sekali panasnya saat dia mendekat. Tadi sebelum keempat orang ini datang, Alea memberitahuku bahwa jika aku kedatangan petir, aku harus menggunakan banyak air untuk menetralkannya. Namun, karena aku tidak bisa mengendalikan air, maka yang kulakukan adalah membuat tanah di sekitarku lembek sehingga memudahkan Alea untuk menguras habis airnya. Alea bergerak cepat. Air yang banyak mencuat ke atas dan menahan petir itu sebelum terlalu dekat. Aku melihat percikan yang dahsyat saat petir dan air itu bertemu. Aku sampai harus menutupi tubuhku sesaat dengan tanah agar percikannya tidak mengenaiku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau terus begini, pertarungan ini tak akan ada habisnya, meskipun mereka sudah kehilangan satu orang karena si spesies merah sudah sepenuhnya terbenam ke tanah. Dia kini tak akan bisa menggerakkan tangan atau tubuhnya, bahkan kepalanya, tapi aku masih berbaik hati dengan memberinya sedikit ruang untuk bernapas. Kukeraskan lagi tanah di sekitarku dan mengangkat Alea kembali ke permukaan. Kini posisinya tiga lawan tiga. Sandra masih di lantai dua. Untuk beberapa saat, kami hanya diam, saling mengamati gerakan sekecil apa pun dari lawan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu spesies abu-abu, satu spesies kuning, dan satu spesies biru. Dengan begitu, ada setidaknya empat elemen alam yang bisa digunakan lawan kami: angin, petir, cahaya, dan air. Di sisi lain, elemen alam yang bisa kami gunakan adalah air, tanah, dan pohon. Aku menatap Alea dan dia mengatakan bahwa waktunya belum tiba. Aku kembali mengamati ketiga lawan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tak menyangka ada seorang lagi,” kata si spesies biru. Tatapan matanya seperti mengatakan bahwa dia akan membalas apa yang tadi kulakukan padanya. “Sebelum ada yang benar-benar terluka, pertarungan bisa kita akhiri sampai di sini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu sia-sia saja,” kata Alea. “Sebab orang di sampingku ini belum mau kembali ke akademi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini giliran si spesies kuning, wanita berambut merah itu yang berkata, “Kalian sudah melanggar aturan dan pasti dihukum. Dengan melawan seperti ini, kalian hanya memperberat hukuman yang akan kalian terima.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang di sampingku ini begitu keras kepala,” kata Alea. “Kalian tak akan bisa membujuknya dengan alasan apapun.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si spesies biru berkata, “Kalau begitu, kita memang harus bertarung sampai salah satu pihak kalah. Kebetulan aku sedang ingin membalas apa yang tadi kuterima.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebaiknya kalian waspada,” kata Alea. Dia tersenyum lebar, dan kalau dia sudah tersenyum seperti itu, sesuatu akan terjadi. “Penjara air!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sekitar tiga orang lawan kami itu, muncul pilar-pilar air yang membentuk jaruji, layaknya sebuah sel. Ketika si wanita spesies biru hendak melakukan sesuatu, Alea memberikan isyarat agar aku melakukannya. Kugunakan tanah untuk melapis penjara air itu sehingga si spesies biru akan butuh waktu untuk bisa menembusnya. Kulapis sekali lagi dan akhirnya kuselubungi mereka dengan dinding-dinding padat dan keras di semua sisi. Kini si spesies kuning tak bisa mengeluarkan lagi cahaya menyilaukan itu. Yang jadi masalah adalah si spesies abu-abu. Dia memang tidak bisa mengeluarkan petir lagi, tapi di sekitarnya masih ada udara yang bisa dimanipulasinya menjadi angin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sandra, sekarang!” Alea berteriak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sandra loncat dari lantai dua dan mendarat di atas kubus yang kubuat untuk mengurung tiga orang itu. Disatukannya telapak tangannya, matanya bersinar, dia berkata, “Jurus rahasia. Salju abadi.” Kedua tangannya disentuhkan ke kubus padat itu dan seketika kubus yang kubuat mulai diselimuti salju. Entah jurus apa yang akan dikeluarkan si spesies abu-abu dengan menggunakan elemen angin. Lapisan air pertama pasti bisa ditembusnya dengan mudah, dan itu mungkin sudah dilakukan si spesies biru. Aku ragu apakah angin bisa menembus dinding-dinding padatku, tapi seandainya itu terjadi, salju yang dikeluarkan Sandra pasti bisa mengantisipasinya, meskipun aku tidak benar-benar tahu cara kerjanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saatnya memunculkan Remi,” kata Alea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangguk. Kusentuhkan kedua tanganku ke tanah, mataku terpejam merasakan apa saja yang ada di dalam sana lalu kutemukan Remi berada sangat dalam sehingga seorang spesies merah pun tak akan bisa mendeteksi keberadaannya. Dengan satu gerakan tangan, aku menarik Remi ke atas lalu dia muncul di hadapan kami seperti sebuah kejutan. Tanah yang dia tembus hancur tentunya, tapi aku bisa memperbaikinya nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akhirnya,” kata Remi. “Di mana mereka?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di dalam kotak itu,” Alea menunjuk kubus yang kini sudah sepenuhnya berwarna putih. Asap mengepul dari sana, tanda bahwa salju itu benar-benar dingin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang harus kulakukan sekarang?” dia menatap Alea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alea tersenyum lalu berkata, “Tak ada. Semua sudah beres.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menatap Remi sambil menggigit bibir. Dia menggelengkan kepalanya berkali-kali, tampak kesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku bercanda,” kata Alea, lagi-lagi tersenyum. “Airish, coba lihat bagaimana di dalam sana!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku satukan telapak tanganku di tengah dan mulai mengembangkan jangkauan penglihatanku. Aku bisa melihat siluet mereka bertiga di dalam sana. Salah satu dari mereka tampak menggigil dan berjongkok. Salah satu lagi seperti sedang menghangatkan orang itu. Yang satu lagi sedang berdiri. Dia tak melakukan apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana?” tanya Alea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka tampak kedinginan,” kataku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alea tertawa kecil lalu berkata, “Maaf, Remi. Tapi sepertinya semua memang sudah beres.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi Remi menggeleng. Dia berjalan lemas menghampiri kami. Sandra, masih ada di atap kubus bersalju itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana satu orang lagi?” tanya Alea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya, aku sampai melupakannya. Kusentuhkan kedua tanganku ke tanah, memejamkan mata, mencari keberadaan lelaki spesies merah itu. Dia masih berada sekitar tiga meter di dalam tanah, tak bisa bergerak sedikit pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia baik-baik saja,” kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita tunggu lima menit,” kata Alea. “Lalu kita lepaskan mereka semua.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan akhirnya pertarungan ini kami menangkan. Sekali lagi semua berjalan seperti yang direncanakan Alea, meskipun tidak seratus persen. Dengan bangga, dia menjelaskan kepada kami seperti apa rencananya itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak awal, tujuan kami adalah membuat mereka mengira bahwa kami hanya berdua. Sandra menyembunyikan dirinya dengan sangat baik sedangkan Remi kubenamkan ke dalam tanah sangat dalam sehingga seorang pendeteksi di pihak mereka, si spesies merah, perlu konsentrasi yang sangat tinggi dan waktu yang cukup untuk bisa merasakan keberadaannya. Setelah mengetahui mereka berpencar menjadi dua kelompok, Alea ingin memastikan kombinasi masing-masing kelompok. Dia memeriksanya dari dua orang yang masuk dari depan. Kebetulan sekali yang kami temukan pertama salah satunya adalah spesies merah. Alea sepertinya punya pengalaman berhadapan dengan seorang spesies merah sehingga dia berniat memisahkannya dari temannya. Saat aku menyelimuti si spesies biru dengan rumput dan kami menghampirinya, sesungguhnya kami tahu bahwa saat itu dua orang temannya akan beraksi. Kami sengaja membuat diri kami seolah-olah lengah. Saat itu, kami tahu salah satu dari dua orang temannya itu adalah seorang spesies kuning. Alea sudah memperkirakan hal itu, termasuk balok es yang digunakannya untuk membekukan si spesies merah, dia sudah memperkirakan balok itu akan mencair setelah si spesies kuning beraksi. Dan dia sudah memperkirakan bahwa si spesies merah itu akan terlambat bergabung dengan teman-temannya. Saat itu posisinya pas seperti yang dia inginkan, tiga orang di satu tempat, si spesies merah terpisah. Sandra mengejutkan mereka di saat yang tepat dan itu memberi waktu yang cukup bagiku dan Alea untuk menghadapi si spesies merah. Saat aku berhasil membenamkan si spesies merah, kami sebenarnya sudah menang. Alea sudah memperkirakan si spesies kuning akan beraksi lagi, saat itulah dia menyiapkan air di sekitar mereka yang pada akhirnya dia gunakan untuk membentuk penjara air. Adapun tentang petir yang hampir menyambarku, itu di luar skenarionya. Aku bisa dikatakan beruntung petir itu hanya beberapa meter di depanku. Begitulah, sampai akhirnya dia menjebak mereka dalam penjara air, menyuruhku melapisnya dua kali, lalu menyuruh Sandra melapisnya lagi dengan salju. Selesai. Ketiga orang itu tak akan bertahan lama dalam suhu ruangan yang semakin dingin. Sekali lagi harus kuakui bahwa Alea memang pintar dan cerdas.&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054150040858616865-5517309231069409966?l=ardy-kresna-crenata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/feeds/5517309231069409966/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/2010/07/spesies-hijau-chapter-8b.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054150040858616865/posts/default/5517309231069409966'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054150040858616865/posts/default/5517309231069409966'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/2010/07/spesies-hijau-chapter-8b.html' title='spesies hijau chapter 8b'/><author><name>Ardy Kresna Crenata</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_DBAkcWrPpOM/TDsdMhaYCUI/AAAAAAAAAAw/HFjbf4gJFYo/S220/ardy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054150040858616865.post-2089179782414097540</id><published>2010-07-14T10:21:00.001+07:00</published><updated>2010-07-14T10:21:13.339+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='novel'/><title type='text'>spesies hijau chapter 8a</title><content type='html'>&lt;big&gt;&lt;b&gt;Chapter 8&lt;br /&gt;MELANGGAR PERATURAN&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/big&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Airish, 2011&lt;br /&gt;di sebuah rumah sakit di Bogor&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;LIMA belas menit sebelum jam sembilan. Mengingat perjalanan dari rumah sakit ini menuju akademi memakan waktu hampir satu jam, seharusnya aku dan Alea segera berangkat sekarang. Namun, itu tidak semudah yang dipikirkan. Ibu sedang tertidur, kali ini aku yakin dia benar-benar tertidur karena aku bisa mendengar dengkurannya yang halus. Alea sedang pergi ke kamar kecil. Ayah sudah pulang ke rumah karena besok dia harus ke kantor seperti biasa. Rayna tadi sempat ikut ayah pulang lalu kembali lagi ke sini sendiri, dia hanya pulang untuk membawa buku-buku dan menyiapkan baju seragam untuk hari esok. Kini dia sedang memeriksa kembali buku-buku yang dibawanya dalam tas. Aku berjalan menuju pintu yang dibiarkan terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau kemana, Mbak?” tanya Rayna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cari angin segar,” jawabku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berjalan di koridor yang redup dan lengang. Pilar demi pilar kulewati. Keluar dari koridor ini, aku berada di koridor utama. Di sini ada banyak kursi kayu yang berhadapan langsung dengan taman atau bisa disebut halaman rumah sakit, mungkin. Aku duduk, sendirian. Kulihat langit malam ini cukup banyak bintangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adikku Rayna, dia sama sekali tidak tahu bahwa aku dan dia sama sekali tidak memiliki ikatan darah. Tapi setelah kupikirkan kembali, dia memang tidak perlu tahu. Ayah benar mengenai definisnya tentang keluarga. Tidak perlu ada ikatan darah untuk menganggap seseorang sebagai keluarga. Ikatan hati dan waktu yang kami lalui bersama, jauh lebih berarti. Mulai saat ini, aku tidak akan lagi mempermasalahkan hal ini. Mereka dulu keluargaku, sekarang pun masih keluargaku, dan akan selalu menjadi keluargaku. Namun, satu kekhawatiran tetap saja tak bisa kuenyahkan. Bagaimana aku akan melewati malam ini jika aku memutuskan untuk tidak segera kembali ke akademi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alea tiba-tiba saja muncul dan duduk di samping kiriku. Dia berkata, “Sudah hampir jam sembilan malam. Kalau tidak berangkat sekarang, kita bisa terlambat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diam menatap langit yang dipenuhi bintang-bintang dengan berbagai ukuran dan cahaya. Salah satu bintang senang sekali berkedip. Aku lalu berkata, “Sepertinya aku ingin menginap. Semalam saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alea membuang napas, tanda bahwa dia kesal dengan ucapanku. Dia menatapku dan bertanya, &lt;br /&gt;“Apa kau serius? Ingat, aku sudah mengatakan padamu apa akibatnya jika kita melanggar aturan ini. mereka akan mengirim orang untuk memaksa kita kembali. Kau tahu kan itu artinya apa? Itu artinya kau membahayakan mereka yang ada di sini. Jujur saja, aku tak tahu apa yang akan mereka lakukan untuk memaksa kita kembali. Maksudku, sejauh mana mereka beraksi, aku masih belum tahu. Aku belum pernah mengalaminya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakannya semua itu dengan cepat tanpa banyak jeda. Ini mengingatkanku pada kali pertama aku bertemu dengannya di kamar A411 di akademi. Saat itu dia mengatakan banyak hal dengan cepat hampir tanpa jeda. Sampai saat ini aku masih heran bagaimana dia bisa memiliki napas panjang seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tahu,” kataku. “Tapi aku belum bisa kembali sekarang. Belum mau.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada dua alasan. Pertama, aku tak mungkin pergi begitu saja meninggalkan ibu dan adikku di sini. Bagaimana reaksi mereka nanti mendapatiku hilang. Bisa-bisa kondisi ibu memburuk. Kedua, tujuanku sebenarnya keluar akademi adalah untuk menemui Valen. Karena seharian ini waktuku habis di sini, maka satu-satunya kesempatan untuk bertemu dengannya adalah besok.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau yakin dengan keputusanmu ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diam sebentar lalu menjawab, “Yakin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi Alea membuang napas. Dia mungkin sudah tahu, kalau aku sudah keras kepala begini, tak ada yang bisa dia lakukan untuk mengubah keputusanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian aku berkata, “Aku akan bertahan di sini. Tapi aku tak memaksamu untuk ikut tetap di sini. Kalau kau mau kembali ke akademi, aku tidak akan menghalangimu, dan aku tidak akan membencimu karenanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alea tersenyum kecut lalu membuang napas untuk ketiga kalinya dalam percakapan ini. dia berkata, “Jangan khawatir. Aku tidak mau kembali ke akademi sendirian. Selain itu, aku ingin tahu apa yang akan mereka lakukan nanti di sini.” Dia mengatakannya dengan sedikit riang dan mengakhirinya dengan senyuman. Namun, aku tahu di dalam hatinya dia khawatir. Tentu saja dia khawatir, ini bukan main-main.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah lewat dua menit dari jam sembilan,” katanya. “Kita harus bersiap-siap untuk menghadapi orang-orang yang mereka kirim dari sekarang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku ke kamar inap dulu,” kataku. Aku lalu berdiri dan berjalan di koridor, masuk ke koridor lainnya lalu masuk ke kamar tempat ibu dirawat. Rayna kutemukan tertidur di kursi dengan tangan dan kepanya berada di tempat tidur, menyentuh tangan ibu. Syukurlah mereka berdua tidur. Dengan begini aku bisa lebih fokus menghadapi kemungkinan yang ada. Aku mengambil jaket yang tadi dikenakan Rayna dan menyelimuti punggungnya. Dia bergerak sedikit tapi tidak terbangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Airish, kemari!” Alea sudah berdiri di muka pintu. Aku menghampirinya. “Kebetulan sekali mereka sudah tidur. Aku akan memasangi kamar ini dengan perisai biru yang kuat dan tahan lama agar mereka tidak terganggu. Kita akan menunggu mereka di koridor depan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kedengarannya menarik,” kataku. “Bagaimana dengan para suster dan petugas-petugas rumah sakit?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sudah membuat mereka semua tertidur. Mereka akan tidur pulas sampai pagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kurasa kau berlebihan,” kataku tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia hanya menanggapinya dengan tersenyum juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian, kami sudah duduk di kursi tadi. Sebelum meninggalkan kamar, aku sempat mengambil dua buah apel dan kini memberikannya satu kepada Alea. Kami sama-sama makan apel di malam hari yang sepi sambil menikmati langit yang penuh bintang. Wah, mengapa rasanya jadi romantis begini? Alea tampaknya sudah siap dengan rencananya. Aku belum pernah melihat kemampuannya sehingga ini jadi kesempatan bagiku. Andy pernah mengatakan padaku bahwa Alea itu pintar, Lena juga pernah mengatakannya. Seperti apa kepintarannya, tak lama lagi akan kuketahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam sepuluh tepat, kami mengubah iris. Alea menggunakan barrier-nya untuk melindungiku kami berdua sementara aku mulai mengembangkan mode pendeteksi, memperluas jangkauan penglihatanku sampai mencakup seluruh ruma sakit ini. Kalau mereka nanti tiba, kami akan tahu. Kira-kira jam setengah sebelas, aku merasakan keberadaan dua orang yang datang dari gerbang depan. Aku memberitahu Alea dan dia sedikit terkejut karena menurutnya ini terlalu cepat. Maksudnya adalah kedatangan mereka lebih cepat dari yang dia perkirakan. Tapi hanya sebentar saja dia terkejut. Seterusnya dia tampak tenang dan percaya diri. Kami masih duduk di kursi kayu, menunggu mereka cukup dekat. Satu hal yang telah kami sepakati: tidak boleh merusak fasilitas yang ada di rumah sakit ini, meski tanah sekali pun. Lalu apakah yang akan kulakukan? Aku masih menyimpannya untuk nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kena!” kata Alea tersenyum. Tapi, beberapa saat kemudian senyumnya hilang. “Dia lepas,” katanya. Aku sama sekali tak mengerti apa yang dia katakan. Dia lalu bertanya, “Kau bisa merasakan dari spesies apa saja dua orang itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangguk lalu mencoba mengenali dua orang itu. Aku berkata, “Yang satu spesies merah, yang satu spesies biru.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pantas dia bisa lepas,” katanya. “Ayo! Kita ke lantai 2!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa ke lantai 2?” dia sudah berdiri ketika aku bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ikut saja dulu! Cepat!” dia tidak menjelaskan apapun. Mungkin ini bagian dari rencananya. Mari kita buktikan apakah dia memang pintar seperti yang dikatakan Andy dan Lena atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian kami sudah ada di lantai 2. Dari tempat ini kami bisa melihat dengan jelas taman dan gerbang depan serta koridor utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di mana mereka sekarang?” tanya Alea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencari keberadaan mereka. “Aku tak tahu. Aku tak bisa menemukan mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sepertinya si spesies biru seorang pelindung yang ahli,” kata Alea. “Bisa tolong beri aku sejumlah daun?!” Tangannya yang kiri menunjuk sebuah pohon beringin yang besar di dekat gerbang depan. Kami memang sudah sepakat untuk tidak merusak fasilitas rumah sakit, bahkan tanah sekalipun, tapi tak ada yang menyebutkan soal daun. Aku pejamkan mataku yang kanan, kupusatkan energi di sana, lalu membukanya kembali. Kuangkat kedua tanganku ke depan dan menggerakkannya seperti seorang nelayan menarik jala. Perlahan sekumpulan daun di pohon beringin itu bergerak dan ketika kutarik kedua tanganku dengan cepat, sekumpulan daun itu menghampiri kami dengan cepat. Sebelum daun itu menyentuh kami, Alea menyuruhku menahannya. Daun-daun itu pun berhenti di udara, di hadapan kami. Entah apa sebenarnya yang dia rencanakan. Sesaat dipejamkannya kedua matanya, tangannya diangkat ke depan, lalu ketika matanya terbuka, jari-jari tangannya bergerak-gerak, lalu muncullah air dari daun-daun itu. Tadi sore memang sempat ada hujan, jadi airnya masih ada yang menempel di daun-daun. Dari sekumpulan daun yang kubawa untuknya, cukup banyak air yang terkumpul dan melayang di atas daun-daun itu. Daun-daun itu kini kering, meskipun warnanya tidak berubah. Alea menyuruhku menghamburkan daun-daun itu di sepanjang koridor utama dan koridor tempat kami duduk tadi. Aku menggerakkan tanganku dengan cepat ke arah koridor itu dan dalam sekejap daun-daun itu berhamburan di sana. Dalam hati aku bertanya-tanya apa yang direncanakan Alea. Sejurus kemudian aku mulai mengerti. Saat daun-daun itu kuhamburkan, ada satu lokasi di mana daun-daun itu seperti terhambat untuk jatuh ke lantai. Alea tidak sedikit pun melepaskan matanya saat aku menghamburkan daun-daun itu sehingga dia bisa tahu persis di mana kedua orang itu kini berada. Dengan sebuah gerakan tangan yang cepat, air yang melayang itu digerakkannya menuju koridor utama. Koridor itu pun jadi basah di sebuah lokasi. Alea lalu berkata, “Beku! Perangkap es!” Aku melihat air di koridor itu membeku menjadi es berwarna putih. Ukuran es itu kira-kira 3x3 meter, dan jika dugaanku benar, kedua orang itu kini terperangkap di sana dan tak bisa bergerak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo!” kata Alea. Kami lalu bergerak cepat menuruni tangga dan berjalan hati-hati saat menelusuri koridor. Ada dua alasan tentunya kami tidak berlari. Pertama, ini rumah sakit, dan sudah malam. Kedua, mereka bisa menemukan kami jika kami berisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setibanya di lokasi perangkap es itu berada, kami menemukan empat jejak kaki. Tampaknya dua orang itu berhasil melepaskan diri. Alea tersenyum dan berkata, “Sudah kuduga. Kalian tidak dikirim untuk memaksa kami kembali. Tunjukkanlah diri kalian! Percuma saja sembunyi. Aku tahu kalian beberapa meter di belakang kami.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sedikit terkejut lalu menoleh ke belakang. Beberapa saat kemudian, dua orang itu muncul. Dan yang membuatku lebih terkejut, aku mengenali mereka. Remi dan Sandra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari yang lalu, sehabis kelas praktek yang melelahkan, aku langsung kembali ke kamar di lantai 4. Sebenarnya aku sudah sangat lapar, tapi kuputuskan untuk mandi dulu biar sedikit segar. Sebelum sampai di kamarku, pintu kamar tetangga, A413, terbuka dan seorang lelaki muncul dari kamar itu. Dia menatapku cukup lama lalu tersenyum. Aku tidak membalas senyumnya dan melewatinya begitu saja. Dia mungkin masih mengamatiku setelah aku melewatinya tapi aku tidak peduli. Kumasukkan kunci dan masuk ke kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besoknya, di tempat yang sama, di waktu yang sama, dalam kondisi yang sama, lelaki itu muncul lagi. Kali ini dia menghampiriku dan berkata, “Hai. Namaku Remi. Salam kenal.” Dia menyodorkan tangannya. Meskipun enggan, aku akhirnya menyambut tangannya dan berkata, “Airish.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baru ya di sini?” tanyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya,” jawabku malas. Dalam hati aku kesal karena lelaki ini menghentikan langkahku padahal aku sangat lelah dan gerah dan ingin segera mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seakan-akan tak peduli dengan raut mukaku yang kesal, dia tersenyum dan berkata, “Biar kutebak. Kau tiba dua hari yang lalu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya,” jawabku pendek, tanpa tersenyum, tanpa menunjukkan rasa tertarik sedikit pun dengan percakapan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sepertinya kau lelah dan lapar,” dia mengamati kondisi tubuhku sambil terus tersenyum. “Mau kubelikan sesuatu di kantin?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keningku mengkerut. “Tak perlu,” kataku. “Aku akan membelinya sendiri nanti.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak usah sungkan,” dia masih saja tersenyum. “Mungkin saat ini kau ingin mandi dulu. Jadi, biar efisien, biar aku yang membelikan makananmu! Setelah kau selesai mandi, makananmu sudah siap. Tak perlu menunggu lagi. Bagaimana?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sebenarnya lebih suka mengatakan tidak. Namun, apa yang dikatakannya benar juga. Aku sudah sangat lapar dan jika setelah mandi nanti harus turun ke kantin, memesan makanan, lalu menunggu, rasanya perutku sudah keburu sakit, seperti yang terjadi kemarin. Akhirnya aku menerima tawarannya dengan syarat uangnya nanti aku ganti. Aku pun memintanya membelikanku nasi goreng ayam. Aku masuk ke kamar dan mandi. Sesaat setelah keluar dari kamar mandi, makananku sudah datang, diantar langsung. Kusuruh dia menunggu sebentar sementara aku berpakaian. Untungnya aku bukan tipe orang yang begitu modis sehingga harus pilih-pilih akan memakai apa. Seperti biasanya, aku hanya memakai jeans ketat dan kaos lengan pendek. Rambut hitam tebalku kusisir sederhana saja. Tak ada waktu untuk memakai pelembab. Dia sudah menunggu lebih dari lima menit. Alea belum kembali ke kamar. Entah kemana dia. Saat kubuka pintu, si pengantar makanan dan makananku berada di sana. Remi, lelaki itu, tersenyum dan menyerahkan nasi goreng yang kupesan. Sesuai janji, aku mengganti uangnya. Dia tampak tidak senang tapi aku tak peduli. Kuucapkan terima kasih lalu menutup pintu dan menguncinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian itu akhirnya menjadi rutinitasku setiap harinya. Tanpa pernah kuminta, dia menjadi pengantar makan malamku. Anehnya, tidak sedikit pun dia tampak kecewa padahal aku selalu menanggapinya dengan dingin, bahkan sangat dingin. Suatu hari, dia malah memaksaku untuk tidak mengganti uangnya. Dan bukan hanya itu, kami jadi sering berpapasan. Di lorong kamar, di lorong kuliah, di kantin, dan di tempat-tempat lain. Setiap kali ada kesempatan untuk menahanku, dia melakukannya. Dia selalu menjadi orang yang membuka topik percakapan yang sebenarnya sama sekali tidak membuatku tertarik. Aku hanya menjawab seperlunya tanpa pernah sekali pun tersenyum. Akan tetapi, dia selalu saja tersenyum dan bersikap begitu ramah padaku, dan bersedia membantuku kapan saja, meskipun aku tidak pernah memintanya. Lama-lama aku tiba pada satu kesimpulan: lelaki ini menyukaiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah suatu kali dia mengajakku bicara di kantin. Seperti biasa aku tidak begitu tertarik. Tiba-tiba saja Sandra muncul dan duduk di meja yang sama dengan kami. Kukira dia akan ikut dalam percakapan ini, tapi ternyata tidak. Dia tak sedikit pun bicara, hanya menyantap makanannya sampai habis. Ekspresinya seperti biasa, datar, tak bisa ditebak. Namun setiap kali Remi mulai bicara, Sandra seperti sengaja menyentuhkan sendoknya ke mangkuk—saat itu dia makan baso dengan mie kuning. Dia melakukannya beberapa kali. Remi merasa tak nyaman dengan hal itu sampai akhirnya dia memutuskan untuk pergi. Aku sempat melihat matanya menatap Sandra tidak suka. Setelah Remi pergi, Sandra masih saja tidak bicara. Akhirnya aku bertanya padanya, “Apa yang tadi kau lakukan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menyantap sebentar basonya lalu menjawab, “Mengingatkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengingatkan apa?” aku jadi penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hanya mengingatkan,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku jadi ingat kejadian malam itu, di atap auditorium saat Sandra hampir saja menciumku. Aku jadi berpikir, jangan-jangan dia memang menyukaiku dengan cara itu. Aku merasa geli dan tersenyum cukup lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika hari berikutnya kebetulan kami bertiga berpapasan, Remi tersenyum padaku seperti biasanya, dan seperti biasanya aku tidak membalas senyumnya. Sandra pun seperti biasa hanya diam. Saat Remi menatap Sandra, lagi-lagi, dia menatapnya seolah-olah ingin mencelakainya. Aku jadi semakin yakin mereka berdua sedang bersaing, bersaing untuk mendapatkan perhatianku. Aku tersenyum lebar cukup lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aneh sekali melihat Remi dan Sandra muncul bersama-sama dan tampak akrab. Meskipun begitu, Sandra tetap diam seperti biasanya. Remi tersenyum saat melihatku. Mereka berdiri beberapa meter di depan kami, di koridor utama rumah sakit ini. Remi menatap Alea dan bertanya, “Bagaimana kau bisa tahu tepat lokasi kami?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mudah saja,” jawab Alea. “Saat aku menjebak kalian dalam perangkap es ini, aku sudah tahu si spesies biru ini bisa melepaskan diri dan membantumu lepas. Namun, memang itu tujuanku. Dari awal aku tidak berniat menjebak kalian. Aku menggunakan perangkap es ini untuk menempelkan butir-butir es di kaki kalian sehingga walau pun kalian melepaskan diri, aku bisa tahu keberadaan kalian.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerdas! gumamku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Remi mengamati kedua kakinya. Memang ada butiran-butiran es di sana, biar pun sedikit sekali. Dia lalu bertanya, “Lalu, bagaimana soal yang satu lagi? Bagaimana kau bisa tahu bahwa kami tidak diutus untuk memaksamu kembali ke akademi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alea menoleh ke belakang, menggerakkan tangannya yang kanan, lalu es itu mencair menjadi hanya air yang kemudian digerakkannya ke saluran air. Dia berkata, “Kalau yang itu, aku sudah menduganya dari awal, sejak Airish memberitahuku kalian datang. Seandainya kalian benar-benar orang yang diutus akademi, kalian tidak akan begitu ceroboh membiarkan diri kalian tanpa perlindungan padahal kalian tahu Airish memiliki penglihatan yang lebih. Aku lalu mengeceknya dengan penjara air yang telah kusiapkan di gerbang depan. Kalian terjebak, tapi berhasil lepas. Itu membuatku yakin bahwa seseorang dari kalian adalah spesies biru. Aku lalu memastikannya saat kami ada di atas. Aku menyuruh Airish melihat di mana kalian berada, tapi dia tidak bisa menemukan kalian. Itu berarti si spesies biru adalah seorang pelindung. Jadi, dari awal kalian memang tidak berniat menyembunyikan diri, namun karena tiba-tiba saja kalian terjebak penjara air, kalian terpaksa harus hati-hati. Dan yang benar-benar menunjukkan bahwa kalian bukan utusan akademi adalah saat kami mendatangi tempat ini. Sebenarnya aku sudah tahu lokasi kalian namun sengaja bertingkah seolah-olah tak tahu. Aku sengaja memunggungi kalian untuk memberi kalian kesempatan menyergap kami, tapi kalian tidak melakukannya. Jadi, dugaanku sepenuhnya benar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi aku harus mengakui bahwa dia cerdas. Semua berjalan sesuai dengan apa yang dia rencanakan. Aku sama sekali tidak bisa menebak semua itu jika dia tidak menjelaskannya. Tak salah Andy dan Lena mengatakan bahwa dia cerdas, genius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang giliranku bertanya,” kata Alea. “Apa tujuan kalian datang kemari?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berharap Sandra yang menjawabnya, tapi dia hanya diam. Akhirnya Remi lagi yang menjawab, “Lena menyuruh kami membantu kalian.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lena?” tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tadi saat kau ke kamar inap,” kata Alea, “aku mengirim sms kepada Lena, memberitahunya bahwa kita akan melanggar aturan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terus reaksinya?” tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alea menunjuk Remi dan Sandra lalu berkata, “Dengan adanya dua orang ini, kurasa reaksinya positif.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau begitu seharusnya kita tidak lagi dalam masalah,” kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak juga,” kata Alea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Remi memotong, “Lena menyuruh kami ke sini karena akademi akan mengirism satu tim untuk membawa kalian kembali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi,” kataku, “petinggi-petinggi yang lain tetap menjatuhi kami hukuman?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya,” jawab Remi. “Tapi dengan datangnya kami, setidaknya kita punya peluang bagus untuk menghadapi mereka nanti.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Empat orang?” tanya Alea. Remi mengangguk. Alea lalu bertanya lagi, “Apa mereka sudah bergerak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Remi menjawab, “Kami berdua meninggalkan akademi secara sembunyi-sembunyi, bahkan tanpa dipasangi gelang.” Dia menunjukkan pergelangan tangannya. Tak ada gelang perak seperti di pergelangan tangan kami. “Segera setelah Lena menerima sms darimu, kami diperintahkan pergi. Saat itu masih ada cukup banyak waktu sampai batas waktu yang kalian miliki habis. Mereka baru akan bergerak setelah batas waktu habis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau begitu, tak lama lagi,” kata Alea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekitar sepuluh atau lima belas menit lagi,” kata Remi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku harap mereka tidak menyadari bahwa kita kedatangan bantuan,” kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tenang saja. Saat mereka tahu, mereka sudah terlalu jauh untuk meminta bantuan.” Sandra akhirnya bicara juga. Kulihat pupilnya yang tadi bulat telah berubah bentuk seperti pusaran air. Baru pertama kali kulihat pupil seperti itu.&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054150040858616865-2089179782414097540?l=ardy-kresna-crenata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/feeds/2089179782414097540/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/2010/07/spesies-hijau-chapter-8a.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054150040858616865/posts/default/2089179782414097540'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054150040858616865/posts/default/2089179782414097540'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/2010/07/spesies-hijau-chapter-8a.html' title='spesies hijau chapter 8a'/><author><name>Ardy Kresna Crenata</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_DBAkcWrPpOM/TDsdMhaYCUI/AAAAAAAAAAw/HFjbf4gJFYo/S220/ardy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054150040858616865.post-6532936027025194519</id><published>2010-07-14T10:18:00.001+07:00</published><updated>2010-07-14T10:18:56.337+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='novel'/><title type='text'>spesies hijau chapter 7b</title><content type='html'>&lt;b&gt;Alea, 2030&lt;br /&gt;Selakopi, Cianjur&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Aku dan Inna baru saja selamat dari suatu upaya pembunuhan—setidaknya itulah yang ada di pikiranku. Wanita dengan pakaian serba hitam itu pasti berniat membunuh kami, terutama membunuhku, karena dia beberapa kali menyinggung spesies hijau terakhir. Aku ingat dia berkata bahwa dia tidak menyangka kalau spesies hijau terakhir ternyata masih remaja. Mungkin dia mengharapkan seseorang yang umurnya jauh di atasku, seseorang dengan umur yang sama dengannya barangkali. Aku yakin orang itu adalah ibu. Rupanya mereka—spesies hitam—mencari ibu selama ini. Sayangnya ibu sudah tiada. Jadi, aku benar-benar seorang spesies hijau terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari sudah mulai gelap dan aku masih berada di rumah Inna. Tante Sandra sedang memasak sementara suaminya sedang mandi. Inna mengajakku ke kamarnya. Aku duduk di pinggiran tempat tidur. Dia lalu menunjukkan buku hitam peninggalan ibu. Ah ya, buku itu masih di sini. Dia membuka sebuah halaman dan menyuruhku membacanya. Setelah membaca beberapa kalimat di halaman itu, aku tahu apa yang diceritakan di sana—aku sudah membacanya habis satu kali. Di halaman itu dan beberapa halaman seterusnya, nenek menceritakan tentang spesies hitam, spesies terkuat. Saat nenek menjalani kehidupannya di akademi, tidak ada spesies hitam di sana. Nenek baru mengetahui keberadaan spesies itu ketika dia dan Lena—lagi-lagi Lena—ditugaskan dalam suatu misi yang membuat mereka memasuki hutan—detail tentang misi itu tidak dijelaskan di buku ini. Spesies hitam pertama yang ditemukan nenek adalah seorang wanita bermata sipit. Di hutan itu, nenek dan Lena sempat bertarung dengannya, namun wanita spesies hitam itu berhasil kabur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melaporkan kejadian di hutan itu ke pemimpin akademi saat itu, namanya Maya, besok harinya sekitar seratus orang dari berbagai spesies di akademi dikerahkan untuk mencari dan memusnahkan spesies hitam itu. Nenek saat itu termasuk orang yang tetap di akademi. Malam harinya, Maya menyatakan kemenangan dan musnahnya spesies hitam. Namun ternyata masalah tidak selesai di situ. Salah satu petinggi akademi yang berasal dari spesies hijau, nenek menggambarkannya sebagai seorang lelaki yang sedikit gemuk, menyatakan bahwa perang, perburuan, dan pemusnahan terhadap spesies hitam itu tidak seharusnya terjadi. Lelaki itu menyebut-nyebut sesuatu yang terjadi lima belas tahun sebelumnya. Di halaman berikutnya nenek menjelaskan apa yang terjadi lima belas tahun sebelumnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian lima belas tahun sebelumnya yang disebut-sebut itu adalah sebuah pembantaian. Entah berapa puluh tahun dari sekarang—aku malas menghitungnya—spesies hitam yang saat itu hidup bersama spesies-spesies lainnya selain spesies hijau—saat itu spesies hijau belum eksis—secara mengejutkan diserang oleh spesies-spesies lainnya. Belum juga tiga puluh tahun sejak spesies hitam itu diciptakan, mereka sudah diserang, dibunuh, dibantai karena para petinggi dari spesies-spesies lain menganggap keberadaan spesies hitam terlalu berbahaya, mengancam spesies yang lainnya. Salah satu alasannya adalah karena spesies hitam jauh lebih kuat daripada spesies-spesies yang ada. Spesies hitam itu sendiri diciptakan dari hasil persilangan rumit yang melibatkan semua spesies yang saat itu ada. Hasilnya, terciptalah suatu spesies dengan kekuatan yang melebihi spesies-spesies pembentuknya. Dengan mempertimbangkan hal itu, pemimpin akademi saat itu yang berasal dari spesies merah, memutuskan untuk memusnahkan spesies hitam sebelum populasi mereka terlalu banyak. Tidak mudah untuk memusnahkan spesies terkuat meskipun jumlah mereka sangat sedikit dibandingkan kelima spesies lainnya bergabung menjadi satu kekuatan. Namun, upaya pemusnahan itu dikatakan 99% berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segelintir spesies hitam berhasil melarikan diri dan bertahan entah di mana. Sejak saat itu mereka berusaha keras untuk menjaga kelangsungan spesiesnya dari kepunahan dan merencanakan balas dendam suatu hari. Namun sayang, sebelum upaya balas dendam itu sempat dilakukan, mereka sudah diserang lebih dulu dengan sekitar seratus orang dari berbagai spesies di akademi. Maya, si pemimpin akademi saat itu—seorang spesies biru, menggunakan istilah perang terhadap spesies hitam. Nenek lebih suka menyebutnya perburuan terhadap spesies hitam. Saat itu Maya menyatakan bahwa perburuan berakhir dan spesies hitam sudah punah. Namun ternyata spesies itu tidak benar-benar punah. Beberapa orang—entah berapa orang tepatnya—berhasil selamat dari perburuan besar-besaran itu. Mereka hidup dengan sembunyi-sembunyi, menunggu saat yang tepat untuk melakukan balas dendam yang belum sempat dilakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana pendapatmu?” tanya Inna. Ini pertama kalinya setelah sekian lama, Inna membuka topik percakapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apanya? Spesies hitam?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan para petinggi,” kata Inna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berpikir sejenak lalu berkata, “Kalau dipikir-pikir, aku prihatin juga dengan apa yang dialami spesies hitam. Mereka pasti mengalami masa-masa yang sulit ketika spesies-spesies lainnya memusuhinya. Ah, bukan sekedar memusuhinya, tapi berusaha memusnahkannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sepakat,” kata Inna. “Hak mereka untuk hidup diambil begitu saja. Itu kejam. Padahal spesies-spesies itu yang menciptakan mereka. Menurutmu siapa yang paling bertanggung jawab atas semua itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berpikir sejenak lalu menjawab, “Pemimpin akademi saat itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pemimpin akademi tidak akan begitu saja mengambil keputusan tanpa mendiskusikannya dulu dengan para petinggi lainnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi menurutmu, para petinggi saat itu yang paling bertanggungjawab?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jelas. Setiap keputusan yang diambil adalah hasil diskusi para petinggi akademi. Itulah yang kupahami dari buku ini dan dari apa yang dijelaskan ayah tentang pekerjaannya di akademi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya, ayah Inna adalah salah satu petinggi akademi, tapi tampaknya dia bukan pemimpin akademi saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi ada satu hal yang janggal,” kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebelum perburuan itu terjadi, spesies hitam hidup di akademi, bukan? Dengan begitu, salah satu petinggi akademi saat itu pasti berasal dari spesies hitam. Pertanyaannya, bagaimana dia sampai tidak tahu rencana perburuan itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sama-sama berpikir sejenak lalu menjawab pertanyaan itu serentak, “Sembunyi-sembunyi.” Kami mengatakannya sambil menatap satu sama lain. Kemudian aku melanjutkan, “Petinggi-petinggi yang lain merencakan perburuan itu secara sembunyi-sembunyi. Dengan kata lain..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pengkhianatan,” kata Inna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sesuatu yang mengganggu Inna. Aku bisa melihat itu dari raut mukanya. Dia berdiri lalu menatap jendela. Di luar, matahari sedang terbenam. Aku harus segera pulang, namun tak bisa dengan begitu banyak pertanyaan mengamuk di kepalaku. Aku menghampiri Inna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa?” tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sedang memikirkan apa yang akan dilakukan ayahku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksudmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia berhenti memandangi jendela. Kedua matanya kini menatap mataku. Dia berkata, “Ayahku salah satu petinggi akademi. Dia baru saja mengetahui bahwa spesies hitam masih ada. Aku sedang memikirkan apa yang akan dilakukannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah aku benar-benar mengerti apa yang dia maksud? Entahlah. Aku hanya berharap dia tidak sedang berpikir untuk memihak spesies hitam yang salah satu dari mereka baru saja menyerang kami. Jika itu terjadi, rasanya akan sangat rumit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di balik jendela, matahari sudah terbenam, tapi aku belum bisa pulang karena Tante Sandra menyuruhku makan malam di rumah ini. Om Remi sudah duduk di kursinya di dapur. Aku dan Inna akhirnya bergabung. Seperti biasa, saat makan Inna tak pernah bicara. Begitu juga Tante Sandra. Lain halnya dengan Om Remi. Meskipun dia tidak banyak bicara, dia cukup bisa memancing seseorang untuk bicara. Dan dia terus memancingku dengan pertanyaan-pertanyaan tentang ibu. Sepertinya dia memang pernah dekat dengan ibu, dulu. Entah seperti apa hubungan kedekatan mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bosan terus diserang pertanyaan, aku pun bertanya padanya, “Pemimpin akademi saat ini siapa? Dari spesies mana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tampak terkejut dengan pertanyaan yang kuajukan. Begitu pula Inna dan Tante Sandra. Mereka sampai berhenti menggerakkan tangannya. Kemudian Om Remi berkata, “Sepertinya kau sudah tahu banyak soal petinggi akademi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menunggu dia menjawab pertanyaanku, tapi dia justru menungguku meresponnya. “Tidak juga,” kataku. “Aku hanya membaca buku yang ditulis nenek.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia sepertinya tak begitu memahami apa yang kumaksud dengan buku itu. Tante Sandra menyentuh tangannya dan berkata, “Buku yang waktu itu ditunjukkan Airish. Sejarah spesies hijau.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Om Remi mengangguk-ngangguk lalu berkata, “Pemimpin akademi saat ini adalah seorang spesies kuning.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spesies kuning? Sepertinya ada semacam giliran dalam posisi pemimpin akademi ini. Di dalam bukunya, nenek tidak menjelaskan bagaimana seorang pemimpin akademi dipilih dari petinggi-petinggi yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah ada semacam giliran dalam posisi pemimpin akademi ini?” tanyaku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak,” jawab Om Remi. “Pemimpin akademi dipilih oleh petinggi-petinggi yang ada. Hanya saja, kebetulan dari generasi ke generasi pemimpin akademi berasal dari spesies yang berbeda.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu rupanya. Jadi hanya kebetulan di setiap generasi pemimpin akademi dipegang oleh spesies yang berbeda. Lalu, pertanyaan yang lain muncul di kepalaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berapa lama masa jabatannya?” tanyaku. Masa jabatan? Seakan-akan presiden saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Satu generasi,” jawabnya. Jawaban itu kurang jelas. Dia lalu melanjutkan, “Ketika generasi selanjutnya dianggap sudah cukup mampu mengemban jabatan itu, maka ditunjuk petinggi-petinggi yang baru di setiap spesies lalu diadakan pemilihan pemimpin oleh petinggi-petinggi yang baru itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku rasa aku mulai mengerti sistem yang berlaku di akademi. Sayang sekali aku tidak pernah merasakannya. Ibuku dan nenekku, mereka sempat merasakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kecuali jika si pemimpin akademi meninggal karena suatu hal,” lanjutnya. “Kalau keadaannya begitu, pemimpin dari generasi baru segera dipilih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin jauh dia menjelaskan, semakin banyak pertanyaan yang muncul di kepalaku. Itu membuat jatah makan malamku masih saja sama, belum habis juga, sedangkan Inna sudah habis dan Tante Sandra justru nambah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pemimpin akademi di generasi sebelum ini dari spesies apa?” tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Spesies merah,” jawab Om Remi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah dia masih hidup?” aku tak tahu mengapa pertanyaan ini kuajukan. Sungguh aku tak tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Om Remi menggeleng pelan lalu berkata, “Dia meninggal beberapa tahun yang lalu.”&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Airish, 2025&lt;br /&gt;di sekitar Taman Kencana, Bogor&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa kematian selalu datang begitu saja tanpa pernah aku memanggilnya? Dua belas tahun yang lalu, teman sekaligus sahabatku Alea, mati dalam suatu upaya kudeta. Tujuh tahun yang lalu, Lena, orang yang selalu menolongku saat di akademi, sahabat ibu kandungku, dikabarkan mati karena penyakit. Itu sangat aneh, mengingat dia adalah seorang penyembuh. Aku yakin sesuatu yang tidak wajar telah terjadi di balik semua itu, hanya saja aromanya tidak tercium olehku. Tiga tahun kemudian, atau empat tahun yang lalu, kematian mendatangi Valen, suamiku. Kematian menjemputnya dan tak pernah membawanya kembali. Dia meninggal setelah koma dua bulan, lagi-lagi karena melindungiku. Dan tahun ini, beberapa hari yang lalu, satu orang lagi yang sangat berarti dalam hidupku, Andy, mati karena usia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andy sudah mati dan aku tak bisa selamanya mengharapkan temanku yang tersisa untuk terus melindungi kami. Aku harus menjaga diriku sendiri dan menjaga Alea, anakku. Anakku kuberi nama Alea dengan satu alasan: agar aku merasa teman sekaligus sahabatku sewaktu di akademi selalu menemaniku setiap saat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini tanggal 14 di bulan Februari. Aku sudah membeli kue tar yang tidak begitu besar untuk dua orang dan menancapkan tiga batang lilin berwarna hijau di atasnya. Alea di sampingku sudah tak sabar ingin segera menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Kue tar itu sudah ada di meja di depan kami. Aku menyalakan ketiga lilinnya yang hijau dan Alea pun mulai bernyanyi sambil bertepuk tangan. Usianya tahun ini sudah sebelas, tapi ia masih bertingkah seperti lima tahun lebih muda. Bukan hanya itu, semakin lama dia semakin cerewet, semakin mengingatkanku pada sahabatku itu. Nama mereka sama, sifatnya mirip, hanya wajahnya berbeda. Tentu saja karena Alea anakku, wajahnya mirip denganku. Lagu selamat ulang tahun selesai dinyanyikan. Setelah menghitung mundur dari tiga sampai satu, Alea meniup lilin-lilin itu sehingga apinya mati dalam sekali tiup. Dia bertepuk tangan dan tersenyum. Melihat dia begitu riang dan tampak gembira, aku justru tak sanggup lagi menahan air mataku. Kubiarkan saja air mataku mengalir, menjadi serupa sisa hujan di jendela yang bergerak lambat. Asap mengepul dari lilin-lilin itu, bergerak ke atas. Alea berkata, “Selamat ulang tahun, Ayah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Valen meninggal lima tahun yang lalu. Saat itu Alea baru kelas 1 SD. Kesedihan yang dirasakannya mungkin lebih besar daripada yang kurasakan karena saat itu adalah untuk pertama kalinya dia kehilangan seseorang yang berharga dalam hidupnya, sedangkan bagiku bukan yang pertama kali. Meskipun begitu, kesedihan yang kurasakan pun luar biasa menyakitkan. Seandainya aku bisa mengeluarkan kesedihan itu, mungkin akan sebesar gunung, bahkan lebih. Sejak saat itu, aku dan Alea selalu merayakan hari ulang tahun Valen tanpa kehadirannya. Tak ada keharusan untuk melakukannya sebenarnya. Kami hanya ingin terus mengenangnya. Kami hanya ingin meyakinkan diri kami bahwa Valen selalu ada di sisi kami sampai suatu saat nanti tiba saatnya kami untuk pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alea memotong kua tar itu, menaruh potongannya ke piring kecil dan menyerahkannya padaku. Dia berkata, “Potongan pertama untuk orang yang paling disayangi ayah.” Sungai air mata di pipiku berubah deras mendengarnya. Alea tersenyum, senyumnya begitu damai. Dia memotong lagi, menaruh potongannya di piring kecil yang lain lalu berkata, “Potongan kedua untuk orang kedua yang paling disayangi ayah.” Dia tersenyum lalu memakan kue itu. Seperti yang terjadi di tahun-tahun sebelumnya, aku merasa sedih dan bahagia di saat yang sama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah perayaan ulang tahun Valen selesai, Alea masuk ke kamarnya untuk tidur. Dua tahun lalu aku pernah menguping di pintu kamarnya. Ternyata dia tidak langsung tertidur. Sekitar setengah jam di kamarnya, dia menangis. Aku menduga dia membenamkan wajahnya ke bantal agar suara tangisnya tidak kudengar. Anakku itu, nyata-nyatanya lebih tegar dariku. Saat ini pun, dia akan melakukan hal yang sama. Untuk beberapa lama dia akan menangis sampai akhirnya tertidur. Aku tak ingin mengganggunya. Aku hanya duduk di depan televisi, memindah-mindahkan channel tanpa berniat menontonnya sama sekali. Rumah ini sepi. Sudah empat tahun hanya kami berdua yang tinggal di rumah ini. Mungkin sudah saatnya aku membawa Alea pergi ke suatu tempat yang sedikit ramai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menghindar dari kesedihan berlarut-larut, aku mengalihkan pikiranku ke hal lain. Sialnya, pikiranku lagi-lagi menyangkut di kematian seseorang, kematian Andy. Dengan meninggalnya Andy, di akademi akan segera diadakan pemilihan pemimpin yang baru dari generasi yang baru. Iseng-iseng aku membayangkan diriku masih ada di komunitas itu, mungkin aku punya kesempatan untuk menjadi kandidat, terlebih lagi, aku adalah satu-satunya spesies hijau yang ada. Namun semua itu tentunya hanya khayalan, sesuatu yang tak mungkin terjadi. Seperti yang diceritakan ibu dalam bukunya, spesies hijau telah diburu, dibunuh, dibantai. Keberadaan kami telah membuat spesies-spesies yang ada begitu khawatir bahwa kami akan membahayakan mereka. Ibuku berhasil selamat dari upaya perburuan dan pembantaian itu. Dan meskipun beredar kabar bahwa dia ditemukan mati di gua saat perburuan kedua dilakukan, aku tahu mayat yang ditemukan itu bukan dia. Mayat itu adalah rekayasa, sesuatu yang dilakukan Andy untuk mengecoh petinggi-petinggi akademi saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku jadi ingat, satu tahun setelah Lena meninggal, lima atau enam tahun yang lalu, Andy memberitahuku kemana dia dulu membawa ibu. Saat itu Valen masih hidup. Kami bertiga—aku, Valen, dan Alea—pergi ke kota itu untuk mencari ibu. Karena misi pencarian itu berbahaya, akhirnya aku melakukannya sendiri sementar Valen dan Alea kutinggalkan di rumah Mirna, temanku saat di kampus. Di kota itu, di Cianjur, alih-alih bertemu dengan ibu, aku malah bertemu dengan Sandra dan Remi, dua teman dekatku di akademi. Kami lalu sama-sama mencari ibu selama dua hari, namun sia-sia, ibu tidak ada di kota itu. Setidaknya itulah hasil pencarian kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara soal Sandra dan Remi, aku tak menyangka mereka akhirnya menjadi pasangan, bahkan menikah. Kalau ingat lebih jauh lagi ke masa lalu, aku lebih tak menyangka lagi. Remi dulu menyukaiku. Dia satu-satunya temanku di akademi yang laki-laki dan seumuran denganku. Aku masih ingat dia suka menawariku membelikan makan malam sehabis kelas praktek sore selesai. Suatu hari dia bahkan membelikannya tanpa mau kubayar, alias mentraktir. Saat itu aku sama sekali tidak memberikan respon positif padanya. Aku tak pernah tersenyum saat dia tersenyum dan hanya menjawab seperlunya saat dia mengajakku bicara. Namun dia terus saja berusaha menarik perhatianku dengan sikapnya yang ramah. Barulah suatu hari, setelah mengetahui bahwa saat itu aku sedang menjalin hubungan dengan Valen, bahkan dia sempat melihat kami bicara berdua dan sangat dekat, sikapnya padaku berubah dingin, dingin sedingin-dinginnya. Bahkan sampai terakhir kali aku bertemu dengannya saat dia dan Sandra membantuku mencari ibuku di Cianjur, sikapnya masih dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Sandra juga menyukaiku saat itu, saat aku di akademi. Aku masih ingat dia pernah mencoba menciumku suatu malam di atap auditorium namun handphone-ku berdering sebelum bibir kami bersentuhan. Kalau mengingatnya sekarang-sekarang, aku suka tersenyum. Berbeda dengan Remi, Sandra tidak bersikap ramah padaku. Dia jarang sekali bicara, bahkan hampir tak pernah tersenyum. Selama di kelas Matematika, aku tidak pernah melihatnya bicara dengan orang lain selain aku. Setelah sekian lama, barulah aku tahu bahwa dia memiliki perasaan terhadapku. Suatu perasaan yang tentunya sangat ganjil bagiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu sudah lama berlalu sejak masa-masa penuh kenangan itu, mereka pasti sudah melalui banyak hal sejak aku meninggalkan akademi. Aku berharap mereka berdua bisa menjadi petinggi akademi dari spesiesnya masing-masing. Dengan mereka menjadi petinggi akademi, keberadaanku dan anakku Alea bisa lebih aman dari gangguan, tidak perlu lagi merasa cemas setiap saat. Memang saat ini yang benar-benar mengejar kami adalah spesies hitam dan spesies jingga. Spesies-spesies yang masih ada di akademi, kecil kemungkinan mereka masih mengejar kami. Tapi sekecil apapun, kemungkinan itu harus diperhitungkan. Spesies hitam dan spesies jingga mencari kami karena dulu aku menolak membantu mereka melakukan kudeta. Sedangkan kemungkinan ada orang-orang dari akademi yang masih mengincar kami adalah karena aku dulu sempat melarikan diri dari sana dan terlambat memberitahu soal kudeta itu. Jujur saja, saat itu aku sangat bingung. Dua-duanya tidak ada yang benar di mataku. Spesies hitam dan spesies jingga salah karena melakukan kudeta yang dilatarbelakangi balas dendam, spesies-spesies di akademi salah karena mereka yang memulai konflik itu. Sementara itu, spesies-spesies di pihak akademi juga salah karena telah memulai konflik ini bertahun-tahun sebelumnya. Aku tak pernah bisa melupakan hari ketika kudeta itu berlangsung, tak pernah, karena di hari itu, teman terbaikku, Alea, tewas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, aku teringat anakku Alea. Barusan aku mengingat masa lalu terlalu dalam sehingga luka-luka yang seharusnya sudah tertutup malah terbuka kembali. Aku matikan televisi yang memang dari tadi tidak kutonton. Saat kubuka pintu kamar Alea, dia sudah mendengkur halus. Aku pun masuk ke kamarku, berbaring dan tidur.&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054150040858616865-6532936027025194519?l=ardy-kresna-crenata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/feeds/6532936027025194519/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/2010/07/spesies-hijau-chapter-7b.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054150040858616865/posts/default/6532936027025194519'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054150040858616865/posts/default/6532936027025194519'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/2010/07/spesies-hijau-chapter-7b.html' title='spesies hijau chapter 7b'/><author><name>Ardy Kresna Crenata</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_DBAkcWrPpOM/TDsdMhaYCUI/AAAAAAAAAAw/HFjbf4gJFYo/S220/ardy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054150040858616865.post-3490685818459073911</id><published>2010-07-14T10:17:00.002+07:00</published><updated>2010-07-14T10:17:50.861+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='novel'/><title type='text'>spesies hijau chapter 7a</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;blockquote&gt;Chapter 7&lt;br /&gt;PARA PETINGGI AKADEMI&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Airish, 2011&lt;br /&gt;Akademi, Bogor&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PAGI sekali Alea sudah bangun. Suara air di kamar mandi membuatku bangun juga. Ketika kulihat jam dinding, baru setengah lima. Ah, aku paling tak suka jika harus bangun saat suhu di luar masih sangat dingin. Dan kebiasaan aneh Alea adalah selalu membiarkan jendela terbuka ketika dia memasuki kamar mandi. Hasilnya, suhu udara di luar mulai merambat masuk, membuat kamar ini jauh lebih dingin dari seharusnya. Kuangkat selimut hingga menutupi leher, tapi percuma, dinginnya tidak pergi. Maka dengan enggan aku turun dari kasur dan berjalan jinjit menghampiri jendela itu lalu menutupnya. Dengan begini, keadaan jadi sedikit lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat kemudian Alea keluar dari kamar mandi dengan butiran-butiran air di wajah, leher, tangan, dan kakinya. Dia mengeringkannya dengan handuk lalu berkata, “Kau sudah bangun? Jangan bilang mau ikut sholat!” Dia tersenyum dan tertawa ringan. Guyonan ini sudah biasa kudengar dari mulutnya yang hampir tak pernah diam. Dia sudah tahu bahwa agamaku bukan islam di hari keduaku di akademi, saat itu dia membangunkanku di jam-jam seperti ini dan menyuruhku mengambil wudhu kemudian sholat. Besoknya, dia membangunkanku lagi dan menyuruhku melakukan hal yang sama seakan-akan penjelasanku sehari sebelumnya tidak diingatnya—saat itu dia memang mengatakan kalau dia lupa. Hari-hari selanjutnya, Alea selalu bangun di jam-jam seperti ini namun dia tidak pernah lagi membangunkanku. Akan tetapi, dengan sendirinya aku bangun, melihat dia bergerak ke kamar mandi, melihat dia sholat, mengaji, selalu seperti itu setiap pagi. Kadang aku berpura-pura tidur, tapi lebih seringnya aku bangkit untuk menutup jendela yang dibiarkannya terbuka seperti kali ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama Alea sholat dan mengaji di lantai, aku hanya terlentang memandangi langit-langit. Apa yang sebenarnya kupikirkan? Banyak hal. Salah satunya adalah Valen. Setelah Valen meneleponku semalam, ada sesuatu di hatiku yang tadinya menggumpal telah berubah menjadi cair dan menyebar memenuhi rongga dada. Sesuatu itu membuatku sesak, membuatku tersiksa. Dan hanya ada satu cara untuk bisa membuatnya kembali seperti sedia kala, hanya ada satu cara untuk melepaskannya, aku harus bertemu dengan Valen. Semalam kukatakan bahwa aku baru bisa pulang minggu depan. Suatu kebohongan yang kulakukan untuk menutupi kebohongan-kebohongan sebelumnya. Tak ada jaminan aku benar-benar akan pulang minggu depan. Kalau mau jujur, sesungguhnya aku mulai menyukai kehidupan baruku di akademi, jauh berbeda dengan kehidupanku sebelumnya sebagai manusia biasa. Saat ini aku seorang spesies hijau dengan bakat bawaan dan kemampuan yang membuatku berbeda dari manusia biasa. Alea pernah mengatakan bahwa setelah mengetahui siapa diriku yang sebenarnya, aku harus mulai melupakan kehidupanku yang sebelumnya. Dengan kata lain, aku harus memutuskan ikatan dengan orang-orang di luar akademi. Alea mengatakan bahwa adanya ikatan itu hanya akan memberiku banyak masalah. Sampai kemarin, aku belum tahu masalah seperti apa yang bisa dimunculkan ikatan tersebut. Hari ini, aku mulai mengerti. Salah satu masalah itu adalah keinginan yang kuat untuk menemui mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Alea selesai sholat dan mengaji, aku mendiskusikan hal ini dengannya. Dia bersikeras bahwa aku harus segera memutuskan ikatan itu. Tapi, aku juga bersikeras ingin mempertahankannya dan mencoba mencari jalan keluar dari setiap masalah yang mungkin muncul karena hal itu. Alea selalu membuang napas—tanda dia mengeluh—saat aku mulai keras kepala. Sejurus kemudian, dia justru memberiku solusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau ingin menemui mereka, minta izin saja untuk keluar beberapa jam. Bagaimana?” itulah solusi yang dia tawarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akankah mereka mengizinkanku meninggalkan akademi hanya untuk menemui seseorang?” aku ragu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmm.. rasanya tidak. Kau harus punya satu alasan yang kuat agar mereka mengizinkanmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Misalnya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alea berpikir sejenak lalu berkata, “Misalnya salah satu anggota keluargamu jatuh sakit sampai dirawat di rumah sakit. Atau jika ada seseorang yang mati, itu akan jauh lebih baik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memandangnya benci saat dia mengatakan hal itu dengan santainya. Menyadari aku tidak senang dengan perkataannya, dia tersenyum dan meminta maaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak apa-apakah kalau berbohong?” tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alea langsung meresponnya, “Sebaiknya jangan. Kalau mereka mengetahui alasanmu itu hanya dibuat-buat, kau akan dapat masalah.” Aku memikirkannya sejenak kemudian Alea berkata, “Lagipula kau hanya bisa berada di luar selama beberapa jam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak bisa menginap semalam?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak akan diizinkan apapun alasannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau aku bersikeras ingin menginap?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alea menggeleng dua kali lalu berkata, “Kau akan dapat masalah serius. Para petinggi akademi akan mengirim orang untuk memaksamu kembali ke akademi. Dan satu hal lagi yang harus kau tahu, mereka tidak akan mengizinkanmu keluar akademi sendirian. Paling tidak, harus ada seseorang yang menemanimu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka yang menentukan siapa orang itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak. Kau sendiri yang menentukannya. Biar bagaimana pun, kalian nantinya tidak akan bisa lari atau pun sembunyi karena ketika kalian diizinkan keluar, kalian akan dipasangi sebuah gelang perak di lengan kalian yang akan memberi tahu mereka di mana kalian berada.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kedengarannya menyebalkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Makanya kalau alasanmu hanya dibuat-buat, akan segera ketahuan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi waktu itu kita pernah seharian belanja-belanja di mall. Kurasa alasan itu sama sekali tidak kuat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa bilang tidak kuat? Kalau aku tidak membawamu belanja, kau tak akan punya baju dan celana untuk dipakai.” Dia tersenyum. Benar juga apa yang dikatakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tadi kau menyinggung petinggi akademi, bukan? Bisa jelaskan padaku tentang mereka?!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak masalah. Para petinggi akademi bisa dikatakan pemimpin dari tiap spesies yang ada di akademi. Ada lima orang petinggi akademi, kelimanya berasal dari spesies yang berbeda—spesies merah, spesies kuning, spesies biru, spesies abu-abu, dan spesies jingga. Seperti yang kubilang, masing-masing dari mereka adalah pemimpin—atau orang yang dituakan—dari spesiesnya. Dari kelima orang itu, seorang dipilih untuk menjadi pemimpin akademi. Yang memilih pemimpin akademi bukan kita, melainkan mereka berlima. Saat ini yang menjadi pemimpin akademi adalah seorang spesies merah, yaitu Andy. Jika ada masalah serius, pemimpin akademi akan mengumpulkan petinggi-petinggi lainnya lalu mengadakan diskusi. Setelah mendengarkan pendapat dari setiap petinggi, barulah si pemimpin memutuskan, dan keputusannya tidak bisa diganggu gugat. Begitulah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya ada yang janggal. Aku pun bertanya, “Mengapa tidak ada petinggi dari spesies hijau? Bukankah spesies hijau juga bagian dari akademi. Buktinya aku ada di sini sekarang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alea berpikir beberapa saat lalu berkata, “Itulah yang membuatku heran. Selama ini aku tidak pernah menemukan keanehan karena tidak pernah ada spesies hijau di akademi ini. Barulah saat kau muncul, aku mulai memikirkannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksudmu, hanya aku satu-satunya spesies hijau di akademi ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pelan dia mengangguk dan berkata, “Kurasa begitu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menggeleng dan berkata, “Sulit dipercaya. Bagaimana mungkin hanya ada seorang spesies hijau?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya. Itu aneh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hari kemudian, saat aku sedang sibuk memikirkan bagaimana caranya keluar dari akademi ini untuk mengunjungi Valen, ada sms dari adikku Rayna. Dia mengatakan bahwa ibu sedang sakit dan kini sedang dirawat di rumah sakit. Kebetulan sekali. Dengan ini aku pasti diberi izin untuk keluar. Sms itu kuterima saat sedang berada di ruang kuliah Matematika. Sandra seperti biasanya duduk di sebelah kiriku. Dia sedikit menoleh saat aku mengambil handphone dan membaca sms dari Rayna itu. Sejak kejadian di atap auditorium itu, Sandra tidak pernah lagi bicara denganku. Aku sendiri juga tidak pernah mengajaknya bicara. Dia jadi benar-benar diam ketika di kelas, lebih diam dariku. Setidaknya aku masih suka merespon saat teman-teman sekelas menyapaku meskipun aku tidak tertarik sama sekali dengan urusan mereka. Sandra, sama sekali diam. Sepertinya dia hanya bisa bicara denganku dan saat aku tidak mengajaknya bicara, dia hanya diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kuliah selesai, aku langsung mencari Alea. Kutemukan dia di kantin, sedang melahap baso. Aku katakan padanya tentang sms dari Rayna. Dia kemudian setuju-setuju saja saat aku memintanya menemaniku keluar. Mungkin dia juga sedang suntuk berada terus di akademi. Sebelum ke meja resepsionis untuk dipasangi gelang perak, Alea membawaku ke ruangan Lena di lantai 3 di gedung depan. Lena tampak sedang sibuk mengurusi dokumen-dokumen yang entah apa. Aku lalu menjelaskan keinginanku untuk keluar dengan alasan menejnguk ibu yang sedang dirawat di rumah sakit—padahal itu bukan alasan yang sebenarnya. Aku sempat mengira Lena tidak akan mengizinkannya karena dia memikirkannya cukup lama. Tapi, dia mengizinkannya. Dia memberiku sebuah surat yang ditandatanganinya sendiri yang menyatakan bahwa dia bertanggungjawab atas keluarnya kami berdua selama sepuluh jam—batas waktu sampai kami kembali. Kami pun bergegas ke meja resepsionis di dekat pintu depan, menunjukkan surat itu, lalu dipasangi sebuah gelang perak di pergelangan tangan yang kiri. Gelang itu cukup modis. Seandainya tidak memancarkan sinyal keberadaanku, aku mungkin akan terus memakainya. Kami pun menuju pintu utama, bergerak ke area parkir, lalu masuk ke mobil sedan merah milik Alea. Salah satu alasan aku meminta Alea menemaniku adalah karena dia punya mobil. Ya, teman itu tidak boleh disia-siakan. Teman itu ada untuk dimanfaatkan. Satu prinsip yang selalu kupegang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu jam kemudian kami baru tiba di rumah sakit tempat ibu dirawat, RS Karya Bakti, Bogor. Meskipun tujuanku keluar dari akademi sebenarnya adalah untuk menemui Valen, aku tetap harus menjenguk ibu lebih dulu. Satu hal yang kutahu, ibu—ibu palsuku—jarang sekali sakit apalagi sampai harus dirawat di rumah sakit. Jika dia sampai jatuh sakit dan dirawat di rumah sakit ini, pasti ada sesuatu yang mengganggunya selama seminggu ini. Bisa jadi, dia sakit karena memikirkanku yang belum juga pulang. Kami berjalan cepat-cepat di koridor yang lengang. Baru jam satu lewat sepuluh menit. Alea membawa sekantong makanan dan buah-buahan yang tadi dibelinya di jalan. Makanan dan buah-buahan itu tentunya bukan untuk ibu, melainkan untuk orang-orang yang menjaganya di sana, juga untuk mereka yang menjenguk. Entah bagaimana mulanya kebiasaan ini terjadi. Sekarang ini setiap kali kita mau menjenguk seseorang, kita pasti merasa perlu untuk membawa sesuatu. Padahal, bukan sesuatu yang kita bawa yang diinginkan orang yang sakit itu, tapi kehadiran kita. Itu saja sudah cukup. Namun nyata-nyatanya kebiasaan itu sulit diubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menanyakan kepada Rayna kamar tempat ibu dirawat lewat sms. Setelah sms balasan darinya tiba, kami bergegas menuju kamar itu. Di kamar itu, ibu terbaring di kasur yang putih dengan selimut tebal menyelimuti tubuhnya hingga ke perut. Dia tampak sedang tertidur. Di lengannya yang kiri, jarum infus menancap. Rayna yang tadi sedang duduk di dekat ibu, berdiri lalu menghampiriku dan memelukku. Dia menangis. Entah karena bahagia atau sedih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu sakit apa?” tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rayna menggeleng lalu berkata, “Ayah lebih tahu soal itu. Yang aku tahu adalah kondisi ibu sangat lemah karena beberapa hari ini dia tidak makan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak makan? Kenapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Entahlah. Ibu tidak mau makan meskipun aku memaksanya sampai menyuapinya. Dia selalu bilang tidak ada nafsu makan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sejak kapan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sejak seminggu yang lalu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku segera menghampiri ibu lalu menggenggam tangannya yang agak dingin. Dia memang terlihat kurus. Pipinya yang seminggu yang lalu bulat tampak cekung, tangannya pun terlihat kecil. Benar saja dugaanku. Ibu terlalu memikirkanku. Ia terlalu khawatir sampai-sampai tak mau makan. Tindakan yang bodoh sebenarnya. Dengan tidak makan, apakah keadaan akan membaik? Tidak. Jelas tidak. Tapi aku tak bisa menyalahkan ibu begitu saja. Aku juga berperan di sini. Kalau saja hari itu aku tidak terlalu emosi dan meninggalkan rumah, ibu tidak akan sampai sakit begini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini buat yang ada di sini,” aku dengar Alea menyerahkan sekantong makanan dan buah-buahan itu kepada adikku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih,” kata Rayna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku baru ingat kalau aku belum memperkenalkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini teman Mbak di tempat Mbak tinggal sekarang,” kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Namaku Alea. Salam kenal.” Alea menyodorkan tangan kanannya dan Rayna menyambutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rayna. Salam kenal juga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rayna menyimpan kantong itu di atas lemari pendek di sebelah kiri ibu sementara Alea duduk di dekatku. Rayna sendiri akhirnya duduk di sisi kasur yang lain, berhadapan dengan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebenarnya Mbak tinggal di mana sih sekarang?” tanya Rayna. Ini pertanyaan yang selalu membuatku sulit menjawabnya. Aku tak mungkin mengatakan keberadaan akademi. Tak ada pilihan lain selain berbohong. Tapi di mana kira-kira aku tinggal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mbakmu ini sekarang tinggal di akademi,” kata Alea. Itu mengagetkanku. Aku tidak pernah menyangka dia akan semudah itu mengatakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akademi? Akademi seperti apa?” tanya Rayna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tahu lah, seperti Indonesian Idol, AFI. Yang seperti itu lah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang benar?” Sandra tampak antusias. Dia melihatku lalu berkata, “Tapi kok tidak ada kabarnya di televisi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sialan Alea. Dia membuat keadaan jadi sulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku kan tadi bilang yang seperti itu,” kata Alea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu, akademi apa jelasnya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmm.. aku tak bisa mengatakannya karena ini rahasia. Yang jelas masih berhubungan dengan seni. Jangan tanya seni apa, karena aku tak akan menjawab!” Alea tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rayna justru memberengut dan berkata, “Rahasia ya. Berapa lama Mbak akan berada di sana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi Alea yang menjawab, “Tidak sampai satu tahun.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lama juga ya,” respon Rayna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lumayan,” kata Alea tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rayna masih memberengut. Jelas sekali dia tak puas dengan jawaban-jawaban yang diberikan Alea. Tapi rupanya dia tidak cukup berani untuk mendesak Alea mengatakan sampai sejelas-jelasnya. Dia justru menatapku tajam dan bertanya, “Mbak, kenapa Mbak pergi dari rumah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari raut mukanya, dia serius. Kali ini, aku sendiri yang menjawabnya, “Mbak tak mau membahasnya sekarang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memangnya kenapa? Ibu bilang kalau hari itu kalian berdua bertengkar lalu Mbak pergi dan tidak kembali. Kenapa, Mbak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diam sejenak, memandangi ibu yang tertidur. Aku bertanya, “Apa yang dikatakan ibu padamu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan cepat Rayna menjawab, “Ibu hanya bilang kalian hari itu bertengkar. Bertengkar karena apa, aku tidak tahu. Maka dari itu aku tanya Mbak sekarang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu rupanya. Ibu masih berusaha menyembunyikan fakta bahwa aku bukanlah anaknya, bukan anak yang lahir dari rahimnya. Ibu masih berusaha menyembunyikan fakta bahwa aku tidak memiliki ikatan darah sama sekali dengan keluarga ini, aku bukan kakak kandung Rayna. Mengapa? Mengapa ibu masih saja ingin menyembunyikannya? Ayah sama saja. Ibu pastinya menceritakan kejadian hari itu dengan detail kepada ayah, tapi ayah ternyata juga tidak menceritakannya kepada Rayna. Apa sebenarnya yang mereka inginkan? Mereka ingin aku mengakui mereka sebagai orang tua kandungku? Tak akan pernah. Aku tak akan pernah mengakuinya setelah kebohongan yang mereka jaga selama dua puluh tahun itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tanyakan saja nanti kepada ibu atau kepada ayah!” aku sendiri akhirnya tak jadi mengungkapkan fakta yang sebenarnya. Aku ingin mereka sendiri yang menjelaskannya kepada Rayna. Selain itu, aku seperti tak siap menghadapi reaksi Rayna seandainya dia tahu fakta yang sebenarnya. Akankah dia memanggilku ‘Mbak’ setelah fakta itu diungkapkan? Masihkah dia nantinya menganggapku kakak kandungnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, Mbak nyebelin banget hari ini!” dia berdiri lalu berjalan menuju pintu. Entah pergi ke mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa sebenarnya?” tanya Alea pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terus memandangi ibu yang masih saja tertidur lalu berkata, “Masalah keluarga. Masalah identitas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompensasi waktu yang diberikan Lena adalah sepuluh jam, dihitung sejak kami keluar dari akademi. Itu artinya kami harus tiba di akademi paling lambat jam sepuluh malam. Sekarang sudah lewat dari jam enam. Ayah baru saja tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibumu keras kepala,” kata ayah saat ia duduk di dekatnya. “Ayah sudah memaksanya makan, begitu juga Rayna, tapi dia tetap saja tidak mau makan. Selama seminggu ini dia hanya minum dan minum. Entah apa yang dipikirkannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu betul ayah sedang menyembunyikan kekhawatiran dan kesedihannya. Aku dan Rayna sama-sama tahu bahwa ayah bukan tipe orang yang suka menunjukkan emosi yang dia rasakan. Di depan kami, dia selalu berusaha tampak tegar. Di depan ibu, ceritanya lain lagi. Ibu masih saja tertidur. Aku sempat meninggalkan kamar beberapa kali untuk mengantar dan menunggui Alea di musholla. Tentu saja aku tidak ikut masuk ke musholla, aku hanya duduk di luarnya. Beres sholat, Alea mengajakku makan. Saat kami kembali ke kamar, ibu masih tidur. Aku katakan pada Rayna bahwa ini tidak wajar. Bagaimana mungkin ibu bisa tidur dari siang sampai petang tiba, kecuali waktu tidurnya terbalik. Tapi Rayna mengatakan tidak ada yang perlu dicemaskan. Dia bahkan bilang bahwa ibu sempat bangun saat aku dan Alea keluar, lalu tertidur lagi sebelum kami kembali. Tetap saja, aku merasa itu tidak wajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu jarang sekali sakit, apalagi sampai harus dirawat seperti ini,” kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kamar ini hanya ada aku, ibu, dan ayah. Alea sedang menemani Rayna makan di luar rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia begitu mengkhawatirkanmu,” kata ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak perlu sampai tidak makan berhari-hari,” kataku kesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa kau benar-benar tak mengerti apa yang dirasakan ibumu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diam memikirkannya. Memang benar, aku telah membuatnya terlalu memikirkanku, terlalu mengkhawatirkanku. Tapi saat ini, situasinya sama sekali tak mengizinkanku untuk kembali berada di tengah-tengah keluarga ini. Aku sudah menemukan jati diriku, siapa diriku sebenarnya. Aku bukan lagi seorang wanita biasa dari keluarga biasa seperti sebelumnya, aku adalah seorang spesies hijau. Dan karena itu, aku tak bisa lagi hidup bersama mereka. Tapi, bagaimana aku harus menjelaskan semua ini tanpa sedikit pun membocorkan keberadaan akademi dan spesies-spesies yang ada di sana? Aku bingung sebingung-bingungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa ayah tidak menceritakan kepada Rayna apa yang sebenarnya terjadi hari itu?” tanyaku pelan. “Ibu pasti menceritakannya pada ayah, kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah bergerak mengambil sebuah apel merah dari kantong plastik di atas lemari pendek di dekat ibu. Sambil memakan apel itu, dia berkata, “Apa pentingnya kejadian itu sekarang? Kalau pun Rayna tahu kejadian yang sebenarnya, kau pikir sikapnya padamu akan berubah? Salah betul kalau kau berpikir seperti itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuusap-usap tangan ibu yang mulai hangat dan berkata, “Setidaknya dia tidak lagi dibohongi. Setelah mengetahui kenyataan bahwa aku bukanlah anak kandung ayah dan ibu, aku begitu kesal karena selama dua puluh tahun ini hidupku adalah kepalsuan, hanya kepalsuan. Rayna sudah cukup dewasa. Sudah sewajarnya ayah memberitahunya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada satu hal yang ingin ayah tanyakan padamu,” dia berhenti sejenak. “Bagimu, seperti apa keluarga itu?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terhenyak mendengar pertanyaan ini ditujukan padaku. Sekitar seminggu yang lalu, pertanyaan yang persis sama kuajukan ke Alea dan dia menjawab seolah-olah dia tidak punya keluarga di kehidupannya yang lalu. Saat itu dia mengatakan bahwa di akademi, dia menemukan keluarga barunya. Lalu sekarang, bagaimana aku harus menjawabnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku masih memikirkannya, ayah berkata, “Yang namanya keluarga itu tidak mutlak ditentukan oleh ikatan darah, akan tetapi ditentukan oleh ikatan hati dan jangka waktu yang dilalui bersama.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus kuakui kata-katanya sungguh bijak. Namun karena kata-kata bijak ini ditujukan padaku, untuk menyindirku barangkali, aku jadi merasa tak nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada yang ingin kau bantah dari pernyataan ayah?” tanyanya tenang. Apel di tangannya tinggal separuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diam sejenak lalu menjawab, “Tidak ada.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berarti sepenuhnya kau setuju dengan pernyataan itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya,” aku mengangguk. Tangan ibu terus kuusap dan kuusap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah mengambil air mineral di atas lemari pendek di sebelah kirinya lalu meminumnya beberapa teguk. Dia lalu berkata, “Sekarang, setelah kau tahu bahwa kau bukanlah anak yang dilahirkan istriku dan sama sekali tidak memiliki ikatan darah denganku, juga dengan Rayna, apakah bagimu kami masih keluarga?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan yang sulit. Sungguh pertanyaan yang sulit. Aku jadi ingat tujuanku keluar dari akademi adalah untuk menemui Valen. Setelah berada di kamar di salah satu rumah sakit ini, aku malah tak bisa melepaskan diri. Waktuku di tempat ini tinggal dua jam. Sepertinya aku harus kembali ke akademi tanpa menemui Valen. Rinduku, terpaksa kukekang dan kubenamkan dalam-dalam, meskipun aku tahu itu akan sangat sakit dan menyiksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah kami masih keluargamu?” tanya ayah lagi. Sambil menungguku menjawab, dia memakan lagi apel di tangannya yang tinggal separuh itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana sekarang? Bagaimana aku harus menjawabnya. Dilihat dari sudut mana pun, apa yang dikatakan ayah tentang keluarga adalah benar adanya. Tidak perlu ada ikatan darah, tidak perlu lahir dari rahim orang itu, jika ada ikatan hati yang begitu kuat, orang itu adalah keluarga. Dan lagi, waktu yang kuhabiskan dengan mereka sudah sangat lama, dua puluh tahun. Mereka membesarkanku, merawatku saat sakit, menasehatiku saat aku melakukan suatu kesalahan. Mereka membiayaiku sekolah sampai ke perguruan tinggi. Mereka memberiku seorang adik. Mereka memberiku kebahagian. Mereka memberiku momen-momen berharga yang tidak kudapatkan dari yang lain. Jadi ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Meskipun kau bersikeras menolak kami sebagai keluargamu, kami akan tetap menganggapmu bagian dari keluarga kami, kau tetap anak yang ibu sayangi,” aku dikejutkan dengan tangan ibu yang menggenggam jemariku dan suaranya yang sedikit terisak. Dia terbangun. Ibu sudah bangun. Sejak kapan? Melihat air mata yang menggenang di kedua matanya, aku tak sanggup lagi hanya melihatnya, kubenamkan kepalaku di dadanya sambil terisak meminta maaf. Ibu merangkulkan kedua tangannya yang hangat di punggungku, mengusap-usapnya dan berkata, “Kembalilah ke rumah! Jangan pergi lagi!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakannya dua kalimat itu dengan sangat tenang, seolah-olah segala kekhawatirannya sudah hilang. Akan tetapi, kekhawatirannya itu akan mendatanginya lagi. Seperti yang kukatakan sebelumnya, aku tak bisa lagi menjalani hidup bersama mereka. Kini meskipun keinginan untuk kembali ke rumah sangat kuat, ada peraturan akademi yang tak bisa kulanggar. Alea sudah mewanti-wanti bahwa jika aku melanggarnya, akan ada masalah serius yang menimpaku. Para petinggi akademi akan mengutus beberapa orang untuk memaksaku kembali ke akademi. Jika aku terus berada di sini sampai batas waktu yang diberikan habis, mereka akan datang kemari. Itu artinya, aku membahayakan orang-orang yang adalah keluargaku, orang-orang yang kucintai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar suara Alea dan Rayna di luar, aku melepaskan diri dari pelukan ibu dan cepat-cepat menghapus air mataku. Ibu tersenyum, begitu pula ayah. Rupanya ibu sengaja tertidur, atau lebih tepatnya pura-pura tertidur. Dia pasti menyimak percakapanku dengan ayah sejak awal. Alea dan Rayna masuk. Mereka tampak sudah akrab di hari pertamanya bertemu ini. Suasana kamar berubah ceria, penuh senyum, penuh tawa. Namun, ada sesuatu yang sangat mengganjal di kepalaku. Aku menatap Alea. Dia mengangguk dua kali seolah-olah memahami apa yang kukhawatirkan. Entahlah. Mungkin dia memang benar-benar memahaminya. Tinggal dua jam lagi. Aku harus segera mengambil keputusan.&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054150040858616865-3490685818459073911?l=ardy-kresna-crenata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/feeds/3490685818459073911/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/2010/07/spesies-hijau-chapter-7a.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054150040858616865/posts/default/3490685818459073911'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054150040858616865/posts/default/3490685818459073911'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/2010/07/spesies-hijau-chapter-7a.html' title='spesies hijau chapter 7a'/><author><name>Ardy Kresna Crenata</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_DBAkcWrPpOM/TDsdMhaYCUI/AAAAAAAAAAw/HFjbf4gJFYo/S220/ardy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054150040858616865.post-4952772182119368096</id><published>2010-07-14T10:15:00.001+07:00</published><updated>2010-07-14T10:15:42.526+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='novel'/><title type='text'>spesies hijau chapter 6b</title><content type='html'>&lt;b&gt;Nayna, 1988&lt;br /&gt;Akademi, Bogor&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Semua orang kini sedang berkumpul di auditorium sedangkan Lena malah membawaku ke kantin. Tanpa memesan apapun, kami duduk di sebuah meja di tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa kita tidak ikut masuk ke auditorium? Bukankah kita ingin tahu hasil rapat itu bagaimana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sudah tahu hasil rapat itu,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar kau sudah tahu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menatapku dengan matanya yang biru lalu berkata, “Saat tadi aku mendesak Maya untuk mengatakan hasil rapat itu, dia memikirkan hasil rapat itu. Jadi, aku tidak perlu lagi berada di auditorium saat ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau yakin Maya tidak sengaja mengecohmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maya tidak tahu kalau aku bisa membaca pikiran seseorang,” sergah Lena.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diam sejenak lalu bertanya, “Lalu, apa hasil rapat itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lena menggeser kursi yang didudukinya sehingga kami kini merapat. Dia lalu berkata dengan suara pelan, “Benar seperti dugaanku, wanita itu seorang spesies hitam. Maya akan mengumumkan dilakukannya pemusnahan spesies itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi benar ada spesies hitam. Tapi, bagaimana dulunya mereka terbentuk?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saat ini itu tidak penting. Kita sama-sama tahu wanita spesies hitam yang kita temui tadi pagi benar-benar kuat. Jika pertarungan diteruskan, entah apa kita bisa melumpuhkannya atau justru dilumpuhkannya. Bayangkan jika ada banyak spesies hitam seperti itu. Aku tidak yakin menghadapinya adalah hal yang mudah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi Maya akan menggerakkan seluruh orang di akademi ini untuk memburu spesies itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lena menggeleng lalu berkata, “Tidak semuanya. Tidak akan semuanya. Pasti ada orang-orang yang harus berada di akademi agar ketika spesies itu menyerang, kita siap menghadapinya. Kamu bisa menebak apa yang diinginkan wanita spesies hitam itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berpikir sejenak lalu menjawab, “Kurasa dia ingin menyusup ke akademi lalu menghancurkannya dari dalam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya. Kurasa begitu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu apa yang membuatmu tampak khawatir?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia diam sejenak, menatapku lalu berkata, “Kita akan berperang dengan spesies terkuat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Spesies terkuat?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lena mengangguk dan berkata, “Berbeda denganmu, aku tahu beberapa hal tentang spesies hitam ini dari ibu dan ayahku saat mereka masih hidup, dulu. Salah satunya adalah bahwa spesies hitam adalah spesies terkuat di antara spesies-spesies yang ada.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benarkah mereka spesies terkuat?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akan ada waktu untuk menjelaskannya dengan rinci. Saat ini, yang bisa kuberitahu adalah bahwa ada kemungkinan seorang spesies hitam memiliki setiap kemampuan yang dimiliki spesies-spesies yang ada di sini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksudmu, mereka terhubung dengan semua elemen alam?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lena hendak mengatakan sesuatu, seperti akan membantah, tapi kemudian berkata, “Itu hanya salah satu kemungkinan. Selain itu, ada satu hal lagi yang kukhawatirkan..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menatapku seperti hendak mengingatkan akan suatu bahaya. “Apa itu?” tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu dan spesiesmu,” katanya berbisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku dan spesiesku? Mengapa?” suaraku mungkin terlalu keras sehingga Lena menyimpan telunjuknya di bibirnya. Memang ada beberapa orang yang sedang menjaga dagangannya yang karena alasan itu mereka tidak dipanggil ke auditorium.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tak bisa memberitahunya sekarang,” kata Lena. “Pokoknya, berhati-hatilah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya aku tak mengerti tapi aku mengangguk saja. Tak ada salahnya untuk berhati-hati. Tapi justru perkataan Lena mulai menggangguku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami memasuki auditorium ketika pengumuman baru saja berakhir. Orang-orang berhamburan menuju pintu keluar saat kami masuk. Ini saat yang tepat untuk menyusup dan bergerak menuju podium seolah-olah dari tadi kami berada di sini. Lena mencari Maya di antara kerumunan yang ada dan menemukannya di dekat podium sedang bercakap-cakap dengan beberapa orang sambil tersenyum dan tertawa. Melihat Lena mendekatinya, Maya menyapanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa kamu yakin dengan keputusanmu itu?” tanya Lena tiba-tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maya tak langsung menjawab. Dia memohon diri kepada lawan bicaranya lalu mengajak kami berjalan menuju pintu samping di sebelah panggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini hasil rapat,” kata Maya. “Keputusan ini diambil setelah keenam petinggi dari masing-masing spesies membahasnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi, kita akan berperang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini kesempatan untuk menebus kesalahan lima belas tahun yang lalu. Seharusnya saat ini mereka sudah punah. Sayang sekali saat itu aku masih terlalu muda sehingga suaraku tak didengar.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit pun aku tak mengerti apa yang dikatakannya. Kesalahan lima belas tahun yang lalu? Kesalahan seperti apa? Apa yang sebenarnya terjadi lima belas tahun yang lalu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah mereka cukup banyak sampai harus mengerahkan begitu banyak orang?” tanya Lena.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau melihat kejadian lima belas tahun yang lalu, kurasa mereka tidak akan begitu banyak. Namun, kita tetap harus mempersiapkan kondisi terburuk. Kau sudah cukup kuat sekarang. Aku akan menyertakanmu dalam perang ini. Kau juga, Nayna.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangguk. Pikiranku masih terganggu dengan kata-kata kesalahan lima belas tahun yang lalu. Aku benar-benar berharap seseorang menjelaskannya padaku. Tapi tak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besok harinya ketika perang—lebih tepatnya misi pemusnahan—terhadap spesies hitam dinyatakan dimulai, sekitar seratus orang yang terdiri dari enam spesies dikerahkan. Dengan begitu, akademi terlihat lengang. Tidak seperti yang direncanakan kemarin, Maya tidak jadi mengikutsertakan kami dalam perang. Dia menyuruh kami untuk tetap di akademi. Aku sedikit tak memahami perubahan keputusannya yang tiba-tiba itu. Aku dan Lena sudah cukup kuat untuk ikut berperang. Tapi rasanya sedikit lega juga. Aku mungkin sudah cukup kuat, namun tidak cukup berani untuk membunuh, meskipun itu musuhku sendiri. Rasanya aku memang belum siap untuk ikut serta dalam perang. Bisa kubayangkan situasi di hutan saat pertarungan terjadi. Saat itu saja, waktu pertarungan hanya dua lawan satu, kerusakan area di sana sudah cukup buruk, entah bagaimana nantinya setelah perang selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lena memandang langit yang cerah dengan awan-awannya yang bergerak-gerak. Kami sedang duduk bersandar di atap auditorium. Aku menduga-duga apa yang sedang dipikirkan Lena sampai dia begitu diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sedang membayangkan apa yang dilakukan orang-orang kita sekarang,” katanya, menjawab pertanyaan yang tidak kuutarakan. Rupanya irisnya dari tadi berwarna biru. “Mereka mungkin akan memecah diri menjadi tiga atau empat kelompok lalu berpencar ke beberapa tempat, salah satunya hutan yang kita datangi kemarin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menurutmu, kemana saja mereka akan mencari?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pastinya ke tempat-tempat di sekitar hutan itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Daripada perang, ini lebih tepat perburuan, kukira.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya. Kata itu lebih tepat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa saat ini akademi aman?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku cenderung mengatakan aman. Meskipun lebih dari separuh orang meninggalkan akademi, beberapa orang terkuat pasti masih ada di sini. Aku yakin Maya tidak bodoh sehingga menggerakkan semua orang terkuat di akademi ini dan membiarkan akademi tanpa perlindungan yang kuat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kuharap begitu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kuharap mereka tidak menyerang kemari. Aku tidak ingin menghadapinya di sini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kuharap tidak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lena masih saja mengamati awan-awan yang berubah bentuk dan bergerak-gerak. Seperti ada sesuatu yang sedang mengganggunya, selain perang atau perburuan terhadap spesies hitam ini. Sesuatu yang disembunyikannya dariku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka kembali sebelum petang, sebelum adzan maghrib terdengar. Aku memang tidak ada di lobi untuk menghitung setiap orang yang masuk ke pintu utama, tapi bisa kukatakan bahwa jumlah yang kembali tidak sama dengan jumlah yang tadi pagi pergi. Jika yang berangkat adalah seratus orang, maka yang kembali kira-kira hanya enam puluh orang. Beberapa dari mereka tampak terluka. Ada yang bahkan harus dibantu temannya karena dia tak bisa lagi berdiri. Begitu banyak yang tak kembali. Apakah jumlah spesies hitam itu memang cukup banyak seperti yang dikhawatirkan Maya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar jam delapan malam, semua orang, termasuk yang baru kembali dari perang dan tidak mengalami luka serius, dikumpulkan di auditorium. Kali ini aku pun berada di sana. Aku tak melihat Lena. Mungkin dia duduk di kursi yang jauh dari kursiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maya berjalan mendekati podium. Setelah mengamati orang-orang di ruangan ini, dia berkata, “Perang ini sudah kita menangkan. Meskipun untuk memperoleh kemenangan ini, banyak keluarga kita yang tak bisa kembali. Sama seperti kalian, aku pun merasa kehilangan. Orang yang sudah pergi tak akan bisa kita bawa kembali. Mereka yang sudah tewas dalam perang, akan selalu mengawasi kita di dunia yang lain. Selamanya mereka akan menjadi pahlawan yang hidup di hati kita. Selamanya.” Dia berhenti sejenak, kembali mengamati ratusan pasang mata yang mengamatinya, kemudian berkata, “Dengan ini, kesalahan generasi sebelumnya lima belas tahun yang lalu, sudah ditebus. Mulai saat ini, tak ada lagi spesies hitam!” Orang-orang di ruangan ini menyambutnya dengan teriakan dan tepuk tangan. Aku, masih sangat terganggu dengan kata-kata lima belas tahun yang lalu. Sepertinya kata-kata itu begitu berarti sampai-sampai Maya begitu bersemangat mengatakannya. Apa yang sebenarnya terjadi lima belas tahun yang lalu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Maya turun dari podium, giliran perwakilan dari tiap spesies yang ikut serta dalam perang untuk mengutarakan sesuatu. Aku menyimaknya dengan acuh tak acuh. Kebanyakan dari mereka hanya menyampaikan berapa orang dari spesies mereka yang gugur, bagaimana mereka menghadapi spesies hitam itu, kesulitan-kesulitan apa saja yang mereka alami, dan hal-hal sekitar itu. Yang sedikit berbeda dan mengundang perhatian adalah perwakilan dari spesies hijau, spesiesku. Dia kebagian giliran terakhir. Seorang lelaki berambut pendek dan sedikit gemuk. Saat berada di podium, tiba-tiba saja dia mengubah irisnya dan berteriak, “Perang ini tidak seharusnya terjadi!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua orang di ruangan ini memperhatikannya. Lantas dia berbicara dengan suara yang tenang, “Sebagai seorang spesies hijau, aku tak pernah tahu tentang keberadaan spesies hitam. Ketika kutanya teman-teman satu spesiesku, mereka juga tak tahu. Entahlah apakah petinggi spesies kami mengetahui sesuatu tentang spesies hitam atau tidak. Kami pun tak punya pilihan selain menerima penjelasan kemarin di auditorium ini, tentang berbahayanya spesies hitam itu, bahwa mereka satu-satunya yang bisa mengancam keberadaan kita, dan seterusnya. Saat itu, kami tak punya pilihan lain selain percaya. Barulah saat menghadapi spesies hitam itu langsung di medan perang, kami merasakan bahwa mereka tidak benar-benar seperti yang dijelaskan kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Awalnya kami menyerang sesuai instruksi. Menyerang dan menyerang, berusaha menghabisi mereka, karena nyata-nyatanya mereka memang berniat menghabisi kami begitu melihat kami. Barulah setelah jumlah mereka tinggal sedikit dan jumlah kami pun sudah berkurang banyak, kami jadi punya waktu untuk saling bicara. Dan akhirnya, aku dan beberapa temanku yang tersisa mulai bisa memahami mengapa mereka melawan, mengapa mereka berniat membunuh kami, membunuh kita semua. Ini semua terjadi karena kejadian lima belas tahun yang lalu. Perang ini adalah perang terusan dari apa yang terjadi lima belas tahun lalu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima belas tahun lalu. Kata-kata itu disebut-sebut lagi. Kini mulai ada titik terang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin saat itu, spesies kami masih terlalu muda untuk memahami apa yang terjadi. Dan kini, kami mau tak mau harus ikut menanggung apa yang sudah dilakukan spesies-spesies yang sudah ada sebelum kami. Kami harus menanggung akibat dari apa yang sudah kalian lakukan terhadap spesies hitam lima belas tahun yang lalu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi kata-kata itu. Aku semakin penasaran ingin mengetahui apa yang dilakukan spesies-spesies ini terhadap mereka lima belas tahun yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu saja yang ingin disampaikan oleh spesies hijau. Terima kasih atas waktunya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki yang agak gemuk itu pun turun dari podium untuk kembali ke kursinya yang ternyata berada di belakang. Selama dia berjalan, banyak orang memberinya tepuk tangan, bahkan ada yang sambil berdiri. Kebanyakan dari mereka tentu saja adalah spesies hijau. Aku ingin tahu reaksi Maya. Kebetulan kursiku hanya beberapa baris dari depan sehingga aku bisa mengamati raut mukanya dengan irisku yang hijau. Dia tidak senang. Sama sekali tidak senang dengan apa yang sudah dikatakan lelaki itu.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Alea, 2030&lt;br /&gt;Pamoyanan, Cianjur&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tiga hari yang lalu Tante Sandra mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Aku tahu dia berbohong. Namun sesungguhnya jauh di lubuk hatiku aku benar-benar berharap semuanya baik-baik saja. Akan tetapi, kenyataan adalah sesuatu yang harus kuhadapi, bukan kuhindari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana sekarang?” tanya Inna. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini kami sedang berada di ruang kelas di lantai 2 sekolah ini. Hanya ada kami berdua karena jam sekolah memang sudah satu jam lalu berakhir. Sedangkan kami masih ada di kelas karena ingin mencoba berlatih di sini. Aku tak percaya telah melakukan hal seceroboh ini. Tiga hari yang lalu aku sudah bertekad hanya akan mengubah iris jika keadaan memaksaku begitu. Namun, karena hari besoknya dan hari besoknya lagi semua tampak baik-baik saja, tak ada tanda-tanda kemunculan orang itu lagi, aku merasa aman. Inna pun tidak mengeluh saat aku mengajaknya berlatih sehabis pulang sekolah. Dan kami pun menunggu sampai kelas benar-benar kosong. Kelas Inna dan kelasku berbeda. Inna baru masuk ke kelas ini sepuluh menit setelah bel pulang. Saat itu masih ada tiga orang di kelas ini—selain aku. Mereka sempat memperhatikan kami lalu keluar begitu saja. Mungkinkah mereka memikirkan yang macam-macam? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, apa pun yang tadi mereka pikirkan, itu sudah tak penting lagi. Setelah kami hanya berdua di kelas, kami ngobrol dulu cukup lama tentang apa yang kami alami beberapa hari ini, juga tentang identitas kami yang sebenarnya. Seperti biasa Inna hanya bicara seperlunya dan lebih banyak diam. Setelah bahan obrolan habis, barulah kami sama-sama mengubah warna iris. Inna mengatakan padaku bahwa dia sudah menemukan salah satu bakat bawaannya. “Aku bisa menyembuhkan luka dengan cepat,” katanya. Aku baru memahami apa yang dia maksud setelah dia mendemonstrasikannya. Dia mengambil sesuatu dari saku roknya—sebuah pisau lipat—lalu dengan satu gerakan cepat pisau itu ditancapkannya di telapak tangannya yang kiri. Jelas saja aku terkejut sampai tak tahu harus berbuat apa. Kulihat sebagian dari pisau lipat itu muncul di tempurung tangannya. Darah mulai menetes ke lantai. Sejurus kemudian pisau lipat itu ditariknya perlahan, membuatku merasa ngilu melihat darah muncul dan menetes dari luka tusuk itu. “Lihat baik-baik!” dia menyuruhku mengamati telapak tangan kirinya yang berdarah itu. Aku masih shock dan tak bisa bicara. Beberapa saat kemudian, kulihat dengan mata kepalaku sendiri, luka itu hilang dengan sendirinya, menyisakan noda darah di tangannya, juga di lantai. Jelas-jelas itu bukan ilusi. Dengan bangga dia berkata, “Bagaimana? Cepat, kan?” Dia lalu mengambil tissu dari tasnya kemudian mengelap darah yang ada di tangannya juga di lantai. Bakat bawaan yang mengejutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dia selesai dengan demonstrasinya, aku mencoba lagi menggunakan bakatku untuk menerawang alias melihat keadaan sekitarku. Aku berkonsentrasi dan mulai memperluas jangkauan penglihatanku. Saat itulah, saat jangkauan penglihatanku sudah mencakup seluruh sekolah, aku merasakan kembali keberadaan itu. Persis seperti tiga hari yang lalu saat aku mengaktifkan mode pendeteksi ini di trotoar, suhu tubuhnya persis sama. Dan yang lebih buruk adalah, orang itu berada tepat di depan gerbang sekolah. Dia diam di sana. Kepalanya mengamati ruang-ruang kelas di lantai 2. Aku segera mengembalikan irisku ke kondisi normal dan menyuruh Inna melakukan hal yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa?” tanyanya sambil membersihkan noda darah di lantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang itu. Aku merasakan keberadaannya lagi. Dia ada di gerbang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan menakut-nakutiku!” katanya, persis seperti reaksinya tiga hari yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku serius! Dia ada di gerbang, mengawasi kita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lalu menunduk. Dia masih saja membersihkan noda darah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana dia bisa tahu kita ada di lantai 2 sekolah ini?” tanya Inna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan yang bodoh, tidak perlu kujawab, tapi kujawab juga, “Kita baru saja mengubah iris kita. Dan saat kau mendemostrasikan bakat bawaanmu itu, ada jeda waktu yang cukup baginya untuk menemukan kita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau ingin bilang bahwa dia mengawasi sekolah ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sepertinya. Tiga hari yang lalu, terakhir kali dia merasakan keberadaan kita adalah di dekat sekolah ini. Kurasa itu yang membuatnya mengawasi sekolah ini. Kemarin dan kemarin lusa kita tidak mengubah iris kita di sekitar sini sehingga dia tidak merasakan keberadaan kita. Barusan kita ceroboh. Benar-benar ceroboh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inna sudah selesai membersihkan noda darah di lantai. Dia mengangguk-ngangguk setelah mendengarkan penjelasanku. Dia lalu bertanya, “Bagaimana sekarang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menggeleng dan berkata, “Aku tidak tahu. Saat ini dia pasti sudah melewati gerbang bahkan mungkin sudah sampai di koridor bawah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tahu,” kata Inna seakan-akan menemukan ide cemerlang. “Kita harus pindah kelas. Cepat!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menarik tanganku dan membawaku berlari di lorong yang sepi ini. Kami masuk ke kelas Inna. Tidak begitu jauh dari kelas tadi sebenarnya. Tapi mudah-mudahan saja cukup bisa mengecoh orang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di mana dia sekarang?” tanya Inna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak tahu. Kalau aku mengubah irisku, dia akan tahu keberadaan kita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kami mendengar langkah kaki pelan-pelan, semakin lama suaranya semakin jelas. Kami merunduk dan merapat ke dinding di dekat jendela yang menghadap ke koridor di lantai 2 ini. Langkah kaki itu semakin jelas terdengar. Jantungku seperti bereaksi dengan langkah kakinya, membentuk sebuah irama yang cukup enak didengar. Kami berdua tegang. Aku tahu itu. Saat kami saling menoleh, kami sama-sama menaruh telunjuk di bibir. Orang itu sudah sangat dekat dengan kelas ini, sangat dekat. Langkah kakinya yang tenang justru membuat kami semakin tegang. Kami menutup mulut kami rapat-rapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia melewati kelas ini. Seperti yang kuduga, dia akan mendatangi kelas tempat kami tadi berada. Langkah kakinya terdengar menjauh dan menjauh. Kami bergerak dengan sangat hati-hati menuju pintu. Kami akan segera berlari setelah langkah kaki itu berhenti, itulah rencana kami. Tinggal sebentar lagi. Tinggal sebentar lagi sampai dia memasuki kelasku tadi. Kami sudah berdiri di balik pintu, tangan kananku menggenggam gagang pintu, bersiap membukanya. Langkah kaki itu berhenti sesaat lalu terdengar lagi. Ketika akhirnya langkah kaki itu tak terdengar lagi, aku membuka pintu lalu menghambur keluar. Aku sempat menoleh ke belakang sebelum berlari cepat-cepat menuju tangga di ujung koridor, jauh dari kelasku. Aku tak sempat melihat orang itu saat menoleh tadi, namun sejurus kemudian terdengar suara orang berlari. Dia mengejar kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sudah sampai di anak tangga terakhir dan kini berlari secepat mungkin menuju gerbang. Orang itu sedang menuruni tangga, aku bisa memastikannya. Inna berlari di depanku. Dia lalu menyuruhku mengubah iris. Sesaat kemudian dia melesat ke depan seolah-olah kecepatan larinya menjadi dua kali lipat. Rupanya dia sudah mengubah irisnya beberapa saat yang lalu. Aku pun menyusulnya setelah mengubah irisku. Aku merasa tubuhku begitu ringan. Angin menampar kulit wajahku dengan keras tapi sakitnya hanya sesaat. Inna sudah lebih dulu menelusuri trotoar, berlari ke arah kanan, dan hampir sampai di pertigaan, aku di belakangnya. Kini dengan irisku yang hijau, aku bisa memastikan keberadaan orang itu. Dia baru saja tiba di koridor lantai 1. Inna masih saja berlari dengan cepat saat kami tiba di pertigaan dan malah belok ke kanan, menjauh dari rumahnya yang berada jauh di kiri. Ada beberapa orang yang kami lewati di sepanjang trotoar di sekitar pendopo ini. Mereka mengamati Inna saat dia melewatinya. Mau tak mau aku harus mengejar Inna. Dia tampaknya terlalu panik sampai melupakan satu pantangan penting: tidak boleh menunjukkan keberadaan spesies seperti dirinya kepada manusia biasa. Inna terus berlari bahkan saat dia sudah berada di depan TIARA di mana selalu banyak orang di sana. Kini semua orang di sana mengamatinya. Apa boleh buat, aku pun menambah kecepatan lariku hingga hampir tiga kali lipat. Begitu cepat, sampai-sampai angin pun tak terasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika akhirnya aku menyusul Inna, ada sebuah gang di sebelah kanan kami. Aku meraih tangannya dan membawanya ke gang itu. Kami terengah-engah. Barusan itu cepat sekali. Mungkin aku bisa mencobanya saat tes lari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku baru saja menoleh ke jalan saat orang itu muncul di pintu gang. Ketika aku menoleh ke arah satunya, gang ini ternyata jalan buntu. Kami terjebak. Sial sekali. Inna meraih tanganku dan membawaku mendekati ujung gang, sebuah tembok setinggi tiga meter. Kami harus meloncatinya jika ingin lolos. Dan itu agaknya sulit. Orang itu berjalan mendekati kami, pelan seperti saat di sekolah tadi. Dia seorang wanita, mungkin setinggi Tante Sandra, kaos oblong lengan pendek dan celananya hitam, ketat, rambutnya tergerai panjang dan bergelombang, hanya kulit wajah dan kulit tangannya yang putih, sisanya hitam. Dia berhenti beberapa meter dari kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi ini spesies hijau yang terakhir itu,” dia menatapku. “Aku tidak tahu kalau dia masih remaja.” Dia lalu berpaling ke Inna dan berkata, “Dan lihat yang satu ini. Aku belum pernah melihat yang seperti ini. Kau spesies baru?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inna tidak merespon pertanyaannya. Aku juga tidak. Wanita itu tersenyum. Senyumnya tampak kejam. Sungguh kontras di wajahnya yang cantik dan mulus itu. Aku mencoba menganalisa situasi kami saat ini. Tak ada jalan untuk melarikan diri, artinya kami harus menghadapinya, melawan. Aku sudah cukup banyak berlatih dua bulan ini dan ini akan jadi ujian praktek pertamaku. Sayangnya, aku belum tahu seperti apa lawan yang kuhadapi. Kulihat iris di matanya berwarna hitam layaknya iris Inna dalam kondisi normal. Apakah dia belum mengubah irisnya? Lalu bagaimana caranya menemukan kami berdua? Satu pertanyaan besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia terus saja mengamati kami tanpa sedikit pun bergerak, hanya sesekali tersenyum. Itu memberiku waktu yang cukup untuk memusatkan energi di kedua tangan dan kakiku. Aku harus menyerang lebih dulu, tak boleh menunggu dia menyerang. Baru saja akan kuhentakkan kaki kananku ketika aku menyadari bahwa tempatku berpijak adalah semen, bukan tanah. Irisku yang hijau memang memiliki keterhubungan dengan elemen tanah, tapi entah dengan tembok seperti ini. Justru Inna yang beraksi lebih dulu. Dengan kedua tangannya, dia menciptakan suatu gelombang angin, yaitu angin yang berputar-putar dengan cepat dan bergerak ke depan, ke arah wanita itu. Aku baru tahu bahwa irisnya yang violet terhubung dengan elemen angin. Suatu keuntungan baginya, karena angin ada di setiap tempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, jurusnya itu tidak bekerja terhadap lawan kami ini. Dengan mudahnya dia menebas angin itu dengan kedua tangannya sehingga kembali ke bentuknya semula—angin yang tak terlihat. Dia tersenyum dan berkata, “Aku tak menyangka ada juga yang bisa mengendalikan angin selain spesies kami dan spesies abu-abu. Tapi, kau masih harus banyak berlatih.” Aku ingin sekali menyerangnya tapi tak tahu harus bagaimana. Di sekitar sini tak ada elemen yang bisa kumanfaatkan. Tak ada air, tak ada tanah. Tante Sandra memang pernah menjelaskan bahwa seorang spesies hijau punya kemungkinan terhubung dengan elemen lain selain yang dua itu. Tapi aku baru dua bulan ini berlatih, dua elemen utama itu saja masih belum bisa kugunakan dengan baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita itu melebarkan tangannya sedikit dengan telapak tangannya menghadap ke bawah. Dia tersenyum, lagi-lagi senyum yang kejam. Kami bersiap-siap untuk menerima serangan pertamanya. Dia seperti menekankan tangannya ke depan lalu mengangkatnya. Seketika tembok di hadapannya bergerak naik, seperti sebuah balok yang akhirnya menutupi tubuhnya dari pandangan kami. Sebuah balok berukuran 10x10 cm memisahkan diri dari balok besar itu lalu melesat ke arah kami. Belum juga balok yang itu sampai, balok-balok 10x10 cm lainnya memisahkan diri dari balok besar itu dan semuanya mengarah kepada kami. Tak mungkin untuk menghindar karena jangkauan serang balok-balok itu meliputi semua arah gerak kami. Atas, bawah, kiri, kanan. Tak ada kesempatan untuk menghindar. Tiba-tiba saja, dengan sebuah gerakan yang cepat, Inna berada di depanku. Dia menunduk lalu mengangkat kedua tangannya ke depan dan muncullah sebuah barrier berwarna violet yang sedikit transparan. Ajaibnya, balok-balok itu tak bisa menembus barrier violet itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Boleh juga,” kata wanita itu. “Sekarang coba yang ini!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menggerakkan lagi tangannya seperti tadi dan balok yang sama pun muncul. Namun, alih-alih memisahkan diri menjadi balok-balok kecil, balok besar itu seutuhnya bergerak cepat ke arah kami. &lt;br /&gt;Inna menahan balok besar itu dengan barrier violet yang sama, namun, dia tampak kesulitan. Kurasa tak akan bertahan lama. Situasi bertambah buruk ketika balok serupa dimunculkan wanita itu lalu mendorong balok yang tadi sehingga Inna semakin kesulitan menahannya. Wanita itu memunculkan satu balok lagi. Tamat sudah. Jika dihantam satu balok lagi, barrier violet Inna pasti hancur. Aku sudah bersiap menerima hasil terburuk itu ketika tiba-tiba wanita itu berteriak, seolah-olah dia kesakitan. Aku tak tahu apa yang terjadi karena penglihatanku terhalang balok-balok itu. Kemudian aku sadar bahwa seharusnya dengan irisku yang hijau, aku bisa melihat apa yang terjadi di depan sana. Aku memusatkan energi di kedua mataku dan mulai mengaktifkan mode pendeteksi. Sesuatu memang terjadi di sana. Wanita itu berteriak-teriak seperti kena setrum atau terbakar api yang sangat panas. Beberapa meter di belakangnya ada dua orang. Salah satu dari mereka mengangkat tangan kanannya ke depan dan tampak sedang berkonsentrasi. Yang satu lagi aku kenal, itu Tante Sandra. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian wanita hitam itu ambruk dan balok-balok yang sedang ditahan Inna pun tiba-tiba lenyap. Kini aku bisa dengan jelas melihat apa yang terjadi di depan. Lelaki itu menghampiri si wanita yang ambruk sementara Tante Sandra menghampiri kami. Tangannya memeluk kami berdua. Dia tampak lega seperti baru saja melewati ujian nasional dengan hasil yang baik. Setelah melepaskan pelukannya, dia berkata, “Untung saja kami tidak terlambat. Terlambat sedikit saja, keadaannya akan sangat buruk.” Dia tersenyum lalu membawa kami menghampiri lelaki di depan kami. Inna menghambur dan langsung memeluknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa kabar putriku yang cantik?” tanya lelaki itu saat mereka berpelukan. Rupanya itu ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mereka selesai berpelukan, Tante Sandra membawaku mendekatinya dan berkata, “Ini spesies hijau terakhir yang kuceritakan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu mengamati kedua mataku. Matanya sendiri berwarna merah. Seperti yang dikatakan Tante Sandra, suaminya seorang spesies merah. Dan bukan spesies merah biasa, tetapi salah satu petinggi di akademi, yang terpilih dari spesiesnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia berkata, “Inikah Alea? Aku belum pernah melihatnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mirip kan dengan ibunya?” kata Tante Sandra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya. Mirip sekali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Om kenal ibuku?” tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tersenyum, menawarkan tangan kanannya lalu berkata, “Namaku Remi. Aku salah satu teman ibumu waktu di akademi, dulu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menjabat tangannya dan berkata, “Alea.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inna berjongkok dan mengamati wanita yang entah pingsan atau mati itu dari dekat. Dia bertanya, “Wanita ini siapa?” Entah kepada siapa pertanyaannya itu diajukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante Sandra yang menjawab, “Dia seorang spesies hitam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memangnya ada spesies hitam?” tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada,” kata Tante Sandra. “Spesies yang disebut-sebut spesies terkuat di antara spesies-spesies yang ada.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau memang spesies terkuat, dia tak akan kalah oleh ayah,” kata Inna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu karena dia lengah,” kata Om Remi. “Sekuat apa pun seseorang, jika dia lengah, dia bisa kalah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah dia sudah mati?” tanya Inna lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak. Dia hanya pingsan. Maka dari itu, kita harus segera pergi dari sini!”&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054150040858616865-4952772182119368096?l=ardy-kresna-crenata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/feeds/4952772182119368096/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/2010/07/spesies-hijau-chapter-6b.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054150040858616865/posts/default/4952772182119368096'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054150040858616865/posts/default/4952772182119368096'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/2010/07/spesies-hijau-chapter-6b.html' title='spesies hijau chapter 6b'/><author><name>Ardy Kresna Crenata</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_DBAkcWrPpOM/TDsdMhaYCUI/AAAAAAAAAAw/HFjbf4gJFYo/S220/ardy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054150040858616865.post-1823110074597754449</id><published>2010-07-14T10:14:00.006+07:00</published><updated>2010-07-14T10:14:54.868+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='novel'/><title type='text'>spesies hijau chapter 6a</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;big&gt;Chapter 6&lt;br /&gt;SPESIES TERKUAT&lt;/big&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Nayna, 1988&lt;br /&gt;Akademi, Bogor&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“KAMU lihat warna irisnya?” tanya Lena saat kami kembali ke akademi. Kali ini giliranku menyetir. “Seorang spesies hijau sepertimu pasti bisa melihatnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memang memliki penglihatan lebih dibandingkan spesies lainnya, sesuatu yang disebut bakat bawaan. Namun kali ini aku tidak yakin dengan apa yang tadi kulihat. Tak ada yang berubah. Iris wanita sipit itu sejak kami menemukannya sampai pertarungan itu terjadi, tidak berubah, tetap hitam. Adakah sesuatu yang bisa menjelaskannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Irisnya tidak berubah,” kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mustahil!” respon Lena. “Dia jelas-jelas bukan manusia biasa. Tadi dia menggunakan elemen api. Mungkin dia seorang spesies merah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia juga bisa menggerakkan batu-batu besar itu,” sergahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh ya, batu itu. Apakah di antara spesies-spesies kita ada yang berkoneksi dengan batu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menggeleng dan berkata, “Entahlah. Mungkin batu bisa diidentikkan dengan tanah, meskipun sebenarnya tidak sama. Aku tidak pernah mengendalikan batu. Entah spesies hijau yang lain.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lena tampak berpikir, menyimpan telunjuk kanannya di bibirnya. Dia lalu berkata seperti sedang menganalisa, “Api dan batu. Ah, bukan. Anggap saja api dan tanah. Itu berarti merah dan hijau. Apakah pernah ada spesies hasil persilangan spesies merah dan spesies hijau?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi aku menggeleng. “Aku tak tahu,” jawabku. Kami kini sudah jauh dari hutan dan memasuki jalan raya. Banyak mobil di sana-sini. Aku terpaksa sedikit memperlambat laju mobil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Adakah sesuatu yang luput dari pengamatanku?” Lena masih berusaha menganalisa setiap kejadian tadi. Kedua tangannya kini menekan hidungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lalu teringat sesuatu dan berkata, “Dia juga bisa menggunakan elemen cahaya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langsung saja Lena menengok. Irisnya yang hitam berubah biru. Dia sedang membaca apa yang kupikirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmm.. begitu ya? Jadi itu yang tadi membuatmu terlambat menghindar,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untung saja kau mengeluarkan naga air-mu,” kataku tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, untung saja,” katanya tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak kemudian kami sama-sama diam melihat mobil-mobil di depan. Hari belum juga siang. Kurasa baru sekitar jam sebelas. Ini misi tersingkat yang pernah kami lakukan. Berangkat jam tujuh lewat dan kembali kurang dari empat jam kemudian. Ya, meskipun bisa dikatakan misi gagal. Orang-orang yang seharusnya kami jemput sudah mati. Sebagai gantinya, kami malah berhadapan dengan seorang wanita sipit dengan kekuatan luar biasa. Aku masih sangat penasaran dengan warna irisnya yang tetap hitam itu. Sungguh penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spesies hitam? Aku tak pernah mendengar ada spesies seperti itu. Dahulu kala hanya ada tiga spesies yang kini dikenal dengan spesies murni: merah, kuning, dan biru. Waktu demi waktu berlalu dan terciptalah spesies-spesies lainnya dari hasil persilangan dan mutasi. Lalu spesies hitam, aku sama sekali tidak pernah mendengarnya. Kalau pun memang ada spesies seperti itu, bagaimana mereka terbentuk? Hasil mutasi kah? Hasi persilangan kah? Rasanya sulit membayangkan dua kemungkinan itu. Aku begitu tak sabar menunggu hasil rapat para petinggi akademi. Sekitar satu jam yang lalu aku dan Lena melaporkan kejadian di hutan tadi pagi kepada salah satu dari petinggi akademi bernama Maya, seorang spesies biru. Dia lalu meminta kelima petinggi akademi lainnya untuk berkumpul dan diadakanlah rapat tertutup. Mungkin perlu kuberitahu bahwa Maya adalah pemimpin akademi saat ini, seorang spesies biru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lena sama khawatirnya denganku. Namun seperti biasa, ekspresinya akan sulit ditebak jika dia sedang mengkhawatirkan sesuatu, datar sedatar-datarnya. Sudah ada dua puluh menit kami berdiri dan bersandar di lorong di lantai 3 blok A ini, di dekat ruangan tempat rapat tertutup berlangsung. Sebenarnya kami tak perlu menunggu di sini untuk mengetahui hasil rapat karena biasanya setelah rapat selesai akan segera diumumkan hasilnya. Seluruh komunitas akademi—selain beberapa pendeteksi yang tidak boleh beranjak dari titik pengamatannya—akan dikumpulkan di auditorium dan di sanalah pemimpin akademi akan mengumumkannya. Namun, aku dan Lena ingin menjadi orang pertama yang tahu hasil rapat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima menit kemudian pintu ruang rapat terbuka. Satu per satu petinggi akademi keluar. Mereka melirik kami berdua lalu berlalu begitu saja. Maya muncul paling akhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang kalian lakukan di sini?” tanyanya. Seperti layaknya seorang spesies biru, dia mengenakan jaket lab atau lebih tepatnya jas dokter berwarna putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana hasil rapatnya?” tanya Lena cepat, padahal mulutku baru saja terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akan kuumumkan di auditorium,” jawabnya sambil terus berjalan. Kami berdua mengikutinya seperti asisten pribadinya—sebenarnya Lena hampir pasti menjadi asisten pribadinya seandainya Lena tidak menolak. Bisa dikatakan mereka berdua dekat. Itu memberi kami keuntungan dalam hal-hal seperti ini, hal-hal yang didiskusikan para petinggi akademi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak bisakah aku mendengarnya sekarang?” Lena mendesak. Kali ini dia terlihat begitu serius. Jarang-jarang aku melihatnya seperti ini. Kejadian tadi pagi pastinya benar-benar membuatnya risau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau ini,” kata Maya lalu tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lena berhenti sementara Maya terus menjauh. Aku pun terpaksa berhenti dan menghampirinya. Kulihat kedua matanya sudah berwarna biru, entah sejak kapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa?” tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tak percaya apa yang kudengar,” katanya pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang kau dengar?” aku tahu dia baru saja mendengar apa yang dipikirkan Maya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesuatu yang buruk. Sangat buruk.”&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Alea, 2030&lt;br /&gt;Pamoyanan, Cianjur&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Beberapa minggu yang lalu Tante Sandra mewanti-wanti aku dan Inna untuk tidak sering-sering mengubah iris karena itu bisa membuat sesuatu datang. Saat itu aku dan Inna tidak tahu sama sekali tentang sesuatu itu. Tante Sandra tidak pernah menjelaskannya dan kami pun menganggapnya hanya sebuah ancaman atau lebih tepatnya sebuah cara untuk menakut-nakuti kami. Sayangnya, usia kami sekarang ini adalah usia di mana segalanya serba menantang. Kami ingin mencoba banyak hal, merasakan segalanya sampai ke titik-titik yang jauh. Maka, apa yang diwanti-wantikannya itu tidak benar-benar kami patuhi. Kami sering mengubah iris bersama-sama saat berjalan di trotoar sepulang sekolah, saat tiduran di kasur di kamarku, saat menonton televisi di rumah Inna, dan sebagainya. Tante Sandra mungkin bisa membaca apa yang kami pikirkan, tapi dia tidak tahu kapan saja kami mengubah iris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari sepulang sekolah kami berjalan seperti biasa. Aku menggandeng tangan Inna dan dia berjalan tanpa sekalipun menoleh, matanya lurus ke depan. Hujan baru saja selesai sehingga udara terasa dingin dan lembab. Jalan dan trotoar basah dengan genangan air di beberapa tempat. Kuamati pohon-pohon yang juga basah, daun-daunnya yang hijau memantulkan sinar matahri sore. Aku lalu mengajak Inna untuk mengubah iris lagi. Dia membuang napas seperti kesal tapi akhirnya mengubah irisnya juga. Kini seorang spesies hijau terakhir dan seorang spesies violet sedang berjalan bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; Sejauh ini aku sudah bisa menggunakan bakat bawaanku dengan baik dan sudah mulai bisa memanfaatkan keterhubungan irisku dengan elemen alam. Inna pun begitu. Itulah yang dia katakan padaku. Aku sendiri belum tahu seperti apa bakat bawaannya dan elemen alam apa saja yang terhubung dengan irisnya yang violet. Sambil terus menggandeng Inna, aku pejamkan kedua mataku, memusatkan energi yang tengah berputar-putar di paru-paru lalu menggerakkannya ke kedua mataku. Aku membuka mataku dan mulai memperluas jangkauan penglihatanku ke kiri-kanan-depan-belakang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;wbr&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class="word_break"&gt;&lt;/span&gt; Aku bisa melihat ada lima orang di belakang kami, cukup jauh. Mereka siswa-siswa yang baru pulang sekolah seperti kami. Dari lima orang itu, tak ada yang kukenal. Jauh di depan, ada banyak orang berjalan di trotoar, ada banyak kendaraan di jalan besar. Jauh di kanan, di balik rumah-rumah itu, ada anak-anak yang sedang main bola plastik di sebuah gang. Jauh di kiri, berdiri sekolah kami. Masih cukup banyak orang di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku mau menon-aktifkan mode pendeteksi ini, aku merasakan kehadiran seseorang yang terasa lain, jauh di belakang. Ada satu orang. Tidak seperti orang-orang lainnya, suhu tubuhnya aneh. Tidak panas, tidak dingin. Kucoba membandingkannya dengan suhu tubuh Inna, benar-benar berbeda. Suhu tubuh Inna adalah campuran panas dan dingin sehingga terasa hangat. Namun orang ini suhu tubuhnya benar-benar aneh. Kalau dalam rasa, aku bisa menyebutnya hambar. Aku berhenti melangkah dan itu membuat Inna terpaksa berhenti juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa?” tanyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada seseorang kataku. Di belakang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inna menoleh ke belakang lalu berkata dengan santainya, “Ada banyak orang di belakang. Ada salah satu dari mereka yang membuatmu merasa terancam?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan mereka,” kataku. “Jauh di belakang. Ada seseorang yang bukan manusia biasa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berhasil membuat Inna terkejut sehingga dia melepaskan tanganku dari tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan menakut-nakutiku!” katanya, dia tampak tak senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menggeleng pelan dan berkata, “Aku serius. Aku belum pernah merasakan keberadaan seseorang seperti ini. Dia mungkin salah satu spesies seperti kita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah itu ibu?” dia mulai gelisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan. Aku yakin bukan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu siapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menggeleng. Kami sama-sama menoleh ke belakang tapi belum ada tanda-tanda orang itu muncul selain sesuatu yang kurasakan dengan mode pendeteksi-ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inna meraih tanganku dan membawaku berjalan cepat-cepat. Dia berkata, “Kembalikan irismu! Kita harus menanyakan ini kepada ibu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante Sandra tidak marah, tidak mengomel atau apa, dia hanya menyuruh kami untuk tetap berada di rumahnya sementara dia keluar untuk suatu urusan. Aku dan Inna sama-sama tahu bahwa urusan yang akan dilakukannya bukan sekedar urusan. Tante Sandra mengenakan jaket yang dilengkapi tudung, sepatu boots, dan sarung tangan kulit. Entah apa yang akan dilakukannya. Kulihat Inna tampak khawatir. Itu pertama kalinya kulihat dia mengamati ibunya dengan begitu khawatir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu jam kemudian Tante Sandra kembali. Dia menggigil tapi memaksakan diri untuk tersenyum saat melihat kami begitu mengkhawatirkannya. Dia duduk bersila, melepaskan sarung tangannya—sepatu boots-nya sudah dilepas di luar—lalu berkata, “Alea, karena ibumu sudah tiada, aku yang akan melindungimu.” Dia mengatakannya sambil memegang pundakku dengan sebelah tangannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa sebenarnya?” tanya Inna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini ajaib. Untuk pertama kalinya kulihat Inna berbicara dengan ibunya. Tante Sandra menatapnya dan tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak ada apa-apa. Semua baik-baik saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan Inna tahu itu hanyalah kebohongan yang dibuat-buat. Sesuatu sedang terjadi, atau mungkin akan terjadi dan apa pun itu, pastinya bukan sesuatu yang baik sampai Tante Sandra merahasiakannya dari kami. Sama seperti kami, Tante Sandra tidak mengubah irisnya. Aku teringat lagi seseorang yang tadi kurasakan keberadaannya. Tak salah lagi, dia memang mengikutiku, atau mungkin mengikuti Inna. Untung saja saat itu dia masih berada cukup jauh sehingga ketika kami mengembalikan warna iris kami, kami masih sempat menghindarinya. Mulai saat ini, aku berjanji hanya akan mengubah iris dalam keadaan yang diperlukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tadi menghubungi ayahmu,” kata Tante Sandra kepada Inna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayah akan pulang?” tanya Inna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak lama lagi,” Tante Sandra mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu ini tidak sopan tapi aku menyela percakapan mereka, “Suami Tante memangnya di mana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berdua menatapku. Inna seperti biasanya tidak pernah tersenyum. Tante Sandra yang justru tersenyum dan menjawab, “Aku pernah bilang kan kalau suamiku seorang spesies merah? Saat ini dia berada di akademi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Akademi?" Aku bertanya lagi, “Akademi itu masih ada?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante Sandra mengangguk. “Masih ada,” katanya. “Spesies-spesies yang lain juga masih ada.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jauhkah dari sini?” tanyaku lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jauh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inna tak sedikit pun menyela percakapan kami. Dia bergerak menyalakan televisi lalu mengambil remote. &lt;br /&gt;Ada satu hal yang masih mengganjal di kepalaku lalu kutanyakan hal itu, “Apa yang suami Tante lakukan di akademi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tersenyum lalu menjawab, “Dia salah satu petinggi akademi.”&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054150040858616865-1823110074597754449?l=ardy-kresna-crenata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/feeds/1823110074597754449/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/2010/07/spesies-hijau-chapter-6a.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054150040858616865/posts/default/1823110074597754449'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054150040858616865/posts/default/1823110074597754449'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/2010/07/spesies-hijau-chapter-6a.html' title='spesies hijau chapter 6a'/><author><name>Ardy Kresna Crenata</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_DBAkcWrPpOM/TDsdMhaYCUI/AAAAAAAAAAw/HFjbf4gJFYo/S220/ardy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054150040858616865.post-7911309958407070324</id><published>2010-07-14T10:14:00.001+07:00</published><updated>2010-07-14T10:14:00.057+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='novel'/><title type='text'>spesies hijau chapter 5b</title><content type='html'>&lt;b&gt;Alea, 2030&lt;br /&gt;Selakopi, Cianjur&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku selalu menduga seseorang bernama Lena yang namanya sering muncul di buku yang ditulis nenek memiliki hubungan yang dekat dengan nenek. Entah hubungan seperti apa. Dan jika ada seorang wanita yang memiliki hubungan dekat dengan ibu, aku rasa orang itu adalah Tante Sandra. Hanya dia satu-satunya teman wanita dari masa lalunya yang kutahu. Pertanyaan selanjutnya yang bergaung di kepalaku adalah hubungan seperti apa yang terjalin antara mereka berdua? Apakah hanya hubungan persahabatan seperti kebanyakan wanita dengan wanita atau lebih dari itu? Mengapa aku memikirkannya sampai sejauh itu? Kurasa karena aku pun lama-lama mulai terjebak dalam hubungan wanita dengan wanita yang lebih dari persahabatan itu. Uniknya, aku merasakan hal semacam itu saat bersama anak Tante Sandra sendiri, Inna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru dua hari yang lalu aku bertamu ke rumahnya, hari ini aku akan bertamu lagi. Karena ini hari Minggu, aku menuju rumahnya sendirian. Inna mungkin sedang berada di kamarnya, asyik membaca buku hitam tebal yang waktu itu kubawa. Setelah membaca-baca sekilas isinya, dia tampak tertarik dan aku pun meminjamkannya. Tujuanku saat itu sebenarnya adalah supaya Tante Sandra punya kesempatan untuk membacanya. Lagipula aku sudah habis membacanya sekali. Aku tak keberatan dia meminjam buku itu beberapa lama, asal tidak selamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini tujuanku bertamu ke rumahnya bukan untuk bermain atau sekedar bertamu. Dua hari yang lalu Tante Sandra menyuruhku datang hari ini karena ada sesuatu yang ingin dia tunjukkan, lebih tepatnya ada sesuatu yang ingin dia ajarkan. Waktu itu aku terkejut melihat warna irisnya yang tiba-tiba berwarna biru yang cantik dan dia seperti bisa mendengar apa yang kudengungkan di kepalaku meskipun tidak kusuarakan. Tante Sandra rupanya seorang spesies biru. Untuk pertama kalinya aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri bagaimana seorang spesies biru yang digambarkan nenek dalam bukunya. Jika aku mencari sosok yang serupa dengan Tante Sandra dalam buku itu, mungkin aku akan mengatakan Lena. Dia dan nenek berteman sangat dekat meskipun mereka berbeda spesies. Bahkan aku ingat di salah satu halaman nenek bercerita bahwa saat perburuan terhadap spesies hijau diumumkan secara rahasia, yang memberitahu nenek tentang hal itu adalah Lena, seorang spesies biru. Ketika orang-orang dari spesiesnya memburu spesies hijau, Lena malah memberi peluang kepada nenek untuk selamat. Aku yakin hubungan mereka berdua lebih dari dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inna langsung membawaku ke ruang televisi saat aku tiba. Di sana Tante Sandra sedang duduk sambil menonton televisi. Seperti biasa mereka berdua tidak saling bicara. Inna bergerak ke dapur mengambil sesuatu sementara Tante Sandra mematikan televisi. Dia berkata, “Hari ini aku akan melatihmu mengubah iris. Inna akan menemanimu latihan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang pernah kuduga. Setelah bisa mengubah warna iris, maka aku telah sepenuhnya menjadi keturunan terakhir spesies hijau yang tersisa—itu pun jika yang dikatakan Tante Sandra dua hari lalu adalah benar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku ingin menemui ibumu,” kata Tante Sandra dua hari yang lalu. “Sudah sembilan tahun sejak terakhir kali kami bertemu. Bagaimana rupanya sekarang? Apakah dia tambah gemuk?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante Sandra rupanya belum mendengar kabar tentang kematian ibuku. Dia bicara dengan banyak tersenyum. Dan senyumnya tiba-tiba hilang saat aku berkata, “Ibu sudah meninggal sebulan yang lalu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat hanya hening yang terasa. Tak satu pun dari kami bertiga bicara saat itu. Bahkan Inna berhenti membuka-buka halaman buku tebal itu. Lalu Tante Sandra berkata, “Begitu rupanya. Maka kau jadi satu-satunya spesies hijau yang tersisa di negeri ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu percakapan dua hari yang lalu. Hari ini, Inna dan aku akan mencoba mengenali diri kami yang sebenarnya. Selama ini Tante Sandra tidak pernah memberitahu Inna tentang keberadaan spesies-spesies ini. Inna tidak pernah tahu bahwa dirinya adalah bagian dari segelintir orang di dunia yang luas ini yang memiliki kelebihan dibandingkan manusia biasa. Lalu bagaimana dia kemudian tahu? Pasti telah terjadi percakapan antara dia dan ibunya dalam dua hari ini. Ini menarik. Aku ingin sekali menyaksikan percakapan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tutup mata kalian! Konsentrasi, lalu rasakan energi dari sel-sel tubuh kalian!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami melakukan seperti apa yang diperintahkan Tante Sandra. Jika kami hanya manusia biasa, maka tak akan ada yang terjadi. Namun kami merasakannya, setidaknya aku yang merasakannya. Entah seperti apa yang dirasakan Inna. Aku merasakan sel-sel di seluruh tubuhku seperti mengeluarkan panas atau semacamnya yang kemudian bergerak cepat dan mengumpul di paru-paru, berputar-putar di sana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gerakkan energi itu ke kepala lalu lepaskan ke kedua mata!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante Sandra pasti mendengar apa yang kami pikirkan. Aku berusaha menggerakkan energi yang terkumpul di paru-paru itu ke atas. Tidak sulit ternyata. Dalam sesaat energi itu sudah melewati tenggorokan dan mengkonsentrasi di kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagus! Sekarang lepaskan ke kedua mata kalian!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melepaskan energi itu ke kedua mataku dan langsung saja kurasakan sensasi yang aneh. Ada rasa panas dan dingin yang muncul bergantian. Mataku seperti didorong keluar dan saat kelopak mataku kubuka, aku melihat benda-benda di sekitarku dengan berbeda. Ya, ada yang berbeda. Sepertinya aku bisa melihat lebih fokus, jauh lebih fokus dari biasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalian melakukannya dengan baik,” Tante Sandra tersenyum. Kulihat irisnya berwarna biru yang cantik. Kemudian aku melirik Inna di sebelah kiri. Kulihat dia pun melirikku. Mata kami bertemu. Jika irisku berwarna hijau—seharusnya begitu—maka iris Inna berwarna violet, indah sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melirik Tante Sandra dan bertanya, “Inna..?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante Sandra sudah mengerti apa yang ingin kutanyakan saat aku memikirkannya. Dia menjawab, “Suamiku seorang spesies merah. Akhirnya kami menciptakan spesies baru.” Dia melihat anaknya yang irisnya berwarna violet itu. Mata Inna begitu indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama satu minggu setelah itu, setiap pulang sekolah aku bertamu ke rumah Tante Sandra. Tentu saja aku menuju rumah itu ditemani Inna. Entah sejak kapan aku jadi selalu menggandeng tangannya setiap kali kami jalan bersama. Seperti biasanya Inna tak pernah menolak tapi juga tak pernah terlihat menikmatinya. Dia selalu hanya diam dan warna merah selalu muncul di pipinya yang putih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam seminggu itu, banyak yang diajarkan Tante Sandra. Meskipun kami berbeda spesies satu sama lain, tapi tak ada batasan dalam memberikan pengajaran. Terlebih lagi untuk Inna, Tante Sandra seperti menemukan sesuatu yang menghidupkan kembali gairahnya yang selama ini terpenjara. Dia jadi banyak tersenyum dan sesekali tertawa ketika kami tidak juga bisa melakukan seperti apa yang dia suruh. Inna masih saja seperti biasanya, lebih banyak diam ketimbang bicara. Saat kami hanya berdua, dia lebih diam lagi. Sejauh ini kami sudah mempelajari bagaimana mengubah iris, mengenali bakat bawaan dan mengembangkannya, lalu mempelajari teknik pengendalian elemen alam yang terhubung dengan iris kami. Iris Tante Sandra yang biru memiliki keterhubungan dengan air. Irisku yang hijau memiliki keterhubungan dengan pohon dan tanah. Sedangkan iris Inna yang violet masih merupakan misteri. Tante Sandra hanya bisa menduga-duga bahwa elemen yang terhubung dengannya adalah elemen-elemen yang terhubung dengan dia dan suaminya, yaitu air dan api. Bisakah seseorang memiliki keterhubungan dengan dua elemen yang berlawanan? Kami masih belum tahu. Inna harus menemukan jawabannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun Tante Sandra mengajari kami semua itu, dia tidak ingin kami menggunakannya untuk hal-hal yang tidak perlu. Lebih jauh lagi, Tante Sandra meminta kami untuk tidak memperlihatkan identitas kami yang sebenarnya kepada teman-teman kami di sekolah. Dan lebih jauh lagi, dia meminta kami untuk tidak sering-sering mengubah iris karena itu bisa mengundang datangnya seseorang yang tidak dijelaskannya siapa. Aku mengangguk setuju, begitu pula Inna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana perasaanmu saat mengetahui dirimu yang sebenarnya?” tanyaku suatu hari saat kami pulang sekolah bersama-sama. Seperti biasanya aku menggandeng tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aneh,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aneh bagaimana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aneh saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru kusadari belakangan ini aku yang selalu memulai percakapan. Ketika bersamaku, dia selalu hanya diam dan merespon seperlunya. Aku tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Mungkin karena itu hubungan kami terus begini. Sampai kapan? Biarkan saja waktu yang menjawabnya.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Nayna, 1988&lt;br /&gt;Akademi, Bogor&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Lena begitu bangga dengan kemampuannya membaca pikiran orang lain. Untuk menyebutnya bakat bawaan tidak cocok juga, karena saat ini yang memiliki kemampuan seperti itu hanya dia. Entah di generasi sebelumnya ada atau tidak, entah juga di generasi nanti. Awalnya aku kira hanya kebetulan dia menjawab sesuatu yang baru saja kupikirkan. Namun akhirnya tak bisa disangkal lagi bahwa dia memang bisa mendengar apa yang sedang berkecamuk di kepala lawan bicaranya. Dia baru bisa melakukannya kalau irisnya sudah berubah biru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuannya ini sering membuatku kesal, karena setiap kali kami bercakap-cakap, aku harus sangat hati-hati untuk tidak memikirkan sesuatu yang seharusnya kurahasiakan. Sayang sekali, aku sering ketahuan memikirkan sesuatu yang membuatnya geli. Salah satunya adalah ketika aku berpapasan dengan Fakhri—seorang spesies hijau yang tinggi dan tampan—dan Lena sedang bersamaku. Spontan saja dia mengubah irisnya dan sejurus kemudian menahan diri untuk tidak tertawa. Aku tahu, dia baru saja membaca apa yang kupikirkan. Dia menatapku dan lagi-lagi menahan diri untuk tidak tertawa. Memangnya apa yang kupikirkan tadi? Saat Fakhri lewat dia melihatku dan tersenyum. Aku membalas senyumnya dan kami pun tidak saling melihat lagi. Adakah yang terlewat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada,” kata Lena. “Tadi kamu memikirkan tampan sekali lelaki itu sampai-sampai kau ingin menciumnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lena tertawa puas setelah mengatakannya. Benarkah tadi aku memikirkannya? Jika kuingat-ingat lagi, memang benar aku memikirkannya. Saat itu aku sungguh malu. Kalau ada cermin, aku pasti bisa melihat wajahku memerah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari setelah itu kami makan malam berdua di kantin setelah kelas praktek hari itu selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu menyukainya?” tanya Lena sambil memasukkan sesendok nasi goreng ke mulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa?” tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang yang ingin kamu cium beberapa hari yang lalu,” lagi-lagi tertawa setelah mengatakannya, persis seperti beberapa hari yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku membuang napas kesal lalu berkata, “Dia memang tampan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini Lena menahan diri untuk tidak tertawa karena itu bisa mengeluarkan apa yang sedang dikunyahnya. Beberapa saat kemudian dia berkata, “Kalian sepertinya tidak dekat. Aku belum pernah melihat kalian ngobrol.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memang tidak,” sahutku cepat. “Kami memang tidak pernah mengobrol.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benarkah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa kamu tidak mengajaknya ngobrol duluan? Kamu kan suka padanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku yang memulai? Enak saja. Dia lah yang seharusnya memulai.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lena tersenyum lalu bertanya, “Bagaimana jika dia tidak menyukaimu seperti kamu menyukainya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan itu membuatku kesal terlepas dari kebenarannya. Tak ada jaminan Fakhri memiliki perasaan terhadapku. Dia memang selalu tersenyum saat kami berpapasan. Tapi hanya itu. Hanya sebatas itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wanita cantik dari spesies hijau di akademi ini kan tidak hanya kamu,” Lena sedang menikmati upayanya memanas-manasiku. “Yang cantik dari spesies lain juga banyak. Sebaiknya kamu tidak terlalu percaya diri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berisik!” akhirnya aku kesal. Jatah nasi gorengku hampir habis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari setelah itu, kejadian yang sama terulang. Saat Lena sedang berjalan bersamaku menuju kamar kami masing-masing di lantai 5, kami berpapasan dengan Fakhri. Seperti biasanya aku tersenyum dan dia pun tersenyum. Dan bodohnya aku, aku memikirkan sesuatu yang seharusnya tidak kupikirkan saat itu. Lena menahan tawanya lalu berjalan mendahuluiku. Dia berhenti dan berbalik saat tiba di pintu kamarku. Aku menghampirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu pernah mencium seseorang?” tanyanya, pertanyaan yang menyebalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tersenyum. Irisnya yang berwarna biru memastikan dia mendengar semua yang kusuarakan di kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau mencobanya?” tanyanya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini aku memandangnya dengan bingung. Tak tahu kemana arah pertanyaannya menuju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu pasti penasaran ingin tahu bagaimana rasanya,” katanya tersenyum genit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ugh, aku sungguh muak padanya. Wanita yang satu ini memang senang membawaku ke dalam situasi sulit lalu memojokkanku. Irisnya masih biru. Dia pasti mendengar semua yang kukeluhkan ini. Biar saja. Biar saja dia tahu betapa kesalnya aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alih-alih meminta maaf atau apa, dia malah tersenyum dan menarik bahuku dengan kedua tangannya. Cepat sekali. Gerakannya cepat sekali sehingga aku tak sempat menghindar. Dia memagut bibirku dan sedikit menariknya. Untung saja dia tidak memainkan lidahnya. Aku tak bisa membayangkan bagaimana jadinya aku setelah itu. Dilepaskannya bibirnya dengan pelan. Dia menatap kedua mataku lalu tersenyum sejurus kemudian. Dasar wanita ini. Pertama kalinya aku mencium seseorang, justru aku mencium wanita. Ini sama sekali bukan sesuatu yang kuharapkan. Tapi Lena malah tersenyum dan tersenyum, seperti menikmati yang baru saja dilakukannya. Dia berkata, “Sekarang kamu sudah tahu rasanya,” lalu berbalik dan berjalan menuju kamarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih sedikit shock dengan apa yang baru saja terjadi. Kami memang dekat, sangat dekat. Tapi aku tak pernah menyangka dia menciumku seperti mencium seorang laki-laki. Dia memagut bibirku dengan lembut lalu menggerakkannya sedikit ke atas seolah-olah menariknya. Aku bingung dengan apa yang kurasakan. Kusentuh dengan jari tanganku yang kanan, bibirku yang baru saja diciumnya. Aku harap dia melakukannya hanya untuk main-main, hanya untuk membuatku semakin kesal. Bukankah dia memang seperti itu? Alasan sebenarnya kegundahanku ini adalah bahwa aku tidak siap seandainya Lena memiliki perasaan terhadapku. Jika dia ternyata memiliki perasaan itu, entah bagaimana jadinya persahabatan kami yang telah terjalin bertahun-tahun ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat aku menghadap pintu lalu memasukkan kunci ke lubangnya, seseorang mendekat dari kanan. Aku menoleh. Dia Fakhri. Oh, sejak kapan dia ada di situ? Apakah dia melihat apa yang tadi kami lakukan? Semoga saja tidak. Tapi jika memperhitungkan jaraknya yang sudah sangat dekat, dia pasti melihatnya. Tak salah lagi. Dia pasti melihat tadi kami berdua… Agh, aku tak sanggup memikirkan kata itu. Bagaimana sekarang? Apa yang harus kulakukan? Dia sudah sangat dekat dan jantungku berdebar-debar seperti seorang siswa yang disuruh maju ke depan untuk melakukan pidato di hadapan banyak orang. Aku tidak suka pidato. Aku tidak bisa berpidato. Agh, aku melantur kemana-mana. Pikiranku kacau. Saat melihatku ternyata dia tersenyum, seperti biasanya. Kali ini aku tidak membalas senyumnya. Mulutku terbuka cukup lama. Kuperhatikan punggungnya menjauh dan menjauh. Saat itu aku menduga, mungkin dia memang tidak memiliki perasaan yang sama denganku. Seandainya dia memiliki perasaan itu, sudah sewajarnya dia menunjukkan ekspresi tidak suka dengan apa yang baru saja dilihatnya. Kurasakan bahuku turun. Aku membuka pintu dan masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akademi menugaskanku dalam suatu misi. Seperti biasa Lena ikut. Namun kami hanya berdua. Tidak ada orang lain yang diikutsertakan. Mungkin karena misi kali ini cukup mudah, yaitu menjemput dua orang yang terjebak di hutan. Katanya seseorang dari mereka terluka saat mereka diserang gerombolan anjing liar. Misi mereka di hutan itu sebenarnya menindaklanjuti penebangan liar yang belum lama ini dikabarkan terjadi di sana. Sekali lagi, orang-orang seperti kami repot-repot mengurusi masalah manusia biasa. Kabarnya mereka berhasil menghentikan penebangan liar itu. Entah bagaimana caranya. Yang jelas mereka tidak akan muncul begitu saja di hadapan penebang-penebang liar itu dan menggunakan bakat dan kemampuan mereka langsung di depan mata kepala penebang-penebang liar itu, kecuali jika mereka bertiga berniat menghabisi penebang-penebang itu sesudahnya. Keberadaan spesies-spesies seperti kami bersifat rahasia sejak dulu dan akan selalu begitu. Nah, misi mereka berhasil, tapi sesuatu yang tidak terduga terjadi. Seperti yang dikabarkan tadi, mereka diserang gerombolan anjing liar hingga seorang dari mereka tewas, satu orang terluka cukup parah kakinya. Satu hal yang terus kupertanyakan selama di mobil menuju hutan, bagaimana mungkin segerombolan anjing liar sampai membunuh salah satu dari mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setibanya di hutan, Lena memarkir mobil di tempat yang tersembunyi. Nanti setelah misi selesai, kami akan menggunakan mobil itu untuk kembali ke akademi. Oleh karena itu, kuingat-ingat tempat kami menyimpannya. Aku langsung mengaktifkan mode pendeteksi sementara Lena mengaktifkan mode pelindung. Di satu sisi aku bisa melihat siapa saja yang ada di hutan ini sampai radius 1 km dan merasakan keberadaannya, di sisi lain aku terlindung dari kemungkinan adanya seorang pendeteksi yang mungkin tidak berniat baik. Sejak di mobil tadi kami sudah mendiskusikan keanehan dari misi ini, atau lebih tepatnya keanehan dari misi yang dilakukan orang-orang yang akan kami jemput. Sesuatu pasti telah terjadi. Bisa juga dikatakan, ada seseorang di balik keanehan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sekitar sepuluh menit menelusuri hutan, melewati pohon demi pohon dengan hati-hati, kami menemukan target. Hanya ada dua orang. Yang satu laki-laki dalam keadaan terlentang dengan darah di kakinya, bajunya acak-acakan seperti habis dicabik-cabik. Dia tak bergerak. Yang satu lagi seorang wanita sepantaran kami, rambutnya dicat merah dan kulitnya agak kuning, matanya sipit. Berbeda dengan lelaki di dekatnya, dia tampak bisa melalui serangan anjing liar itu tanpa luka berarti. Hanya ada goresan-goresan tanah di muka dan lengannya. Bajunya sedikit robek-robek di beberapa tempat, tapi tak ada luka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalian terlambat,” katanya. Suaranya kecil dan agak serak. “Hanya aku yang masih bertahan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya lelaki didekatnya itu sudah mati. Lena memeriksa denyut nadi di lehernya dan memang sudah tidak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Satu orang lagi?” tanya Lena.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di sana,” dia menunjuk ke sebelah kanannya. “Kami sudah menguburnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak jauh dari tempat kami berada, memang ada sebuah gundukan tanah dengan sebuah batu diletakkan untuk memberi tanda bahwa di situ seseorang sudah dikubur. Keadaan yang kami hadapi ini memang persis seperti yang dilaporkan. Satu orang mati dan ternyata sudah dikubur, satu orang kakinya terluka parah dan ternyata dia pun sudah mati—mungkin baru saja mati beberapa jam yang lalu, satu orang lagi bertahan. Jadi, hanya wanita sipit berambut merah ini yang akan kami bawa ke akademi. Teman lelakinya yang sudah mati akan kami kubur di dekat-dekat sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama kami menguburkan si lelaki, Lena tak sedikit pun bicara dan ekspresi wajahnya benar-benar datar. Ini membuatku curiga bahwa ada sesuatu yang tak beres. Aku begitu hati-hati menggerakkan mataku karena sedikit saja ceroboh, bisa membuat semuanya jadi buruk. Ada dua hal yang membuatku curiga. Pertama, keadaan ini sangat persis dengan yang dilaporkan, meskipun ada beberapa perkembangan. Kedua, kondisi wanita sipit itu tidak wajar. Robekan di baju dan celananya, juga goresan-goresan tanah di wajah dan lengannya, tampak tidak alami. Dengan kata lain, dia membuat kondisi itu dengan sengaja. Dia merobek-robek baju dan celananya, menyapukan tanah ke wajah dan lengannya, lalu bertingkah seolah-olah kelelahan saat kami menemukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai sudah mengubur si lelaki, aku masih memikirkan ketidakberesan ini. Lena menyuruhku berjalan lebih dulu, wanita sipit itu di belakangku, sedangkan Lena di belakangnya. Kami menuju tempat mobil kami disimpan. Tak ada yang bicara selama kami berjalan melewati pohon demi pohon. Aku berpikir keras mencari kemungkinan apa yang sebenarnya terjadi. Lena cukup antisipatif dengan menaruh wanita sipit itu di antara kami berdua. Aku memang mencurigainya. Dan jika dia hendak melakukan sesuatu, Lena akan jadi orang yang pertama kali bertindak. Aku harus siap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami menelusuri jalan yang sama dan bertemu lagi dengan sungai yang cukup deras dan lebar. Aku mengaktifkan kembali mode pendeteksi dan menerawang jauh ke sekitarku. Jauh di sebelah kanan, terusan dari sungai yang sedang kami seberangi ini, aku menemukan sesuatu. Ah, bukan sesuatu, tapi seseorang. Kutemukan seseorang mengapung dan hanyut. Dari postur tubuhnya yang kecil dan rambutnya yang panjang, aku tahu dia wanita. Sekarang semuanya sudah jelas. Wanita yang hanyut itu pasti seseorang yang seharusnya kami jemput. Entah bagaimana ceritanya wanita sipit di belakangku ini membunuhnya dan menghanyutkannya di sungai, beberapa lama sebelum kami sampai. Si lelaki yang kakinya terluka itu, pasti baru dihabisinya belum lama ini. Sudah kuduga misi ini aneh, janggal. Kalau melihat dari tiga orang yang dibunuhnya, wanita sipit ini pastilah sangat kuat. Aku tidak boleh gegabah. Aku tunggu sampai kami semua menyeberangi sungai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berjalan dengan mata kiri tertutup. Sudah kuputuskan, aku akan meminjam kekuatan tanah. Aku akan menggunakan elemen itu untuk menahannya. Sambil menunggu mata kananku terbuka, aku mengalirkan sebagian energi ke telapak kakiku. Aku harus bergerak cepat untuk mengeluarkan jurus ini agar dia tak punya cukup waktu untuk mengelak. Saat akhirnya kami menyeberang sungai, aku buka mata kiriku, dengan cepat melihat ke bawah dan menghentakkan kaki kananku dengan keras sambil berkata, “Penjara tanah!” Seketika tanah di belakangku bergetar. Aku berbalik untuk melihat hasilnya. Berhasil. Wanita itu terperosok ke dalam tanah dan kini hanya tinggal separuh badannya yang berada di atas tanah. Dia tentunya tak bisa bergerak. Kedua tangannya terhimpit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lena berdiri tak jauh di depanku. Dia berkata, “Timing yang bagus.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menanggapinya dengan mengangkat alisku yang kiri. Dia masih berdiri sementara aku jongkok dan bertanya kepada wanita sipit itu, “Siapa kau?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tersenyum dan menjawab, “Aku seorang utusan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan siapa yang mengutusmu?” tanyaku lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menjawab, “Orang yang akan memusnahkan spesies-spesies seperti kalian.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari caranya menjawab, dia sungguh percaya diri padahal situasinya kini sudah sangat tidak menguntungkan. Aku bertanya-tanya orang seperti apa wanita ini, menghabisi tiga orang dari spesies kami tanpa sedikit pun terluka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tanyakan padanya!” kata Lena, dia membaca apa yang kupikirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menatap matanya yang menatapku tajam lalu bertanya, “Apa kau seperti kami? Bagaimana kau menghabisi ketiga orang itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan percaya diri dia menjawab, “Aku tidak sama dengan kalian. Aku lebih kuat dari kalian.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat setelah dia mengatakannya, tanah tempat dia terperosok bergerak-gerak cepat seperti retak dari dalam. Aku mundur menjauh, begitu pula Lena. Sejurus kemudian terjadilah ledakan pada tanah yang retak itu dan aku terlempar ke belakang. Apa yang baru saja terjadi? Ledakan itu menyisakan asap yang menghalangi penglihatanku. Segera kuperbesar pupilku untuk melihat ke dalam asap itu. Aku menemukannya. Wanita itu loncat ke kiri lalu berlari menyusuri sungai. Aku bangkit dan hendak mengeluarkan jurus ketika tiba-tiba air sungai naik menghantam wanita itu. Aku pernah melihat jurus itu. Kalau tidak salah namanya adalah tamparan air. Lena melakukannya dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jurus tamparan air itu berhasil menamparnya hingga dia hanyut dan membentur sebuah pohon. Aku pusatkan energi di kedua tanganku dan menyentuhkannya ke tanah sambil berkata, “Akar pengikat!” Akar-akar pohon di sekitar wanita itu muncul ke permukaan dan bergerak-gerak mengikutinya yang justru berlari mendekatiku. Aku tak tahu apa yang dia rencanakan. Akar itu kurang cepat. Wanita itu memposisikan tengannya di depan seperti yang kulakukan saat latihan, sesaat matanya tertutup lalu terbuka. Matanya bersinar menyilaukan, membuat penglihatanku terganggu. Sejurus kemudian aku melihat kobaran api berbentuk harimau mendekatiku dari depan. Sial, aku tak sempat mengeluarkan jurus lain, akar-akar itu masih berusaha mendapatkan si wanita sipit. Apakah aku akan terbakar? Untung saja Lena bertindak cepat dengan mengeluarkan jurus kebanggaannya: naga air. Air bertemu api dan menguaplah asap. Itulah yang terjadi di hadapanku. Kabar baiknya, akar-akar itu berhasil mendapatkan si wanita sipit. Kini tangan dan kakinya terikat kuat-kuat. Lena bergerak menghampiriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kira sudah bisa memenangkan pertarungan ini ketika akar-akar itu tiba-tiba terbakar dan hangus. Yang terjadi selanjutnya membuatku terkejut. Dia membentangkan tangannya lalu beberapa saat kemudian dari arah kiri dan kanan terdengar suara gaduh. Dua batu besar muncul dari kanan dan dari kiri. Saking besarnya batu itu, pohon-pohon yang ditabraknya roboh. Wanita itu tampak menggunakan banyak energinya sampai gigi-giginya terlihat. Setelah dua batu besar itu cukup dekat, dia menggerakkan kedua tangannya ke depan dan batu itu bergerak cepat ke arah kami. Ini buruk. Batu-batu itu terlalu besar untuk kutahan dengan perisai tanah. Dengan cepat kupusatkan sebagian energi di tangan lalu menekankannya ke tanah sambil berteriak, “Penjara tanah!” Berbeda dengan penjara tanah yang tadi, kali ini aku membenamkan seluruh tubuhku, termasuk kepala. Karena Lena berada sangat dekat denganku, dia pun ikut terpenjara. Dua batu itu akhirnya beradu satu sama lain lalu pecah jadi batu-batu kecil, menghujani kami. Untunglah Lena sempat mengeluarkan perisai biru-nya sehingga batu-batu kecil itu tidak menyentuh kami. Suara menggelegar yang setara dengan ledakan tadi membuat telingaku sakit. Sekitar satu menit kemudian, aku baru menggerakkan tanah ke atas dan kami kembali ke permukaan. Wanita itu sudah hilang. Aku mencoba memperbesar pupilku untuk mencarinya tapi dia tak ada. Lena berkata, “Kita harus melaporkan hal ini segera.” Aku mengangguk.&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054150040858616865-7911309958407070324?l=ardy-kresna-crenata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/feeds/7911309958407070324/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/2010/07/spesies-hijau-chapter-5b.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054150040858616865/posts/default/7911309958407070324'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054150040858616865/posts/default/7911309958407070324'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/2010/07/spesies-hijau-chapter-5b.html' title='spesies hijau chapter 5b'/><author><name>Ardy Kresna Crenata</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_DBAkcWrPpOM/TDsdMhaYCUI/AAAAAAAAAAw/HFjbf4gJFYo/S220/ardy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054150040858616865.post-2422599237325462860</id><published>2010-07-14T10:12:00.000+07:00</published><updated>2010-07-14T10:12:29.777+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='novel'/><title type='text'>spesies hijau chapter 5a</title><content type='html'>&lt;big&gt;&lt;b&gt;Chapter 5&lt;br /&gt;BAKAT BAWAAN DAN ELEMEN ALAM&lt;/b&gt;&lt;/big&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Airish, 2011&lt;br /&gt;Akademi, Bogor&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUDAH hampir seminggu aku berada di akademi ini, menjalani hari-hariku sebagai seorang spesies hijau. Sejauh yang kuamati, ada enam spesies di akademi yang cukup besar ini, tiga spesies murni, dua spesies campuran, dan satu spesies yang terbentuk dari mutasi. Yang tergolong spesies murni adalah spesies merah, spesies kuning, dan spesies biru. Mereka disebut-sebut sebagai spesies-spesies yang memiliki hak istimewa, semacam hak veto yang dimiliki lima anggota PBB. Yang tergolong spesies campuran adalah spesies jingga dan spesies hijau. Menurut sejarah yang diajarkan di akademi, juga dari penjelasan Andy mengenai asal mula spesies-spesies ini ada, spesies jingga adalah campuran antara spesies merah dengan spesies kuning. Kita bisa mengatakannya sebagai persilangan kedua spesies ini. Jadi, seorang laki-laki dari spesies merah menikahi seorang perempuan dari spesies kuning dan lahirlah spesies jingga. Bisa juga berlaku sebaliknya. Jika dibandingkan dengan populasi spesies-spesies murni, populasi spesies jingga terbilang kecil. Sementara itu, spesies hijau merupakan campuran antara spesies kuning dengan spesies biru. Yang membuatku heran adalah bahwa di akademi ini aku lah satu-satunya spesies hijau. Aku telah mengamati orang-orang di kelas kuliah dan praktekku, orang-orang di kantin, di lorong-lorong kamar, di koridor, tapi tak satu pun dari mereka adalah spesies hijau. Memang sulit mengetahui seseorang berasal dari spesies yang mana kalau irisnya berada dalam kondisi normal. Maka dari itu, aku masih berharap ada orang lain di akademi ini yang merupakan spesies hijau. Kemudian yang digolongkan sebagai spesies hasil mutasi adalah spesies abu-abu. Katanya spesies abu-abu adalah hasil mutasi dari spesies biru. Tidak seperti spesies jingga yang tercipta dari persilangan spesies merah dan spesies kuning, spesies abu-abu tercipta dari hasil nikah sesama spesies biru. Diduga bahwa gen dari salah satu spesies biru itu lemah. Begitulah, ada enam spesies di akademi ini. Masing-masing spesies memiliki bakat bawaan dan kemampuannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku telah mempelajari beberapa hal di kelas praktek yang kuikuti setiap sore. Kelas praktek dibedakan berdasarkan spesies seseorang. Satu lagi keanehan, aku tidak menemukan kelas praktek untuk spesies hijau di deretan kelas di lantai tiga di blok B yang terletak di gedung paling belakang akademi. Ada beberapa kelas praktek untuk spesies merah, ada beberapa kelas praktek untuk spesies kuning, begitu juga untuk spesies biru, spesies abu-abu, dan spesies jingga. Aku sering bertanya-tanya mengapa hanya spesies hijau yang tak memiliki kelas praktek. Fakta ini semakin menguatkan dugaanku bahwa aku satu-satunya spesies hijau di akademi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andy memasukkanku ke salah satu kelas praktek spesies merah. Sebagai pemimpin akademi, dia punya hak penuh untuk menentukan kelas praktek siswanya. Aku setuju-setuju saja dengan keputusannya karena memang aku belum tahu apa-apa. Pengajar di kelas praktek spesies merah yang kumasuki adalah Pak Anto. Dia seorang pria yang sudah berumur dengan uban-uban yang menghiasi rambutnya yang selalu disisir rapi ke belakang. Sebuah kacamata tipis selalu menggantung di matanya. Suaranya serak ketika menerangkan teori-teori pengembangan bakat. Satu hal yang sangat kusukai darinya adalah sikap dan pembawaannya yang ramah, menyenangkan. Dia tak pernah sekali pun terlihat murung apalagi marah-marah di kelas praktek. Bagiku dia seorang pengajar profesional yang bisa mengesampingkan masalah-masalah pribadinya saat kelas praktek berlangsung. Setiap orang, sebaik apa pun kelihatannya, dia pasti memiliki masalah-masalah dalam hidupnya. Itu yang kuyakini sejak dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingat saat pertama kalinya memasuki kelas praktek itu. Siswa-siswa di sana memandangku dengan tatapan yang aneh. Aku menghitungnya ada dua belas orang di kelas itu, tiga belas denganku, empat belas dengan Pak Anto. Teori praktek yang kuterima untuk pertama kalinya adalah bagaimana caranya mengubah warna iris. Jika siswa-siswa di kelas praktek ini mengubah irisnya menjadi merah, aku mengubahnya menjadi hijau. Pak Anto menyuruhku maju ke depan saat itu sembari dia menerangkan hal-hal yang harus kulakukan. Saat itu juga aku mencobanya, di depan kelas, di depan dua belas orang yang menatapku aneh itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk bisa mengubah warna iris, yang harus kulakukan adalah memusatkan energi tubuhku di kedua mata. Itu tidak mudah, mungkin karena saat itu aku masih pemula. Energi yang kupusatkan di mata itu adalah energi yang berasal dari sel-sel yang ada di seluruh bagian tubuhku. Ketika aku memejamkan kedua mata lalu mencoba membuat sel-sel di tubuhku melepaskan energinya, energi itu akan bergerak dengan sendirinya ke paru-paru lalu berputar-putar di sana. Jika sudah cukup banyak yang terkumpul, selanjutnya aku menggunakan otakku untuk mengalirkan energi itu ke tenggorokan hingga akhirnya berhenti di kepala, berkonsentrasi di sana. Selanjutnya aku tinggal memusatkan energi yang berkonsentrasi di kepalaku itu ke kedua mataku. Ada rasa yang aneh saat energi itu mendekati mataku, seperti mendorongnya dari dalam. Sesekali aku merasa hangat, sesekali sejuk. Sesekali panas, sesekali dingin. Dan ketika akhirnya kubuka mataku, irisku sudah berwarna hijau. Aku melihatnya di cermin yang diberikan Pak Anto. Warna irisku yang tadinya coklat muda telah berubah jadi hijau cerah. Pupilnya tak berubah, masih hitam dan bulat dengan ukuran yang sama. Kulihat Pak Anto, irisnya berwarna merah menyala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori selanjutnya adalah tentang bakat bawaan. Setiap spesies biasanya terlahir dengan bakat bawaannya masing-masing. Meskipun begitu, cukup banyak orang-orang di akademi ini yang tidak memiliki bakat bawaan. Spesies merah misalnya, bakat bawaan mereka adalah merasakan keberadaan seseorang atau dengan kata lain bakat bawaan mereka adalah melacak. Oleh karena itu, spesies merah sering disebut spesies pendeteksi karena di spesies ini terlahir banyak pendeteksi. Lain lagi dengan spesies biru, bakat bawaan mereka adalah penyembuhan dan perlindungan, bisa juga hanya salah satunya. Maka dari itu, spesies biru sering disebut spesies penyembuh atau spesies pelindung. Lain lagi halnya dengan spesies kuning, katanya spesies kuning adalah satu-satunya spesies yang selalu terlihat muda. Bakat bawaan mereka adalah semacam kemampuan untuk meregenerasi sel-sel kulit sehingga biarpun umur mereka sudah tua, mereka bisa terlihat seperti berusia dua puluhan bahkan belasan tahun. Salah satu bakat bawaan yang membuat iri spesies-spesies lainnya. Karena bakat bawaannya ini, spesies kuning sering disebut spesies awet muda—meskipun sebenarnya regenerasi sel-sel kulit itu justru membuat masa hidup mereka lebih pendek daripada spesies-spesies lainnya. Sementara itu bakat bawaan spesies abu-abu mirip dengan bakat bawaan spesies biru karena secara genetik mereka memang mirip. Namun spesies ini juga memiliki bakat bawaan yang berbeda dari spesies lain, yaitu kemampuan untuk mengendalikan situasi. Mereka seolah-olah bisa mengubah suasana yang tadinya panas menjadi dingin, yang tadinya tegang menjadi tenang. Oleh karena itu, spesies abu-abu sering disebut spesies pengendali. Spesies jingga secara genetik merupakan perpaduan spesies merah dan spesies kuning, sehingga itu memungkinkan seseorang dari spesies jingga memiliki bakat bawaan yang dimiliki spesies merah dan juga yang dimiliki spesies kuning. Namun menurut keterangan Andy, itu jarang terjadi. Spesies jingga juga memiliki bakat bawaan khusus yang hanya dimiliki oleh spesies mereka, yaitu kemampuan untuk mengingat dengan sangat baik apa yang pernah mereka baca atau lihat. Misalnya jika seseorang dari spesies mereka yang memiliki bakat itu membaca sebuah novel sampai habis, dia bisa mengingat setiap kejadian, setiap cerita, bahkan mungkin setiap kalimat yang diucapkan si tokoh utama dalam novel itu. Maka, spesies jingga sering disebut spesies pengingat. Sedangkan bakat bawaan spesies hijau yang membuat mereka berbeda dari spesies lainnya adalah dalam kemampuan melihat. Bakat ini memungkinkan seorang spesies hijau untuk melihat hal-hal yang tak terjangkau oleh indera penglihatan normal. Sebagai contoh, ketika seorang spesies hijau mengubah irisnya dan berkonsentrasi, dia bisa melihat apa saja yang terjadi, apa saja yang ada di sekitarnya sejauh 1 km. Jarak tersebut bisa kurang bisa lebih tergantung orang itu sendiri. Karena bakat penglihatan ini lah spesies hijau dijuluki spesies penerawang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bakat bawaan, hal yang selanjutnya kuterima di kelas praktek adalah tentang keterkaitan masing-masing spesies dengan elemen alam. Adanya keterkaitan ini memungkinkan seseorang menggunakan elemen alam untuk melakukan serangan. Misalnya bagi spesies merah, elemen alam yang terhubung dengan mereka adalah api. Seorang spesies merah yang ahli bisa memerintahkan api untuk bergerak seperti yang diinginkannya. Cara mereka mengendalikan api adalah dengan iris mereka yang merah itu. Sementara itu, elemen yang terhubung dengan spesies kuning adalah cahaya matahari. Sama seperti halnya spesies merah, spesies kuning bisa memanfaatkan cahaya dan panas matahari untuk menyerang seseorang. Spesies biru memiliki keterkaitan dengan air. Dengan irisnya yang biru, mereka bisa menggerakkan air semaunya. Elemen yang memiliki keterkaitan dengan spesies abu-abu adalah angin dan petir. Spesies ini cukup beruntung karena terhubung dengan lebih dari satu elemen. Sementara itu, elemen yang terhubung dengan spesies jingga adalah api dan cahaya. Ini merupakan perpaduan spesies merah dan spesies kuning. Dalam hal keterkaitan ini, spesies jingga mengungguli dua spesies murni itu. Sedangkan elemen alam yang terhubung dengan spesies hijau adalah pohon dan tanah. Dua elemen ini adalah elemen utama yang terhubung dengan iris kami yang berwarna hijau. Disebut elemen utama karena ada kemungkinan spesies hijau memiliki keterhubungan dengan elemen air dan cahaya seperti yang terjadi pada spesies biru dan spesies kuning.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah selama beberapa hari ini aku berlatih memusatkan energi, mengubah iris, mengenali bakat bawaan dan mengembangkannya, serta melatih keterhubungan irisku dengan elemen alam. Kelas praktek hanya berlangsung dua jam. Satu jam lebih dihabiskan Pak Anto untuk menjelaskan teori-teori sampai sangat detail. Sisanya digunakannya untuk mempraktekkan teori yang baru saja diterangkannya. Aku tidak pernah benar-benar punya waktu cukup untuk latihan di kelas praktek. Seringnya aku berlatih di kamar setelah makan malam di kantin atau pagi-pagi sekali sebelum kegiatan akademi di mulai. Selain kamar, tempat favoritku untuk berlatih adalah di atap auditorium, seperti yang sedang kulakukan saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang pernah kujelaskan sebelumnya, auditorum terpisah dari dua gedung utama yang dihubungkan dengan koridor yang cukup panjang di kiri dan kanannya. Aku menyebutnya koridor pengajar karena kamar-kamar yang ada di koridor itu adalah kamar-kamar untuk para pengajar. Akademi ini sendiri, jika dilihat dari atas, bentuknya adalah persegi panjang dengan panjangnya adalah tiga kali lebarnya. Dengan kata lain, bisa dibilang akademi ini berukuran tiga buah kubus besar, jika melihatnya secara tiga dimensi. Kubus besar pertama adalah gedung depan di mana terdapat pintu depan yang terbuat dari kaca, meja resepsionis, lobi, kantin, perpustakaan, ruang perawatan, ruang kantor, kamar-kamar siswa, dan ruang kuliah. Aku menyebutnya blok A, karena kamar-kamar siswa yang berada di gedung depan semuanya dilabeli A seperti A401, A402, A403, dst. Kubus besar satu lagi adalah gedung belakang di mana terdapat kelas praktek, ruang praktek khusus, kamar-kamar siswa, dan ruang kuliah. Aku menyebutnya blok B sesuai dengan label yang tertera pada kamar-kamar siswa di gedung belakang ini. Seperti yang kubilang tadi, dua gedung ini dihubungkan oleh dua koridor di sisi kiri dan kanannya. Aku menyebut dua koridor penghubung ini blok P sesuai label-label yang tertera di ruangan-ruangannya yang dimulai dengan huruf ‘P’. Di blok P inilah para pengajar tidur. Di antara gedung depan dan gedung belakang, ada ruang kosong yang luas. Di situlah berdiri auditorium. Auditorium ini berbentuk kubus yang besar tapi hanya satu lantai sehingga saat aku berada di atapnya, aku bisa melihat kamar-kamar pengajar di lantai 2, 3, 4, dst. Di atap auditorium ini aku langsung dihadapkan pada udara terbuka. Di pagi hari langit akan biru dan udara seperti campuran dingin dan sejuk. Di malam hari seperti saat ini, langit akan hitam dengan beberapa bintang dan satu bulan, dan udara akan terasa dingin. Saat berlatih di sini, aku pasti memakai jaket. Aku sedang mengingat-ingat apa yang diterangkan Pak Anto tadi sore. Keterhubungan antara iris dengan elemen alam. Aku sudah memikirkan betapa asyiknya bisa menggerakkan elemen alam seperti yang kuinginkan. Tapi untuk melakukannya sangat sulit. Mulai besok selama satu minggu tak akan ada kelas praktek. Pak Anto sengaja memberi libur agar siswa-siswanya punya waktu cukup banyak untuk melatih kemampuannya. Aku sudah mengubah irisku dan kini sedang berusaha mempraktekkan apa yang disebut dengan bakat bawaan. Jika memang aku memiliki bakat bawaan itu, seharusnya aku bisa melihat benda-benda di sekitarku yang tidak tertangkap penglihatan normalku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; Aku duduk bersandar di dinding atap auditorium yang hanya setinggi perut, di dekat lubang yang merupakan tempat mengalirnya air ketika hujan. Aku memposisikan tanganku di depan dada seperti yang dilakukan shinobi-shinobi dalam anime Naruto saat mereka akan mengeluarkan suatu jurus. Berbeda dengan shinobi-shinobi dalam anime Naruto itu, aku tidak menggerakkan tanganku untuk membuat segel, tanganku hanya diam. Berkonsentrasi di malam hari jauh lebih mudah karena tidak ada suara-suara yang mengganggu, meskipun kadang angin suka terlalu galak menggaruk kulit leherku sehingga aku menggeliat. Aku memusatkan lagi energi tubuhku di kepala, kali ini bukan untuk mengubah iris—warna irisku sudah hijau—melainkan untuk mencoba bakat bawaan yang kumiliki. Aku pun mencobanya. Tanpa menoleh ke kiri maupun ke kanan, aku bisa melihat di kanan maupun di kiriku tak ada siapa-siapa. Aku berusaha melebarkan jangkauan penglihatanku hingga melingkupi seluruh auditorium. Ternyata bukan hanya depan-belakang-kiri-kanan,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&amp;nbsp;aku juga bisa melihat apa yang ada di bawahku. Dengan kata lain, penglihatanku bisa menembus tembok. Aku melihat auditorium yang kosong dan gelap. Ada bangku-bangku yang dirapikan ke dinding. Ada dua tangga yang menuju ke atap. Ada panggung. Di belakangku adalah angin, tak ada apa-apa. Di bawahnya ada rumput yang lembab. Lebih jauh lagi aku bisa melihat koridor-koridor yang sepi. Tak ada siapa-siapa di sana. Hanya ada lampu yang redup dan tanaman-tanaman di dalam pot yang besar-besar. Aku mencoba memperluas lagi jangkauan penglihatanku tapi sepertinya sudah sampai di situ batasnya. Aku tidak terlalu kecewa. Pak Anto selalu bilang bahwa kemampuan seseorang akan terus bertambah jika dia terus melatihnya. Aku meyakini hal itu sepenuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat aku hendak menghilangkan mode penglihatan ini, tiba-tiba aku melihat seseorang baru saja menaiki tangga dan kini berada di balik salah satu pintu di atap auditorium ini. Aku terhenyak dan menoleh ke pintu itu. Kutunggu beberapa saat dan pintu itu pun terbuka. Seseorang memang berada di sana. Aku mengenalnya. Dia teman sekelasku di ruang kuliah Matematika. Sandra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah lewat jam sepuluh,” katanya sambil berjalan mendekat. “Apa yang kau lakukan di sini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Latihan,” jawabku pendek. Aku baru saja akan berdiri ketika dia justru duduk di samping kiriku, dekat sekali denganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku juga sering latihan di sini. Dulu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku membiarkan waktu sedikit berlalu kemudian bertanya, “Sudah berapa lama kau berada di akademi ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini tahun ketigaku,” jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana ceritanya kau bisa berada di akademi ini?” aku mulai tertarik untuk mengorek-ngorek masa lalunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku kabur dari rumah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa kabur? Apa kehidupanmu dulu tidak menyenangkan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menggeleng tiga kali dengan pelan lalu berkata, “Kehidupanku saat itu justru sangat menyenangkan. Bahkan terlalu menyenangkan. Orang tuaku kaya raya dan aku anak satu-satunya. Segala keinginanku dipenuhi dengan baik. Aku pintar, suppel, cantik, suaraku bagus, bisa main piano, bisa dance, dan masih banyak lagi kelebihanku. Bisa dikatakan aku sempurna.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia berhenti di situ. Semua itu dikatakannya dengan ekspresi dan suara yang datar. Aku tak bisa menduga-duga apa yang sedang berkecamuk di kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu kenapa kau kabur?” tanyaku. Kehidupannya yang sangat baik itu sama sekali tidak memberi alasan baginya untuk kabur. Itu membuatku heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku bosan,” katanya dengan datar. “Aku ingin kehidupan yang sebenarnya. Aku ingin kehidupan dengan banyak tantangan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi aku benar-benar tak bisa menebak apa yang dia pikirkan. Aku berkata, “Hanya demi itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia seperti hendak mengatakan sesuatu tapi menelannya kembali. Mulutnya terbuka sehingga kalau ada lalat yang sedang iseng terbang di sekitar sini, dia pasti bisa masuk ke mulutnya lalu keluar sebelum mulutnya sempat menutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selama dua tahun di akademi, aku menemukan banyak tantangan tapi tidak benar-benar puas. Pada dasarnya aku memang tidak pernah puas. Barulah di tahun ketiga, tahun ini, aku seperti menemukan apa yang kucari.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menatapku. Irisnya yang biru perlahan kembali menjadi hitam. Sandra, orangnya unik. Begitulah kesan pertamaku saat kami bertemu di ruang kuliah. Waktu itu dia mengomentariku yang sedang mengerjakan contoh soal yang diberikan dosen. Aku merespon seperlunya lalu dia mengenalkan dirinya dengan pendek, hanya menyebut nama sambil memberikan tangan kanannya. Setelah itu kami sama-sama memperhatikan dosen sampai bel berbunyi. Besoknya dan besoknya lagi kami kembali terlibat dalam percakapan yang sangat pendek di sela-sela kuliah dan berakhir begitu saja. Setiap hari seperti itu. Dia tak pernah tersenyum apalagi tertawa. Ekspresinya selalu datar yang diikuti cara bicaranya yang juga datar. Dan satu hal yang aneh, aku tidak pernah melihatnya berbicara dengan orang lain selain diriku di ruang kuliah itu. Saat ada seorang siswa yang ingin meminjam bolpoin atau kertas binder kepadanya, dia memberikannya tanpa mengucapkan apapun, tanpa sedikit pun tersenyum. Ketika dosen kebetulan menunjuknya untuk mengerjakan PR yang diberikan hari sebelumnya, dia melangkah ke depan dengan percaya diri lalu mengerjakan soal itu tanpa sedikit pun berbicara. Ajaibnya, dia tidak pernah salah. Rasanya tidak berlebihan jika dia mengatakan bahwa dia sempurna. Tapi untuk mengatakanbahwa dia suppel, rasanya tidak cocok dengan pembawaannya yang sangat pendiam. Aku hanya bisa menduga bahwa dia dulunya tidak pendiam seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terlalu asyik membayangkan tingkah lakunya yang unik sehingga tidak menyadari bahwa wajah kami sudah sangat dekat. Terakhir kuingat dari percakapan kami saat ini adalah bahwa dia sudah menemukan apa yang dia cari. Masih belum jelas apa sebenarnya yang dia temukan. Kini wajahnya semakin dekat dengan wajahku. Aku melihat iris matanya yang hitam, hidungnya yang kecil dan mancung, kulit wajahnya yang putih dan halus, hampir tidak ada pori-pori yang tampak. Semakin dia mendekatkan wajahnya, semakin kurasakan napasnya yang panas menyentuh kulit wajahku. Seperti terpicu, napasku tiba-tiba saja memburu, aliran darahku menjadi deras, degup jantungku terasa kuat sekali sampai-sampai hanya bunyinya yang kudengar. Aku melihat matanya menatapku lalu bergerak sedikit ke bawah. Wajah kami kini sudah benar-benar dekat, sangat dekat. Hidungnya sudah menyentuh hidungku, membuatku merasakan sensasi yang aneh, seperti disengat sesaat. Lalu tinggal bibirnya yang hampir menyentuh bibirku. Hampir, seandainya handphone di saku celanaku tidak berdering saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sama-sama diam seolah-olah waktu memang berhenti. Handphone terus berdering dan berdering. Setelah aku sadar apa yang hampir saja terjadi, aku menjauhkan wajahku dari wajahnya lalu berdiri. Dia menatapku dengan matanya yang hitam dan tajam itu. Ekspresinya masih datar seperti biasanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku harus kembali ke kamar,” kataku dengan kikuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Handphone di saku celanaku masih berdering dan aku baru merogohnya saat membuka pintu dan baru mengangkatnya saat menuruni tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lama banget, Sayang,” kata seseorang yang meneleponku. Detik berikutnya aku baru sadar yang meneleponku adalah Valen. Pikiranku masih kacau karena sesuatu yang hampir saja terjadi itu. Membayangkannya membuatku merasakan sesuatu yang ganjil. Entah apa. “Hallo, Sayang?” aku baru sadar belum menjawab Valen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya. Hallo,” jawabku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah hampir seminggu sejak kamu pergi dari rumah. Apa kamu yakin belum mau pulang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkataannya membuatku teringat kembali kejadian hari itu saat aku bertengkar dengan ibu—ibu palsuku—sampai akhirnya dia menamparku. Saat itu aku terlalu emosi untuk berpikir jernih dan kebetulan sekali di rumah hanya ada aku dan ibu. Aku pun pergi begitu saja, dan ibu tidak berusaha mencegahku. Mungkin dia masih shock karena baru saja menamparku padahal dia tidak pernah menampar anak-anaknya sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sayang?” tanya Valen lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku belum bisa pulang,” jawabku. “Belum bisa untuk saat ini,” lagi-lagi aku berbohong. Tiga hari yang lalu Valen meneleponku dan menanyakan di mana aku berada. Aku mengatakan padanya bahwa mengenai tempat aku berada tidak bisa kuberitahu namun kondisiku baik-baik saja. Ketika saat itu dia bertanya kapan aku akan pulang, pertanyaan yang sehari sebelumnya diajukan adikku Rayna saat meneleponku, aku mengatakan padanya bahwa aku akan pulang dalam beberapa hari ke depan. Itu bohong. Dusta. Setelah berada di akademi ini dan menjadi bagian dari komunitas spesies-spesies yang menganggap dirinya lebih baik dari manusia, aku tidak diizinkan untuk kembali ke kehidupanku yang sebelumnya. Kalaupun aku ingin mengunjungi rumah, aku hanya bisa berada di sana selama beberapa jam karena jika berada lebih dari beberapa jam yang ditentukan itu, orang-orang dari akademi akan langsung mencariku dan memaksaku pulang. Aku tidak mau itu terjadi. Aku baru bisa meninggalkan akademi lebih dari satu hari jika aku ditugaskan dalam suatu misi. Namun karena aku masih sangat baru di sini, belum ada misi yang akan kuterima dalam waktu dekat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Minggu depan. Aku baru akan pulang minggu depan.” Lagi-lagi sebuah kebohongan untuk menutupi kebohongan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Minggu depan? Lama banget. Kamu tidak kangen sama aku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan bodoh dan tidak perlu kujawab. Jadi hanya kudiamkan. Sudah pasti aku merindukannya setiap hari, bahkan setiap saat seandainya pikiranku tidak disibukkan dengan hal-hal lainnya. Kami dulu satu kampus sehingga hampir setiap hari bertemu dan menghabiskan waktu bersama. Banyak sekali kejadian yang manis untuk dikenang saat bersamanya. Terutama saat hujan. Dia seorang lelaki yang menyukai hujan sampai-sampai pernah memaksaku berlari di tengah-tengah hujan yang deras. Momen itu memang begitu romantis, membiarkan pakaian kami basah kuyup sambil berbagi kehangatan lewat tangan yang saling menggenggam. Besoknya, kami sama-sama demam. Kadang-kadang hal-hal yang romantis tidak bersekutu dengan akal sehat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu baik-baik saja, Sayang?” dia bertanya lagi karena aku mendiamkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku baik-baik saja. Hanya sedikit lelah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmm.. kalau begitu cepat istirahat! Met bobo!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun sudah sangat sering frasa ‘met bobo’ itu diucapkannya, aku masih saja geli saat mendengarnya. Aku tak pernah mau mengatakan frasa itu kepadanya. Ketimbang itu, aku lebih memilih, “kamu juga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percakapan kami pun berakhir di situ. Aku baru saja membuka pintu samping auditorium dan kini sedang berjalan menuju lorong perpustakaan. Aku menoleh sebentar ke atap auditorium, teringat kembali sesuatu yang tadi hampir saja terjadi. Sandra berniat menciumku, mencium bibirku. Aku benar-benar terkejut sampai tak bisa bergerak. Dia mengatakan bahwa tahun ini dia sudah menemukan apa yang dia cari. Apa sebenarnya yang dia cari itu? Aku? Yang benar saja. Aku tak mungkin berpindah haluan jadi lesbi.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054150040858616865-2422599237325462860?l=ardy-kresna-crenata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/feeds/2422599237325462860/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/2010/07/spesies-hijau-chapter-5a.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054150040858616865/posts/default/2422599237325462860'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054150040858616865/posts/default/2422599237325462860'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/2010/07/spesies-hijau-chapter-5a.html' title='spesies hijau chapter 5a'/><author><name>Ardy Kresna Crenata</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_DBAkcWrPpOM/TDsdMhaYCUI/AAAAAAAAAAw/HFjbf4gJFYo/S220/ardy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054150040858616865.post-4906877774392605811</id><published>2010-07-14T10:09:00.001+07:00</published><updated>2010-07-14T10:09:20.583+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='novel'/><title type='text'>spesies hijau chapter 4c</title><content type='html'>&lt;b&gt;Nina, 2013&lt;br /&gt;Pamoyanan, Cianjur&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Mendung dan semakin kelabu. Hujan akan turun beberapa menit lagi. Aku bergegas keluar lewat pintu belakang lalu mengambil pakaian yang kebanyakan sudah kering. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sore ini hujan lagi kah?” Sasha menghampiriku yang sedang melipat pakaian yang tadi kuambil. Dia menyalakan televisi lalu membantuku melipat pakaian-pakaian itu. “Seharusnya ini musim kemarau, tapi sudah dua minggu ini terus-terusan hujan. Dan itu selalu sore hari.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidakkah itu bagus?” responku. “Datangnya hujan membuat tempat ini sejuk.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sejuk? Aku lebih suka menyebutnya dingin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kurasa itu masih lebih baik ketimbang panas yang membuat gerah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebenarnya tidak masalah jika hanya gerimis atau hujan kecil. Namun kau tahu sendiri dua minggu ini hujan yang turun selalu deras disertai guntur dan halilintar. Dilihat dari sisi mana pun itu mengganggu. Aku bahkan tak bisa menyalakan televisi. Padahal sinetron-sinetron baru dimulai sehabis petang. Sementara hujan yang sebentar lagi turun, mungkin baru akan berhenti setelah lewat jam delapan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersenyum dan sedikit tertawa. “Kau mengatakannya seperti bisa meramal cuaca saja,” kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku mengamati hujan yang turun selama dua minggu ini. Hampir semuanya seperti yang kukatakan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu, kenapa kau malah menyalakan televisi padahal hujan sebentar lagi turun dengan deras?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setidaknya aku bisa menikmati beberapa menit sebelum televisi kumatikan lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tertawa mendengar jawabannya, tertawa puas. Sasha hampir seumuran denganku, hanya setahun lebih muda, tapi jika kita sudah terlibat percakapan, dia selalu mengutarakan pendapatnya seperti anak kecil yang tak mau kalah. Gerakan mulutnya yang sering disengaja, membuatku semakin tergelitik. Lucu sekali, mengingat kami berdua sudah kepala empat. Tahun ini usiaku sudah empat puluh empat. Sudah sepantasnya aku memiliki anak, bahkan cucu. Tapi semua itu tak akan terjadi. Sejak suamiku meninggal dua puluh dua tahun silam di sebuah hutan saat kami dalam pelarian, aku tak lagi berniat mencari pendamping. Selama dua puluh dua tahun ini aku hidup menumpang di rumah ini, di rumah Sasha dan suaminya Rivan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sasha dan Rivan menerima orang asing sepertiku dengan baik, bahkan lebih dari itu. Kini aku sudah seperti saudara bagi mereka. Aku pun menjalani kehidupanku sebagai manusia biasa tanpa ada masalah berarti. Setiap harinya aku membersihkan rumah, mencuci pakain, sesekali memasak jika Sasha sedang sangat sibuk. Kalau melihat dari apa yang kulakukan, mungkin bisa dikatakan aku adalah pembantu di rumah ini. Tapi Sasha dan Rivan tidak pernah menggunakan istilah itu. Bagi mereka, aku adalah saudara yang tinggal serumah, kakak sekaligus kakak ipar, begitulah kira-kira. Mereka sebenarnya tidak pernah menyuruhku melakukan pekerjaan rumah, bahkan tidak keberatan jika aku tidak melakukannya sama sekali. Awalnya aku melakukannya semata-mata untuk membalas kebaikan mereka yang mau menerimaku dalam kehidupan mereka. Seterusnya aku melakukannya karena kebutuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini tanggal 24 di bulan Mei. Hujan turun beberapa jam yang lalu seperti yang dikatakan Sasha saat kami sama-sama melipat pakaian tadi. Malam terasa dingin. Hujan yang deras selalu mengingatkanku pada hari-hari di hutan dulu. Aku masih ingat hujan turun dengan derasnya tiga hari berturut-turut, memaksa aku dan suamiku hanya berteduh di gua. Bekal habis. Kami kelaparan. Untuk minum saja suamiku sampai menadah air hujan ke dalam botol. Saat itu aku memang tak bisa melakukan banyak hal. Aku sedang mengandung. Saat kami di hutan, itu adalah bulan kesembilan. Hanya beberapa hari sebelum akhirnya putriku lahir. Melihat kondisiku yang lemah, suamiku bekerja keras mencari makanan, pergi menembus hujan yang dari suaranya saja aku tahu itu sangat deras lalu kembali beberapa menit kemudian. Aku sendirian di gua. Dingin dan lembab. Ketimbang menyalakan api unggun, aku lebih memilih menyalakan lampu senter. Menyalakan api akan mengundang perhatian karena asapnya akan keluar melalui mulut gua. Sementara di hutan itu, orang-orang dari akademi sedang memburu kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara guntur menyadarkanku dari lamunan. Hari ini adalah hari ulang tahun putriku Airish. Usianya tepat dua puluh dua tahun, sama seperti usiaku saat berada di hutan saat itu. Seperti biasa aku memejamkan mata dan berdoa agar dia selalu selamat dan terus hidup untuk menjaga spesies hijau dari kepunahan. Entah di mana dia sekarang. Bagaimana rupanya saja aku tidak tahu. Miripkah ia denganku? Selama dua puluh dua tahun ini aku tidak pernah sekali pun menemuinya. Bukannya tidak ingin, bukannya tidak bisa. Kadang-kadang aku begitu ingin bertemu dengannya sampai-sampai irisku berubah begitu saja dengan sendirinya. Kemudian aku menyadari bahwa kehidupanku sudah berakhir dua puluh dua tahun yang lalu. Sejak saat itu, aku menjalani kehidupan yang baru, yang benar-benar berbeda. Namaku pun tidak lagi Nayna, melainkan Nina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana pula kabarnya akademi, aku tak pernah tahu. Hubunganku dengan dunia itu sudah benar-benar terputus dua puluh dua tahun yang lalu. Andy yang membawaku ke kota ini, ke rumah ini, tak pernah sekali pun mengunjungiku. Aku paham. Dia sudah mengatakan bahwa Nayna sudah mati. Dia hanya berusaha agar fakta itu tidak berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya, mungkin saat ini putriku sudah bisa mengubah irisnya. Dan itu berarti keberadaan spesies hijau akan diketahui. Bagaimana reaksi orang-orang di akademi. Akankah mereka kembali melakukan perburuan atau justru zaman sudah berubah sehingga putriku bisa hidup berdampingan dengan mereka? Semoga saja yang terjadi adalah yang kedua. Aku tak sanggup membayangkan putriku mengalami masa-masa pelarian sepertiku, bersembunyi di hutan, hidup di sana dengan cara-cara primitif. Semoga saja dia tidak pernah mengalaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mendengar suara televisi menyala lalu sejurus kemudian yang kudengar adalah suara Sasha membentak anak keduanya yang masih sepuluh tahun, Lily. Tampaknya Lily yang barusan menyalakan televisi sedangkan hujan masih sangat deras disertai guntur dan petir. Alih-alih meminta maaf, Lily meladeni setiap omelannya sehingga terjadilah perang mulut seperti malam-malam biasanya. Sasha punya tiga anak. Anak pertamanya Arina, perempuan, kini sedang melanjutkan sekolahnya di Jepang. Anak keduanya Kevin, laki-laki, meninggal dalam suatu tabrakan empat tahun lalu. Kalau tabrakan itu tidak pernah terjadi, usianya saat ini adalah delapan belas tahun. Anaknya yang ketiga baru berumur sepuluh tahun, perempuan, pembangkang, namanya Lily. Dia hampir selalu menimpali kata-kata ibunya. Sebagai orang asing yang dia anggap bibi, aku hanya bisa menyarankan agar dia sedikit lebih menurut, tapi itu sama sekali tak bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan tampaknya masih akan deras sampai satu jam lagi. Tak ada yang bisa kulakukan. Sasha masih saja terlibat perang mulut dengan anaknya itu sedangkan Rivan pasti sedang mandi dengan air hangat. Hal-hal seperti ini sudah biasa terjadi dan aku menghapalnya seperti siklus yang tetap. Sesekali terjadi perubahan kecil seperti tidak ada perang mulut atau Rivan langsung tidur tanpa mandi. Tapi yang sering terjadi adalah seperti saat ini. Aku sama sekali tak merasa terganggu. Sudah biasa. Kuambil sebuah novel yang baru kubeli tiga hari yang lalu dan membacanya sambil berbaring di tempat tidur. Sebenarnya aku tidak benar-benar suka membaca. Kegiatan membaca ini kulakukan karena pada akhirnya aku tak punya kegiatan lain untuk menghabiskan waktuku. Kali ini pun kulakukan sekedar untuk menghabiskan waktu sampai aku mengantuk dan jatuh tertidur dengan novel itu masih ada di tanganku. Namun, lagi-lagi, setiap kali aku memegang novel, membuka-buka halamannya, membaca kalimat demi kalimat di dalamnya, aku teringat buku yang kutulis dulu, buku tentang sejarah spesies hijau. Terakhir kuingat buku itu kusembunyikan di lemari perabotan yang paling bawah sebelum rumah itu kutinggalkan dan aku tak pernah kembali lagi ke sana. Entah bagaimana kabarnya buku itu sekarang? Kalau sudah begini, aku jadi ingin mengunjungi rumahku itu sekedar untuk mengeceknya. Tapi setelah mempertimbangkan banyak hal, termasuk waktu yang sudah lama berlalu, aku memutuskan untuk tidak melakukannya. Biarlah masa lalu menjadi masa lalu. Biarlah kejadian-kejadian itu menjadi kenangan yang sesekali muncul di kehidupanku yang baru ini.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Nina, 2017&lt;br /&gt;Pamoyanan, Cianjur&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kami tiba di rumah menjelang maghrib. Rivan mengusap-ngusap bahu Sasha, berusaha membuat perasaannya sedikit lebih baik. Mereka masuk lebih dulu. Di sampingku, Arina, anak pertama Sasha, berjalan tanpa sedikit pun bersemangat. Dia baru tiba kemarin. Bertahun-tahun hidup di Jepang membuat kulitnya lebih putih dan halus, atau mungkin itu hanya perasaanku saja. Matanya pun seperti sedikit sipit. Mungkin itu benar-benar perasaanku saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berapa hari kau di sini?” tanyaku saat kami sampai di teras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menatapku lalu berkata, “Seminggu. Kemarin dan hari ini masuk dalam hitungan. Artinya aku kembali ke Jepang lima hari lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sepertinya kau betah di sana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Begitulah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa? Apa karena kau menemukan suami di sana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tersenyum tanpa menunjukkan giginya. Kami sudah berada di ruang televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku menikah dengan orang Indonesia yang tinggal dan hidup di sana,” katanya saat menyalakan televisi lalu duduk di lantai. “Bibi sudah pernah melihatnya, bukan? Dia bahkan tidak sedikit pun mirip dengan laki-laki Jepang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu apa yang membuatmu betah di sana? Kau bahkan seperti tak berniat kembali ke Indonesia kalau tidak ada keperluan penting.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arina tidak sedikit pun terganggu dengan caraku menyindirnya. Dia berkata, “Keadaan, kepraktisan, kondisi lingkungan yang bersih, kebudayaan mereka yang menarik, festival-festival, dan masih banyak hal lainnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berbeda sekali dengan di sini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tak ingin membandingkannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percakapan kami berakhir di situ. Setelah menyelesaikan sekolahnya di Jepang, Arina menikah dengan seorang laki-laki Indonesia yang dia temui di sana. Mereka kemudian hidup di sana, bekerja, berumah tangga. Usia rumah tangga mereka baru satu tahun dan aku belum mendengar kabar bahwa Arina hamil. Mungkin mereka tidak berencana memiliki anak cepat-cepat. Hanya sebatas itu yang kutahu tentang kehidupan mereka. Arina dan suaminya yang sedikit gemuk itu sempat berkunjung ke rumah ini beberapa bulan yang lalu, itu pun tidak lama. Kali ini Arina datang sendiri. Dia hanya mengatakan suaminya sedang sangat sibuk ketika aku menanyakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedatangan Arina kali ini bukan untuk berlibur atau sekedar mengunjungi kami, melainkan karena meninggalnya Lily tiga hari yang lalu dalam sebuah kecelakan kereta api. Lily adalah adiknya yang paling kecil. Kevin, adik pertamanya, sudah lama mati dalam sebuah tabrakan. Mulai saat ini, Arina jadi satu-satunya penerus dari keluarga ini. kematian Lily tampak sangat berat bagi Sasha. Dia masih saja tampak sedih dan sering kutemukan menangis. Saat ini mungkin Rivan sedang menghiburnya di kamar. Aku tak tahu harus berbuat apa. Arina memindah-mindahkan channel tanpa benar-benar berniat menontonnya. Kepalanya pasti tengah disibukkan masalah-masalah yang menunggunya sekembalinya dia ke Jepang nanti. Itu hanya dugaan. Bisa jadi dia sedang menahan emosi dan kesedihannya setelah ditinggalkan Lily. Arina sudah dua puluh lima tahun. Melihatnya, aku jadi teringat putriku yang sampai saat ini belum pernah kutahu seperti apa wajahnya. Miripkah dia denganku atau justru mirip dengan Arina?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima hari kemudian Arina bersiap-siap ke bandara. Kondisi Sasha sudah jauh lebih baik. Dia tampaknya sudah bisa menerima kepergian Lily. Dua hari yang lalu Rivan mengatakan bahwa dia akan membawa Sasha ke Lampung, kampung halamannya. Di sana ada orang tuanya, mertua Sasha, dan banyak kerabat. Dia berharap Sasha bisa melupakan kesedihannya dan memulai kehidupan yang baru di sana. Beberapa toko sepatu dan rumah makan yang dia kelola di kota ini dan kota-kota tetangga diserahkan kepada orang-orang kepercayaannya. Dia berencana mengelolanya dari jarak jauh dan membuka cabang di Lampung. Tadinya aku akan ikut mereka ke Lampung namun Arina menawariku untuk ikut bersamanya ke Jepang. Itu tawaran yang mengada-ngada mengingat usiaku yang sudah hampir lima puluh ini. Tapi Arina meyakinkanku bahwa aku bisa dengan cepat beradaptasi dengan kehidupan di sana. Soal biaya hidup sehari-hari, dia bilang dia dan suaminya yang akan menanggungnya. Tawaran ini diberikannya padaku sebagai balas budi atas waktu dan pelayanan yang kuberikan selama lebih dari dua puluh tahun di keluarga ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak hal yang kupikirkan sebelum akhirnya memutuskan untuk ikut ke Jepang. Salah satunya adalah tentang Airish, anakku yang sama sekali belum pernah kutemui. Meninggalkan Indonesia berarti meninggalkan pula semua peluang untuk bertemu dengannya. Tidak ada kepastian kapan aku akan kembali ke negeri ini. Mungkin tidak akan pernah kembali. Hari ini kami berempat menuju Bandara International Soekarno-Hatta. Dari sana, hanya aku dan Arina yang akan naik pesawat. Selamat tinggal Indonesia. Selamat tinggal kehidupanku yang rumit. Selamat tinggal semua kenangan. Selamat tinggal, Airish. Jika kita tak punya kesempatan bertemu di dunia ini, mungkin di dunia yang lain kesempatan itu ada.&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054150040858616865-4906877774392605811?l=ardy-kresna-crenata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/feeds/4906877774392605811/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/2010/07/spesies-hijau-chapter-4c.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054150040858616865/posts/default/4906877774392605811'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054150040858616865/posts/default/4906877774392605811'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/2010/07/spesies-hijau-chapter-4c.html' title='spesies hijau chapter 4c'/><author><name>Ardy Kresna Crenata</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_DBAkcWrPpOM/TDsdMhaYCUI/AAAAAAAAAAw/HFjbf4gJFYo/S220/ardy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054150040858616865.post-8281047133211989814</id><published>2010-07-14T10:08:00.001+07:00</published><updated>2010-07-14T10:08:04.023+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='novel'/><title type='text'>spesies hijau chapter 4b</title><content type='html'>&lt;b&gt;Alea, 2030&lt;br /&gt;Selakopi, Cianjur&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tante Sandra benar-benar tak mengenaliku saat pertama kali aku bertamu di rumahnya. Aku sendiri sebenarnya tidak menyangka Tante Sandra adalah ibu dari temanku Inna, temanku yang mengaku menyukaiku. Hari ini sepulang sekolah aku berniat bertamu untuk yang kedua kalinya ke rumahnya, di Selakopi, di dekat sebuah Sekolah Dasar di sana. Tasku terasa berat karena selain buku-buku catatan dan buku paket hari ini lumayan banyak, aku juga membawa buku tebal hitam peninggalan ibu, buku yang katanya adalah sejarah dari spesies hijau, spesies nenek dan ibu yang berarti spesiesku juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sudah membaca buku tebal itu sampai habis dan kini sedang membacanya untuk yang kedua kali. Percaya tak percaya sebenarnya. Aku sempat mengira buku itu adalah novel yang ditulis nenek. Tapi entah kenapa, otak bawah sadarku melawanku dengan mengatakan bahwa itu bukan novel melainkan sejarah, kejadian-kejadian sebenarnya yang dialami spesies hijau. Entahlah. Untuk membuktikan benar atau tidaknya, aku harus menanyakannya pada ibu. Tapi karena ibu sudah meninggal, satu-satunya orang yang kutahu bisa membantuku adalah Tante Sandra. Dia dan ibu berteman. Dan dari emosi yang ditunjukkan mereka berdua saat bertemu sepuluh tahu lalu, rasanya wajar kalau aku menduga bahwa hubungan mereka sangat dekat. Berbeda dengan teman-teman ibu yang lain, berbeda dengan tetangga, berbeda dengan Bibi Mirna, Tante Sandra termasuk seseorang yang misterius bagiku. Aku baru melihatnya dua kali. Yang pertama beberapa tahun lalu, yang kedua beberapa hari yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inna tak sedikit pun keberatan aku menggandeng tangannya saat kami berjalan di sepanjang trotoar menuju rumahnya. Seperti biasa reaksinya kikuk. Aku bisa melihat sedikit warna merah timbul di pipinya yang putih. Dia mungkin merasakan kembali sesuatu yang katanya membuatnya merasa aneh itu. Aku tak terlalu memikirkannya. Aku sudah terbiasa untuk tidak memikirkannya. Meskipun Inna hanya diam dan menatap lurus ke depan, sesuatu di dalam dirinya bergerak-gerak tak terkendali. Dia sedang berusaha sekuat tenaga mengendalikan sesuatu itu. Aku tahu itu. Aku tahu itu meskipun dia tak pernah mengatakannya. Entah bagaimana cara aku mengetahuinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante Sandra sedang memasak di dapur ketika kami tiba. Inna masuk ke kamarnya sementara aku memilih duduk di ruang keluarga lalu menyalakan televisi. Dalam hati aku berpikir kelakuanku sudah seperti orang yang sering bertamu saja ke rumah ini. Kumatikan lagi televisi dan duduk di lantai. Buku tebal hitam itu kukeluarkan dan kubuka halaman-halamannya dengan cepat tanpa sedikit pun membacanya. Di halaman terakhir, kusentuh lagi tulisan tangan ibu yang ada di sana. Aku menyentuhnya dengan pelan seperti setiap kali aku menyentuhnya. Aku membayangkan ibu menulisnya dengan tangannya yang kurus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu, kau punya seorang cucu. Perempuan. Wajahnya mirip sekali denganku. Apakah saat ini kau masih hidup seperti yang dikatakan Andy? Ah, itu pun sudah bertahun-tahun yang lalu. Aku sempat mendatangi kota yang dikatakan Andy, Ibu. Aku mencarimu di sana selama dua hari, tapi sama sekali tak menemukanmu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu, seandainya saat ini kau masih hidup di suatu tempat, mungkin aku akan mendahuluimu ke alam sana. Aku merasa ajalku sudah dekat, Ibu. Aku merasakannya. Kematian itu begitu puitik saat aku memikirkannya. Tapi kematian selalu saja diikuti kepedihan, seperti yang terjadi saat suamiku meninggal sembilan tahun yang lalu. Ibu, aku tak sempat mengenalkannya padamu. Namanya Valen. Dia tampan dan tinggi. Tidak seperti kita, dia hanya manusia biasa. Tapi apa salahnya? Dia sudah menjadi suami yang baik selama hidupnya bersamaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini kematian itu terasa begitu dekat, Ibu. Aku seperti merasakan dia bergerak mengikutiku kemana pun aku melangkah. Rupanya aku takut, Ibu. Rupanya ketakutan itu ada. Setelah aku mati, cucumu Alea akan menjadi satu-satunya yang tersisa dari spesies kita. Sampai saat ini dia memang belum menyadarinya. Aku jadi ingat diriku saat seumurannya dulu. Saat itu aku pun sama sepertinya, tak menyadari sedikit pun bahwa aku adalah salah satu dari spesies hijau. Selama itu aku hidup di tengah-tengah manusia biasa. Ini salahmu, Ibu. Ini salahmu sehingga kita tidak pernah bertemu sampai akhir hayat kita. Seandainya saat itu kau tidak membiarkan Lena membawaku, mungkin kita akan hidup bersama di suatu tempat, bersembunyi, atau mungkin sama-sama mati hari itu. Ah, tak ada gunanya menyalahkan apa yang telah terjadi berpuluh-puluh tahun lalu. Yang kucemaskan kini adalah anakku Alea, cucumu. Aku akan memberikan buku ini padanya—meskipun dia benci membaca. Dia akan membacanya sampai habis lalu membacanya lagi sampai berkali-kali seperti yang kulakukan bertahun-tahun. Kelak dia akan mengetahui siapa sebenarnya dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan tangan ini ditujukan ibu untuk nenek, orang yang menulis buku tebal ini, orang yang bisa melihat kejadian-kejadian di masa lalu sehingga ketika aku membaca buku ini, aku seperti menonton film. Nenek menceritakannya dengan detail sehingga tidak ada kesulitan dalam membayangkan kejadian saat itu seperti apa. Perburuan spesies hijau. Inti dari buku tebal ini adalah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau minum apa?” tanya Inna. Jujur saja aku terkejut karena terlalu larut dengan buku ini, terutama di halam terakhirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang dingin,” jawabku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inna lalu berjalan ke dapur. Bukannya duduk dan menunggu seperti yang seharusnya dilakukan orang yang bertamu, aku malah mengikutinya ke dapur sambil menenteng buku tebal itu. Tujuanku sebenarnya datang ke rumah ini adalah untuk menunjukkan buku ini pada ibunya Inna, Tante Sandra. Bagaimanapun aku harus memastikan kebenaran buku ini hari ini juga. Saat memasuki dapur, aroma masakan langsung menyergap hidungku, membuatku tiba-tiba lapar. Inna menatapku bingung. Aku tahu apa yang dipikirkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada tamu rupanya,” Tante Sandra melirikku sesaat lalu kembali fokus ke wajan. Aku melihat asap mengepul dari wajan. Aromanya sekali lagi membuatku lapar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa?” tanya Inna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku heran sekali dengan ibu-anak ini. Mereka tak pernah terlihat bicara satu sama lain. Beberapa hari yang lalu pun seperti ini. Inna masuk ke rumah lalu berpapasan dengan Tante Sandra tanpa menyapanya. Selanjutnya kami menghabiskan waktu di kamarnya. Tak ada satu percakapan pun yang terjadi antara Inna dan tante Sandra. Dan kali ini mereka bersikap seakan-akan tidak saling kenal. Tante Sandra sibuk memasak sementara Inna menghampiriku dengan sebotol besar minuman yang diambilnya dari kulkas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buku apa itu?” Inna mengamati buku hitam yang kubawa. “Buku yang kau tunjukkan padaku di kamarmu saat itu, kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya,” aku membenarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Belum selesai membacanya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matanya yang hitam menatapku tanpa sekali pun berkedip. Aku tahu pertanyaan yang tidak disuarakannya. Mengapa aku membawa buku ini kemari?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukannya menjelaskan tujuanku sebenarnya, aku malah menggeleng dan kembali ke ruang televisi—ruang keluarga di rumah ini. Inna mengikutiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante Sandra sudah selesai memasak dan kini kami bertiga sedang menyantapnya di sebuah meja persegi di dapur. Tak ada yang bicara. Tak ada percakapan selama kami makan. Suasana ini benar-benar berbeda dengan suasana makanku di rumah. Waktu ayah dan ibu masih ada, selama makan bersama selalu saja ada obrolan tentang hal-hal tertentu, kadang hal-hal yang tak penting, kadang guyonan-guyonan yang membuat salah satu dari kami tertawa sampai mengeluarkan sedikit makanan yang sedang di kunyah. Mengingatnya membuatku senyum-senyum sendiri. Sekali lagi aku harus mengatakan bahwa hubungan Inna danTante Sandra tidak wajar. Anggap saja dua-duanya pendiam, tapi tidak adanya interaksi selama berjam-jam tetap saja aneh. Seolah-olah tak ada yang mau mengalah untuk menyapa lebih dulu. Apa sebenarnya yang terjadi pada mereka berdua? Pasti ada suatu kejadian yang membuat mereka tidak saling menyapa satu sama lain padahal berada dalam satu atap. Aku, tentu saja tak berniat menanyakannya karena itu sama sekali bukan urusanku. Lagipula tujuanku bertamu bukan untuk mengorek kehidupan keluarga ini, tapi untuk membuktikan benar tidaknya buku yang ditulis nenekku Nayna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesempatan untuk menunjukkan buku tebal itu kepada Tante Sandra akhirnya tiba. Kami sudah selesai makan. Inna masuk ke kamarnya, entah apa yang dilakukannya karena dia tidak langsung kembali. Tante Sandra membereskan meja makan tanpa sedikit pun bicara. Bukan hanya itu, ekspresinya sulit ditebak. Dia tidak tersenyum, tidak juga cemberut. Ekspresinya begitu datar dan tenang sehingga aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya. Ah, bagaimana juga ceritanya aku bisa tahu apa yang dipikirkannya? Aku mulai mengada-ngada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alih-alih membantu membereskan meja makan, aku bergerak ke ruang televisi untuk mengambil buku hitam tebal peninggalan ibu. Tante Sandra sedang mencuci piring yang baru saja kami pakai saat aku menunjukkan buku itu padanya. Anehnya, aku seperti tertular Inna. Aku menunjukkan buku itu tanpa mengatakan apa pun. Tante Sandra mengamati buku itu dan untuk pertama kalinya aku melihat ekspresinya yang bingung seolah-olah bertanya, “Buku apa itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tante masih tidak mengenaliku?” akhirnya aku bicara juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia bertahan pada ekspresi bingungnya tanpa sedikit pun bicara. Tangannya masih mencuci piring demi piring. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita pernah bertemu dua belas tahun yang lalu,” kataku. “Waktu itu Tante datang menemui ibuku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekspresi bingung di wajahnya masih terpampang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saat itu ayahku sedang sakit, terbaring di tempat tidur.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya dia sudah mulai ingat. Dia bertanya, “Siapa nama ibumu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku buka buku tebal itu dari belakang dan menunjukkan padanya halaman terakhir di mana tulisan tangan ibu berada lalu berkata, “Airish.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante Sandra membiarkan mulutnya terbuka cukup lama seperti halnya membiarkan air keran jatuh begitu saja ke bak cuci piring. Dia lalu menyelesaikan piring cuciannya. Aku melihat dia tersenyum sehingga gigi-giginya yang putih dan rapi terlihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima menit kemudian kami bertiga sudah duduk melingkar di lantai di ruang televisi. Televisi sengaja dimatikan karena Tante Sandra sedang menceritakan sepenggal dari masa lalunya yang dia habiskan bersama ibuku Airish.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terakhir kali aku bertemu ibumu adalah sebelas tahun yang lalu. Saat itu dia sedang mencari ibunya, nenekmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencoba mengingat-ingat kejadian itu, tapi sepertinya kejadian itu tak pernah ada dalam memoriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak ingat,” kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya. Kau pasti tidak ingat karena saat itu aku tidak bertemu denganmu, meskipun saat itu aku tahu kau juga ada di kota itu, kota yang katanya tempat nenekmu berada, kota tempat kita saat ini berada.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cianjur?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya. Kami bertemu di sini saat itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalian menemukan nenek?” tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante Sandra menggeleng. Dia berkata, “Kami mencarinya selama dua hari tapi tak menemukan satu pun tanda bahwa nenekmu saat itu ada. Kau mungkin ingat di pagi hari ibumu sudah tak ada saat kau bangun. Dia terus memikirkanmu saat kami melakukan pencarian.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante Sandra tersenyum. Dan tidak seperti yang lalu-lalu, senyumnya terasa tulus. Mungkin kenangan tentang ibuku yang adalah teman dekatnya telah membangkitkan energi positif di tubuhnya. Dia kini jadi banyak bicara, berbeda sekali dengan tadi. Sementara itu, Inna masih sering diam. Dia hanya menyimak percakapan kami berdua sambil membuka-buka buku tebal hitam yang kubawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tante tahu buku ini?” tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya,” jawabnya. “Tadi ketika kau menunjukkan buku ini, sebenarnya aku mulai teringat pada sesuatu tapi masih kabur. Baru setelah kau sebutkan nama ibumu, semuanya jadi jelas. Aku pernah membaca buku ini. Ibumu dulu memaksaku membacanya saat kami masih sama-sama di akademi. Hmm.. sudah lama sekali..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante Sandra tersenyum sambil mengamati buku itu yang halaman-halamannya dibuka Inna. Dia seperti sedang mengingat kembali masa-masa indahnya dulu saat bersama ibuku di akademi. Jadi, buku ini benar-benar menceritakan apa yang terjadi dan bukan cerita fiksi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya. Ini bukan novel. Kalau pun disebut novel, pastinya novel yang menceritakan kisah yang sebenarnya. Apa yang terjadi di buku ini benar adanya. Meskipun aku tidak hidup di masa ketika kejadian itu terjadi, aku tahu kebenarannya saat ibumu harus meninggalkan akademi dan menjalani sisa hidupnya dengan bersembunyi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante Sandra mengatakan semua itu tanpa menoleh. Yang membuatku bingung adalah bahwa aku belum menyuarakan pertanyaan yang tadi kupikirkan. Apakah dia membaca pikiranku? Saat dia menoleh pelan, aku melihat kedua irisnya yang tadi hitam kini berwarna biru yang cantik. Dia tersenyum dan berkata, “Ya. Aku bisa membaca apa yang kau pikirkan.”&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Nayna, 1991&lt;br /&gt;Pamoyanan, Cianjur&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Aku merasa seluruh tubuhku sulit digerakkan. Betapapun aku berusaha, mereka tak mau bergerak. Sepertinya energiku masih belum kembali. Perlahan kubuka mataku. Seberkas cahaya putih yang silau langsung menyergapku. Aku mengernyit menutup kembali mataku. Saat aku mencoba membukanya lagi, cahaya putih itu tak sesilau tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau sudah bangun?” suara itu datangnya dari kanan. Aku menoleh, syukurlah leherku bisa kugerakkan dengan mudah. Aku menemukan wajah yang kukenal: Andy. “Tidurmu pulas semalaman. Ini sudah jam lima pagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di mana aku?” aku menggerakkan leherku ke kiri. Ruangan ini kecil. Dindingnya dicat hijau muda yang sedikit gelap sehingga tampak sejuk. Ada sebuah pintu di kanan jauh. Pintu itu tertutup dan dicat hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di sebuah tempat di mana kau tak akan lagi diburu,” jawab Andy. Aku menoleh ke arahnya. “Kau ingat apa yang semalam kukatakan di gua? Nayna sudah mati. Dia ditemukan dalam keadaan tak bernyawa di sebuah gua pada tanggal 24 Mei 1991. Yang menemukan dan membawa mayatnya ke akademi adalah Lena si penyembuh. Perburuan terhadap spesies hijau dinyatakan berakhir. Dan yang berbaring di hadapanku saat ini adalah Nina.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diam saja saat dia mengatakan semua itu dengan cukup lambat. Nayna sudah mati? Aku dianggap sudah mati? Rupanya Andy benar-benar melakukan seperti apa yang dikatakannya malam itu. Aku sudah pasrah saat dia muncul di hadapanku dengan matanya yang merah menyala. Saat itu aku sudah terlalu banyak kehabisan energi setelah beberapa menit sebelumnya melahirkan bayi perempuan yang kuberi nama Airish Rashiana. Aku titipkan bayi itu pada Lena. Saat ini anakku pasti berada di suatu tempat yang aman, tak akan ada yang mencarinya karena tak ada yang tahu bahwa pada malam itu aku melahirkan, selain Lena. Memang ada yang melihatku dengan perutku yang besar, dua orang, tapi mereka mati dihajar Fakhri beberapa saat kemudian. Jadi, persis hanya Lena yang mengetahui anakku itu. Andy? Apa dia juga tahu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau berada di sini semalaman?” tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengangguk lalu berkata, “Sebenarnya aku harus segera kembali ke akademi. Mulai saat ini kau akan menjalani kehidupan barumu di sini. Seperti yang pernah kukatakan, aku punya teman yang bisa kupercaya yang akan menemani dan merawatmu dengan baik. Kau sedang berada di rumahnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia laki-laki atau perempuan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Laki-laki dan perempuan,” Andy tersenyum. “Suami-istri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa mereka spe..?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan,” kata Andy memotong. “Mereka manusia biasa. Makanya kupastikan di sini kau aman. Tak akan ada lagi yang mencarimu. Kau hanya harus menjaga agar irismu tidak berubah. Kau tahu sendiri pendeteksi sepertiku bisa melacak keberadaanmu jika kau dalam kondisi berubah. Pendeteksi di akademi itu banyak sekali. Dan ada beberapa yang lebih baik dariku dalam melacak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah itu berarti aku akan menjadi manusia biasa .. selamanya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengangguk. Aku bisa merasakan penyesalan yang dia rasakan. Menjadi manusia biasa. Sama sekali aku tak pernah membayangkannya. Selama ini aku selalu bangga dengan bakat bawaan dan kemampuan yang kumiliki, membuatku merasa jauh lebih baik daripada manusia biasa. Aku memiliki iris yang bisa berubah hijau, bisa mengeluarkan banyak jurus yang luar biasa, merupakan keturunan dari spesies hijau, dan mulai saat ini aku akan hidup sebagai manusia biasa. Dan sepertinya yang dikatakannya tadi, namaku bukan lagi Nayna, melainkan Nina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nina apa?” tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Butuh waktu beberapa detik bagi Andy untuk memahami pertanyaanku. Dia lalu berkata, “Nina Meiliana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau sendiri yang memikirkan nama itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tersenyum dan berkata, “Nama yang bagus, bukan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lumayan,” kataku tersenyum kecut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sudah meminta kedua temanku itu untuk mengurus KTP-mu. Kau benar-benar akan hidup sebagai manusia biasa. Biasakanlah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tersenyum seolah-olah memberiku dorongan atau meyakinkanku bahwa menjadi manusia biasa tidak begitu buruk. Tapi upayanya itu tidak terlalu berhasil. Aku masih merasa aneh karena harus menjalani sisa hidupku sebagai manusia biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada satu hal yang ingin kutanyakan sebelum aku pergi,” katanya. Dia tampak serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Malam itu saat aku menemukanmu, kau habis melahirkan, bukan? Di mana anakmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya itu seperti geledek yang tiba-tiba menggelegar tanpa ada hujan. Memang benar saat itu aku habis melahirkan dan anak yang kulahirkan itu dibawa Lena ke suatu tempat yang aku sendiri tidak tahu. Aku percaya pada Lena seratus persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untung saja Andy tidak seperti Lena yang bisa mendengar apa yang kupikirkan. Kalau tidak, dia pasti sudah tahu semuanya karena aku tidak berhenti memikirkan anakku itu setelah pertanyaannya itu diajukan. Apa yang akan kulakukan? Memberitahu Andy? Menyimpannya sebagai rahasia seumur hidup? Anakku itu adalah satu-satunya harapan agar spesies hijau tidak punah. Suatu saat nanti dia akan menjadi seorang spesies hijau yang kuat, mungkin lebih kuat dariku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekali lagi aku bertanya, di mana anakmu?”&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054150040858616865-8281047133211989814?l=ardy-kresna-crenata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/feeds/8281047133211989814/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/2010/07/spesies-hijau-chapter-4b.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054150040858616865/posts/default/8281047133211989814'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054150040858616865/posts/default/8281047133211989814'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/2010/07/spesies-hijau-chapter-4b.html' title='spesies hijau chapter 4b'/><author><name>Ardy Kresna Crenata</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_DBAkcWrPpOM/TDsdMhaYCUI/AAAAAAAAAAw/HFjbf4gJFYo/S220/ardy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054150040858616865.post-8335848620424025855</id><published>2010-07-14T10:06:00.001+07:00</published><updated>2010-07-14T10:06:25.413+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='novel'/><title type='text'>spesies hijau chapter 4a</title><content type='html'>&lt;big&gt;&lt;b&gt;Chapter 4&lt;br /&gt;MENCARI NAYNA&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/big&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Airish, 2019&lt;br /&gt;Cianjur&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKU sudah memutuskan untuk mencarinya sendiri dan aku bersungguh-sungguh saat mengatakannya. Selalu ada alasan yang mendasari setiap keputusan. Alea masih terlalu kecil untuk merasakan ketegangan yang akan menimpanya jika ikut mencari bersamaku. Sedangkan Valen bukan salah satu dari spesies hijau sehingga meskipun dia selalu menjadi orang yang melindungiku dari berbagai hal, untuk yang satu ini aku tak ingin dia membahayakan dirinya. Kejadian satu tahun yang lalu ketika akhirnya Valen tak sadarkan diri selama hampir empat hari sudah cukup membuktikan kekhawatiranku ini. Untuk mencari ibu di kota yang bernama Cianjur ini, tak ada cara lain selain mengubah iris dan mengaktifkan mode pendeteksi yang berarti akan memberi sinyal kepada spesies-spesies yang selama bertahun-tahun ini memburuku. Masih belum jelas apakah rumor itu benar bahwa aku satu-satunya yang tersisa dari spesies hijau setelah perburuan yang dilakukan bertahun-tahun silam. Jika memang benar, maka sinyal keberadaan yang mereka tangkap akan langsung mendorong mereka untuk bergerak cepat ke kota ini. Itu masih sedikit lebih baik. Seandainya salah satu dari mereka kebetulan ada di kota ini, aku dalam masalah besar. Dengan alasan itulah aku tak bisa membawa Alea dan terpaksa harus melakukan sesuatu terhadap suamiku sendiri agar dia tidak mengejarku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah kuduga mengatakan rencana yang ada di kepalaku kepada Valen bukan ide bagus. Dia tentu saja tak akan setuju membiarkanku sendiri berkeliaran di kota yang tidak begitu kukenal ini sedangkan orang-orang dari akademi masih saja mencariku. Jujur saja ini memang pertama kalinya aku menginjak kota ini. Mirna dan aku memang berteman baik saat di kampus di Bogor, namun aku tak pernah sekali pun main ke kotanya ini. Valen begitu keras kepala tadi, sehingga aku terpaksa menggunakan mataku untuk membuatnya tak sadarkan diri selama sepuluh jam ke depan. Selama sepuluh jam itu, aku harus menemukan ibu. Harus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup banyak orang lalu-lalang di trotoar. Mobil-mobil memadati jalan. Banyak juga motor, becak, bahkan ada juga delman di pinggir-pinggir jalan. Ada macam-macam toko di sepanjang jalan ini. Ada juga sebuah swalayan yang tidak terlalu besar bernama TIARA. Di sebelah swalayan itu ada kantor pegadaian dan di sebelah kirinya lagi ada sebuah jalan yang sepertinya menuju pasar. Karena ini pertama kalinya aku menginjak kota ini, aku sama sekali tidak tahu apa nama tempat ini. Yang kutahu, aku sudah berada cukup jauh dari rumah Mirna. Lagipula aku tadi naik angkot untuk sampai di sini—kalau tidak salah angkot 01A. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa aku mulai mencari di sini, aku sendiri tidak tahu. Sejak kuaktifkan mode pendeteksi sekitar setengah jam yang lalu, aku masih belum merasakan keberadaan ibu. Pencarianku kini sebenarnya lebih berdasarkan insting daripada logika. Jujur saja, aku sama sekali tak punya petunjuk. Beberapa hari yang lalu Andy memang mengatakan sebuah tempat, sebuah rumah tempat dia membawa ibuku dulu, namun itu sudah sangat lama. Sudah hampir tiga puluh tahun sejak saat itu. Kondisi kota ini tentunya sudah banyak berubah. Oleh karena itulah aku tak bisa menemukan tempat yang dia maksud itu. Dia sendiri mengatakan bahwa dia tidak pernah mengunjungi ibu barang sekali pun sehingga tidak mengamati apa yang selanjutnya terjadi padanya. Begitulah, aku memulai pencarian ini dari nol.&lt;br /&gt;Mirna dan suaminya mungkin kebingungan dengan kepergianku yang tiba-tiba sedangkan Valen dan Alea berdua masih di sana. Aku tak punya waktu untuk menjelaskan. Lagipula, aku tak bisa menjelaskannya. Menjelaskan keadaan yang sebenarnya berarti melibatkan satu manusia lagi dalam perburuan. Sudah cukup banyak korban dari manusia. Dengan berada di rumahnya saja, itu sudah membuatnya berada dalam bahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah hampir jam delapan pagi saat kulihat jam tangan. Valen akan sadar dalam sembilan jam lagi. Latihan bertahun-tahun selama pelarian membuatku bisa memperbesar jangkauan mode pendeteksi-ku hingga mencakup seluruh kota yang besar ini. Aku mulai mencari sesuatu yang ganjil di tengah-tengah manusia, rumah-rumah, dan gedung-gedung. Karena ibu seseorang dari spesies hijau—yang dianggap mati puluhan tahun yang lalu—maka suhu tubuhnya pasti identik denganku. Kemungkinan besar dia tidak sedang mengubah irisnya, tapi aku pasti bisa merasakan suhu tubuhnya meskipun tipis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berjalan di sepanjang trotoar dan kini sudah melewati kantor bupati—pendopo. Di seberang sana ada sebuah lapangan luas yang mungkin digunakan untuk acara-acara resmi seperti upacara peringatan hari besar nasional atau semacamnya. Setelah lapangan yang luas itu, ada sebuah mesjid yang cukup megah dan mewah. Mungkin ini yang disebut-sebut Mesjid Agung Cianjur. Sementara itu di seberang mesjid itu, atau dengan kata lain, di tempatku berdiri saat ini, ada sebuah kantor pos dan beberapa telepon umum. Aku berjalan lagi hingga melewati telepon umum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh ini belum ada yang kutemukan. Belum ada tanda-tanda bahwa seseorang dari spesies hijau ataupun spesies lainnya berada di kota ini. Dalam mode pendeteksi, bisa dikatakan aku seolah-olah melihat setiap bagian dari kota ini. Sulit melakukannya tanpa konsentrasi yang tinggi. Terkadang ada seseorang menyenggolku dan apa yang sedang kulihat tiba-tiba hilang, kembali ke penglihatan normal. Akan lebih efektif melakukan pencarian ini jika aku diam di satu tempat. Namun itu bukan ide yang baik mengingat saat ini para pendeteksi dari spesies-spesies campuran itu mungkin sedang bergerak mencariku. Sampai saat ini aku memang belum merasakan keberadaan mereka tapi itu tidak lantas berarti bahwa mereka tidak ada di kota ini. Mereka mungkin bergerak dua orang-dua orang. Yang satu mencari keberadaanku, yang satu melindungi agar keberadaan mereka tidak terdeteksi. Dengan kata lain, tak lama lagi aku pasti bertemu salah satu dari mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat setelah memikirkannya, aku merasakan keberadaan dua orang dari arah depan. Mereka pasti ceroboh membiarkan perlindungan dirinya terbuka karena sesaat kemudian keberadaan mereka tak kurasakan lagi. Tapi itu sudah cukup mengingatkanku bahwa mereka sudah dekat. Aku terpaksa mengembalikan irisku ke kondisi normal. Dengan begini mereka hanya bisa memperkirakan di mana aku berada dari sinyal terakhir yang mereka terima. Yang harus kulakukan sekarang adalah menjauh dari tempat ini. Aku berjalan cepat-cepat, kembali ke tempat tadi. Trotoar di depan pendopo cukup sepi dan itu akan memudahkan dua orang itu menemukanku. Maka dari itu, aku menuju tempat tadi, karena trotoar-trotoarnya yang ramai, juga jalannya yang cukup padat, bisa membuatku bersembunyi sesaat. Aku yakin mereka tak akan gegabah menggunakan bakat dan kemampuannya ketika ada banyak manusia biasa di tengah-tengah mereka. Mereka tentunya tidak ingin keberadaan mereka sendiri diketahui. Untuk sementara ini aku tidak begitu terancam. Aku hanya harus cepat-cepat menemukan tempat untuk sembunyi beberapa lama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah perempatan ketika lampu merah menyala, aku menyelip di antara mobil-mobil dan menyeberang. Sebisa mungkin aku harus cukup jauh dari tempat mereka merasakan keberadaanku tadi. Kini aku sudah berada di trotoar yang lain. Aku pun berjalan dan berjalan sampai akhirnya menemukan sebuah café yang tidak begitu besar. Aku masuk dan memesan sebuah jus lalu memilih meja yang dekat ke jalan. Dari sini aku bisa mengamati orang-orang yang datang dan pergi di sekitar tempat ini. Untuk sementara aku tak bisa mengubah iris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil mengamati trotoar dan jalan di depanku—kebetulan aku duduk menghadap ke jalan—aku memikirkan Alea. Apa yang sedang dia lakukan saat ini? Pastinya dia sudah bangun dan mungkin sedang bermain bersama anak kembar Mirna. Mirna pasti sudah memberinya makan. Bahkan mungkin sudah memandikannya. Aku yakin itu. Sedangkan Valen tentunya masih berbaring di kamarnya. Mirna mungkin mengira dia hanya tidur. Tapi berapa lama sampai rasa curiganya muncul? Tidak wajar seseorang tidur dari malam sampai hampir tengah hari. Kulihat jam tangan. Empat belas menit lewat dari jam sembilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang asyik memikirkannya, seorang pelayan wanita mengagetkanku dengan jus alpukat yang tadi kupesan. Dia hanya tersenyum sebentar lalu pergi. Aku tak bisa lama-lama di sini. Memang benar dua orang berada dekat dari sini, mencariku. Tapi pencarianku sendiri sama sekali belum menghasilkan sesuatu. Sebaiknya aku kembali ke rumah Mirna sebelum jam tiga atau Valen akan mencariku. Aku meminum jus yang baru saja datang itu dengan tergesa-gesa sampai-sampai aku tersedak dan batuk-batuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah meninggalkan café itu aku berjalan menjauhi perempatan. Trotoar di sepanjang jalan ini tidak begitu ramai seperti yang tadi. Jalannya pun tidak begitu padat. Udara mulai menghangat dan matahari sesekali muncul dari balik awan. Aku tiba di perempatan lainnya. Aku berbelok ke kiri dan mulai berjalan naik. Aku berjalan dan terus berjalanj, melewati toko demi toko, berpapasan dengan orang-orang, sampai akhirnya tiba di sebuah gedung yang bernama Bale Seni Cianjur. Di seberang gedung itu ada pasar yang becek dan kantor polisi. Aku terus berjalan melewati gedung itu sampai akhirnya menemukan pertigaan. Aku memilih lurus. Kurasa sudah cukup lama sejak kurasakan keberadaan dua orang itu dan aku sudah berada cukup jauh dari tempatku tadi. Aku pun mengubah kembali irisku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat setelah irisku berubah, aku merasakan sesuatu yang kuat sampai-sampai mengganggu pernapasanku. Tak salah lagi ini salah satu spesies. Namun suhu tubuhnya tidak identik denganku. Dia bukan ibu. Lebih buruknya lagi, dia berasal dari spesies merah, spesies yang memang terlahir untuk mencari. Dari bau dan suhu tubuhnya yang begitu kuat ini, dia berada sangat dekat. Aku menoleh ke belakang. Tak ada siapa-siap selain orang-orang yang sedang duduk mengobrol di depan sebuah toko. Aku lalu menoleh ke kiri. Di seberang sana ada kantor Telkom, namun aku tak merasakan keberadaan mereka di sana. Tapi sunggung, mereka dekat. Ada sebuah gang di kiri, aku pun masuk. Aku berjalan dengan sedikit tergesa-gesa di sepanjang gang sempit itu. Dua anak kecil muncul di depan, mengatakan sesuatu dalam bahasa yang tidak begitu kupahami, kurasa Bahasa Sunda. Ketika mereka melihatku, melihat mataku tepatnya, mereka seperti tak bisa melepaskan diri darinya. Mereka terus saja mengamatiku bahkan sampai kami berpapasan. Mungkin bagi mereka, warna irisku yang hijau terbilang aneh. Barulah aku sadar betapa bodohnya aku. Setelah merasakan keberadaan dua orang itu lagi, bukannya mengembalikan iris ke kondisi normal, aku malah mempertahankannya. Percuma saja aku mencoba menjauh, mereka pasti menemukanku. Aku berhenti. Keberadaan mereka semakin kuat kurasakan, namun masih belum cukup dekat untuk bisa melihatku. Sekarang tak ada gunanya lagi menghindar. Aku pun berbalik, irisku masih hijau, aku berjalan cepat-cepat menuju jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluar dari gang, aku melihat ke depan, dan di seberang sana kutemukan dua orang sedang mengamatiku. Satu laki-laki dan satu perempuan. Kondisi si perempuan tampak tidak begitu baik. Merekalah dua orang itu. Aku bisa merasakan bau dan suhu tubuh mereka dengan jelas dan bisa langsung kuketahui bahwa si laki-laki adalah spesies merah sedangkan si perempuan adalah spesies biru. Wajah mereka belum jelas terlihat karena mobil masih lalu-lalang. Anehnya, aku seperti tak asing dengan suhu tubuh si perempuan, seakan-akan aku pernah merasakannya belum lama ini. &lt;br /&gt;Setelah jalan lengang, mereka pun mulai menyeberang. Kini aku bisa melihat dengan jelas wajah mereka. Ya ampun. Orang-orang ini, mereka teman-temanku dulu saat di akademi. Remi dan Sandra. Sandra di sebelah kiri Remi tampak kelelahan. Napasnya terengah-engah. Dia seperti baru saja menghadapi seseorang dari spesies tertentu lalu terpaksa mengeluarkan sebagian besar energinya. Itukah alasannya tidak menyembunyikan keberadaan mereka berdua? Karena kehabisan energi? Sedangkan Remi tampak baik-baik saja. Tak ada yang berubah darinya selain kumisnya yang dibiarkan tumbuh. Dulu dia selalu mencukurnya setiap kali kumis itu muncul. Aneh sekali aku tidak mengenali bau tubuh Remi. Mungkin karena sudah sangat lama tidak merasakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebaiknya kau segera mengembalikan irismu,” kata Remi setelah mereka berada tepat di depanku. “Mereka sudah memasuki kota ini. Aku tak yakin berapa jumlah mereka. Cukup banyak untuk membuat repot kita bertiga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih disergap keterkejutan sehingga belum menanggapi apa yang dia katakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sudah mengurangi jumlah mereka,” kata Sandra terengah-engah. “Cepat kembalikan irismu sekarang, Airish, atau kita terpaksa menghadapi mereka semua!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa terkejut itu sudah berkurang. Aku segera mengembalikan irisku ke kondisi normal. Mereka pun melakukan hal yang sama. Irisnya sama-sama hitam. Sedangkan irisku coklat terang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Sandra, masih terengah-engah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum aku sempat menjawab, Remi berkata, “Kita harus segera sembunyi di satu tempat. Berdiri di sini tidak aman. Sebentar lagi mereka akan mendatangi tempat ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku setuju. Angkot 05A mendekat dari kanan da kami menyetopnya. Kami lalu naik angkot itu dan turun setelah sebuah tempat yang sangat ramai, kalau tidak salah si sopir menyebut tempat ini Joglo. Kami bertiga kini berada di sebuah tempat yang benar-benar sibuk. Banyak mobil, banyak motor, banyak orang. Di seberang sana ada sebuah swalayan lagi bernama SELAMAT. Kami pun menyeberang dan masuk ke swalayan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama di angkot, tak ada satu pun dari kami yang bicara. Sebisa mungkin kami bersikap wajar dan menghindari obrolan-obrolan yang menarik perhatian. Kami tak pernah tahu apakah semua penumpang di angkot itu manusia biasa atau salah satu spesies seperti kami. Baru kusadari, dari tadi pagi aku terlalu ceroboh sampai melupakan hal yang satu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau beruntung karena kami masih berada di kota ini, belum kembali ke Bogor,” kata Sandra saat kami berada di bagian toserba swalayan itu. “Apa yang kau lakukan di kota ini?” tanya Sandra lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mencari ibuku,” jawabku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibumu?” dia tampak bingung. Lebih bingung lagi saat aku mengangguk. “Yang kutahu ibumu sudah lama mati,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini giliranku yang terkejut dan bingung. Darimana dia tahu tentang itu? Seingatku tidak pernah kubicarakan hal itu dengannya semasa kami di akademi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tahu itu dari Alea,” katanya. Seperti biasa bercakap-cakap dengannya tak perlu benar-benar bersuara, cukup menyuarakan di dalam pikiran. Kemampuannya membaca apa yang sedang dipikirkan lawan bicaranya ini persis seperti yang dimiliki Lena. Lena, aku jadi teringat perempuan baik hati itu. Sekitar satu tahun yang lalu kabar kematiannya kuterima. Waktu itu Sandra sendiri yang menyampaikannya padaku. Kembali ke soal berita kematian ibuku, kemungkinan besar Sandra mengetahuinya saat mengorek-ngorek isi kepala Alea. Saat itu tentunya Alea belum tahu kemampuannya ini. Kulihat kedua irisnya yang biru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku ragu Alea mengatakannya padamu,” perkataanku ini lebih untuk membuktikan bahwa dugaanku benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia tidak mengatakannya. Aku yang membaca apa yang dia pikirkan saat itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persis seperti dugaanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi berita kematian itu bohong,” kataku. “Ibuku tidak mati saat itu dan mungkin saat ini masih hidup.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sandra tampak serius sampai-sampai kedua alisnya hampir bertemu. Ekspresinya ini menandakan dia sedang berusaha mengorek-ngorek isi kepala orang yang dilihatnya sampai ke detail-detailnya. Dia tak sedikit pun terkejut saat kukatakan bahwa berita kematian ibuku adalah suatu kebohongan. Dia memang jarang kutemukan terkejut. Paling-paling hanya tampak bingung. Alih-alih terkejut, dia akan berusaha mengorek-ngorek isi kepala lawan bicaranya sampai ke hal-hal terkecil yang dipikirkan si lawan bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau mengubah irismu di saat kita seharusnya bersembunyi,” kataku menyindir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan khawatir. Aku menyembunyikan keberadaanku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang benar, meskipun dia mengubah irisnya, dia bisa menyembunyikan keberadaannya dengan baik karena dia seorang pelindung. Jadi, kami tidak khawatir akan ada yang merasakan keberadaannya. Kata-kataku tadi hanya sekedar kata-kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupandangi Remi. Sejak bertemu tadi sampai saat ini , dia baru sekali bicara, yaitu saat menyarankan agar kami segera meninggalkan tempat tadi. Dia tidak balas melihatku. Kedua matanya bergerak-gerak mengamati makanan-makanan ringan yang terpampang di sekitar kami. Sikap Remi memang berubah sejak kejadian di rumah sakit beberapa tahun lalu. Sebelumnya, di akademi, dia selalu tersenyum saat melihatku, bahkan terkesa mencari perhatian dengan menawarkan bantuan mengenai hal-hal kecil yang sebenarnya bisa kulakukan sendiri. Sejak kejadian di rumah sakit itu sikapnya padaku berubah dingin. Dia tak lagi tersenyum, tetapi memalingkan matanya jika kebetulan kami berpapasan di lorong atau di kantin. Dia juga tak lagi bicara padaku kecuali ada hal-hal yang sangat penting. Alea dan Sandra, yang saat itu ikut terlibat dalam kejadian itu, tak pernah mengomentari perubahan sikap Remi. Mungkin itu memang bukan urusan mereka. Satu hal yang kutahu, perubahan sikapnya itu karena dia cemburu. Benarkah? Rasanya lebih seperti kekecewaan daripada kesemburuan. Dia kecewa padaku. Sesuatu dari diriku—mungkin perkataanku, tindakanku, sikapku—telah membuatnya kecewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi, ibumu masih hidup?” tanya Sandra. Ada garis-garis kekecewaan di wajahnya karena aku mengacaukan usahanya mengorek keterangan tentang kematian ibuku. Bukannya memikirkannya, aku malah memikirkan Remi dengan sikapnya yang berubah. Dia pasti bosan dan kehilangan rasa ingin tahunya saat aku beralih memikirkan Remi. Sekarang dia memalingkan matanya etalase di sebelah kirinya. Itu suatu tanda bahwa lawan bicaranya—dalam hal ini aku—telah melakukan hal yang konyol. Aku tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seminggu yang lalu aku mendapat kabar bahwa saat itu ibuku dibawa ke kota ini,” aku berharap perkataanku ini membuatnya kembali tertarik, dan aku berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menoleh ke arahku dan bertanya, “Dari siapa kabar itu kau terima?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Andy. Dia sendiri yang mengatakannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau memang Andy yang mengatakannya, maka tak diragukan lagi itu benar. Tapi bagaimana kalian bertemu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum aku sempat menjawab, Sandra mengangkat tangannya lalu mengangguk dua kali. Dia sudah tahu jawabannya saat aku memikirkannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sayangnya aku hanya tahu dia berada di kota ini. Tepatnya di mana aku tidak tahu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu pun sekitar dua puluh delapan tahun yang lalu,” kata Sandra. “Tak ada jaminan dia masih berada di kota ini salam kurun waktu selama itu. Lagipula kondisi kota ini pasti sudah jauh berbeda dengan saat itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menunduk lesu. Benar apa yang dikatakan Sandra. Tak ada jaminan ibu masih di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar-benar hanya itu yang dikatakan Andy?” tanya Sandra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengangkat tangannya lagi sebelum aku sempat menjawab. Dia sudah tahu jawabannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku harus melakukan pencarian lagi,” kataku setelah melihat jam tangan. Tak terasa sudah lewat dari tengah hari. “Aku harus kembali sebelum jam tiga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alih-alih mengatakan sesuatu atau bertanya, Sandra hanya mengamati wajahku dengan matanya birunya yang cantik itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau membawa Alea? Suamimu juga? Di mana mereka sekarang?” tanyanya berturut-turut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku memikirkan rumah Mirna di sebuah rumah yang cukup jauh dari sini, dia mengangguk lalu berkata, “Kami akan menemanimu.”&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054150040858616865-8335848620424025855?l=ardy-kresna-crenata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/feeds/8335848620424025855/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/2010/07/spesies-hijau-chapter-4a.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054150040858616865/posts/default/8335848620424025855'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054150040858616865/posts/default/8335848620424025855'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/2010/07/spesies-hijau-chapter-4a.html' title='spesies hijau chapter 4a'/><author><name>Ardy Kresna Crenata</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_DBAkcWrPpOM/TDsdMhaYCUI/AAAAAAAAAAw/HFjbf4gJFYo/S220/ardy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054150040858616865.post-5217329205585334733</id><published>2010-07-14T10:05:00.001+07:00</published><updated>2010-07-14T10:05:17.490+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='novel'/><title type='text'>spesies hijau chapter 3c</title><content type='html'>&lt;b&gt;Nayna, 1989&lt;br /&gt;di sebuah hutan di Bogor&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Hari yang melelahkan. Malam sudah lama jatuh saat akhirnya kutemukan gua ini, tersembunyi di balik semak dan pohon-pohon. Akhirnya aku bisa sedikit istirahat. Setidaknya sampai besok pagi aku aman di sini. Tadi pagi aku meninggalkan akademi untuk suatu misi yang membawaku bersama tiga orang lainnya ke hutan ini. Ternyata, misi itu hanya bualan. Dan aku harus berhadapan dengan tiga orang dari tiga spesies murni dengan bakat dan kemampuannya masing-masing. Nyaris sebenarnya. Si spesies biru nyaris mengalahkanku kalau saja dia tidak ceroboh. Aku selamat, meskipun dengan kondisi yang memprihatinkan. Kehilangan banyak energi sudah pasti. Pakaianku pun kotor, basah, dan robek di beberapa tempat. Kacau. Dan sekarang aku harus bermalam di gua. Sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang masih membuatku terguncang saat mengingatnya adalah tentang perburuan yang dikatakan Lena tadi siang. Spesiesku tiba-tiba saja diburu. Kami sedang dimusnahkan. Mereka yang berada di akademi mungkin tak punya kesempatan untuk bertahan. Kalah jumlah. Tentu saja mereka semua akan mati. Membayangkannya membuat napasku terasa berat. Aku merasakan air mataku menggenang tapi tak mau jatuh. Sekarang aku bisa mengatakan bahwa aku termasuk beruntung karena dikirim dalam suatu misi, meskipun misi itu palsu, karena itu memberiku peluang untuk bertahan dan lari. Spesies hijau lainnya yang tengah hidup di tengah-tengah manusia biasa pun bisa dikatakan beruntung. Hanya mereka yang berada di akademi yang benar-benar tak punya kesempatan untuk selamat. Sekali lagi napasku terasa berat sehingga aku harus berusaha keras agar udara masuk ke paru-paruku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencoba menghubungi Lena. Mudah-mudahan saja situasi di sana memungkinkannya mengangkat teleponku. Dia mengangkatnya pada dering kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu baik-baik saja?” tanyanya tiba-tiba, dia terdengar begitu khawatir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku selamat,” kataku. Aku masih terlalu lelah untuk bicara banyak. Padahal ada banyak hal yang ingin kutanyakan padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Syukurlah,” kali ini dia terdengar lega.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana situasi di sana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buruk. Sangat buruk. Terutama bagimu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang kubayangkan, mereka tak akan bisa bertahan. Aku berusaha keras mempertahankan nada suaraku agar tak terdengar menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gambarkan!” kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak ada lagi spesies hijau di akademi,” kata-katanya ini sudah membuatku ingin menangis. “Mereka bersungguh-sungguh saat mengatakan akan memburu dan melenyapkan spesies hijau. Perburuan masih dilakukan. Sepertinya mereka cukup kesulitan menemukan spesies-spesies hijau yang hidup di tengah-tengah manusia.” Seperti biasa suaranya lebih tinggi saat menyebut kata ‘manusia’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menahan emosi yang sudah memuncak aku berkata, “Jadi, semua spesies hijau yang ada di akademi sudah mati. Ini kejam..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak juga,” katanya memotong. “Aku dengar beberapa orang berhasil kabur menyelamatkan diri. Entah berapa persisnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benarkah?” aku seperti dikunjungi harapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sepertinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya ini tidak seburuk yang kubayangkan. Mereka yang lolos akan bertahan. Mungkin mereka pergi ke hutan-hutan untuk bersembunyi seperti yang tidak sengaja kulakukan, atau bisa jadi mereka bersembunyi di tengah-tengah manusia, itu bisa jadi alternatif. Mereka akan bertahan, begitu juga aku. Spesies hijau tak akan punah meskipun mereka berusaha memusnahkan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan aku, Nayna,” katanya, kali ini dia seperti tersedu-sedu. “Aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya satu dari sekian banyak orang di akademi ini yang melakukan pembantaian ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana dengan Andy?” tanyaku seakan tak peduli pada kesedihannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Entahlah. Aku belum melihatnya hari ini. Lagipula seharian aku hanya bersembunyi. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Aku bingung. Rasanya sangat ganjil untuk melawan spesiesku sendiri. Tapi sedikit pun aku tak membenarkan perbuatan mereka ini. Ini pembantaian. Ini pembunuhan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tak perlu minta maaf,” kataku akhirnya. “Kau hanya perlu menjawab pertanyaan yang akan kuajukan ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa kau memberitahuku tadi siang? Mengapa kau memberiku peluang untuk hidup padahal itu sama saja memberiku kesempatan untuk membalas dendam suatu hari nanti?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia diam. Satu menit kemudian dia baru menjawab, “Karena kau temanku. Aku tak peduli jika suatu saat nanti kau balas membantai spesiesku. Aku menyayangimu. Aku tak bisa membiarkanmu mati.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu malam terasa panjang, lebih panjang dari biasanya. Aku sedang memikirkan untuk menghancurkan handphone di tanganku ini. Ada kemungkinan mereka akan melacak lewat handphone. Meskipun sebenarnya itu terlalu berlebihan. Teknologi mereka tidak secanggih itu. Kecuali jika mereka bekerja sama dengan pihak lain. Baru saja akan kubanting, handphone ini berdering. Lena menelepon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa?” tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka akan melacak lewat nomor seluler dan handphone. Kamu harus menghancurkannya segera!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persis seperti yang kukhawatirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku memang berniat melakukannya,” kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baguslah,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama dua menit berikutnya tak ada satu pun yang bicara, tapi kami sama-sama tahu bahwa percakapan belum berakhir. Ada sesuatu di ujung lidah yang sulit sekali diutarakan. Sepenuhnya aku menyadari percakapan ini akan menjadi percakapan terakhir kami. Aku tak akan pernah lagi kembali ke akademi dan Lena bukanlah orang konyol yang akan meninggalkan akademi untuk mencariku. Aku tak akan melihatnya lagi. Bukan hanya itu. Aku tak akan mendengar suaranya lagi. Aku akan bertahan dari perburuan ini. Aku akan terus berlari dan berlari sampai mereka lelah mengejarku. Aku akan terus bersembunyi sampai mereka bosan mencariku. Suatu saat nanti, aku harap kesempatan itu ada bagi kami untuk bertemu kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selamat tinggal,” dia mengatakan itu lebih dulu. Kentara sekali ada kesedihan dalam suaranya. Aku tak sanggup mengatakan hal yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita akan bertemu lagi. Kelak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapanku lebih merupakan harapan ketimbang keyakinan. Tak ada jaminan kesempatan bertemu kembali itu ada. Tapi seperti yang kukatakan, aku akan bertahan.&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054150040858616865-5217329205585334733?l=ardy-kresna-crenata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/feeds/5217329205585334733/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/2010/07/spesies-hijau-chapter-3c.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054150040858616865/posts/default/5217329205585334733'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054150040858616865/posts/default/5217329205585334733'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ardy-kresna-crenata.blogspot.com/2010/07/spesies-hijau-chapter-3c.html' title='spesies hijau chapter 3c'/><author><name>Ardy Kresna Crenata</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_DBAkcWrPpOM/TDsdMhaYCUI/AAAAAAAAAAw/HFjbf4gJFYo/S220/ardy.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054150040858616865.post-7115664851110136408</id><published>2010-07-14T10:04:00.001+07:00</published><updated>2010-07-14T10:04:41.076+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='novel'/><title type='text'>spesies hijau chapter 3b</title><content type='html'>&lt;b&gt;Alea, 2030&lt;br /&gt;Cianjur&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Hari pertama di bulan Oktober. Seminggu berlalu sejak kejadian menggelikan itu. Masih saja kuingat betapa anehnya tubuhku bereaksi saat dia mendekapku begitu kuat. Seingatku saat itu aku tak sedikit pun berusaha menolak. Meskipun pada akhirnya aku melepaskan dekapannya dan menjauh. Dan biarpun aku menatapnya seakan-akan dia musuhku, dia malah tersenyum sambil berkata, “Aku kira kau akan mengatakan terima kasih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini kami sudah bisa dikatakan berteman. Beberapa kali dia menemaniku pulang. Sebenarnya lebih tepat dikatakan mengikuti, namun bedanya dia tidak lagi bersembunyi saat aku menoleh ke belakang, aku pun tidak keberatan dia berjalan pulang bersamaku. Di sepanjang trotoar kami lebih banyak diam. Menggelikan sekali kalau kami salah tingkah. Sebelumnya aku telah mengatakan padanya bahwa aku sama sekali tidak memiliki perasaan yang sama dengannya. Namun aku tak akan menghindar atau menjauh seperti yang sudah-sudah. Terserah padanya jika ingin berada di dekatku. Yang penting dia sudah tahu kalau aku tidak mencintainya. Agh, membayangkannya saja sudah membuatku bergidik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman-temanku di kelas tentunya bingung dengan perubahan ini. Kejadian menggelikan itu tidak pernah kuceritakan kepada siapa pun. Aku berharap dia pun menyimpan cerita itu untuk dirinya sendiri. Entah bagaimana reaksi teman-temanku kalau tahu kejadian itu. Sekuat apa pun aku menyangkal, tetap saja reaksi tubuhku saat itu benar-benar ganjil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari kami pulang bersama-sama dan aku mengajaknya ke rumahku. Entah dari mana datangnya pikiran itu dan seakan-akan lidahku mengatakan semua itu tanpa kusuruh. Ia pun bertamu di rumahku—rumah bibi Mirna sebenarnya. Di sore hari, seperti biasa Bibi Mirna akan menghabiskan waktu di rumah tetangga. Dia baru akan kembali saat gelap, sebelum suaminya pulang. Selama selang waktu kira-kira dua jam itu, aku mengajak Inna ke kamar. Dia tak banyak bicara, hanya sekedar merespon apa yang kukatakan. Ini aneh. Iseng-iseng aku berbaring di tempat tidur dan menyuruhnya naik. Dengan pelan, seperti malu-malu, dia naik dan berbaring di sampingku. Selama beberapa menit kami sama-sama memandangi langit-langit tanpa sepatah kata pun terucap. Entah apa yang kupikirkan, kusentuh tangan kanannya dengan jari-jari tanganku. Meskipun mataku melihat ke depan, aku tahu sesaat dia mengerjat seperti terkejut atau mungkin disengat sesuatu. Aku pun semakin berani menggenggam jemari tangannya dan meremasnya. Saat itu kudengar dia mengambil napas panjang dan menghempaskannya perlahan. Aku menoleh, melihat wajahnya dari dekat. Dia terus menatap langit-langit. Kulihat ada sedikit warna merah di pipinya yang putih. Tiba-tiba saja dia menarik tangannya lalu bergerak meninggalkan kasur menuju jendela. Detik-detik berikutnya aku baru menyadari apa yang baru saja kulakukan itu di luar kendaliku. Tak pernah terbersit pun niat untuk benar-benar menikmati tangannya yang halus itu. Aku hanya ingin tahu bagaimana reaksinya jika aku melakukan itu. Namun, aku tak bisa berbohong kalau barusan aku sempat larut dan seandainya Inna tidak menarik tangannya, mungkin aku berbuat lebih jauh. Aku menggeleng-geleng kepalaku. Memikirkannya membuatku mual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bangkit menghampirinya. Dia menggerakkan tangannya untuk menahanku agar tidak berada lebih dekat lagi degannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa?” tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pelan dia berkata, “Jangan berada terlalu dekat denganku! Aku mungkin tak akan bisa menguasai diri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aneh sekali anak ini. Sekitar sebulan yang lalu dia mengutarakan perasaannya padaku, perasaan yang seharusnya tidak dimilikinya, lalu besoknya memberiku sebuah surat pendek yang menekankan bahwa dia akan selalu berada di dekatku betapa pun aku menghindar dan menjauh. Saat 
