Chapter 12
MENENANGKAN DIRI
Airish, 2013
Bogor
KEMATIAN Alea menyisakan kepedihan yang abadi di hatiku. Dengan perginya teman terbaikku itu, ada sebuah lubang di hatiku yang akan selamanya begitu. Tak akan ada yang bisa menggantikannya meskipun orang itu adalah keluargaku sendiri, bahkan Valen pun tidak. Kekosongan yang diciptakannya telah membuat langkah kakiku terasa lemah. Lena dan Sandra baru saja mengantarku ke tempat ini dan aku melarang mereka mengantarku lebih jauh lagi. Entah sekarang kemana aku akan pergi. Terlalu banyak hal berkelumit di kepala. Mungkin untuk satu dua jam aku hanya akan berkeliling dari satu tempat ke tempat lain, dari satu mall ke mall lain. Mungkin juga iseng nonton di bioskop setelah sekian lama. Apa lagi yang mungkin kulakukan untuk menutupi lubang akibat kesedihan yang dalam ini selain menghabiskan waktu? Apa lagi?
Setelah pergi ke beberapa tempat, memasuki beberapa mall, sempat juga nonton di salah satunya, akhirnya aku kembali terjebak dalam waktu yang bergerak lambat. Mengapa kematian selalu diikuti kesedihan? Tak ada gunanya menanyakan hal itu saat ini. Dan meskipun ada yang bisa memberiku jawabannya, kesedihan ini akan terus ada di sini, mengendap seiring waktu yang akan terus berlalu. Akankah suatu hari nanti aku melupakan kejadian beberapa hari yang lalu? Semoga saja. Semoga saja aku bisa cepat melupakannya. Siapakah yang ingin terjebak berlama-lama dalam kesedihan selain mereka yang tak punya harapan? Aku masih punya harapan. Masih ada banyak hal yang ingin kucari, yang ingin kulakukan. Aku buka tas yang kugendong dan mengambil sebuah buku hitam tebal di dalamnya. Buku ini peninggalan ibu kandungku. Aku akan mencarinya di sisa hidupku, itu pun jika benar dia masih hidup seperti yang dikatakan Andy.
Beberapa hari yang lalu saat aku berada di ruangan Andy, kukatakan padanya bahwa aku akan meninggalkan akademi untuk membantuku melupakan kejadian yang baru saja kualami. Dia tak bisa berbuat apa-apa untuk mencegahku. Aku lalu menunjukkan padanya buku hitam tebal peninggalan ibuku lalu menanyakan padanya kalau-kalau dia tahu soal ibuku. Lalu, dia mengatakan sesuatu yang membuatku terkejut, “Nayna tidak mati seperti yang dikabarkan. Nayna masih hidup.” Aku sangat terkejut sampai-sampai lupa menutup mulut dan lupa bernapas. Sejurus kemudian Andy berkata, “Sebenarnya aku tak bisa menjamin dia masih hidup saat ini. Yang jelas saat itu aku membawanya ke sebuah tempat dan merekayasa seolah-olah dia sudah mati di gua.”
“Di gua?” aku semakin terkejut.
“Ya. Saat itu Nayna sedang dalam pelarian ketika pemimpin akademi saat itu mengerahkan banyak orang untuk mencari dan membawanya ke akademi.”
“Mengapa mereka mencarinya?”
“Buku ini,” Andy mengangkat buku hitam tebal itu. “Mereka mencarinya karena buku ini. Nayna berencana menyelundupkan buku ini ke akademi dan mengedarkannya.”
“Hanya gara-gara itu? Hanya gara-gara itu ibuku sampai harus mati di gua?” aku sedikit emosi.
“Itu perintah pemimpin akademi. Maya. Saat itu dia yang memimpin akademi. Seorang spesies biru.”
Aku memandangi Andy dengan sedikit kesal. Aku bertanya, “Apa yang kau lakukan saat itu? Mengikuti perintahnya?”
Andy mengangguk dan itu membuatku semakin kesal. “Aku memang ditugaskannya mencarinya karena dia tahu aku salah satu pendeteksi terbaik saat itu dan aku cukup dekat dengan Nayna. Tapi, tujuanku sebenarnya bukan untuk membawanya ke akademi.”
“Lalu apa tujuanmu?”
Dia mengamati buku tebal itu beberapa saat lalu menjawab tanpa melihatku, “Untuk membantunya melarikan diri dan memperoleh kehidupan yang baru.”
Begitulah percakapan kami beberapa hari yang lalu. Rupanya saat menemukan ibuku, Andy membawanya ke suatu tempat dan merekayasa seolah-olah ibuku tewas di gua. Yang menemukan mayat ibuku dan membawanya ke akademi adalah Lena. Tadi pagi saat di mobil, aku tanyakan hal itu padanya. Dia pun menceritakannya.
***
Nayna, 1991
di sebuah hutan di Bogor
Aku adalah seorang ibu yang buruk. Tega sekali kubawa putriku yang belum lahir berkeliaran di hutan, melalui semak demi semak, berlindung dari satu pohon ke pohon lain, melintasi sungai demi sungai, sampai akhirnya berteduh di gua ini. Hujan di luar sangat deras sampai-sampai bisa kudengar jelas butiran air memukul-mukul batu besar.
Fakhri belum kembali. Sudah ada tiga jam sejak dia pergi mencari makanan dan mengambil air. Aku mulai khawatir. Apakah aku satu-satunya yang tersisa dari spesiesku? Tak pernah kusangka semuanya akan jadi sesulit ini. Selama dua tahun setelah perburuan dihentikan, spesies kami cukup aman hidup bersembunyi di tengah-tengah manusia biasa. Selama dua tahun itu pula, akhirnya aku menemukan seorang suami sekaligus ayah dari putri yang akan kulahirkan ini. Semoga saja putriku ini bisa bertahan dari masa-masa sulit ini. Nantinya dia akan menjadi penerus spesies hijau, yang akan menjaga spesies ini dari kepunahan.
Seseorang datang mendekat. Fakhri? Rasanya bukan. Bau tubuhnya jauh berbeda dengan Fakhri. Dan bukan hanya satu orang. Dari langkah kakinya aku menduga mereka tiga orang. Ini sungguh tidak menguntungkan. Aku sedang sendiri dan perutku sudah sangat besar sehingga menyulitkanku untuk bergerak cepat. Aku merapatkan tubuh ke dinding gua yang kasar. Untung saja api sudah kumatikan satu jam yang lalu sehingga asapnya sudah hilang. Yang kulakukan kini hanya berdoa semoga mereka tidak memasuki gua ini.
Langkah kaki itu kudengar cepat-cepat. Dari suaranya yang semakin jelas, mereka sedang mendekati gua ini. Langkah kaki itu berhenti tepat di mulut gua.
“Biar aku saja yang memeriksa gua ini. Kalian periksa tempat lain!” kata seseorang dari mereka. Suaranya tidak begitu jelas. Yang pasti dia wanita.
Kudengar dua orang lainnya bergerak cepat menjauh, menyisir tempat lain. Sementara si wanita itu kini sedang memasuki gua dengan sangat hati-hati sampai aku sulit mendengar langkah kakinya. Kufokuskan energi di tubuhku di kepala dan kuubah warna irisku. Dalam kondisi ini aku bisa merasakan keberadaannya jauh lebih baik. Dia sedang berjalan pelan merapat ke dinding gua. Aku merasakan suhu tubuhnya yang lebih dingin dari suhu gua. Bukan hanya itu, aku merasakan bau tubuhnya seperti pernah kucium. Familiar. Sepertinya aku mengenalnya sudah sangat lama.
Bayi di dalam perutku menendang, membuat energi di tubuhku kacau. Mataku kembali ke kondisi semula. Aku menarik napas beberapa kali. Satu kerugian besar bagiku diburu saat sedang hamil. Dua tahun lalu aku bisa memberikan perlawanan dan berhasil bertahan hidup. Kali ini, aku tidak yakin. Bahkan seandainya sekarang aku lari, dia pasti akan dengan mudah mengejarku. Dengan kata lain, hari ini aku akan mati. Hanya keajaiban yang bisa mencegahnya.
“Nayna, kamukah itu?”
Energi di tubuhku begitu kacau sehingga aku tak menyadari wanita itu sudah sangat dekat. Dia kini berdiri sekitar sepuluh meter di sebelah kananku. Aku sendiri masih berdiri merapat ke dinding. Dia tak membawa lampu senter, tapi kedua matanya yang biru menyala sudah cukup membantunya melihat.
Aku menunduk mengambil sebuah batu dan melemparkannya ke arah wanita itu. Tentu saja dia dengan mudah menghindar. Aku mengambil batu lagi dan melemparnya. Aku melakukannya lagi dan lagi sampai batu di sekitarku habis. Menyedihkan sekali melakukan perlawanan dengan cara primitif seperti ini. Sayangnya aku tak bisa mengubah warna irisku karena itu akan membuat bayi di dalam perutku marah dan menendang-nendang sehingga energi di tubuhku akan kacau. Aku sudah semakin dekat dengan kematian.
“Apa maumu?” tanyaku sambil bergerak menjauh ke kiri, sambil terus merapat ke dinding gua.
“Ini aku,” katanya. “Lena.”
Lena? Ah, pantas saja aku merasa begitu mengenali bau tubuhnya. Dia berjalan mendekat dan aku bisa melihat kedua matanya yang biru itu begitu cantik di wajahnya. Aku kini bisa mengenali wajahnya. Pipinya yang bulat. Matanya yang sipit. Lesung pipitnya muncul saat dia tersenyum.
“Lama tak bertemu,” katanya tersenyum.
Ya. Sudah dua tahun sejak saat itu. Ini pertama kalinya aku melihatnya lagi. Dia tak berubah. Sama sekali tak berubah. Kulitnya masih kuning seperti dulu. Rambut hitamnya masih diikat ke belakang. Tingginya tak berubah. Dia masih Lena yang kuingat. Berbeda sekali denganku. Perutku besar. Kulitku tidak sehalus dulu. Bahkan kini sedikit kasar dan kotor. Wajar saja. Selama pelarian ini aku jarang sekali mandi. Tak ada kesempatan untuk itu.
“Bagaimana kabarmu, Nayna?” tanyanya sambil terus tersenyum. Dia semakin dekat saja.
Aku menunjukkan tangan kananku, memberinya isyarat untuk berhenti.
“Apa maumu, Lena?” tanyaku curiga.
Meskipun aku dan Lena sudah berteman sangat lama, banyak menghabiskan waktu bersama selama di akademi, tapi sekarang situasinya berbeda. Dia pasti datang sebagai utusan dari akademi. Dan aku bisa menebak misi yang diembannya: membawaku kembali ke akademi.
“Kurasa kamu sudah tahu tujuanku,” kata Lena. Senyum dan lesung pipitnya hilang. Ekspresinya kini serius. “Akademi menyuruhku mencarimu lalu membawamu ke sana.”
“Lupakan saja! Aku tak akan mau kembali ke sana.”
“Mau sampai kapan kamu lari, Nayna?” dia tampak kesal dan kecewa. “Lihat kondisimu sekarang! Lihat perutmu itu! Kamu tak akan bisa bertahan di hutan ini dengan kondisi seperti itu.”
“Tak ada bedanya. Kalau pun aku kembali ke akademi, aku dan putriku akan mati di tangan kalian. Itu lebih buruk.”
“Aku bisa mengusahakan agar kamu tidak dihukum mati.”
“Kita sama-sama tahu itu tidak mungkin. Kami sudah ditakdirkan untuk lari, bertahan dari perburuan yang kalian lakukan.”
“Perburuan sudah dihentikan dua tahun lalu, Nayna. Sudah berakhir.”
“Tapi kenyataannya kalian memburu kami lagi.”
“Itu karena ulahmu. Kalau saja kamu tidak membuat buku hitam itu, semua ini tak akan terjadi. Spesies kalian akan tetap aman meskipun harus hidup secara sembunyi-sembunyi.”
“Aku hanya menuliskan kebenaran. Tak ada yang salah dari apa yang kutulis.”
“Tidak selalu menyampaikan kebenaran itu akan membuat keadaan lebih baik.”
“Ya. Karena manusia lebih suka hidup aman dalam kebohongan. Begitu juga kita.”
“Lalu kenapa kamu melakukannya, padahal kamu tahu sendiri seperti apa konsekuensinya?”
“Aku harus. Aku harus mengungkapkan kebenaran itu meskipun risikonya adalah kematianku sendiri.”
“Bukan hanya dirimu. Kamu juga membawa teman-teman dari spesiesmu ikut mati. Bahkan seorang yang mungkin sangat dekat denganmu dua tahun ini.”
Aku terkejut mendengarnya. Jika ada seseorang yang sangat dekat denganku dua tahun ini, maka itu adalah suamiku, Fakhri. Apa yang terjadi dengannya?
“Kau membunuh suamiku?” tanyaku geram.
“Tidak,” jawabnya dingin. “Teman-temanku yang membunuhnya. Aku tak bisa mencegah mereka.”
Kurasakan kedua tanganku mengepal. Rahangku mengeras. Gigi-gigiku saling menekan. Dengan sendirinya suhu tubuhku naik dua kali lipat sehingga menyulitkanku untuk bernapas. Tenggorokanku panas sekali. Energi-energi di tubuhku berkumpul di kepala. Irisku pasti sudah berubah warna dengan sendirinya.
Wanita itu tepat di hadapanku. Aku tak menyia-nyiakannya. Melihat irisku berubah, dia menyiapkan kuda-kudanya.
“Nayna, aku tak ingin bertarung denganmu,” katanya.
“Kau tak punya pilihan,” kataku geram.
Dalam sekejap bongkahan batu berukuran sedang mengepungnya dari segala arah. Dia mengantisipasinya dengan memunculkan barrier di sekitar tubuhnya sehingga batu-batu itu itu tak bisa menembus.
“Hentikan, Nayna! Aku tidak datang untuk bertarung.”
Aku tak menghiraukan kata-katanya. Kupaksakan diri untuk memperbesar pupil sehingga bongkahan batu itu membesar dan semakin padat. Lena tampak menahan barrier-nya sekuat tenaga. Aku bisa melihat bongkahan batu itu mulai menembus barrier-nya sedikit demi sedikit.
“Nayna, hentikan!” serunya.
Bayi dalam perutku menendang-nendang. Energi di tubuhku seketika kacau. Aku merasa pusing. Benda-benda di depanku sesaat berbayang. Aku jatuh menunduk. Bongkahan batu itu jatuh begitu saja.
“Nayna, kamu tak apa-apa?” Lena berlari mendekat. Aku sudah tak bisa melakukan apa-apa selain menenangkan bayi di dalam perutku. Dia sepertinya marah karena aku mengubah iris dan memaksakan diri. Maafkan aku, Putriku. Itu tadi refleks.
Lena menyentuh perutku yang buncit. Cahaya biru menyeruak dari telapak tangannya yang menyentuh perutku. Dia hanya sedang mendiagnosa kondisiku. Aku tahu itu.
“Ya, Tuhan. Nayna, sudah saatnya.”
Aku berhutang budi pada Lena. Selalu. Bahkan di saat-saat seperti ini, saat aku meragukannya, dia tak pernah berhenti menolongku. Sekarang hanya tinggal menunggu waktu sampai seseorang menemukanku di sini. Fakhri sudah mati. Aku tak bisa meminta Lena melakukan sesuatu tentang itu. Kedua orang yang tadi bersamanya pasti membunuh Fakhri sebelum Lena sempat melakukan apa-apa.
Putriku sudah lahir. Lena membantu persalinanku dengan baik. Kini kondisiku lemah. Sangat lemah. Aku bahkan belum bisa berdiri. Sedangkan aku tahu, di luar sana mereka masih mencariku. Dua orang teman Lena pasti akan kembali ke tempat ini setelah mereka tak menemukan sesuatu pun di tempat lain. Keselamatanku sudah tak penting lagi. Putriku sudah lahir. Dia harus bertahan hidup.
“Tolong jaga anakku!” kataku. “Jangan sampai mereka menemukannya. Dia harus bertahan hidup.”
“Serahkan padaku!” katanya tegas.
Syukurlah. Dengan begini spesies hijau tak akan punah. Aku percaya Lena akan membawanya ke suatu tempat yang aman. Aku percaya padanya. Harus. Tak ada pilihan lain selain mempercayainya.
Seseorang berada tidak jauh dari gua ini. Aku bisa merasakannya meskipun kondisiku sudah sangat lemah.
“Cepat bawa pergi anakku sekarang!” sergahku.
“Aku juga harus membawamu,” katanya.
“Tidak. Itu tidak perlu.”
“Apa maksudmu tidak perlu?!”
“Itu hanya akan menghambatmu. Aku masih bisa menjaga diri. Sekarang yang terpenting adalah anakku. Jaga dia! Kumohon!”
Lena memandangku curiga.
“Kamu ingin aku meninggalkanmu di sini?” tanyanya.
“Itu satu-satunya jalan,” kataku. Aku tak mengatakan padanya bahwa seseorang berada cukup dekat ke gua untuk bisa menemukanku. Jika aku mengatakannya, Lena tidak akan mau pergi.
“Berjanjilah tak akan melakukan sesuatu yang konyol!” katanya, masih menatapku, sementara anakku di pangkuannya terlelap. Sepertinya dia sudah lelah menangis.
“Aku berjanji,” kataku.
Lena masih menatapku, mencari tahu apakah aku sedang membohonginya atau tidak. Irisnya berubah biru. Dengan irisnya ini dia bisa membaca pikiranku, tapi aku berusaha keras untuk tidak memikirkan seseorang yang mendekati gua ini. Aku sudah belajar menyembunyikan pikiranku selama dua tahun ini. Mudah-mudahan saja aku berhasil mengecoh Lena.
“Aku akan kembali,” katanya. “Bertahanlah sampai saat itu!”
“Terima kasih,” kataku.
Lena berbalik dan berjalan menuju mulut gua. Aku memanggilnya. Ada sesuatu yang kulupakan. Aku meminta Lena memberiku sebuah bolpoin dan selembar kertas. Di kertas itu, aku tuliskan nama putriku.
“Airish Rashiana. Itu namanya.”
“Oke. Akan kuingat baik-baik.”
Lalu Lena pun pergi meninggalkanku sendiri di dalam gua. Usai sudah. Tinggal aku sendiri. Tak ada lagi motivasi untuk terus bertahan. Misiku selesai. Mungkin sudah takdirku untuk mati di tempat seperti ini. Tak apa. Yang penting anakku akan hidup. Dia akan meneruskan garis keturunan spesies hijau.
Seseorang itu semakin dekat ke mulut gua. Aku bisa merasakan kehadirannya dari suhu tubuhnya yang panas dan bau tubuhnya yang kuat. Tak diragukan lagi, orang ini berbahaya. Kuharap Lena sudah membawa Airish cukup jauh dan tak berpapasan dengan orang ini maupun orang lain dari akademi. Orang itu sudah masuk ke mulut gua. Dia kini sedang melihat-lihat jejak kaki di tanah. Rupanya dia pendeteksi.
Karena saat ini aku sendiri dan tidak lagi mengandung, tak ada hambatan lagi untuk mengubah iris. Meskipun aku belum bisa berdiri dan energiku sudah banyak terbuang karena melahirkan, aku masih bisa memaksakan sisa energiku yang tidak sampai 20% ini. Kuubah irisku menjadi hijau. Semakin jelas dan kuat saja kurasakan kehadirannya. Dia menelusuri jejak kaki itu sambil berhati-hati.
Dia muncul di sana, beberapa belas meter di hadapanku. Matanya merah. Dari postur tubuhnya yang tinggi dan berisi, dia pasti laki-laki. Ini lebih buruk dari dugaanku. Tak ada pilihan lain. Kukerahkan sisa 20% energi di tubuhku sampai habis lalu memusatkannya untuk memperbesar pupilku dan mengubah bentuknya menjadi kotak. Aku sudah siap menyerangnya.
“Airish, ini aku Andy,” katanya.
“Ini aku Andy,” katanya lagi. “Tenang. Aku tak akan melukaimu.”
Aku sedikit kesulitan mempertahankan bentuk pupil dan warna irisku, mungkin karena energiku sudah hampir habis kugunakan saat melahirkan tadi. Untung yang muncul di hadapanku bukan orang lain. Andy, meskipun aku dan dia tidak begitu dekat semasa di akademi, Lena dan dia adalah sahabat karib, dia tak akan begitu saja melukaiku.
“Aku tak berniat kembali ke akademi,” kataku dengan napas terengah-engah. Warna iris dan bentuk pupilku masih sekuat tenaga kupertahankan.
“Sudah kubilang aku tak akan melukaimu. Kondisimu sangat lemah. Tak perlu memaksakan diri. Kembalikan saja irismu jadi normal!”
Dia berjalan mendekat dengan mengangkat kedua tangannya seperti seorang buronan menyerah saat dikepung polisi.
“Selain itu,” lanjutnya, “aku di sini bukan untuk membawamu kembali ke akademi, tapi untuk melenyapkanmu.”
Niatku untuk mengubah iris ke keadaan semula langsung hilang. Apa maksudnya? Dua kali dia bilang tidak akan melukaiku. Kemudian dia berniat melenyapkanku. Tak sejalan.
“Kau ingin membunuhku? Silahkan saja! Lagipula aku sudah sangat lemah. Paling-paling aku hanya bisa memberimu sedikit luka sebagai kenang-kenangan.”
Memaksakan berdiri membuat otot-otot di sekitar pinggangku sakit. Aku gigit bibirku yang bawah untuk menahan rasa sakit itu. Irisku tak akan bertahan lama. Dengan energi di tubuhku yang tinggal 20%, bentuk pupil ini hanya akan bertahan lima menit. Satu menit sudah berlalu.
“Biar kujelaskan dulu! Sepertinya kau salah memahaminya.”
Dia kini berdiri cukup dekat di arah jam dua, sekitar empat meter. Dari jarak sedekat ini bisa kulihat jelas irisnya yang merah menyala. Spesies murni. Aku jadi ingat kembali kejadian-kejadian yang kulihat di masa lalu. Banyak orang mengatakan kemampuanku melihat hal-hal di masa lalu adalah suatu kelebihan, anugerah. Entahlah. Seandainya aku tak memiliki kemampuan itu, aku tak akan tahu sejarah sebenarnya dari spesies ini, dan aku tak akan menulis buku yang menyatakan sejarah yang sebenarnya, dan itu artinya aku dan sisa-sisa spesies hijau tak akan kembali diburu. Sesuatu yang dikatakan orang sebagai kelebihan telah membawaku dekat sekali dengan kematian.
“Apa maumu sebenarnya?” tanyaku, dia sudah berhenti melangkah.
“Beberapa petinggi akademi ingin kau mati. Beberapa lagi ingin mengurungmu dan menyiksamu sampai kau tak bisa berbuat apa-apa lagi. Aku datang atas perintah mereka. Tapi..”
Kalau saja pupilku tidak dalam bentuk spesial seperti ini, aku tak akan tahu bahwa Andy sedang mengubah pupilnya. Sampai saat ini bentuk pupilnya masih bulat dan hanya sedikit membesar, tapi perubahan baru saja dimulai.
“Tapi aku tak bisa melakukannya,” katanya. “Lena akan sangat sedih jika aku melakukannya. Dia akan membenciku di sisa hidupnya. Itu bukan hal yang kuinginkan.”
Tinggal dua menit lagi sampai energiku benar-benar habis dan aku akan terkulai begitu saja. Aku masih belum bisa menebak apa yang akan dilakukan Andy. Bisa jadi dia sengaja mengulur waktu sampai aku kehabisan energi lalu menyerangku. Jika ingin menyerangnya, aku akan melakukannya di satu menit terakhir.
“Jadi apa yang akan kau lakukan?” tanyaku.
Perubahan pupilnya mulai jelas terlihat. Dia pasti mengembangkan bentuk ini sendiri. Aku tak pernah melihat seseorang dari spesies merah dengan bentuk pupil seperti ini sebelumnya. Bentuknya mulai jelas, seperti api, api berwarna hitam yang bergerak-gerak. Aku harus berhati-hati.
“Aku akan membuat seolah-olah kau mati,” katanya.
Cukup mengejutkan. Jawaban ini jauh lebih baik dari semua yang kuperkirakan.
“Jelaskan!” kataku, satu menit terakhir hampir tiba.
“Aku akan membawamu ke suatu tempat yang aman. Di tempat itu ada teman yang bisa kupercaya. Kau akan hidup di sana sebagai seseorang yang baru. Nayna akan mati hari ini.”
Satu menit terakhir tiba tapi niatku untuk menyerang Andy sudah hilang. Teleportasi kah? Pernah sekali aku merasakan sensasi itu saat Andy menolongku dalam suatu misi. Dua tahun berlalu sejak aku meninggalkan akademi, kemampuan teleportasinya pasti sudah jauh lebih baik. Entah kemana dia akan membawaku. Tinggal tiga puluh detik lagi sampai energiku benar-benar habis.
“Ketika Lena kembali,” katanya, “dia akan menemukanmu sudah mati. Izinkan aku meminjam tanganmu!”
Sepertinya aku tak bisa menolaknya. Kalaupun aku tidak mengizinkannya, sesaat lagi aku akan jatuh terkulai dan Andy bisa dengan leluasa melakukan sesuatu terhadap tubuhku. Kurasa idenya tidak begitu buruk, meskipun dengan begitu, aku harus menghilang selamanya di sisa hidupku yang berarti tak ada kesempatan untuk bertemu anak yang baru saja kulahirkan beberapa menit lalu. Tak apa. Yang penting dia terus hidup. Spesies hijau tak akan punah.
Aku memberikan tanganku yang kanan. Andy bergerak menghampiriku dan menggenggam tangan kananku dengan kedua tangannya. Irisnya merah menyala dan pupilnya bergerak-gerak seperti api.
“Lena..?”
“Aku akan merahasiakan ini darinya,” kata Andy sebelum selesai pertanyaanku.
Ya, mungkin itu jauh lebih baik. Jika dia tahu yang sebenarnya, dia akan menghabiskan sisa hidupnya untuk mencariku. Itu hanya akan membuat hidupnya terancam.
Lena, Andy, meskipun kalian berasal dari dua spesies yang akhirnya kubenci, nyatanya aku tak sedikit pun membenci kalian. Kesalahan yang dilakukan spesies kalian di masa lalu yang masih terus terulang sampai saat ini, sama sekali tak membuatku membenci kalian. Kalian berdua penyelamatku, selalu seperti itu sejak tahun-tahun kita bersama di akademi. Aku akan sangat merindukan saat-saat itu.
Sesuatu yang panas menyergap tangan kananku dan menyebar hingga ke bahu, ke leher, ke dada, ke seluruh tubuh. Sesaat lagi, aku akan berada di suatu tempat yang jauh. Lena, selamat tinggal.
***
0 comments:
Poskan Komentar